Rabu, 15 Juli 2015

Makna Hari Raya Galungan


Perayaan Galungan bagi umat Hindu di Indonesia sudah sangat memasyarakat dari abad keabad. Tetapi sangat kita sayangkan memasyarakatnya Galungan tersebut sangat tidak seimbang antara Tattwa atau kasuksmaan Galungan, Susila dengan Upakaranya. Artinya antara Tattwa yang tercamtum dalam teks pustaka Sundarigama dengan wujud susila dan upakara Galungan dalam kehidupan empirisnya sampai saat ini masih tidak nyambung. Bahkan kadang-kadang bertentangan.antara Tattwa Galungan yang  demikian luhur dan ideal dinyatakan dalam teks Pustakanya dengan kenyataan perayaan Galungan dalam kehidupan empiris setiap dalam kehidupan empiris setiap perayaan Galungan yang dirayakan setiap enam bulan wuku (210 hari). Ada kalanya disuatu waktu dan tempat perayaan Galungan lebih menonjolkan perayaan Galungan dengan meriahnya upakara yajna. Makan masakan khas daerah yang lebih nikmat dari sehari-harinya. Demikian pula Galungan diwujudkan dengan berpakaian serba baru,pergi ketempat-tempat hiburan dan melakukan hal-hal yang lebih menekankan keikmatan indria. Padahal Galungan adalah sebagai suatu peringatan untuk menajamkan daya spiritual untuk mensinergikan penerapan Jnyana atau ilmu pengetahuan suci untuk mencerahkan hati nurani umat sehingga dapat membangun kehidupan yang cerah dan bergaiarah untuk mengamalkan Dharma. Sesungguhnya Perayaan Galungan adalah untuk mengimplementasikan Tattwa Galungan banyak hal yang dapat kita perbuat dengan mengembangkan Tattwa Galungan kedalam berbagai program nyata sehingga Tattwa Galungan menjadi nyata dalam wujud susila dan upakara nya Inilah tujuan utama penulisan tentang Galungan dan Kuningan dalam tulisan singkat ini.
        Kata “Galungan” berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam rincian pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama : manis. Agak sulit untuk memastikan bagaimana asal-usul Hari Raya Galungan ini. Kapan sebenarnya Galungan dirayakan pertamakali di Indonesia, terutama di Jawa dan di daerah lain khususnya di Bali. Drs. I Gusti Agung Gede Putra (mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI) memperkirakan, Galungan telah lama dirayakan umat Hindu di Indonesia sebelum hari raya itu popular dirayakan di Pulau Bali. Dugaan ini didasarkan pada lontar berbahasa Jawa Kuna yang bernama Kidung Panji Amalat Rasmi. Tetapi, kapan tepatnya Galungan itu dirayakan di luar Bali dan apakah namanya juga sama Galungan, masih belum terjawab dengan pasti. Namun di Bali, ada sumber yang memberikan titik terang. Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi. Dalam lontar itu disebutkan:
Punang act Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya,
Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka”.
Sejak itu Galungan terus dirayakan oleh umat Hindu di Bali secara meriah. Setelah Galungan ini dirayakan kurang lebih selama tiga abad, tiba-tiba entah apa dasar pertimbangannya pada tahun 1103 Saka perayaan hari raya itu dihentikan. Itu terjadi ketika Raja Sri Ekajaya memegang tampuk pemerintahan. Galungan juga belum dirayakan ketika tampuk pemerintahan dipegang Raja Sri Dhanadi. Selama Galungan tidak dirayakan, konon musibah datang tak henti-henti. Umur para pejabat kerajaan konon menjadi relatif pendek. Ketika Sri Dhanadi mangkat dan digantikan Raja Sri Jayakasunu pada tahun 1126 Saka, barulah Galungan dirayakan kembali, setelah sempat terlupakan kurang lebih selama 23 tahun. Keterangan ini bisa dilihat pada lontar Sri Jayakasunu. Dalam lontar tersebut diceritakan bahwa Raja Sri Jayakasunu merasa heran mengapa raja dan pejabat-pejabat raja sebelumnya selalu berumur pendek. Untuk mengetahui penyebabnya, Raja Sri Jayakasunu mengadakan tapa brata dan samadhi di Bali yang terkenal dengan istilahDewa Sraya artinya mendekatkan diri pada Dewa. Dewa Sraya itu dilakukan di Pura Dalem Puri, tak jauh dari Pura Besakih. Karena kesungguhannya melakukan tapa brata. Raja Sri Jayakasunu mendapatkanpawisik atau“bisikan religius” dari Dewi Durgha, sakti dari Dewa Siwa. Dalam pawisik itu Dewi Durgha menjelaskan kepada raja bahwa leluhurnya selalu berumur pendekkarena tidak lagi merayakan Galungan. Karena itu Dewi Durgha meminta kepada Raja Sri Jayakasunu supaya kembali merayakan Galungan setiap Rabu Kliwon Dungulan sesuai dengan tradisi yang pernah berlaku. Di samping itu disarankan pula supaya seluruh umat Hindu memasang penjor pada hari Penampahan Galungan (sehari sebelum Galungan). Disebutkan pula, inti pokok perayaan hari Penampahan Galungan adalah melaksanakan byakala yaitu upacara yang bertujuan untuk melepaskan kekuatan negatif (Buta Kala) dari diri manusia dan lingkungannya. Semenjak Raja Sri Jayakasunu mendapatkan bisikan religius itu, Galungan dirayakan lagi dengan hikmat dan meriah oleh umat Hindu di Bali.
            Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari adharma dan mana dari budhi atma yaitu berupa suara kebenaran (dharma) dalam diri manusia. Selain itu juga memberi kemampuan untuk membeda-bedakan kecendrungan karaksasaan (asura sampad) dan kecendrungan kedewaan (dewa sampad). Harus disadari bahwa hidup yang berbahagia atau ananda adalah hidup yang memiliki kemampuan untuk menguasai kecenderungan keraksasaan. Galungan adalah juga salah satu upacara agama Hindu untuk mengingatkan manusia secara ritual dan spiritual agar selalu memenangkan Dewi Sampad untuk menegakkan dharma melawan adharma. Dalam lontar Sunarigama, Galungan dan rincian upacaranya dijelaskan dengan mendetail. Mengenai makna Galungan dalam lontar Sunarigama dijelaskan sebagai berikut:
Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep
Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan bersatunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran.
Jadi, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujuddharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud adharma. Dari konsepsi lontar Sunarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan menangnya dharma melawan adharma. Untuk memenangkan dharma itu ada serangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum dan setelah Galungan. Sebelum Galungan ada disebut Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Kata Jawa di sini sama dengan Jaba, artinya luar. Sugihan Jawa bermakna menyucikan bhuana agung (bumi ini) di luar dari manusia. Sugihan Jawa dirayakan pada hari Wrhaspati Wage Wuku Sungsang, enam hari sebelum Galungan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Sugihan Jawa itu merupakan Pasucian dewa kalinggania pamrastista batara kabeh (Penyucian Dewa, karena itu hari penyucian semua bhatara). Pelaksanaan upacara ini adalah dengan membersihkan segala tempat dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci. Sedangkan pada hari Jumat Kliwon Wuku Sungsang disebutkan: Kalinggania amretista raga tawulan (Olehkarenanya menyucikan badan jasmani masing-masing). Karena itu Sugihan Bali disebutkan menyucikan diri sendiri. Kata Bali dalam bahasa Sansekerta berarti kekuatan yang ada di dalam diri. Dan itulah yang disucikan. Pada Redite Paing Wuku Dungulan diceritakan Sang Kala Tiga Wisesa turun mengganggu manusia. Karena itulah pada hari tersebut dianjurkan anyekung Jñana, artinya: mendiamkan pikiran agar jangan dimasuki oleh Butha Galungan. Dalam lontar itu juga disebutkan nirmalakena (orang yang pikirannya selalu suci) tidak akan dimasuki oleh Butha Galungan. Pada hari Senin Pon Dungulan disebut Penyajaan Galungan. Pada hari ini orang yang paham tentang yoga dan samadhi melakukan pemujaan. Dalam lontar disebutkan, “Pangastawaningsang ngamongyoga samadhi.” Pada hari Anggara Wage wuku Dungulan disebutkan Penampahan Galungan. Pada hari inilah dianggap sebagai hari untuk mengalahkan Butha Galungan dengan upacara pokok yaitu membuat banten byakala yang disebut pamyakala lara melaradan. Umat kebanyakan pada hari ini menyembelih babi sebagai binatang korban. Namun makna sesungguhnya adalah pada hari ini hendaknya membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri. Demikian urutan upacara yang mendahului Galungan. Setelah hari raya Galungan yaitu hari Kamis Umanis wuku Dungulan disebut Manis Galungan. Pada hari ini umat mengenang betapa indahnya kemenangan dharma. Umat pada umumnya melampiaskan kegembiraan dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan terutama panorama yang indah. Juga mengunjungi sanak saudara sambil bergembira-ria. Hari berikutnya adalah hari Sabtu Pon Dungulan yang disebut hari Pemaridan Guru. Pada hari ini, dilambangkan dewata kembali ke sorga dan meninggalkan anugrah berupa kadirghayusaan yaituhidup sehat panjang umur. Pada hari ini umat dianjurkan menghaturkan canang meraka dan matirta gocara. Upacara tersebut barmakna, umat menikmati waranugraha Dewata.
Pada hari Jumat Wage Kuningan disebut hari Penampahan Kuningan. Dalam lontar Sundarigama tidak disebutkan upacara yang mesti dilangsungkan. Hanya dianjurkan melakukan kegiatan rohani yang dalam lontar disebutkan Sapuhakena malaning jnyana (lenyapkanlah kekotoran pikiran). Keesokan harinya, Sabtu Kliwon disebut Kuningan. Dalam lontar Sunarigama disebutkan, upacara menghaturkan sesaji pada hari ini hendaknya dilaksanakan pada pagi hari dan hindari menghaturkan upacara lewat tengah hari. Mengapa? Karena pada tengah hari para Dewata dan Dewa Pitara “diceritakan” kembali ke Swarga (Dewa mur mwah maring Swarga). Meskipun Galungan itu disebut “Rerahinan Gumi” artinya semua umat wajib melaksanakan, ada pula perbedaan dalam hal perayaannya. Berdasarkan sumber-sumber kepustakaan lontar dan tradisi yang telah berjalan dari abad ke abad telah dikenal adanya tiga jenis Galungan yaitu: Galungan (tanpa ada embel-embel), Galungan Nadi dan Galungan Nara Mangsa. Penjelasannya adalah sebagai berikut: Galungan: Adalah hari raya yang wajib dilakukan oleh umat Hindu untuk merayakan kemenangan dharma melawan adharma. Berdasarkan keterangan lontar Sundarigama disebutkan “Buda Kliwon Dungulan ngaran Galungan.” Artinya, Galungan itu dirayakan setiap Rabu Kliwon wuku Dungulan. Jadi Galungan itu dirayakan, setiap 210 hari karena yang dipakai dasar menghitung Galungan adalah Panca Wara, Sapta Wara dan Wuku. Kalau Panca Waranya Kliwon, Sapta Waranya Rabu, dan wukunya Dungulan, saat bertemunya ketiga hal itu disebut Hari Raya Galungan. Galungan Nadi: Galungan yang pertama dirayakan oleh umat Hindu di Bali berdasarkan lontar Purana Bali Dwipa adalah Galungan Nadi yaitu Galungan yang jatuh pada sasih Kapat (Kartika) tanggal 15 (purnama) tahun 804 Saka (882 Masehi) atau pada bulan Oktober. Galungan Nara Mangsa: Galungan Nara Mangsa jatuh bertepatan dengan tilem sasih Kapitu atau sasih Kesanga. (Bimas Hindu Batam)


