Selasa, 20 November 2018

Pembimas Hindu Kepri Gelar Jambore Pasraman Tingkat Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2018 di Kota Batam,


Batam-Pada Hari Jumat s/d Sabtu tanggal 16 s/d 17 November 2018, bertempat di Aula pasraman Jnana Sila Bhakti Kota Batam, Jalan Gajah Mada No. 3. Hadir pada upacara pembukaan itu Pembimas Hindu Kepulauan Riau, Putu Suardika selaku Sekretaris Parisada Prov. Kepulauan Riau, Ketua Parisada Kota Batam, Parisada Kabupaten Bintan, Pengurus WHDI Prov. Kepulauan Riau, Ketua BOP Agung Amerta Bhuana, Ketua Pasraman Jnana Sila Bhakti, Penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama, Ketua Lembaga Agama dan Keagamaan se-Kepulauan Riau yang lainnya.

Dalam sambutannya, Purwadi, S.Ag selaku Ketua paniti menjelaskan bahwa kegiatan Jambore pasraman tingkat Provinsi Kepulauan Riau ini tidak semata – mata hanya mencari pemenang lomba yang nantinya akan mewakili Provinsi Kepulauan Riau pada ajang lomba Jambore Pasraman Nasional tahun 201 di Bali, tetapi lebih dari itu yaitu melakukan pembinaan dan proses pembelajaran. Ada beberpa cabang lomba pada Jambore Pasraman kali ini, di antaranya Lomba Tri Sandhya, Keramaning Smebah, pelafalan doa sehari-hari, puisi keagamaan, bercerita keagamaan, dharma widya atau cerdas cermat tingkat SD, SMP dan SMA/K, dan Lomba Yoga asanas putra dan putri.

Jambore Pasraman bertujuan untuk meningkatkan Sradha dan Bhakti Peserta Didik, menjadi Media berbagi pengalaman dan pengetahuan, Melestariakan dan mengembangkan nilai – nilai luhur seni dan budaya, Meningkatkan moral dan budi pekerti luhur, Meningkatkan solidaritas, kebersamaan, dan kekeluargaan peserta didik, Meningkatkan kreatifitas, keterampilan keagamaan serta sportifitasuntuk m. Terakhir Purwadi menegaskan bahwa Jambore Pasraman bertujuan eningkatkan Persatuan dan Kesatuan dalam wadah NKRI, dan menumbuhkan dan mengembangkan perilaku hidup sehat lahir dan batin.

Adapun tema dari kegiatan ini adalah “Jambore Pasraman Tingkat Provinsi Kepulauan Riau Tahun 2018 sebagai Wahana meningkatkan kepekaan dan solidaritas untuk kesadaran generasi muda Hindu dalam tanggung jawab membangun masa depan bangsa”

Kemudian Ketut Suardita selaku Pembimas Hindu pada Kanwil Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Riau yang sekaligus mewakili Ka-Kanwil Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Riau karena ada agenda assessment ASN Kementerian Agama di Kota Tanjung Pinang, menjelaskan bahwa peserta diharapkan menjaga persatuan, sportifitas dan kerukunan. Pasraman merupakan salah satu bentuk lembaga pendidikan keagamaan Hindu baik formal maupun non formal yang dilaksanakan oleh masyarakat Hindu di seluruh Indonesia yang berperan meningkatkan kualitas sradha dan bhakti peserta didik.


Pada Hari Sabtu, 17 November 2018, Dr. Drs. H. Mukhlisuddin, SH, M.A selaku Ka-Kanwil Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Riau memberikan pembekalan/materi kepada semua peserta dengan topik “Peran Kanwil Kementerian Agama pada Jambore Pasraman”. Mukhlasuddin menjelaskan bahwa Kementerian Agama di tingkat Provinsi akan mendukung pelaksanaan Jambore Pasraman di tingkat nasional tahun 2019 di Bali. Kanwil melalui DIPA unit Bimas Hindu akan menganggarkan dalam DIPA Tahun 2018 pada unit Bimas Hindu Provinsi Kepulauan Riau dalam bentuk melaksanakan kegiatan Jambore Pasraman Prov. Kepulauan Riau Tahun 2018 di Kota Batam. Pembimas Hindu juga melakukan koordinasi dengan instansi terkait di tingkat pusat (Bimas Hindu) Perguruan Tinggi Hindu dalam hal pembinaan Jambore Pasraman. Di samping itu mengadakan pertemuan dengan tokoh-tokoh lembaga Pendidikan Keagamaan Hindu di Prov. Kepulauan Riau juga perlu dilaksanakan. Pembinaan dan monitoring ke seluruh Pasraman di Prov. Kepulauan Riau. Terakhir adalah melakukan langkah-langkah pembinaan dalam rangka pemantapan peserta Jambore Pasraman perwakilan Prov. Kepulauan Riau yang akan bertanding pada Jambore Pasraman Tingkat Nasional Tahun 2019 di Prov. Bali.

Kegiatan dilanjutkan dengan pelaksanaan lomba Dharma Widya/cerdas cermat tingkat SD, SMP dan SMA/K. Bertindak sebagai dewan juri adalah Pak Agung, Made Karmawan, dan Lilik Widyawati. Kemudian lomba puisi keagamaan, bercerita keagamaan, Tri Sandha. Pada malam harinya dilanjutkan dengan Lomba yoga Asanas Putra dan putri. Bertindak sebagai dewan juri adalah Ni Luh Asli dari Bali, Eko Prasetyo dan Gusti Kade Sugiantara. Dalam waktu bersamaan juga dilaksanakan lomba Keramaning Sembah dengan dewan jurinya adalah I Nengah Dana dari PHDI Pusat, dan I Wayan Catra Yasa. Kegiatan ini dilanjutkan dengan sesi dinamika kelompok/capacity building, pembinaan dan diakhiri pengumuman pemenang lomba serta upacara penutupan oleh Pembimas Hindu.

Kegiatan Jambore Pasraman sangat penting untuk dilakukan dalam upaya meningkatkan kreativitas siswa pasraman guna mewujudkan insan yang memilikki sradha dan bhakti, memilikki etika moral/normatika yang baik. (eko2018)

Selasa, 06 November 2018

Rapat Koordinasi Evaluasi Anggaran dan Penyusunan Renja 2020


Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI pada tanggal 6 sampai dengan 9 November menyelenggarakan kegiatan Rapat Koordinasi Evaluasi Anggaran 2015 – 1019 dan Penyusunan Rencana Kerja Tahun Anggaran 2020 di Akmani Hotel, Jakarta. Peserta dari kegiatan ini adalah Pejabat Eselon II dan III Ditjen Bimas Hindu Pusat, Pembimas Hindu dan operator, Kasi dan penyelenggara Kemenag Kota dan Kabupaten, Perguruan tinggi negeri Hindu, Kemenag Kota dan Kabupaten se-Provinsi Bali total 120 orang. Dari Provinsi Kepulauan Riau hadir Pembimas Hindu, Eko Prasetyo,S.Ag selaku Penyelenggara Hindu pada Kantor Kementerian Agama Kota Batam.

