Senin, 14 Maret 2016

Ogoh-Ogoh, simbol sifat buruk manusia yang harus dikurangi

Pada Hari Selasa, 08 Maret 2016 bertempat di Lapangan Parkir Pura Agung Amertha Bhuana, Umat Hindu Kota Batam menyelengarakan persembahyangan bersama dalam rangka Taur Agung Nyepi 1938 Saka seklaigus melaksanakan pawai Ogoh – Ogoh.  Acara diikuti oleh sedikitnya 200 jiwa umat Hindu yang berdomisili di Kota Batam. Hadir dalam kesempatan itu Ketut Suardita, S.Pd, M.Pd, Pembimas Hindu pada Kanwil kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau. Hadir juga Eko Prasetyo, S.Ag, penyelenggara Hindu kantor Kementerian Agama Kota Batam. Beserta ketua Lembaga agama keagamaan Hindu se-Kota Batam dan Kepulauan Riau. 

Tujuan dari Upacara Taur Agung ini adalah harmonisasi alam semesta sehingga tercipta keseimbangan antara energi positif dan negativ. Sehingga energi negative tidak dominan dan tidak menguasai pikiran manusia. Taur Agung merupakan implementasi ajaran Tri Hita Karana yang artinya 3 (tiga) hubungan yang menyebabkan kebahagiaan manusia yaitu hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, dengan sesama manusia dan dengan alam lingkungan sekitar tempat kita tinggal.

Di Sela-sela prosesi acara Pembimas Hindu dan Ketua Parisada Prov. Kepulauan Riau menjelaskan kepada media massa baik cetak dan elektronik bahwa Perayaan Nyepi tahun ini adalah sebauah sinergi yang baik antara umat Hindu, Pengurus Umat dan Pemerintah. Acara ini merupakan kerja keras panitia yang dipelopori oleh Parisada Provinsi Kepulauan Riau dan Parisada Kota Batam. Ke depan hal baik seperti ini harus kita tingkatkan dengan tetap memelihara Tri Kerukunan Umat beragama di Kota Batam. Beliau juga berpesan agar pawai Ogoh – ogoh dilaksanakan dengan tertib, tidak mengganggu pengguna jalan dan membuang sampah pada tempatnya.

Tujuan upacara Taur kesanga adalah menghilangkan energi negatif alam semesta. Hal ini dilambangkan dengan pawai ogoh-ogoh. Ogoh – ogoh merupakan penggambaran bhuta kala dan sifat buruk manusia seperti marah, iri, serakah, benci, malas dan sebagainya. Kita harus mampu memerangi sifat buruk kita yang merupakan musuh dalam diri manusia. Sehingga di akhir acara pawai ogoh –ogoh umat Hindu membakar 2 (dua) ogoh-ogoh yang artinya kita membakar dan memusnahkan sifat buruk kita. Kali ini Ogoh – ogoh sangat menarik karena umat Hindu Kota Batam membuat 2 (dua) ogoh –ogoh yang diusung dan dimainkan oleh laki-laki dan perempuan. Setelah rangkaian upacara Taur Agung dan pawai ogoh – ogoh umat Hindu akan dapat melaksanakan prosesi Catur Brata penyepaian dan menyambut tahun baru Saka 1938 Saka selama 24 jam dengan tenang dan damai. Adapun Catur Brata Penyepian adalah: 1) amati karya artinya tidak bekerja, 2) amati geni artinya tidak menyalakan api, 3) amati lelungan artinya tidak bepergian, 4) amati lelanguan artinya tidak menikmati hiburan yang menyebabkan pemuasan hawa nafsu. Catur Brata Penyepian dimulai pada Hari Rabu, 09 Maret 2016 berakhir pada hari Kamis, 10 Maret 2016. Dari Perayaan Catur Brata Penyepian diharapkan terwujudnya Keberagaman sebagai perekat persatuan yang sesuai dengan tema Perayaan Nyepi Nasional.


Melasti, Hilangkan kekotoran bhuana agung dan bhuana alit

Pada hari Minggu, 06 Maret 2016 umat hindu Kota Batam menyelenggarakan Upacara Melasti sebagai rangakaian Upacara Nyepi 1938 Saka di danau Sei Ledi, Sekupang Batam. Kegiatan diikuti oleh lebih kurang 150 orang. Dalam acara itu hadir Eko Prasetyo, S.Ag, Penyelenggara Hindu pada Kantor Kementerian Agama Kota Batam. Hadir juga ketua Parisada Prov. Kepulauan Riau, Wayan Jasmin, Ketua WHDI Kota dan Provinsi, Parisada Kota Batam serta ketua lembaga agama keagamaan se-Kota batam.