Selasa, 30 Juni 2015

DHARMA CAMP PASRAMAN KEPRI


Pada hari Sabtu, 27 Juni s/d Minggu 28 Juni 2015 Pasraman (sekolah Minggu Agama Hindu) yang berada di Provinsi Kep. Riau yaitu Pasraman Jnana Sila Bhakti Kota Batam, Pasraman Brahma Widya Satwika Kab. Bintan mengadakan kegiatan Dharma Camp Pasraman Kepri di Pantai Trikora Kab, Bintan Prov. Kepulauan Riau. Kegiatan Dharma Camp Pasraman adalah semacam kegiatan Perkemahan Sabtu Minggu (Persami) yang dikemas dengan nuansa keagamaan Hindu yang diselingi dengan kegiatan outbond/mengenal alam, fun (bermain) dan dinamika kelompok. Acara ini juga bertujuan untuk mengisi waktu liburan semester II siswa-siswa pasraman sehingga tidak jenuh dan diisi dengan hal-hal yang bermanfaat untuk kemajuan rohani generasi muda, di samping juga untuk pembentukan karakter generasi muda Hindu. Acara diikuti oleh lebih kurang 140 peserta yang terdiri dari siswa siswi pasraman se-Kepri, guru-guru pasraman, para orang tua murid dan juga perwakilan lembaga agama dan keagamaan Hindu se – Kepri seperti WHDI, Parisada, DPP Peradah dan masih banyak lagi. Tujuan kegiatan ini adalah untuk meningkatkan sradha (iman) dan bhakti kepada Tuhan, di samping itu juga untuk menambah wawasan nusantara, nasionalisme, dan patriotism, mengenal lingkungan alam, kekompakan, kerjasama tim dan tentunya untuk menerapkan ajaran-ajaran agama Hindu. Kegiatan ini didukung oleh Pemerintah dalam hal ini Bimas Hindu Kementerian Agama Kanwil Prov. Kepulauan Riau dan Bimas Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Batam serta lembaga agama dan keagamaan Hindu se Prov. Kep. Riau.