Ketua panitia dalam sambutannya menjelaskan tema kegiatan ini yaitu “Melalui kegiatan Penyusunan Renja Tahun Anggaran 2020 kita wujudkan Aktualisasi Money Follow Program Dalam rangka Perencanaan dan Penganggaran Program Bimas Hindu”. Adapun tujuan sesuai dengan tema kegiatan adalah mengarahkan rencana kerja Satker untuk mendukung sasaran prioritas pembangunan melalui penganggaran berbasis program atau money follow program. Yang kedua adalah Mengkoordinasikan rencan kerja yang akan disusun oleh seluruh Satker di bawah Ditjen Bimas Hindu untuk menghasilkan penganggaran yang eketif, efesien dan tepat sasaran

Terakhir ketua panitia menegaskan bahawa Renja 2020 harus benar-benar dhitung dan disusun dengan memperhitungkan apa yang dibutihkan masyarakat dan mendukung program prioritas nasional, kegiatan prioritas dan proyek nasional. Rena yang disusun akan dibahas bersama dikoordinasikan dengan Pusat dengan leading sector Pusat. Perencana berbasis knerja per output

Dilanjutkan Sambutan Dirjen Bimas Hindu, Prof. Ketut Widnya, PHD. Dalam Sambutannnya Dirjen Bimas Hindu menyatakan bahwa realisasi anggaran secara kesuluruhan belum maksimal kita harus berpacu. Tahun 2020 adalah masa transis Rencana Strategis 2020 – 2025. Terakhir Dirjen Bimas Hindu mengevaluasi serapan anggaran Tahun 2018 Bimas Hindu Kementerian Agama RI. Beliau mendorong seluruh Satker untuk memaksimalkan realisasi anggaran Tahun 2018.

Kabag Perencanaan dan Sistem Informasi Ditjen Bimas Hindu, Ni Wayan Pujiastuti mengavaluasi keterlibatan Satket yang meninput realisasi anggaran dalam aplikasi SMART DJA. Masih banyak Satker yang sedikit bahkan belum sama sekali menginput realisasi anggaran pada aplikasi SMART sampai dengan akhir bulan Oktober 2018. Ni Wayan mendorong operator SMART DJA untuk serius mengerjakan ini karena ini bagian dari tugas dan fungsi perencanaan. Ni Wayan juga mengavaluasi realisasi anggaran per output dari 33 provinsi di Indonesia.

Pada hari kedua, Rabu 7 November 2018 dilanjutkan evaluasi realisasi anggaran 2018. Kemudian dilanjutkan dengan telaah anggaran 2018 oleh Dirjen Anggaran kementerian Keuangan RI. Mulai tahun ini telaah anggaran tidak hanya dilakukan oleh Biro perencanaan Kementerian Agama dan APIP dalam hal ini Inspektorat Jenderal Kementerian Agama RI, tetapi juga dilakukan oleh Ditjen Anggaran Kementerian Keuangan RI. Banyak hal yang mendapat perhatian DJA, terutama dalam hal penggunaan anggaran operasional yang double anggaran, contoh Penganggaran ATK kegiatan bisa diambilkan dari anggaran ATK kantor, ATK Kegiatan dianjurkan maksimal Rp 500.000,- per kegiatan, karena peruntukannya hanya untuk beli kertas, untuk peserta dibelikan perlengkapan kegiatan, sehingga tidak membebani negara. Sewa mobil kendaraan untuk pembinaan juga mendapat sorotan DJA, karena pejabat Eselon I dan II sudah ada kendaraan dinas, Eselon III sudah menganggarkan sewa kendaraan operational, jadi tidak perlu muncul anggaran rental mobil. Dewan juri  pada kegiatan perlombaan dijadikan honor narasumber, karena di SBM tidak diatur honor dewan juri. Tim yang dilaksanakan selama 3 tahun berturut – turut sudah harus dimasukkan dalam Tugas dan fungsi ASN. Belanja perjalanan dinas harus detail, tidak gelondongan.

Selanjutnya adalah paparan materi dari Bappenas yaitu Sularsono, Kasibdit PAUD dan Diknas unti kerja Direktorat Pendidikan Agama Bappenas. Menurut Sularsono, secara umum struktur penganggaran Bimas Hindu sudah bagus, tinggal diperhatikan detaillnya sesuai telaah DJA dan APIP. Terkait Struktur kinerja dan penganggaran dalam pendidikan dalam Renja 2020, mencangkup visi misi. Renstra harus sesuai RPJMN dan Resntra kementerian Pusat, RKA-K/L dan Renstra yang disusun harus singkron. Output, sub output, Komponen dana kun harus singkron dengan kebijakan nasional. Kinerja akan selalu melihat capaian sasaran, jika tidak terpenuhi maka indikatornya harus diganti. Indikator yang bagus akan menunjukkan kinerja.

Ketut Suardita selaku Pembimas Hindu Kanwil Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Riau ditemui secara terpisah oleh Penyelenggara Hindu menghimbau kepada seluruh pimpinan Lembaga Agama dan Keagamaan baik tingkat Kota maupun Provinsi untuk memberikan mengajukan permohonan bantuan dan masukkan program kegiatan 2020 agar dimasukkan dalam program Bimas Hindu kanwil kementerian Agama Provinsi Kepulauan Riau. Lembaga juga dihimbau untuk membuat proposal bantuan dan Rencana Anggaran Belanja (RAB) 2020. 

Acara dilanjtukan dengan telaah anggaran 2019, paparan program inovasi setiap daerah, perguruan tinggi negeri dan kendala yang dihadapai dalam realisasi anggaran 2018. Dilanjutkan dengan penyusunan rencan kerja program Bimas Hindu tahun 2020. Selain itu peserta dan operator perencanaan bisa melakukan koordinasi dengan perencaan dan leading sektor Ditjen Bimas Hindu Pusat, Kementerian Agama RI. Kegiatan akan ditutup secara resmi pada hari Jumat 9 November 2018. (eko2018)

Senin, 05 November 2018

Mahasabha XI PERADAH INDONESIA di Palangkaraya, Provinsi Kalimantan Tengah


Bertempat di Kota Palangkaraya, Provinsi Kalimantan Tengah, Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Perhimpunan Pemuda Hindu (Peradah) Indonesia menggelar Mahasabha ke-11. Penyelenggara Hindu pada Kantor Kementerian Agama berkesempatan hadir guna memenuhi undangan Ketua Panitia Mahasabha XI di Palangkaraya. Pada Hari Jumat 2 November 2018, Walikota Palangkaraya mengundang seluruh panitia, peserta dan tamu undangan Mahasabha XI untuk ramah tamah dan makan malam bersama. Kegiatan itu sebagai salah satu bentuk komitmen Waikota Palangkaraya untuk menjada kerukunan antar umat beragama di Kota Palangkaraya.

Mahasabha XI  PERADAH Indonesia ini diharapkan mampu menghasilkan pemimpin Peradah Indonesia masa bhakti 2028 – 2021 yang memiliki loyalitas terhadap anggota serta pada organisasi yang dipimpinya. Seorang pemimpin harus  menumbuhkan sikap loyal pada setiap orang agar dapat tercipta rasa kebersamaan dan saling memiliki dalam organisasi tersebut. Seorang pemimpin harus loyal kepada bawahan agar bawahan loyal kepada atasan. Artinya antara bawahan dan pimpinan harus bekerjasama atas dasar saling menghormati. Jika tidak maka siap-siap kita akan memilikki anak buah yang terlihat baik depan kita tetapi belum tentu baik saat di belakang kita. Adapun tema dari kegiatan ini adalah Kerja dan Karya untuk Nusantara.

Pada hari Sabtu 2 November 2018 dilanjutkan dengan Seminar Kewirausahaan. Adapun tema dari kegiatan ini adalah Menuju generasi emas 20145 yang tangguh dan berkarakter. Narasumber pada kegiatan seminar itu adalah Tjok Krisna, pendiri Tjok Konveksi dan Krisna Pusat Oleh – Oleh di Bali. Dalam materinya Tjok Krisna mengajak generasi muda Hindu untuk pantang menyerah. Keadaan ekonomi keluarga bukan menjadi alasan kita untuk tidak mau berusaha. Tetapi setelah kita sukses kita harus tetap ingat kepada masyarakat. Kita harus tetap rendah hati (humble), rajin beramal dan mengikuti kegiatan sosial lainnya.