Acara dimulai pada pukul 17 WIB dan selesai pada pukul 19.00 WIB. Dalam agama Hindu melasti juga disebut dengan Mekiyis. Melasti bertujuan untuk menyucikan sarana dan prasarana upacara yang akan digunakan dalam perayaan Nyepi berikutnya seperti Taur Agung Kesanga yang jatuh pada hari Selasa, 08 Maret 2016. Melasti juga bertujuan untuk memohon kesucian lahir dan batin serta memohon tirtha amertha yang bermanfaat dalam kehidupan umat Hindu. Dalam Sastra suci dijelaskan “Amet sarining tirtha kamandalu ring telenging segara” yang artinya bahwa melasti bertujuan untuk menyerap sari-sari tirtha amerta (tirtha kehidupan) dari tengah-tengah lautan/segara). Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari surat edaran Parisada Pusat yang diteruskan kepada umat oleh Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI Jakarta. Perayaan Melasti sesuai dengan Tema Nyepi 1938 saka yang ditetapkan oleh Parisada yaitu Keberagaman Perekat Persatuan. Artinya bahwa walaupun kita berbeda-beda tetapi justru itu sebagai sarana perekat persatuan umat Hindu. Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa. Dalam susastra suci, melasti juga berarti ”anglukataken laraning jagat” yang artinya menghilangkan kekotoran dunia ini baik bhuana agung maupun bhuana alit.



GERAKAN NASIONAL REVOLUSI MENTAL BIMAS HINDU KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KOTA BATAM


Dalam rangka mewujudkan visi dan misi Bimas Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Batam, maka diperlukan sinergi dan kerja sama dari semua pihak, pimpinan lembaga agama dan lembaga keagamaan Hindu. Penyelenggara Bimas Hindu menyelenggarakan sosialisasi gerakan nasional revolusi mental di Pura (rumah ibadah Hindu) dan dari rumah ke rumah setiap ada pertemuan umat dalam satu banjar muali bulan Januari Tahun 2016. Adapun poin-poin gerakan nasional revolusi mental tersebut adalah:
1.       Mendorong kepada umat Hindu se-Kota Batam untuk gemar membaca kitab suci Weda:
2.       Mendorong putra dan putrinya untuk mempelajari Kitab suci Weda dengan membaca sloka, palawakia, kidung keagamaan dan saran persembahyangan dari yang sederhana dahulu seperti canang sari dan kewangen;
3.       Mendorong putra dan putrinya untuk terus aktif belajar di Pasraman Jnana Sila Bhakti;
4.       Mengajarkan kepada putra putrinya untuk membaca doa sebelum memulai aktivitas sehari-hari menurut agama Hindu;
5.       Melaksanakan sembahyang Tri Sandhya 3 (tiga) kali sehari;
6.       Menghimbau kepada umat untuk menjaga kebersihan, keamanan dan ketertiban serta kesucian Pura (ikut merasa memiliki);
7.       Menghimbau kepada warga banjar atau umat Hindu untuk berdana punia (Bersedekah) sesuai dengan kemampuan tanpa ada paksaan;
8.       Menjaga kerukunan intern dan ekstern umat beragama;
9.       Mendukung program pemerintah seperti Anti korupsi, Indonesia sehat, kemandirian ekonomi, anti narkoba, penyalahgunaan obat terlarang dan miras, anti rokok, pencegahan penyebaran HIV AIDS, kantibmas, dsb;
10.   Melaksanakan kajian – kajian nilai - nilai keagamaan melalui Sad Dharma: dharma gita (seni membaca dan melagukan kitab suci Weda), dharma santi (berkumpul menyatukan pendapat), dharma wacana (ceramah Agama), dharma thula (Dialog dan tanya jawab keagamaan), dan dharma sadhana (disiplin spiritual), Dharma Yatra (mengunjungi tempat suci), dan Dharma Sadhana (disiplin spiritual).

      Penyelenggara Bimas Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Batam juga menghimbau kepada Pimpinan Lembaga Agama (Majelis/Parisada Hindu Dharma Kota Batam) dan Lembaga Keagamaan Hindu seperti Badan Otorita Pura Agung Amertha Bhuana (BOP), Wanita Hindu Dharma Indoneisa (WHDI) Kota Batam, Unit Kerohanian Hindu Batamindo (UKHB), dan Lembaga Pendidikan Keagamaan Hindu yaitu Pasraman Jnana Sila Bhakti dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) serta seluruh Ketua Banjar Se-Kota Batam untuk melaksanakan dan mendukung Gerakan Nasional Revolusi Mental dengan cara:

      Bimas Hindu juga wajib membuat Spanduk yang berisikan pesan revolusi mental dengan bekerja sama dan berkoordinasi dengan Pimpinan Lembaga/Majelis yang ada di Kota Batam, di samping juga membuat kegiatan yang berhubungan dengan Gerakan nasioanl Revolusi Mental, contoh: seminar Dharma wacana (ceramah keagamaan), Bakti Sosial, Kerja Bhakti, donor darah, senam, pembinaan generasi muda, sosialisasi anti narkoba, sosialisasi HIV AIDS, anti rokok, dll;

      Penyelenggara Hindu juga Mensosialisasikan 5 (lima) budaya kerja di lingkunngan Pura dan Banjar se-Kota Batam seperti: Integritas/kejujuran, pengabdian, dedikasi pada pekerjaan (Keselarasan antara hati, pikiran, perkataan, dan perbuatan yang baik dan benar). Profesionalitas (Bekerja secara disiplin, kompeten, dan tepat waktu dengan hasil terbaik), Inovatif (Menyempurnakan yang sudah ada dan mengkreasi hal baru yang lebih baik); Tanggung Jawab (Bekerja secara tuntas dan konsekuen) yang terakhir adalah Keteladanan (Menjadi contoh yang baik bagi orang lain).


Kegiatan Sosialisasi Kurikulum 2013 bagi Guru Agama Hindu di Kepulauan Riau

Pada Hari Sabtu 12 Desember s/d Minggu, 13 Desember 2015 Pembimas Hindu Kanwil Kementerian Agama Provinsi Keupulauan Riau menyelenggarakan kegiatan Kegiatan Sosialisasi Kurikulum 2013 di Provinsi Kepulauan Riau di Aula Kudri Syam, Kantor Kementerian Agama Kota Batam, Jl. Ir Sutami, Sei Harapan, Kota Batam. Acara ini diikuti oleh lebih kurang 20 (dua puluh) peserta yang berasal dari guru-guru Pasraman Jnana Sila Bhakti Kota Batam dan Pasraman Brahma WIdya Satwika Kabupaten Bintan.
            Acara ini mengambil tema Melalui Kegiatan Sosialisasi Kurikulum 2013 Kita tingkatkan Profesionalisme Guru Pasraman dalam upaya memajukan pendidikan Keagamaan Hindu. Acara dibuka secara resmi oleh Ka-Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau dalam hal ini diwakili oleh Bpk. Lukman. Acara juga dihadiri oleh Pembimas Hindu, Ketut Suardita, S.Pd, M.Pd. juga dihadiri oleh Eko Prasetyo, S.Ag selaku penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Batam.
            Paparan pertama disampaikan oleh Bpk. Lukman kemudian dilanjutkan dengan Ketut Suardita, S.Pd, M.Pd, Pembimas Hindu dengan Materi strategi memajukan pendidikan Keagamaan Hindu di Provinsi Kepulauan Riau. Kagiatan ini sangat bermanfaat bagi para guru khususnya guru-guru yang mengajar agama Hindu di Pasraman. Mengingat aspek penilaian dalam kurikulum 2013 sangat komplek dan menyeluruh mulai dari toeri, sikap dan praktek keagamaan. Guru diharapkan mampu meningkatkan kompetensi sehingga dapat mentransfer ilmu dengan baik. 

Kegiatan Pembinaan Siswa Pasraman di Kepulauan Riau

Pada Hari Minggu, 13 Desember s/d Senin, 14 Desember 2015 Pembimas Hindu Kanwil Kementerian Agama Provinsi Keupulauan Riau menyelenggarakan kegiatan Pembinaan Siswa Pasraman di Wilayah Provinsi Kepulauan Riau di Aula Kudri Syam, Kantor Kementerian Agama Kota Batam, Jl. Ir Sutami, Sei Harapan, Kota Batam. Acara ini diikuti oleh lebih kurang 20 (dua puluh) peserta yang berasal dari siswa-siswi Pasraman Jnana Sila Bhakti Kota Batam dan Pasraman Brahma Widya Satwika Kabupaten Bintan.
            Acara ini mengambil tema Melalui Kegiatan Pembinaan Siswa Pasraman Kita Tumbuhkan Kualitas dan Daya Saing Siswa Pasraman dalam bidang Agama Hindu. Acara dibuka secara resmi oleh Ka-Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau, Drs. H. Marwin, M.Ag. Acara juga dihadiri oleh Pembimas Hindu, Ketut Suardita, S.Pd, M.Pd. juga dihadiri oleh Eko Prasetyo, S.Ag selaku penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Batam.