Acara diawali dengan tirtha yatra (berkunjung ke tempat suci seperti pura) di Pura Dharma Kerti, Lagoi, Kab. Bintan. Para peserta mengikuti acara persembahyangan dengan khusuk. Dalam sela-sela acara itu ketua Parisada Kab. Bintan, Nyoman Wiarta menjelaskan sejarah berdirinya Pura Dharma Kerti yang dimulai dari keinginan umat Hindu di Kabupaten Bintan untuk memilikki tempat suci yang bias digunakan untuk melakukan kegiatan ibadah umat Hindu. Pura ini disungsung oleh sekitar 80 KK. Setelah persembahyangan selesai acara dilanjutkan dengan pembagian tim outbond menjadi 3 (tiga) tim yaitu Tim Cakra, Tim Gada dan Tim Trisula. Ketua kelompok bertanggung jawab atas keamanan dan keselamatan anggotanya. Di sini para guru pasraman yang merupakan panitia mendidik siswa pasraman untuk belajar bertanggung jawab. 

Acara dilanjutkan dengan tritha yatra ke Pura Giri Natha Puncak Sari Kota Tanjung Pinang. Perjalanan ditempuh dengan waktu 90 menit. Para peserta harus berjalan kaki menuju bukit tempat berdirinya pura Giri Natha Puncak sari, Karen lahan parkir yang tersedia sangat terbatas untuk bus. Usaha jerih payah para peserta terbayar sudah ketika mereka sudah sampai di puncak Bukit. Pemandangan begiru indah. Para peserta Dharma Camp melakukan persembahyangan untuk meningkatkan sradha (keimanan) dan bhakti. Di akhir acara, Purwadi selaku pemangku (rohaniawan) yang juga merupakan Penyuluh Agama Hindu PNS memberikan sambutan dan menceritakan sejarah berdirinya Pura Giri Natha Puncak Sari Bintan. Perjalanan dilanjutkan perjalanan menuju Pantai trikora (lokasi outbond).

Setelah tiba di lokasi, para peserta dibantu panitia mendirikan tenda untuk dijadikan tempat tidur di malam hari. Kemudian peserta melakukan doa bersama memohon keselamatan bersama karena bagaimanapun juga kegiatan ini dilaksanakan di alam terbuka yaitu di Pantai Tri Kora. Segala kemungkinan bisa saja terjadi pada para peserta. Acara berikutnya adalah paparan-paparan narasumber (class). Adapun paparan materi yang pertama yang disampaikan oleh Ketut Suardita, S.Pd, M.Pd selaku Pembimas Hindu Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau. Dalam paparanya Pembimas Hindu menyampaikan bagaimana cara menghormati orang tua yang melahirkan, membesarkan dan mengasuh kita. Kita harus membayar hutang kepada orang tua dengan melayani, menghormati meraka, rajin belajar dan tidak lupa dengan orang tua ketika kita sukses nantinya. Siswa-siswa pasraman juga dihimbau untuk menghormati atur Guru yang lain yaiu pemerintah,  dan guru di sekolah. Di samping itu Pemateri juga menyampaiakan cerita-cerita kepahlawanan Mahabharata yang membuat anak-anak tertarik untuk mengikutinya. Adapun pemateri ke-dua adalah Drs. I Wayan Catra Yasa, MM yang merupakan sesepuh umat dan Ketua Paruman Walaka Parisada Prov. Kep. Riau. Dalam Paparannya beliau menyampaiakan kewajiban siswa pada masa brahmacari (masa menuntut ilmu) agar nantinya menjadi putra yang suputra yaitu generasi muda yang mempunyai jiwa dan kemampuan yang tangguh.

Setelah selesai mengikuti materi dari narasumber peseta harus melaksanakan kegiatan outubon jurit malam. Di Pos pertama anak-anak harus berhasil membuat tandu yang sudah disiapkan oleh panitia. Pos II peserta wajib mengikuti test konsentrasi. Di Pos III diajak untuk mengenal lingkungan alam dan pos IV diajak untuk lebih dekat dengan Tuhan Yang Maha Esa. Acara diakhiri dengan api unggun, di mana para peserta wajib menampilkan yel – yel terbaik dari masing-masing kelompok dan lagu pilihan lainya. Kegiatan Jurit malam diakhiri dengan renungan malam yang dipimpin oleh Drs. I Wayan Catra Yasa, MM. Anak-anak diajak untuk merenungi dosa dan kesalahan terutama kepada orang tua kita. 

Pada hari Minggu, 28 Juni 2015 acara diawali dengan kegiatan Yoga (senam rohani) yang dipimpin oleh Dada Suresh (umat Hindu etnis India yang merupakan Guru Yoga). Para peserta wajib melakukan gerakan Surya Namaskar (penghormatan pada matahari sebagai awal dari kehidupan) yang diakhiri dengan puja tri Sandya (permbahyangan) di pagi hari. Setelah anak-anak sarapan dan mandi acara dilanjutkan dengan dinamika kelompok dengan memasukan air ke dalam botol dan memasukkan bola ke dalam botol. Anak-anak wajib mengikuti sesi tali heksa gonal di mana peseta harus berhasil memasukkan ballpoint yang diikat dengan tali heksa gonal ke dalam botol. Dinamika kelompok terakhir adalah lempar lembing yaitu membidik sasaran berupa lingkaran dengan jarak yang telah ditentukan. Acara diakhiri dengan penutupan dan pengumuman hasil lomba sert penyampaian pesan dan kesan. Peserta berharap kegiatan semacam ini dapat terus dilaksanakan. Panitia juga diharap untuk lebih melakukan efesiensi waktu dan sebagainya. Semua jerih payah anak – anak peserta Dharma Camp terbayar setelah hasil lomba diumumkan den mereka mendapat penghargaan yang luar biasa dari panitia.





Pujawali Tumpek Wariga Pura Satya Dharma Muka Kuning, Batam Indo, Kota Batam

Pujawali Tumpek Wariga Pura Satya Dharma, Muka Kuning Batam Indo Kota Batam, Sabtu 20 Juni 2015.