Pak Alex yang merupakan salah satu investor bukalapak.com mengajak generasi muda untuk keluar dari zona kenyamanan. Ada banyak peluang di luar sana yang sayang untuk dilewatkan. Pengguna internet dan telepon selular setiap tahun semakin meningkat. Mengapa hal ini tidak kita manfaatkan dengan maksimal? Generasi muda milleneal harus mammpu mengubah kaadaan bahwa Hp bisa menghasilkan uang dengan menjalankan usaha tele marketing.

Kemudian pendiri Mangsi Kopi Bali mengajak generasi muda untuk jeli dan teliti melihat pangsa pasar dan permintaan pasar. Seperti halnya usaha mmebuka kedai kopi. Tidak semua orang suka kopi karena berbagai alasan seperti takut kena serangan jantung, hipertensi atau ada juga yang mengidap penyakit mag kronis. Maka kita harus kemas produk kita menyesuaikan pangsa pasar. Kalangan anak muda yang milleneal jelas akan berbeda dengan kalangan generasi yang sudah tua, tetapi semuanya tetap dalam konsep yang segar agar produk kita bisa diterima oleh berbagai kalangan.

Kemudian Bu Ni Luh Djelantik yang memilikki usaha sepatu mode dari Bali menekankanbahwa untuk menjadi orang sukses kita harus memilikki integritas yang tinggi terhadap pekerjaan. Kita harus berusaha bekerja tepat waktu, memenuhi target dan jujur tehadap atasan dan pekerjaan. Ni Luh Jelantik juga mengajak generasi muda untuk tahan banting dalam dunia usaha. Jatuh dan bangun adalah hal yang biasa dalan dunia usaha. Kita harus taat hukum, taat membayar pajak dan taat pada peraturan lainnya jika ingin mendirikan usaha seperti UMKM dan sebagainya.

Kegiatan seminar ini juga bertujuan melatih jiwa kewirausahaan yang membentuk pemimpin dan generasi muda Hindu menjadi lebih mandiri, sebab untuk apa jadi pemimpin jika sekedar mendudukin singgasana dengan tidak memperhatikan anggota dan masyarakat. Pemimpin yang mampu bekerja dan menghasilkan karya terbaik tentu saja tidak dapat dipelajari secara teori saja. Perlu adanya proses dan terjun langsung untuk merasakan dinamika dimasyarakt . kepemimpinan yang melayani dan kerja untuk karya dalam pengelolahan sumber daya yang dimiliki adalah kebutuhan bangsa saat ini.

Acara dilanjutkan dengan upacara Pembukaan Mahasabha XI. D Suresh Kumar ketua DPN masa bhakti 2015 – 2018 memberikan kata sambutan pada siang hari itu. Dalam sambutannya D Suresh berpesan agar generasi muda jangan mudah mempercayai berita hoaks. Jangan mudah diadu domba. Kita harus menjaga kerukunan antar umat beragama. Generasi harus mencintai tanah air, jangan mudah terpancing isu SARA apalagi menjelang Pemilu 2019. Dalam hal data jumlah Hindu kita harus berani memperjuangkannya di level daerah dan nasional karena akan berpengaruh terhdap penerimaan CPNS terutama guru dan penyuluh agama Hindu. Jumlah guru Hindu sangat sedikit, maka lulusan perguruan tinggi Hindu harus terserap di instansi – instansi pemerintahan. Terakhir D Surehs Kumar mengajak generasi muda jangan hanya bercita – cita menjadi PNS, tetapi ambillah peluang lain yang lebih luas peluangnya seperti dunia wirausaha dan lainnya. Terakhir Suresh berpesan agar kita menjadi Hindu nusantara, kita tetap satu yaiti Hindu, bukan Hindu Jawa, Hindu Bali dan Hindu India. Suresh juga mengajak semua yang hadir untuk mendoakan korban dan keluarga korban jatuhnya peswat Lion Air JT. 610.

Selanjutnya adalah sambutan Wakil Gubernur Kalimantan Tengah. Dalam sambutannya wakil Gubernur Kalimantan Tengah menginformasikan bahwa kondisi kerukunan umat beragama di Kalimantan Tengah berjalan sangat baik sekali. Dalam sambutannya wakil Gubernur mengajak bahwa kita harus semangat dan berjiwa muda. Pemuda harus memahami dan menerapkan 4 (empat) pilar kebangsaan yaitu UUD 1945, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI


Menteri Pemuda dan olah Raga Republik Indonesia Bapak Anwar Narawi berkesempatan memberikan kata sambutan sekaligus membuka acara Mahasabha XI Peradah Indonesia secara resmi. Beliau mengajak agar anak muda tidak membawa fanatisme yang berlebihan. Karya dan kerja Peradah harus  sejalan dengan 5 (lima) nilai keteladanan PERADAH yang menjadi dasar dan karakter organisasi  organisasi yaitu: Satya mitra yang artinya setia kawan, dan bekerjasama, sadhana artinya melaksanakan disiplin spiritual, sevanam artinya melakukan pelayan kepada umat, Samskara yang artinya menjadi pelopor agen perubahan, dan yang terakhir adalah Santosa yang artinya bahwa menjadi pemuda Hindu itu harus bijaksana dalam membangun ketentraman, keharmonisan, dan kesejahtreraan umat Hindu. Prinsip multikulutarisme harus tetap dijaga dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Pemuda Hindu harus profesional dan berintegritas, tumbuh menjadi wira usaha yang handal.

Selanjutnya adalah dialog Wawasan Kebangsaan dengan narasumber dari Mabes POLRI, Pimpinan MPR RI dan majelis Parisada Hindu Dharma Indonesia. Dari Mabes POLRI membahas tentang potensi indonesia dalam hal kerukunan beragama dan pertahanan nasional. Menjelang pemilu. Kita harus menerapkan 4 (empat) pilar kebangsaan yaitu UUD 1945, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika dan NKRI

Penyelenggara Hindu berkesempatan meninjau Pemilihan Ketua dan Pengurus Peradah Indonesia masa bhakti 2018 – 2021. Adapun Ketua Peradah Indonesi yang terpilih adalah I Gede Ariawan, S.Ip., M.IP, terpilih sebagai Sekjen Peradah Indonesia adalah Anak Agung Ayu Ari Widhyasari, S.H., M.Kn, sebagi bendaha umum Putu Tari Pandutami, S.Sos.

Pada hari Minggu, 04 November 2018 dilaksanakan Koordinasi dengan Polda Kepri, Dirjen Bimas Hindu, Pembimas Hindu Prov. Kalimantan Tengah perihal krukunan umat beragama di Kalimantan Tengah menjelang Pemilu damai 2019 dan persiapan upacara penutupan Mahasabha Peradah XI.

Mahasabha XI yang ditutup secara resmi oleh Dirjen Bimas Hindu, Dalam sambutannya Dirjen Bimas Hindu mengajak pemuda untuk terus bekerja dan berkarya, jangan hanya terhenti sampai di sini saja tetapi harus ada peningkatan karir. Usaha, bisnis dan kenaikan keberhasilan yang lainnya. Anak muda Hindu harus mau meningkatkan kualitas diri, belajar dan terus belajar.




Ditemui secara terpisah oleh penyelenggara Hindu, D Surehs Kumar (mantan Ketua Peradah Indonesia) menjelaskan bahwa seorang pemimpin yang ideal lahir dari sebuah proses dan jenjang secara bertahap. Teori sosial tentang kepemimpinan menyatakan bahwa “seorang pemimpin harus di bentuk, tidak begitu saja muncul dan ditakdirkan sebagai pemimpin, oleh karena  itu seseorang menjadi pemimpin karena proses pendidikan  dan pelatihan”.

Rangkaian terakhir dari Mahasabha XI PERADAH Indonesia adalah Bhakti Sosial di daerah pedalaman Kalimantan Tengah. (eko_prasetyo_2018)

Pujawali IX Pura Agung Amerta Bhuana, Kota Batam


Batam-Pada hari Rabu 24 Oktober 2018, umat Hindu di Kota Batam menyelaksanakan prosesi upacara Pujawali XI yang bertepatan dengan Purnama sasih Kalima Pura Agung Amerta Bhuana. Upacara ini ini. Upacara pujawali merupakan bagian dari Dewa Yajna yang berarti memuja kembali keagungan Tuhan pada hari yang sudah ditentukan. Pujawali adalah hari jadi pura yang diisi dengan aktivitas spiritual berupa upakara keagamaan guna menumbuhkan keimanan umat Hindu di Kota Batam. Pada Ida Pedanda Gede Nyoman Putra Talikup, Griya Kaulubiau, Desa Muncan, Selat, Kabupaten Karangasem, Prov. Bali.

Hadir pada kesempatan itu Pembimas Hindu Kanwil Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Riau, Ketut Suardita, S.Pd, M.Pd, Ketua Parisada Prov. Kepulauan Riau, Parisada Kota Batam, Penyelenggara Bimas Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Batam, Eko Prasetyo, S.Ag, Penyuluh Agama Hindu Kanwil kementerian Agama Provinsi Kepulauan Riau, Purwadi, S.Ag, Pengurus Parisada Prov. Kep. Riau, WHDI Prov. Kep. Riau, Ny. Dara Astuti selaku Ketua WHDI Kepri, Ketua BPH Kerpi, Ketua BOP Agung Amerta Bhuana, Ketua UKHB dan Ketua Lembaga Agama dan Keagamaan se-Kota Batam.

Mengapa harus melaksanakan pujawali atau piodalan dan juga Filosophy agama Hindu. Piodalan berasal dari kata Wedhal keluar atau lahir. Umat Hindu identik dengan dengan acara, upakara atau ritual. Dan umat Hindu di Batam kali ini melaksanakan Piodalan IX. Mengapa umat hindu di Batam harus melaksanakan piodalan? Mengapa ini terjadi?

Piodalan Mengulang sejarah proses sebelum adanya pura dan juga sesudah pura itu ada. Pujawali atau piodalan sebagai Wujud terima kasih kepada leluhur, penggagas dan pendahulu oleh generasi penerusnya. Wujud terim kasih itu berupa pelestarian budaya sebagai bagian dari upaya pembumian ajaran Weda.

Kegiatan Pujawali ini sudah didahului dengan Prosesi Melasti di Danau Sei Ledi pada hari Selasa 23 Oktober 2018. Menurut Penyelenggara Hindu bahwa upacara Melasti dijelaskan dalam lontar Sanghyang Aji Swamandala yaitu Anglukataken laraning jagat, paklesa letuhing bhuwana,” yang artinya: Melenyapkan penderitaan masyarakat, melepaskan kepapaan dan kekotoran alam. Lebih lanjut dalam dalam Lontar Sundarigama menambahkan bahwa tujuan Melasti adalah: Amet sarining amerta kamandalu ring telenging sagara, yang artinya: Mengambil sari-sari air kehidupan (Amerta Kamandalu) di tengah-tengah samudera. Sumber lain menyebutkan bahwa tujuan pelaksanaan melasti adalah menyucikan sarana prasarana, pratima dan wastra: Pesucian dewa kalinggania pamratista bethara kabeh yang artinya Mensucikan sthana para dewa. Jadi tujuan Melasti di samping membersihkan sarana dan prasarana upakara, pratima, wastra adalah juga untuk menghilangkan segala kekotoran diri dan alam serta mengambil sari-sari kehidupan di tengah samudera. Samudera adalah lambang lautan kehidupan yang penuh gelombang suka-duka. Dalam gelombang samudera kehidupan itulah, kita mencari sari-sari kehidupan.

Ada beberapa rangkaian upacara pujawali. Yang paling umum adalah mecaru, mekalhyas, persembahyangan bersama dan diakhiri nyineb sekaligus prosesi Purwa daksina. Upakara didahului dengan proses mecaru yang berfungsi menjalin hubungan yang harmonis kepada unsur alam (palemahan). Bhuta kala adalah unsur penyeimbang yang berperan menjaga keseimbangan alam ini yang harus kita hormati malalui prosesi pecaruan. Pujawali berjalan dengan lancer karena kerjasama dari semua pihak. Tujuan dari pelaksanaan upacara yajna adalah lascarya, sidhi karya, dan labda karya yang pada akhirnya akan memberikan damapak bagi umat baik kesucian batin dan kesejahteraan hidup.

Selanjutnya adalah Upacara Purwa daksina, yaitu berjalan mengelilingi padmasana dengan membawa pratima-pratima searah jarum jam sambal mengulang-ulang nama suci Tuhan. Purwa Daksina merupakan salah satu prosesi pujawali yang mengandung makna bahwa kita harus mengagung-agung nama suci Tuhan, yang kedua adalah bahwa kita sebagai manusia harus ikut memutar roda kehidupan di jalan kebenaran, Jika tidak maka kita akan bisa bertahan hidup, demikian pula jika kita keluar dari jalan dharma maka kita akan mendapatkan hukumanya. Dalam mengarungi kehidupan ini terkadang kita mengalami suka dan duka yang datang silih berganti. Hukum rta ini tidak bisa dihindari oleh manusia. Penderitaan yang muncul akibat kegiatan kerja yang kita lakukan ibarat bisa, atau racun (wisaya) yang keluar dari proses pengadukan lautan kehidupan.   Sebaliknya kebahagiaan yang muncul dari kegiatan kerja kita ibarat tirtha amertha yang memuaskan dahaga kita. JIka salah kita memutar roda kehidupan, maka bukanya madu yang kita dapatkan melainkan racun. Tetapi terkadang walau kita sudah memutar roda kehidupan di jalan kebenaran tetapi kita masih saja mendapatkan racun (wisaya), itu adalah bagian dari hukum rta yaitu, lahir-mati, penyakit, usia tua, dan penderitaan (janma mertyu jara wyadi duhka dosa nudarsanam). Manusia tidak bisa terhindar dari hukum rta, tetapi jika kita di jalan dharma maka penderitaan itu akan tetap kita terima tetapi kita diberikan kekuatan batin untuk menghadapinya.

Pujawali merupakan salah satu cara untuk tetap menegakkan dharma dan membumikan, melestarikan ajaran Weda. Sebagaimana kita ketahui dalam sastra suci bahwa makhluk hidup berasal dari makanan, makanan berasala dari tumbuhan, tumbuhan berasal dari hujan, hujan berasal dari yajnya, dan yajna sendiri bisa terlaksana karena kegiatan kerja (karma). Maka kegiatan Yajna, bersedekah, tapa brata, dan kegiatan kerja tidak boleh kita tinggalkan karena itu adalah pensuci bagi orang yang memuja Tuhan. Umat sangat antusias mengikuti acara dari awal sampai akhir. (eko2018).








Melasti dalam rangka Pujawali Pura Agung Amerta Bhuana, Kota Batam


Batam-Pada hari Selasa 23 Oktober 2018, umat Hindu di Kota Batam menyelaksanakan prosesi upacara Pujawali XI yang bertepatan dengan Purnama sasih Kalima Pura Agung Amerta Bhuana. 