Pemaknaan Pujawali sebagai sebuah prosesi Upacara Dewa Yajna. Pujawali merupakan aplikasi dari konsep satyam sivam sundaram yang bertujuan untuk membumikan ajaran Weda. Menegakkandharma, huku rta di muka bumi

Satyam brhad rtam ugram diksa tapo brahma yajna
erthiwim dharayanti

Pujwali kali bertepatan dengan Tumpek Wariga hari di mana SIwa Mahadewa sebagai Dewa Sangkara turun untuk memberi anugerah melalui tumbuh-tumbuhan. Tumpek Wariga juga merupakan rangkaian Hari Raya Galungan.

Anaad bhavanti bhutani
prajnaad anna sambhavah
yajan bhavati parjanyo
yajnad karam samudbhavah

makhluk hidup berasal dari makanan
makanan berasal dari tumbuh - tumbuhan
tumbuh-tumbuhan berasal dari hujan
hujan bersal dari yajna
yajna berasal dari karma


Selasa, 09 Juni 2015

Harmonisasi Antar Tokoh Agama Se-Kota Batam

Pada hari Rabu, 10 Juni 2015 Kanto Kementerian Agama Kota Batam menyelenggarakan Kegiatan harmonisasi antar tokoh agama se-Kota Batam. Kegiatan ini bertujuan untuk menyatukan visi dan misi sekaligus harmonisasi atas isu - isu aktual kaitanya dalam kehidupan umat beragama di kota Batam. Kegiatan ini dibuka secara langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Batam, yang dalam hal ini diwakili oleh Kasubbag Tata Usaha, H. Muhammad Dirham, S.Ag, M.Sy.dalam sambutanya beliau menyampaikan betapa pentingnya menjaga Tr Kerukunan antar umat beragama di kota Batam.

Materi Pertama dsisampaikan oleh H. Rustam Effendy Bangun (Ketua FKUB Kota Batam) dengan materi Peranan FKUB dalam Rangka menjaga Kerukunan Umat Beragama Kota Batam. Adapn materi yang kedua adalah Narasumber dari FKUB Prov. Kepulauan Riau, H. Razali.



Diskusi Interatif Kerukunan Umat Beragama di Kota Batam

DIskusi Interaktif Kerukunan Beragama di Batam TV antara Komite Peduli Kemanusisaan Kota Batam dan FKUB Kota Batam mebahas rencana aksi terhadap pengungsi Rohingya ynag dipelopori oleh Kantor Kementerian Agama Kota Batam

BIMAS HINDU KOTA BATAM MENGADAKAN PEMBINAAN PENGURUS PURA TAHUN 2015


Pada tanggal 6 s/d 7 Juni 2015, bertempat di aula Pura Agung Amertha Bhuana Kota Batam, Penyelenggara Bimas Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Batam menyelenggarakan Kegiatan Pembinaan Pengurus Pura Tahun 2015. Kegiatan ini diikuti oleh 35 (tiga puluh lima) peserta yang berasal dari perwakilan banjar dan Pengurus Pura se-Kota Batam. Kegiatan yang bersumber pada DIPA Bimas Hindu Kementerian Agama Kota Bata mini dilaksanakan di kawasan pura, bukan lagi di hotel yang mewah. Hal ini lebih member kesan bahwa telah terjadi efesiensi dan efektifitas sehingga bias penghematan dan lebihh dekat dengan umat Hindu. Dibuka secara resmi oleh Drs. H. Zulkifli, Aka, M.Si, Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Batam. Dengan mengambil tema “Melalui Pembinaan Pengurus Pura tahun 2015 di Kota Batam kita wujudkan manajemen pengelolaan pura yang modern” diharapkan pengurus pura dapat menerapkan manajemen pengelolaan pura yang modern, menyesuaikan perkembangan zaman, pemanfaatan IPTEK yang lebih tepat guna, sehingga terjadi efektifitas dan efesiensi di samping informasi dapat segara sampai kepada umat. Di zaman modern seperti ini pura juga dituntut mampu memenuhi kebutuhan umat dalam hal peribadahan. Pura di samping sebagai tempat beribadah umat Hindu juga bisa diberdayakan untuk pusat pendidikan, pusat budaya, ekonomi dan aktivitas lainya. Dalam sambutanya Kepala Kantor menekankan pentingnya kita menjaga kebersamaan. Kerukunan untuk mewujudkan Batam sebagai Bandar dunia yang madani. Beliau berpesan agar acara serupa dapat terus ditingkatkan dan dikemas secara lebih apik dan lebih tepat sasaran.

Ada beberapa narasumber yang memberikan paparan materi. Paparan materi yang pertama adalah Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Batam yang mebahas tentang Penataan  Kerukunan Umat Beragama di Kota Batam. Dalam paparanya beliau kembali berpesan agar umat Hindu ikut bersama-sama membangun kota Batam, memajukan kota Batam dengan tetap menjaga persatuan dan kerukunan antar umat beragama. Hal ini penting mengingat tolok ukur keberhasilan pembangunan di bidang agama terletak pada salah satu indikator yaitu kerukunan umat beragama.

Paparan yang kedua adalah membahas peranan lembaga dalam pembinaan umat Hindu di Kota Batam. Beliau menegaskan bahwa tugas dan tanggung jawab lembaga parisada umat Hindu sangatlah berat karena meliputi berbagai aspek kehidupan umat seperti upakara, yajnya, perkawinan, hingga pada pengurusan kedukaan. Beliau juga menyampaikan visi dan misi parisada Hindu dharma yaitu Terwujudnya masyarakat Hindu dharma Indonesia yang sejahtera dan bahagia (moksa dan jagadhita) bersumber dari Pustaka Suci Weda. Meningkatkan perilaku pelaksanaan dan filsafat (tattwa), etika (susila) dan ritual (acara) Hindu dlm kehidupan beragama yg modern. Beliau juga menghimbau agar umat Hindu Kota Batam gemar berdana punia melalui sebuah Badan Dharma Dana Nasional (BDDN) Parisada.

Narasumber yang ketiga adalah Penyelenggara Hindu Kota Batam. Dalam paparanya penyelenggara Hindu menyampaikan materi Pemberdayaan Potensi Umat dan Pura di samping juga program-program visi misi Bimas Hindu yaitu Terwujudnya masyarakat Hindu Kota Batam yang taat beragama, maju, sejahtera dan cerdas serta saling menghormati antar umat beragama dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara dalam wadah kesatuan NKRI.  Penyelanggara Hindu juga menekankan akan penting berdaya punia sebagai Pemberdayaan ekonomi Umat. Parisada Hindu Dharma Indonesia telah membentuk sebuah Badan Dharma Dana Nasional (BDDN) yang bertugas menghimpun dana punia dari umat. Umat Hindu harus mendukung program Parisada karena peruntukan dari dana punia yang terkumpul adalah untuk beasiswa pendidikan, pengentasan kemiskinan dan pemberdayaan ekonomi umat Hindu.