Menurut Penyelenggara Hindu bahwa upacara Melasti dijelaskan dalam lontar Sanghyang Aji Swamandala yaitu Anglukataken laraning jagat, paklesa letuhing bhuwana,” yang artinya: Melenyapkan penderitaan masyarakat, melepaskan kepapaan dan kekotoran alam. Lebih lanjut dalam dalam Lontar Sundarigama menambahkan bahwa tujuan Melasti adalah: Amet sarining amerta kamandalu ring telenging sagara, yang artinya: Mengambil sari-sari air kehidupan (Amerta Kamandalu) di tengah-tengah samudera. Sumber lain menyebutkan bahwa tujuan pelaksanaan melasti adalah menyucikan sarana prasarana, pratima dan wastra: Pesucian dewa kalinggania pamratista bethara kabeh yang artinya Mensucikan sthana para dewa. Jadi tujuan Melasti di samping membersihkan sarana dan prasarana upakara, pratima, wastra adalah juga untuk menghilangkan segala kekotoran diri dan alam serta mengambil sari-sari kehidupan di tengah samudera. Samudera adalah lambang lautan kehidupan yang penuh gelombang suka-duka. Dalam gelombang samudera kehidupan itulah, kita mencari sari-sari kehidupan. (eko2018)






Selasa, 16 Oktober 2018

Umat Hindu Batam Rayakan Hari Pagerwesi


Batam-Pada Hari Rabu, 17 Oktober 2018 bertempat di Pura Agung Amerta Bhuana, Kota Batam, umat Hindu merayakan hari Suci Pagerwesi. Hadir pada kesempatan itu penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Batam, ketua lembaga Agama dan keagamaan baik tingkat Provinsi maupun tingkat kota.

Hari Raya Pagerwesi dilaksanakan pada hari Budha (Rabu) Kliwon Wuku Shinta. Hari raya ini dilaksanakan 210 hari sekali. Sama halnya dengan Galungan, Pagerwesi termasuk pula rerahinan bumi, artinya hari raya untuk semua masyarakat, baik para rohaniawan maupun umat. Dalam sastra suci dijelaskan bahwa pada hari Rabu Kliwon Shinta disebut Pagerwesi sebagai pemujaan Sang Hyang Pramesthi Guru yang diiringi oleh Dewata Nawa Sanga (sembilan dewa) untuk mengembangkan segala yang lahir dan segala yang tumbuh di seluruh dunia. Hendaknya umat Hindu memohon kepada Tuhan agar diberi kekuatan hati dan pikiran laksana besi agar mampu membentengi diri dari pengaruh negatif di dunia ini. Di samping agar diberikan kekuatan mental untuk selalu berpikir, berkata dan berbuat baik.

Hari suci ini merupakan rangkaian dari hari Suci Saraswati, hari di mana ilmu pengetahuan suci itu diturunkan oleh Tuhan dalam prabhawa-Nya sebagai Dewi Saraswati. Sehingga umat manusia yang dipenuhi dengan kegelapan bisa menjadi terang atau tercerahkan. Diharapkan umat Hindu kota setelah melaksanakan persembahyangan pada Hari suci Pagerwesi dikuatkan sradha (keimanan) dan bhaktinya.

Pada kesempatan itu Eko Prasetyo selaku penyelenggara Hindu pada Kantor Kementerian Agama Kota Batam berkesempatan menyampaikan dharma wacana. Dalam kesempata itu Eko Prasetyo menjelaskan makna hari Pagerwesi. Eko juga menjelaskan ada 4 (empat) hal yang harus kita pagari menurut Manawa Dharma Sastra Adhya V sloka 109, yaitu bahwa tubuh dibersihkan dengan air, pikiran dibersihkan dengan kejujuran, jiwa dibersihkan dengan tapa brata yoga Samadhi dan kecerdasan dan perilaku dibersihkan dengan pengetahuan yang benar.

Umat begitu kidmat dalam mengikuti persembahyangan hari Pagerwesi, Umat Hindu memohon anugerah dan pengampunan dari Tuhan Yang Maha Esa. (ep2018)

Umat Hindu Kota Batam Ikuti Upacara Banyu Pinaruh hari Suci Saraswati di Pantai Payung


Batam-Pada Hari Minggu, 14 Oktober 2018 jam 05.300 WIB pagi bertempat di Pantai Payung, Batu Besar, Kota Batam, Umat Hindu Kepulauan Riau menggelar upacara Banyu Pinaruh sebagai bagian dan lanjutan dari perayaan Hari Suci Saraswati. Upacara ini dipimpin oleh Jro Mangku Putu Satriayasa dan Jro Mangku Agung Arief Suryanatha. Hadir pada kesempatan itu ketua Paruman Walaka, ketua Badan Penyiaran Hindu (BPH) Prov. Kepulauan Riau, Pengurus Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) kepulauan Riau, penyuluh Agama Hindu Kota Batam, Penyelenggara Hindu pada Kantor Kementerian Agama Kota Batam, Ketua Parisada Kota Batam, Ketua Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Kota Batam, Ketua Badan Otorita Pura Agung Amerta Bhuana (BOP), Ketua Pasraman Jnana Sila Bhakti, dan siswa pasraman Pasraman Jnana Sila Bhakti.

Menurut Eko Prasetyo selaku Penyelenggara Hindu pada Kantor Kementerian Agama Kota Batam Banyu Pinaruh berasal dari kata banyu yang artinya air atau sari-sari, dan pinaruh atau pinaweruh berarti pengetahuan. Jadi Banyu peniaruh adalah memohon sari-sari ilmu pengetahuan Kitab Suci Weda dari Tuhan Yang Maha Esa. sehingga dapat dikatakan banyu pinaruh adalah hari dimana kita memohon sumber air pengetahuan. Umumnya dilaksanakan di laut atau di sumber air yang disucikan lainnya.

Eko juga menambahkan bahwa Banyu Pinaruh juga bertujuan untuk memohon kesucian lahir dan batin serta memohon tirtha amertha yang bermanfaat dalam kehidupan umat Hindu. Dalam Sastra suci dijelaskan “Amet sarining tirtha kamandalu ring telenging segara” yang artinya bahwa melasti bertujuan untuk menyerap sari-sari tirtha amerta (tirtha kehidupan) dari tengah-tengah lautan/segara). Dalam Manawa Dharmasastra Buku V. 109 dijelaskan:

Adbhirgatrani cuddhyanti
manah satyena cuddhyati,
widyatapobhyam bhutatma,
buddhir jnanena cuddhyati.

Artinya: 
Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kebenaran, jiwa disucikan dengan pelajaran suci dan tapa brata, kecerdasan dengan pengetahuan yang benar.

Kegiatan rangakaian hari raya Saraswati kali ini ini berjalan dengan lancar dan sukses. Semua ini tidak lepas dari dukungan semua pihak yang denga tulus ikhlas membantu dan saling bekerjasama. Tentunya tidak liupa kami mengucapkan terima kasih kepada umat Hndu Kota Batam, dan kepada management Pantai Payung yang telah memberi ijin dan fasilitas sembahyang di pantai kepada umat Hindu.

Umat Hindu di Kota Batam begitu antusias mengikutinya. Harapannya semoga semua umat Hindu dapat merasakan manfaatnya berupa ketenang batin, kesehatan dan kesejahteraan. (eko2018)

Senin, 15 Oktober 2018

Umat Hindu Kota Batam Gelar Perayaan Hari Saraswati


Batam-Pada Sabtu, tanggal 13 Oktober 2018, di Pura Agung Amerta Bhuana, Jalan Gajah Mada Nomor 03, Umat Hindu di Kota Batam menyelenggarakan Upacara keagamaan memperingati hari suci Saraswati. Hadir pada kesempatan itu Ketua Parisada Prov. Kepulauan Riau, ketua Paruman Walaka, ketua Badan Penyiaran Hindu (BPH) Prov. Kepulauan Riau, Pengurus Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) kepulauan Riau, Penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Batam, Parisada Kota Batam, Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI) Provinsi Kepulauan Riau dan WHDI Kota Batam, Ketua Badan Otorita Pura Agung Amerta Bhuana (BOP), Ketua Pasraman Jnana Sila Bhakti, dan siswa pasraman, serta umat Hindu dari Kota Batam. Upacara dipimpin oleh Jro Mangku Putu Satria Yasa dan Jro Mangku Agung Arief Suryanatha.

Menurut Penyelenggara Hindu, Perayaan ini bertujuan untuk memohon anugerah dari Dewi Saraswati berupa ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan. Hari Saraswati sendiri adalah hari di mana ilmu pengetahuan suci Weda diturunkan oleh Sang Hyang Aji Saraswati. Kelak ilmu pengetahuan akan bermanfaat bagi kesucian dan kesejahteraan umat manusia. Setinggi apapun ilmu atau IPTEK  yang dimilikki oleh manusia jika tidak diimbangi dengan pendidikan budi pekerti maka manusia bisa saja menyalah gunakan kemajuan IPTEK itu sendiri Dewasa ini kemajuan IPTEK yang tidak diiringi dengan pendidikan agama maka justru akan menghancurkan manusia itu sendiri. Di sinilah pentingnya IPTEK yang seimbang dengan pemahaman pengamalan ajaran agama. Di kota Batam perayaan Saraswati dilaksanakan di Pura Agung Amertha Bhuana Kota Batam.

Dalam dharma wacananya Dr. Drs I Wayan Catra Yasa, MM menjelaskan bahwa ilmu pengetahuan itu dilambangkan dengan Dewi yang sangat cantik yaitu Dewi Saraswati, artinya ilmu pengetahuan akan membuat pemiliknya menjadi menarik. Ilmu pengetahuannya juga dilambangkan dengan burung merak artinya bahwa orang yang memilikki ilmu pengetahuan akan berwibawa. Ilmu pengetahuan juga dilambangkan engan genitri yang artinya bahwa ilmu pengetahuan itu tidak akan selesai kita pelajari sampai batas usia kita. Terkahir Wayan Catra berpesan kepada genarasi muda, siswa pasraman untuk terus belajar, mengasah diri , meraih cita – cita. (ep18)

Rabu, 10 Oktober 2018

Ditjen Bimas Hindu Menggelar Kegiatan Penyusunan Alokasi Anggaran TA 2019


Bertempat di Redtop Hotel and Convention Center, Ditjen Bimas Hindu menyelenggarakan kegiatan Penyusunan Alokasi Anggaran TA 2019 pada hari Senin, 8 Oktober  s/d Rabu 10 Oktober 2018. Kagiatan ini diikuti oleh 120 orang terdiri dari 86 dari daerah, 26 orang pusat, Pejabat Eselon III dan IV di lingkungan Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama Republik Indonesia, 8 orang dari perhuruna tinggi Rektor, Ketua Perguruan Tinggi Hindu Negeri, Pembimas beserta operator RKA-K/L seluruh Kanwil Kementerian. Narasumber 2 dari Pusat dan 2 dari DJA Kemenkeu. Kegiatan ini dibebankan pada DIPA Bimas Hindu Pusat daerah dan Perguruna Tinggi Hindu.

Menurut Putu Jaya selaku Ketua panitia, bahwasannya kegiatan ini bertujuan untuk merencanakan anggaran yang tepat jumlah, tepat guna dan tepat sasaran.

Penyempurnaan anggaran berbasis kinerja. Menurut DJA Kemenkeu memilikki manfaat yang sebesar-I besar, value of money  output harus konkrit dan bisa diukur. Perbaikan defisni ouput, ditambah fase penerima manfaat. Penegasan standarisasi output generic, output yang penerima manfaatnya internal   misalnya sarana perkantoran, sedangkan output teknis bersfiat eksternal seperti bantuan. Terkait dengan perbaikan dan Penegasan standarisasi output 970 (Dukungan layanan manajemen Satker), kalau di pusat masih menggunakan output 950 Dukungan manajemen Eselon I demikian juga pada output oleh Kepala Biro di bawah Sekjen Kementerian Agama ada output baru 952 terkait layanan perencanan, 953 terkait monitoring dan evaluasi dan ouput 962 terkait pelayanan data dan system informasi. Untuk menilai output genrik dilihat dari satuanya, berapaa dokumen yang dihasilkan dari indikator yang ingin dicapai, pokok kedua yang menjadi perhatian terkait RPJM dan review angka dasar menggunakan aplikasi lain yang dikleurkan oleh DJA Kemenkeu. Terkait penelahaan anggaran sampai pada detail. Dulu menelaah sampai level komponen. Jika ada yang tidak relevan dengan output maka akan dimasukkan ke akun cadangan. 

Menurut Dirjen Bimas Hindu kegaiatan ini sangat penting, dari sini kita dapat menlaksanakan berbagai kegiatan pada tahun 2019. Apresiasi kepada panitia yang telah menyiapkan kegaiatn penyusunan alokasi angagran 2019. Tugas perencanaan makin berat mengingat penganggaran menggunakan aplikasi online. Revisi yang dilakukan tidak boleh sembarangan, harus jelas dan berbasis data. Waktu revisi juga dibatasi maksimal revisi. Maka kita harus mempersiapkan dengan matang. Terlalu sering revisi menujukkan data tidak valid. Dirjen berharap kepada semua pihak pelaku anggaran untuk fokus pada penganggaran dan pelaksanaan tugas mengingat hal ini setiap tahun kita lakukan. Negara membayar ASN untuk bekerja secara profesional, mengingat keberhasilan program yang kita laksanakan akan berdampak positif terhadap ekonomi masyarakat. guna mengangkat kemiskinan, menstabilkan nilai tukar rupiah. Kita harus membuat agenda dan jadwal selama setahun. Buatkan jadwal yang sistematis, sehingga realisasikan tepat waktu. Perkuat koordinasi memahami tugas kita. Realiasi Bimas Hindu belum maksimal, bari 62%. Pejabat dan jfu harus focus pada tugas.   

Selanjutnya Sekretaris Ditjen Bimas Hindu dalam paparannya menjelaskan bahwa dalam waktu dekat Bimas Hindu juga akan menyusun Rencana Stratgeis 2020 – 2024. Semua program dan kegiatan yang kita susun harus berpedoman kepada Renstra ini. Sekretaris juga mengajak agar anggaran yang dibuat agar terperinci dan detail. Jika tidak, menurut Dirjen Anggaran Kementerian Keuangan RI, jika tidak detail maka akan dilakukan blokir atau dimasukkan ke dalam akun cadangan. Satker di pusat dan daerah juga harus mengusulkan RKBMN, jika tidak membuat maka dianggap tidak mengusulkan dan tidka ada.

Kemudian Kabag Perencanaan Data dan Informasi menjelaskan bahwa kita harus berhati – hati menggunakan akun. Misalnya akun bantuan barang yang menggunakan akun 526 tergantung bantuan dalam bentuk barang atau uang. Penyedian juknis pemberian bantuan mendesak untuk diadakan agar di daerah bisa tepat waktu dalam merealisasikan bantuan.

Kemudian Dirjen Anggaran Kementerian Keuangan Republik Indonesia dalam paparannya menjelaskan bahwa perubahan atau revisi pada level detail dilakukan oleh DJA. Satker harus detail dalam penganggaran. Untuk hal – hal yang belum jelas penggunaannya akan dimasukkan dalam akun cadangan, di mana pembukaannya lebih sulit dari buka blokir. Output cadangan dimasukkan dalam level program, untuk pembukaannya menjadi kewengan Menteri Keuangan, bukan Dirjen. Jika ada tunggakan atau terhutang maka dicantumkan di halaman IV sehingga di KPPN bisa dicarikan. Penggaran untuk keperluan rapat, seminar, dan sejenisnya harus sesuai dengan tugas dan fungsi, jika tidak maka akan diblokir. Kenaikan tunjangan penyuluh non PNS menjadi satu juga akan tetap diblokir sampai ada KMA yang mengaturnya. Telaah RKA-K/L tidak hanya oleh APIP tetapi jug aoleh DJA Kementerian Keuangan RI. Namun DJA akan akan melakukan proses blokir  atau memasukkan kea kun cadangan jika masih ada penganggaran glodongan. Terakhir Dirjen Anggaran Kementerian Keuangan Republik Indonesia berharap sekaligus berpesan agar tidak ada yang diblokir dan dimasukkan ke dalam akun cadangan.