Pada hari Kedua diawali dengan paparan Drs. I Wayan Catra Yasa, MM dengan materi Manajemen Pembinaan Pengelolaan Pura. Dalam Paparanya narasumber menekankan akan pentingnya manajemen pengelolaan pura yang modern. Penggunaan teknologi IT harus ditingkatkan seperti penggunaan CCTV untuk keamanan area pura dan penerapan teknologi tepat guna lainya, yang tentunya harus didukung dengan SDM yang tinggi.

Dilanjutkan dengan paparan dari Kasubbag Tata Usaha Kantor kementerian Agama Kota Batam, H. Muhammad Dirham, S.Ag, M.Sy. Dalam paparanya beliau menyamppaikan permasalahan dan Isu – Isu aktual keukunan umat Bergama di kota Batam yang meliputi Masalah Perkawinan beda agama, Ijin rohaniawan/pengkotbah asing Menyikapi bantuan luar negeri yang ada pamrihnya Pemersatu agama. Sering kita jumpai Kesalahpahaman perorangan menjadi isu SARA. Ijin Pembangunan Tempat Ibadah juga menjadi isu actual terkini. Paparan terakhir sampaikan oleh ketut Suardita, S.Ag, M.Pd yang mengulas tentang pola pembinaan umat Hindu di Kota Batam. Pembimas Hindu menekankan bahwa harus ada pola dalam pelaksanaan pembinaan umat Hindu dan pengurus Pura. Bisa dibuat sinergi antara pemerintah (Bimas Hindu dan Pemprov/Pemkot) dengan lembaga agama dan lembaga kegamaan.  

Acara berjalan lancar berkat kerja sama dari semua pihak yang ada di Kota Batam. Umat Hindu berharap kegiatan serupa dapat terus ditingkatkan dan menghadirkan narasumber yang lebih variatif. Acara ditutup secara resmi oleh Pembmas Hindu Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau.




Minggu, 24 Mei 2015

Isu-Isu Aktual Kerukunan Umat Beragama


Pada Hari Minggu, 24 Mei 2015 bertempat di Gedung Wisma Haji, Penyelenggaraan Ibadah Haji (PIH) Kota Batam, Kementerian Agama Kota Batam yang dipimpin oleh Drs. H. Zulkifli, M.Si menyelenggarakan Rapat Rencana Aksi Tragedi Pengungsi Rohingnya di Sumatera Utara dan Aceh dan Pembahasan Isu-Isu Aktual Kerukunan Umat Beragama di Kota Batam. Tujuan Rapat ini adalah menentukan sikap dan rencana aksi terhadap isu – isu tersebut di atas. Rapat dihadir oleh sekitar 20 peserta yang terdiri dari ketua FKUB Kota Batam, Sekretaris Umum FKUB Kota Batam, Drs. I Wayan Catra Yasa, MM, Ketua Dewan Masjid, pejabat kementerian Aga Kota Batam, Penyelenggara Hindu, Eko Prasetyo, S.Ag, Penyelenggara Budha, Kodho EKo Prayogo, S.Ag. Penyelenggara Kristen dan Penyelanggara Katolik, para ketua pastur se-Kota Batam, kepala KUA se-Kota Batam, ketua WALUBI KOTA BATAM, Parisada Kota Batam dan MUI Kota Batam.

Isu ini sebenarnya adalah murni konflik suku bukan agama. Tetapi ditunggngi oleh pihak yang berkepentingan untuk menciptakan suasana yang tidak kondusif. Banyak foto yang sudah direkayasa. Di Media Presiden sudah mendesak PBB, Myanmar dan Bangladesh untuk memikirkan permasalahan ini. Bahan bantuan yang sangat dibutuhkan adalah bahan makanan, pakaian dan tempat tinggal. Kita harus membuat himbauan di media cetak di kota Batam dan penggalangan dana untuk para pengungsi.

Dari Perwakilan Hindu Drs. I Wayan Catra Yasa, MM yang juga merupakan Sekretaris Umumm FKUB Kota Batam menanyampaikan bahwa pada prinsipnya Hindu setuju dengan rencana aksi ini tergantung teknisnya seperti apa di lapangan, apakah mendirikan posko di tempat ibadah, mengerahkan mahasiswa turun ke jalan menggali dana atau membuka rekening bang bersama.

Sementara dari perwakilan Umat Budha dan Walubi memberikan apresiasi kepada Kementeria Agama Kota Batam yang bergerak cepat tanggap darurat pengungsi Rohingya. Konflik itu bukan konflik agama tetapi murni suku Rohingya dan suku asli Myanmar, dan Rohingnya sendiri adalah suku asli Bangladesh. Dari Walubi menjelaskan bahwa gambar-gambar itu tidak semuanya asli tetapi juga tidak semuanya palsu. Da unsure rekayasa. Pihak Agama Budha juga sudah memberikan keterangan yang detail terhadap kebenaran di lapangan. 

Sementera dari perwakilan KUA menyatakan bahwa perlu tim kerja yang di SK kan oleh Kemenag Kota Batam sebagai langkah nyata. Di Kota Batam sendiri ada sekitar 1165 masjid, sangat memungkinkan untuk menggalang dana yang lebih besar. Kita harus membuka reking bank dan bersurat kepada Pemko Batam agar mengetahuinya. Perlu juga kajian IPTEK akan kebenaran gambar di internet. Walubi Indonesi juga sudah membentuk tim klarifikasi yang meneliti kebenaran gambar di internet.

Turki juga sudah mengirim 8 (delapan) kapal perang untuk menccari kapal mengungsi rohingnya yang terombang ambing berbulan bulan di lautan lepas. Banyak pengungsi yang sudah mati di perjalanan karena kelaparan. Amerika dan Malaysia juga siap membantu. Indonesia juga sudah menyediaan 2 (dua) tempat yaitu di Aceh dan di Sumatera Utara.

Untuk Pembahasan isu-isu aktual yang berkatan dengan suku agama ras dan antar golongan (SARA), pembahasan mengarah pada konflik antara suku Batak dan suku Melayu di Tanjung Uncang, Batam Kepulauana Riau. Kementerian Agama menghimbau agar semua pihak bisa menahan diri agar keadaan tidak semakin memburuk.


Makna upacara Potong Gigi

foto diambil di Pura Amertha Sari, Semarang Jawa Tengah
Upacara Potong gigi yang merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam upaya meningkatkan sradha dan bhakti untuk menuju manusia yang berkualitas (putra yang suputra). Hal ini adalah merupakan tanggung jawab orang tua dalam membina dan mendidik anak-anaknya agar dapat mewujudkan anak yang sadhu budi gunawan.

Ada lima tanggung jawab orang tua dalam keluarga sebagaimana diungkapkan dalam ajaran agama Hindu (Filsafat Jawa) yaitu: Ametuaken Artinya orang tua berkewajiban untuk melahirkan atau mengadakan keturunan. Maweh Binojana Artinya orang tua berkewajiban untuk memberikan makanan yang bergisi agar anak-anaknya tumbuh dan berkembang dengan baik. Matulung Urip Artinya orang tua berkewajiban untuk melindungi anaknya dasri segala mara bahaya, dan segala jenis penyakit; Mangupadaya Artinya orang tua berkewajiban untuk memberikan Bekal berupa pendidikan sains dan moral yang cukup kepada anaknya agara kelak ia mampu mengauasi IPTEK dalam mempermudah mencapai tujuan hidup.  Sinangaskara Artinya orang tua berkewajiban untuk menyucikan lahir dan batin sang anak agar menjadi manusia yang memilikki moral, etik dan spiritual. Berdasarkan kelima kewajiban orang tua tersebut, maka pelaksanaan upacara potong gigi dan Rajasewala yang Bapak Ibu laksanakan adalah merupakan kegiatan Sinangaskara atau penyucian lahir batin anak yang harus diupayakan oleh orang tua.

Salah satu tradisi yang perlu kita kaji bersama sesuai dengan sastra agama, bahwa pelaksanaan Upacara Potong Gigi bagi pemeluk Agama Hindu khususnya yang dari Bali tidak mutlak pulang ke Bali. Dan Hari ini Bapak Ibu telah melaksanakanya di Pura Amertha Sari, Semarang. Hal ini dilandasi oleh  Dharma siddhi arta yaitu: Iksa (Tujuan), Sakti (kemampuan), Desa (tempat), Kala (waktu), dan Tattwa (keyakinan/sastra). Di Jawa Upacara Potong Gigi sudah ada sejak zaman dahulu kala dan dikenal dengan istilah “Pangur” kemudian budaya hilang karena adanya tekanan dari agama lain yang masuk setelah runtuhnya kerajaan-kerajaan Hindu.. Walaupun sifatnya wajib potong gigi tidak harus mahal, sehingga semakin banyak umat Hindu yang bisa melaksanakanya. Dan ke depan harus ada pemikiran potong gigi ala “Jawa”. Sepertti masyarakat Hindu Tengger yang mengadakan Upacara Ngaben ala Hindu Jawa Tengger yaitu “Entas-Entas”

Berdasarkan landasan tersebut di atas maka upaca potong gigi dapat dilakukan di mana saja sesuai dengan keadaan daerah tempat di mana kita tinggal, mengingat upacara potong gigi adalah merupakan salah satu satu aktivitas keagamaan  Hindu yang sangat penting dilakukan oleh umat Hindu dalam upaya meningkatkan Sradha dan Bhakti, maka upacara potong gigi bersama yang kita laksanakan sangat perlu dan bermanfaat bagi umat Hindu.

Upacara Potong Gigi merupakan salah satu bagian dari Upacara Manusa Yajna  yang patut dilaksanakan oleh Umat Hindu yang mengandung pengertian bagi umat Hindu yaitu: 1) Pergantian atau masa transisi umur, kejiwaan remaja untuk menapak kehidupan menjadi manusia yang sejati, utnuk itu perlu diadakan upacara Potong Gigi dasn Rajasewala agar dapat menghindarkan dan mengurangi pengaruh buruk dari Butha Kala yang identik dengan perilaku asuri sampad yang cenderung memberi godaan Sad Ripu. Gigi yang dipotong adalah Taring yang melambangkan keserakahan. Upacara ini juga sebagai simbolis meningkatnya seorang anak menjadi dewasa, yakni manusia yang telah mendapatkan pencerahan, sesuai dengan makna kata dewasa, dari kata devasya yang artinya milik dewa atau dewata. Seorang telah dewasa mengandung makna telah memiliki sifat dewata (Daivi sampad) seperti diamanatkan dalam kitab suci Bhagavadgita. 2) Memenuhi Kewajiban orang tua terhadap anaknya untuk menemukan hakekat manusia yang sejati. Orang tua memperoleh kesempatan untuk beryajna, menumbuh-kembangkan keperibadian seorang anak, sehingga anak tersebut mencapai kedewasaan, mengetahui makna dan hakekat penjelmaan sebagai umat manusia. Pelaksanaan Upacara Potong Gigi merupakan tanggung jawab orang tua dalam menyucikan lahir batin anaknya, sehingga dapat menjadi manusia yang sejati bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 3) Secara spiritual, seseorang yang telah disucikan akan lebih mudah menghubungkan diri dengan Sang Hyang Widhi, para dewata dan leluhur, kelak bila yang bersangkutan meninggal dunia, Atma yang bersangkutan akan bertemu dengan leluhurnya di alam Pitraloka. 4) Dalam aspek estetika jika gigi itu sudah dipotong maka akan terlihat indah dan menambah kecantikan bagi yang disangih.

Dari pengertian ini dapat dipahami bahwa upacara potong gigi adalah suatu upacara penting dalam kehidupan umat Hindu, karena bermakna menghilangkan kotoran diri (nyupat) sehingga menusia dapat menemukan hakekat jati diri manusia yang sejati dan terlepas dari belenggu kegelapan akibat pengaruh dari Sad Ripu dalam diri manusia.

Dalam Lontar Puja Kalapati disebutkan “apabila tidak melakukan upacara potong gigi, maka rohnya tidak akan bertemu dengan roh orang tuanya di surga kelak”.Maka dari itulah setiap orang tua di kalangan umat Hindu berusaha dalam hidupnya menunaikan kewajiban terhadap anaknya dengan melaksanakan Upacara Manusa Yajnya dari lahir sampai menikah (wiwaha Samskara) salah satunya adalah upacara potong gigi dan rajasewala. Kami berharap agar umat Hindu dapat melaksanakan upacara potong gigi sesuai dengan ketentuan sastra agama sehingga membawa dampak positif bagi yang melaksanakanya. Upacara ini kami harpkan dapat menghilangkan kotoran diri dalam wujud kala, bhuta, dan pisaca, raksasa (asuri sampad) dalam arti jiwa dan raga diliputi oleh watak Sad Ripu sehingga pada akhirnya dapat menemukan hakekat manusia yang sejati. Upacara Potong gigi yang Bapak/Ibu laksanakan mudah-mudahan dapat meningkatkan persatuan dan kesatuan Umat Hindu dalam pelaksanaan Upacara Yajna. Terakhir Dapat meningkatkan Pemahaman dan wawasan umat tentang pentingnya Upacara potong gigi dalam meningkatkan sradha dan bhakti Umat Hindu. (eko prasetyo/batam)