Kegiatan dilanjutkan dengan penyusunan anggaran, penyusunan Kerangka Acuan Kegiatan (KAK), Rencana Anggaran Biaya (RAB), dan telaah DIPA TA 2019. (ep2018)

Rabu, 26 September 2018

Umat Hindu Tanjung Pinang Gelar Pujawali di Pura Giri Natha Puncak Sari


Tanjung Pinang-Pada Hari Senin, 24 September  2018 di Pura Giri Natha Puncak Sari, Km 11, Kijang, Kepulauan Riau, umat Hindu Kota Tanjung Pinang menggelar upacara Dewa Yajna yaitu Pujawali. Upacara ini dipimpin oleh Jero Mangku Nyoman Wiarta. Hadir pada kesempatan itu Ketut Suardita selaku Pembimas Hindu Prov. Kepulauan Riau, Jero Mangku Agung Arief Suryanatha selaku Pengurus Pinandita Sanggraha Nusantara (PSN) kepulauan Riau, Purwadi selaku penyuluh Agama Hindu Kepulauan Riau, Eko Prasetyo selaku Penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Batam,  Nyoman Wiarta selaku Ketua Parisada Kabupaten Bintan, Made Karmawan  selaku Ketua Parisada Kota Batam, Ketua WHDI Bintan, Ketua Pasraman Brahma Widya Satwika, Ketua Parisada Kota Tanjung Pinang dan siswa pasraman, serta umat Hindu dari Kota Batam, Kota Tanjung Pinang dan Kabupaten Bintan.

Pujawali berasal dari kata “puja” dan “mewali”  artinya umat Hindu memuja kembali keagungan Tuhan dalam prabawa-Nya sebagai  Ida Bethara yang kita puja di pura ini pada hari yang sama. Kita melaksanakan upacara pujawali secara rutin dalam jangka waktu tertentu yang kita sepakati sesuai Iksa, Sakti, Desa, Kala, dan Tattwa.  Tuhan akan memberkati kita semua bila kita semua tulus  ikhlas dalam melaksanakan upacara ini. Kesucian batin dan kemakmuran kita peroleh. Dengan melaksanakan upacara pujawali ini kita semua akan dapat mewujudkan satyam, siwam dan sundaram yang artinya upacara itu terdapat unsur  kebenaran, kesucian dan keindahan. Pujawali merupakan salah satu cara untuk tetap menegakkan dharma dan membumikan, melestarikan ajaran Weda. Sebagaimana kita ketahui dalam sastra suci bahwa makhluk hidup berasal dari makanan, makanan berasala dari tumbuhan, tumbuhan berasal dari hujan, hujan berasal dari yajnya, dan yajna sendiri bisa terlaksana karena kegiatan kerja (karma). Maka kegiatan Yajna, bersedekah, tapa brata, dan kegiatan kerja tidak boleh kita tinggalkan karena itu adalah pensuci bagi orang yang memuja Tuhan.

Ada beberapa rangkaian upacara pujawali. Yang paling umum adalah mecaru dan Purwa daksina. Upakara Ngenteg linggih pura di Pura Giri Natha ini didahului dengan proses mecaru pada jam 19.00 WIB. Upacara mecaru yang berfungsi menjalin hubungan yang harmonis kepada unsur alam (palemahan). Bhuta kala adalah unsur penyeimbang yang berperan menjaga keseimbangan alam ini yang harus kita hormati malalui prosesi pecaruan. Pujawali berjalan dengan lancer karena kerjasama dari semua pihak. Tujuan dari pelaksanaan upacara yajna adalah lascarya, sidhi karya, dan labda karya yang pada akhirnya akan memberikan damapak bagi umat baik kesucian batin dan kesejahteraan hidup.

Untuk menyambut upacara ini umat Hindu Kota Tanjung Pinang dan Kabupaten Bintan sudah melaksanakan gotong royong, yang Ibu-ibu gotong royong mejejahitan atau Pembuatan bahan sesaji seperti Tamas kulit sayut, dan lain-lain. Umat Hindu juga melaksanakan gotong royong Pembuatan Penjor, Pemasangan Wastra.

Dilanjutkan dengan prosesi Pujawali. Upacara ini diawali dengan Purwa daksina, yaitu berjalan mengelilingi padmasana dengan membawa pratima-pratima searah jarum jam sambal mengulang-ulang nama suci Tuhan. Purwa Daksina merupakan salah satu prosesi pujawali yang mengandung makna bahwa kita harus mengagung-agung nama suci Tuhan, yang kedua adalah bahwa kita sebagai manusia harus ikut memutar roda kehidupan di jalan kebenaran, Jika tidak maka kita akan bisa bertahan hidup, demikian pula jika kita keluar dari jalan dharma maka kita akan mendapatkan hukumannya.

Acara dilanjutkan dengan dharma wacana yang disampaikan oleh Made Karmawan, S.Ag selaku Ketua PHDI Kota Batam tentang satwika yajna dan keutamaan yajna. Acara dilanjutkan dengan persebahyangan bersama dan nunas tirtha. (eko2018).

Selasa, 18 September 2018

Pembimas Hindu Kepri gelar Kegiatan Pembinaan Keluarga Sukhinah/ Sudhi Wadani Tahun 2018


Batam-Pada hari Kamis 13 September sampai dengan Jumat 14 September, Pembimas Hindu menyelenggarakan kegiatan Pembinaan Keluarga Sukhinah/ Sudhi Wadani Tahun 2018. Kegiatan ini diikuti sebanyak 40 (empat puluh) orang peserta, dengan utusan Kota Batam 34 orang dan Kabupaten Bintan sebanyak 6 (enam) orang. Hadir pada acara pembukaan itu adalah Ka-Kanwil kemenag Kepri dan jajarannya, Pembimas Hindu Kemenag Kepri, Eko Prasetyo selaku Penyelenggara Hindu Kan Kemenag Kota Batam, Ketua PHDI Prov. Kepulauan Riau, Ketua PHDI Kota

Batam, WHDI Kepri, WHDI Kota Batam dan ketua Banjar se-kota Batam

Dalam laporannya, Purwadi, S.Ag menyampaikan tema “Membangun Keluarga Sejahtera Dalam Kehidupan Rumah Tangga Menuju Loka Samgraha” bertujuan untuk meningkatkan Sradha dan Bhakti dalam keluarga Hindu, menambah wawasan dan pengetahuan dalam membina keluarga Hindu yang Sukhinah Bhawantu. Dan meningkatkan kepercayaan diri dalam hidup bermasyarakat di era mileneal.

Dalam sambutannya Dr. Drs. H. Mukhlisuddin, S.H., M.A, selaku Ka-Kanwil Kemenag Kepulauan Riau membentuk keluarga bahagia sejahtera didasarkan atas cinta yang memiliki 3 unsur penting: Komitmen, Komunikasi dan Cinta Kasih.

Konsep awal dari Kegiatan Pembinaan Sukhinah/Sudhi Wadani Tahin 2018 ini pesertanya adalah berpasang-pasangan, tetapi karena kondisi umat Hindu di Kepulauan Riau tersebar di Kota Batam, Kabupaten Bintan dan Kota Tanjungpinang sebagian besar adalah adalah pekerja sehingga sulit untuk merealisasikan ide awal ini, terang Purwadi.


Selanjutnya adalah paparan dari Ka-Kanwil Kemenag Kepri, Dr.Drs.H.Mukhlisuddin,S.H.,M.A menyampaikan materi tentang “Kebijakan Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Riau Dalam Membangun Keluarga Sukhinah.” Dikatakannya, keluarga bahagia dan sejahtera didasarkan atas cinta kasih, komitmen dan keprcayaan.

Selanjutnya adalah paparan dari Ketut Suardita selaku Pembimas Hindu pada Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepualuan Riau yang dimoderatori oleh EKo Prasetyo selaku Penyelenggara Hindu pada Kantor Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau. Adapun materi yang dibawakan adalah Membangun keluarga sukhinah bhavantu. Ketut Suardita mengajak umat Hindu untuk membangun keluarga atas dasar bhakti kepada Tuhan. Membagun keluarga adalah ibadah yang sangat mulia. Dalam Weda dijelaskan bahwa memilikki putra yang suputra sangat besar pahalanya karena dapat menyelamatkan leluhurnya dari pederitaan. Untuk itu beliau menghimbau agar keluarga Hindu menjadi keluarga yang sukhinah.

Materi selanjutnya disampaikan oleh Dr., Drs. I Wayan Catra Yasa, M.M dengan judul materi “Membangun Keluarga Sukhinah Menuju Loka Samgraha” yang dpandu oleh Ni Made Seriniti dari WHDI Kota Batam. Wayan menjelaskan bahwa tujuan membentuk keluarga adalah untuk melaksanakan Dharma yang meliputi semua aktivitas dan kewajiban agama seperti melaksanakan Yajña, sebab di dalam grhasta-lah aktivitas Yajña  dapat dilaksanakan secara sempurna. Yang kedua adalah mampu melahirkan keturunan yang akan melanjutkan amanat dan kewajiban kepada leluhur. Melalui Yajña  dan lahirnya putra yang suputra seorang anak akan dapat melunasi hutang jasa kepada leluhur (Pitra rna), kepada Deva (Deva rna) dan kepada para guru (Rsi rna). Yang ketiga adalah mempelai dapat menikmati kepuasan seksual dan kepuasan-kepuasan lainnya (Artha dan kama) yang tidak bertentangan dan berlandaskan Dharma.


Pada hari kedua kegiatan Pembinaan Keluarga Sukhinah/Sudhi Wadani Tahun 2018 diisi narasumber dari Dinas Kesehatan Kesehatan Prov. DKI Jakarta yang juga merupakan pengurus WHDI Pusat yaitu Ni Made Jendri, SKM, M.Si dengan materi: “Tumbuh Kembang Anak Dan Remaja Serta Parenting Agar Terwujud Anak Yang Suputra, Sehat, Cerdas Dan Bahagia”. Kita harus mendidik anak sesuai dengan usianya. Jangan melakukan kekerasan phisik dan mental kepada anak karena akan berpengaruh kepada kepribadiannya kelak. Jika anak dibesarkan dengan sanjungan maka dia akan menghargai, jika penuh kekerasan maka akan menjadi kasar, jika anak dibesarkan dengan ejekan maka dia akan tumbuh menjadi anak  yang rendah diri. Narasumber juga berpesan agar umat Hindu membiasakan gaya hidup sehat di rumah, masyarakat, tempat kerja dan juga di pura. Ada gerakan GERMAS dari Kementerian Kesehatan RI. Umat Hindu harus mendukungnya dnegan membiasakan gaya hidup yang sehat. (ep2018)

Kanwil Kemenag Kepri Gelar Sosialisasi Produk Hukum di Lingkungan Kemenag Kepri


Batam-bertempat di Wisma Kementerian Agama dan Pusat Informasi Haji (PIH), Batam Center pada Hari Senin 10 September sampai dengan Rabu 12 September 2018, Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau menggelar kegiatan Sosialisasi Produk hukum di lingkungan Kemenag Kepulauan Riau. Peserta terdiri dari pejabat Eselon III dan IV di lingkungan Kanwil Kemenag kepri.

Menurut ketua Panitia dalam sambutannya, kegiatan ini bertujuan untuk menambah wawasan kepada ASN di lingkungan Kemenag Kepri di bidang hukum, kemudian menerapkannya. Sangat penting bagi ASn untuk mengetahui aturan teruatama menyangkut soal anggaran, pidana dan lain sebagainya.

Dalam sambutannya Mukhlisudin selaku Ka-Kanwil Kemenag Kepri yang baru menjelaskan bahwa ASN harus menguasai aturan, menerapkan dan melakukan pengendalian internal pemerintah. ASN di lingkungan Kanwil Kemenag Kepri dituntut untuk Profesional dan proporsional sesuai dengan 5 (lima) nilai budaya kerja Kementerian Agama RI.

Seanjutnya adalah paparan dari Biro Kepegawaian, Pak Iwan yang menyampaikan bahwa ASN harus terus melakukan inovasi dan terus belajar untuk meningkatkan kualitas diri. ASN yang tidak mengikuti perubahan zaman akan tertinggal. Namun ASN kemenag harus ikut aturan yang berlaku di Kemenag.

Selanjutnya adalah Paparan dari Kepala Biro Hukum dan Kerjasama luar Negri Kementian Agama RI yang menyampaikan kewenangan pejabat di lingkungan Kementerian Agama dan pentingnya hukum yang melindungi ASN di lingkungan Kementerian Agama.

Dilanjutkan dengan Kepala Kejaksaan Tinggi Prov. Kepulauan Riau. Kejati Kepri menyatakan bahwa jajarannya siap membantu Kemenag dalam hal pendampingan dalam hal pelaksanaan anggaran, misalnya pembangunan phisik dann lain sebagainya. Pihaknya menghimbau agar ASN menghindari praktik Pungli. Kita harus berpegang pada aturan yang ada. (ep2018)

Pakemda DPP Peradah Kepulauan Riau Tahun 2018



Pada Hari Minggu tanggal 5 Agustus 2018 bertempat di Aula Pasraman Jnana Sila Bhakti, Pura Agung Amaerta Bhuana, DPP Peradah Prov. Kepulauan Riau menyelenggarakan melaksanakan Kegiatan Pelatihan Kepemimpinan daerah (Pakemda) Tahun 2018. Kegiatan ini diikuti oleh sekitar 50 peserta dari perwakilan 6 Banjar se-Kota Batam.

Hadir pada kesempatan itu Ketut Suardita selaku Pembimas Hindu, kemudian Penyelenggara Hindu Kota Batam, Ketua lembaga agama dan keagamaan.
 
Dalam sambutannya Ketua DPP Peradah Kepri menjelaskan tema dari kegaiatan ini adalah Mewujudkann Budaya Kepemimpinan dalam Kewirausahaan. Kegiatan ini dirangkai dengan seminar kewirausahaan dengan narasumber I Kade Witarsa, S.E.

Dalam sambutannya Putu Suardika selaku Sekretaris PHDI Prov Kepri mengajak lembaga untuk membantu Peradah. Pemerintah dalam hal ini Pembimas Hindu Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau berkewajiban membantu DPP Peradah Kepri.

Dalam Sambutannya Ketut Suardita menegaskan bahwa PERADAH harus mampu menghidupi orhanisasinya Jangan tergantung program dari pemerinta. Jika ingin mendapatkan bantuan dari pemerintah maka harus membuat proposal permohonan dana dan memilikki tanda daftra lembaga dari Bimas Hindu Kementerian Agama RI. Ketut Suardita membuka kegiatan Pakemda Peradah Kepri Tahun 2018 secara resmi. Acara di lanjutkan dengan seminar kewirausahaan.

Kepemimpinan tidak hanya sebatas di bidang pemerintahan, industri atau perusahaan tetapi juga kewirausahaan. Sebelum bisa memimpin orang ain maka harus dimulai dari memimpin diri sendiri terlebih dahulu. Wira usaha memberikan peluang besar yang mandiri. Karena kita yang memilikki usaha itu, tidak di bawah tekanan orang lain. (ep2018)