Pementasan Wayang oleh Dinas Pariwisata Pemprov. Bali di Pura Agung Amertha Bhuana Batam

Pada hari Sabtu, 16 Mei 2015 bertempat di Utama Mandala Pura Agung Amertha Bhuana Kota Batam, kembali Dinas Pariwisata prov. Bali menggelar perrtunjukan Wayang dalam rangka memeriahan Hari Tumpek Landep. Acara didahului dengan persembahyangan bersama, dilanjutkan sambutan dari sesepuhh Umat sekaligus sebagai ketua LPDG Prov. Kep. Riau dan dharma duta Parisada, Drs. I Wayan Catra Yasa, MM. Dilanjutkan dharma wacana dari ketua Tim Dinas Pariwisata Prov. Bali. Diakhiri dengan foto bersama.

Konsep pertunjukan wayang ini sangat sedrehana namun kaya dengan pesan moral dan spririual. Di tengah-tengah narasi sang Dhalang, tim juga menyajikan Tari Kecak yang sudah sangat populer itu. Umat Hindu kota Batam sangat terhibur dan pada pukul 00.15 acara diakhiri.


Makna Tumpek Landep


Tumpek Landep adalah saat di mana Ida Hyang Widhi Wasa dalam prabhawa-Nya sebagai  “Pasupati” atau “Siwa Pasupati” itu sebdiri. Dan purnama yuganing sang candra. Pasupati itu terdiri dari pasu= binatang/kehidupan, pati=penguasa, jadi “Pasupati” adalah penguasa kehidupan/binatang, binatang di sini melambangkan nafsu indria, maka jangan heran jika dalam gambar dewa Siwa dhyana itu duduk dengan kulit harimau, artinya beliau mengajarkan kepada kita dalam hidup harus menguasai panca indra, jangan kita dikuasai oleh panca indra pemuas nafsu kita. Pada hari Tumpek Landep, Siwa sebagai Pasupati menganugerahkan jnana atau ketajaman pikiran (landeping idep), ketajaman perkataan(landeping wak), dan ketajaman perbuatan (landeping laksana). Pikiran dipertajam dengan ilmu, tapa brata yoga Samadhi, perkataan ditajamkan dengan menata  pembicaraan, dalam filsafat jawa ada istilah “ajining dhiri ono ing gebyaring lathi” harga diri manusia ada pada kata-katanya. Perbuatan ditajamkan dengan pergaulan, harmonisasi.  dari kelima hari ini ada kaitanya yaitu manusia diarahkan untuk melakukan penebusan dosa, setelah dimurnikan maka diberikan ilmu pengetahuan pada hari Saraswati dan pada tumpek landep yang berbarengan dengan purnama ditajamkan kembali. Sepulang dari pura Bapak Ibu bisa melukat di rumah dengan tirta pasupati yang telah disiapkan oleh panitia, yang berisi bunga, dan yang polos adalah tirta amerta, atau Bapak Ibu bisa menggunakan air kelapa gading, karena di hari suci purnama air kelapa gading diyakini akan dapat memberishkan segala kekotaran batin baik diberi mantra maupun tidak.

Dalam lontar Agastya Parwa dijelaskan telah terjadi percakapan anatara sang Dredasyu dengan Bagawan Agastya begini bunyinya: “ wahai Guru mulia, Perbuatan mulia apakah yang membuat seseorang mencapai keutamaan hidup baik di dunia maupun setelah mati?’ kemudian Bahgaan Agastya menjawab: wahai Sang Drdhasyu, ada 3 hal yang memungkinkan seseorang mencapai keutamaan hidup, adalah ulah, sabda dan ambek (perbuatan, perkataan dan pikiran), akibat yang dihasilkan oleh pikiran lebih besar daripada perkataan, dan perkataan lebih berat dari pada perbuatan, demikian juga sebaliknya dosa yang dihasilkan oleh perbuatan yang disertai kesadaran pikiran lebih besar daripada yang tidak menggunakan emosi pikiran. Untuk itu disaran seorang spiritual itu diharapkan dapat berpikir baik. Pikiran itu tajam, bisa jadi teman bisa jadi lawan, waspadalah, waspadalah!!!!

Kemudian Bhagawan Agastya menambahkan lagi ada tiga hal lagi yang harus dipegang oleh umat manusia yaitu: tapa, yajna dan krti, tapa lebih ditekankan ke pengendalian indria, selalu seimbang walau dihina dan dipuji, jangan kita senang lihat orang lain susah dan susah melihat orang lain senang. Ini negative sekali. yajnya berarti korban suci yang tulus ikhlas, mari kita lestarikan upakara yajna yang berlandaskan sastra suci sebagai bentuk pelestarian dan pembumian ajaran Weda, yajnya sebagai kamdhuk atau sapi perahan yang membuat hidup sejahtera, Karena dengan yajnya hujan dan kemakmuran itu ada, di mana suatu daerah tidak ada yajnya maka daerah itu akan kering/tidak subur. Penglingsir kita begitu agung mewariskan ajaran yajnya, seperti Mpu Kuturan, Dhahyang Nirarta, Mpu Markandeya, dsb. Kemudian krti adalah perbuatan baik dengan membangun fasilitas umum seperti pura, pasraman sekolah, dll, krti bisa  sebagai investasi karma. Ketiga hal ini di masyarakat menimbulkan prawerti dan niwerti marga yang artinya bahwa jalan jnana dan bhakti itu selalu ada dan berdampingan, jangan kita mengartikan bahwa prawerti itu jalan bagi yang jnananya rendah, dan niwerti bagi yang jnananya tinggi, di hadapan Tuhan semua sama yang membedakan adalah kualitas bhakti, ikhlas dan tidaknya.
Berkaitan dengan tumpek Landep dalam filsafat Jawa dijelaskan ada 3 hal yang harus dipegang dalam hidup yaitu pinter bener dan kober, artinya kita harus mampu mebedakan mana yang baik dan mana yang buruk, dengan menggunakan pratyaksa, anumana, dan sabda pramana. Kita harus berpegang pada dharma, sak beja-bejane wong sing ora waspodo isih bejo wong kang eling lan waspodo. Kober artinya kita mampu meluangkan waktu, setinggi-tingginya ilmu kita, maka endingnya harus diabdikan. 

Dalam hidup ada lima tanggung jawab sebagai manusia dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana diungkapkan dalam ajaran agama Hindu (Filsafat Jawa) yaitu: 1.Ametuaken artinya manusia berkewajiban untuk melahirkan ide atau gagasan, ingatlah filsafat ilmu: digembol ora mendosol, diguwak ora kemrosak artinya jika kita miliki akan membuat kita berkasrisma apalagi kita menerapkanya, akan sangat bermanfaat. Yang kde-dua adalah Maweh Binojana yang artinya manusia wajib untuk mencari makan dan memberi makan pada orang lain baik anak maupun teman, keluarga. Dalam pustaka suci dijelaskan bahwa saat Tuhan menciptakan kamu dengan perut, maka kewajiban kamu adalah makan. Ketiga Mitulung Urip artinya memberi perlindungan kepada diri sedniri, keluarga bangsa dan Negara. Mangupadaya artinya manusia wajib menuntut ilmu dan memberikan ilmu pada orang lain dan membekali anak dengan ilmu. Sinangaskara artinya manusia berkewajiban untuk menyucikan lahir dan batin sang Atman, keluarga, anak dan leluhur. 

Persembahyangan pemujaan, persembhana bebantenan, dan prayascita semua hasil pikiran manusia yang tajam adalah  adalah merupakan kegiatan Sinangaskara atau penyucian bhuana alit dan bhuana agung yang menyebabkan kemuliaan hidup. Ada 4 (empat) tipe pemuja Tuhan yaitu Mereka yang menderita, Mereka yang ingin kekayaan, Mereka yang ingin meningkatkan ilmu, dan Mereka yang bijaksana, Semuanya diterima oleh Tuhan sebagai sebuah persembahan bhakti, jadi jangan sampai kita membeda-bedakan umat yang dating ke pura


Kita semua berharap semoga melaui momentum Tumpek Landep ini kita sebagai manusia mampu menajamkan pikiran perkataan, dan perbuatan, sehingga kita menjadi manusia utama, tidak lupa juga kita berharap lebih bisa memiliki pratyaksa, anumana dan sabda pramana sebagai ciri manusia Hindu yang berwiweka, sehingga kita tidak mudah diadu domba dan menuruti nafsu indria. 

Jalan Santai Kerukunan Umat Beragama Se-prov. Kepulauan Riau Tahun 2015

Pada hari Sabtu, tanggal 9 Mei 2015 bertempat di gedung Daerah, Kota Tanjung Pinang, Pemprov. Kepulauan Riau bekerja sama dengan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau, FKUB Prov. Kep. Riau  mengadakan Jalan Santai Kerukunan Umat Beragama Se-Prov. Kep. Riau. Acara ini dilepas secara resmi oleh Gubernur DATI I Prov. Kep. Riau, Drs. H. Muhammad Sanni. Acara ini mengambil rute Gedung daerah, depan RS Angkatan Laut, depan KPPN, depan Kantor Pajak Pratama Tanjung Pinang kembali lagi ke Gedung Daerah.

Acara ini diikuti lebh kurang 5000 peserta yang berasalah dari sleuruh kabupaten kota se Kep. Riau. Dari perwakilan Hindu Hadir Pembimas Hindu Kanwil Kep. Riau, Penyelenggara Hindu Kota Batam Eko Prasetyo, Ir. Wayan Jasmin (Ketua Parisada Kep Riau) yang juga menyumbang 1 (satu) unit telivisi LED 24 Inch. Hadir Juga penyuluh Agama Hindu, Ketua Parisada kota Tanjung Pinang, Parisada Kota Bintan dan Batam.

Acara dipandu oleh Ketut Suardita, S.Pd, M.Pd didamping Albertus Adi Kurniawan. Peserta begitu antusias karena doorprize yang diperebutkan sangatlah menarik. Grandprize 2 (dua) unit motor.

Ketua Parisada Prov. Kepulauan Riau, Ir. I Wayan Jasmin didampingi Pembimas Hindu Kanwil Kepuluan Riau, Ketut Suardita, S.Pd, M.Pd mengambil secara acak nomor undian doorprize jalan santai kerukunan

Minggu, 03 Mei 2015

Banyu Pinaruh Saraswati Umat Hindu Batam

Upacara Banyu Pinaruh Umat Hindu batam dilaksanakan pada Hari Minggu pagi, tanggal 3 Mei 2015 di Pantai di daerah Nongsa, Kota batam. Banyu Pinaruh berasal dari kata banyu yang artinya air dan pinaweruh yang artinya pengetahuan, jadi Banyuu Pinaruh artinya sari - sari ilmu pengetahuan yang kita dapat dari Sang Hyang Aji Saraswati melalui sarana air, amertha.

Acara ini diikuiti oleh seluruh siswa dan siswa pasraman Jnana Sila Bhakti Kota batam dan umat Hindu Kota Batam.

Upacara ini bertujuan memohon anugerah berupa sari - sari ilmu pengetahuan dari Sang Hyang Aji Saraswati. Biasanya dilakukan di sumber - sumber air seperti pantai dan sumber air lainya.

Pawintenan Saraswati Sisya (siswa) Pasraman Jnana Sila Bhakti Kota Batam

Umat Hindu di Indonesia perlu berbangga karena kali ini perayaan Hari Suci Saraswati bersamaan dengan Hari Pendidikan nasional (Hardiknas) yang dicetuskan oleh Bapak Pendidikan Kita, Ki Hajar Dewantara. Beliau mengajarkan kepada kita tentang 3 (tiga) hal yaitu: ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani yang artinya bahwa ketika di depan kita harus memberi contoh, ketika pemimpin itu di tengah maka dia membangkitkan semangat, dan ketika berada di belakang maka pemimpin mendorong semangat dan aspirasi dari belakang. Dan Pada hari Senn anak - anak yang duduk di kelas 3 SMP akan melaksanakan Ujian Nasional.

Hari saraswati dimaknai dengan hari turunya ilmu pengetahuan suci Weda melalui Sang Hyang Aji Saraswati. Brahma menciptakan Catur Weda dengan kekuatan Sakti Dewi Saraswati. Banyak umat yang melakukan upacara pemujaan dengan menghaturkan sesaji ke pura dan tempat ibadah umat Hindu yang lainnya seperti candi, basarah dll.

Di kota Batam perayaan Saraswati dilaksanakan di Pura Agung Amertha Bhuana Kota Batam. Pengempon Pura mengadakan pawintenan Saraswati bagi Siswa dan siswi Pasraman agar dalam belajar ilmu di sekolah umum maupun belajar agama Hindu di Pasraman dapat dengan mudah menyerap ilmu yang diperoleh. Winten berasal dari kata intan di mana setelah diwinten maka anak-anak diharapkan dapat memiliki pikiran setajam intan sehingga dapat dengan mudah menghafal ilmu yang ada dalam buku maupun yang diajarkan oleh Guru di sekolah.