            Paparan pertama disampaikan oleh Drs. H. Marwin, M.Ag selaku Ka-Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau dengan topik Peran Pemuda dalam Pembangunan Bangsa. Paparan berikutnya disampaikan oleh Ketut Suardita, S.Pd, M.Pd selaku Pembiams Hindu dengan Materi Makna Sarana Persembahyangan. Anak-anak begitu antusias mengikuti kegiatan ini dari awal sampai akhir. Dari kegiatan ini diharapkan semua siswa dapat meningkat kompetensinya di bidang agama Hindu. Dari Kegiatan ini melahirkan rekomendasi bahwa perlu ada Kegiatan Perkemahan/Jambore Pemuda/Pelajar lintas agama se-Provinsi Kepulauan Riau, dan direspon dengan baik oleh Ka-Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau. Semoga dapat terlaksana.

Pembimas Hindu Kanwil Kemenag Kepri selenggarakan Kegiatan Pembinaan Ekonomi Kreatif

Pada Hari Kamis, 10 Desember 2015 s/d 12 Desember 2015 Pembimas Hindu Kanwil Kementerian Agama Provinsi Keupulauan Riau menyelenggarakan kegiatan Pembinaan Ekonomi Kreatif Lembaga Keagamaan Hindu Provinsi Kepulauan Riau di Aula Kudri Syam, Kantor Kementerian Agama Kota Batam, Jl. Ir Sutami, Sei Harapan, Kota Batam. Acara ini diikuti oleh lebih kurang 40 (empat puluh) peserta yang berasal dari Pimpinan Lembaga agama dan keagamaan serta lembaga pendidikan keagamaan Hindu dari Kota Batam, Kabupaten Bintan dan Kota Tanjung Pinang. Di Prov. Kepulauan sendiri ada beberpa organisasi lembaga agama dan keagamaan seperti Parisada Prov. Kepulauan Riau, Parisada Kota Batam, WHDI (Wanita Hindu Dharma Indonesia) Provinsi Kepulauan Riau dan Kota Batam, DPP PERDAHA (Perhimpunan Pemuda Hindu), BPH (Badan Penyiaran Hindu). Dan Pasraman Jnana Sila Bhakti (Lembaga Pendidikan Keagamaan Hindu).
            Acara ini mengambil tema Melalui Kegiatan Pembinaan Ekonomi Kreatif, Kita Wujudkan Umat Hindu yang memilikki Keterampilan dalam Pemberdayaan Lembaga Keagamaan Hindu. Acara dibuka secara resmi oleh Ka-Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau dalam hal ini diwakili oleh Pembimas Hindu, Ketut Suardita, S.Pd, M.Pd. Acara juga dihadiri oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Batam yang diwakili oleh Kasubbag Tata Usaha, H. Muhammad Dirham, S.Ag, M.Sy. Acara juga dihadiri oleh Eko Prasetyo, S.Ag selaku penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Batam.
            Paparan pertama disampaikan oleh Drs. I Wayan Catra Yasa, MM dengan topik Kiat-Kiat Pemberdayaan Ekonomi Kreatif Lembaga Keagamaan Hindu. Adapun paparan berikutnya disampaikan oleh H. Subadi, S.Ag, M.Si selaku Kabag Tata Usaha Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau dengan topik Upaya Pencegahan Radikalisme Melalui Pendekatan Agama. Dan Materi yang terakhir adalah Strategi Pemberdayaan Ekonomi Umat yang disampaikan oleh I Made santika, S.Sos, M.Si, Kasubdit Pemberdayaan Umat, Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI.

             

Minggu, 04 Oktober 2015

PUJAWALI PURNAMA SASIH KAPAT PURA GIRINATHA PUNCAKSARI BINTAN


Pada hari Senin Kliwon, 28 September 2015 umat Hindu di Kota Tanjung Pinang, Kabupaten Bintan dan sekitarnya mengikuti prosesi pujawali. Walaupun kabut asap sedikit menggangu pernafasan, jarak pandang dan aktivitas lainya, tetapi umat Hindu tidak mengurungkan niatnya untuk melaksanakan pujawali, terlebih pada pujawali kali ini panitia menghadirkan 2 (dua) narasumber dari redaksi Media Hindu Jakrta yaitu Bapak Dewa Ketut Suratnaya dan Ibu Tiwi Susanti. Pujawali diikuti oleh lebih kurang 100 umat dari kota tanjung pinang, kabupaten Bintan dan beberapa umat Hindu dari Kota Batam yang bias menyempatkan diri hadir. Hadir dalam kesempatan itu Ketut Suardita, S.Pd, M.Pd selaku Pembimas Hindu pada Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau, Purwadi, S.Ag selaku Penyuluh PNS Agama Hindu Provinsi Kepulauan Riau, kemudian Nyonya Dara Astuti selaku Ketua WHDI Prov. Kepulauan Riau, kemudian Penyelenggara Hindu Kantor Kemetenrian Agama Kota Batam Ketua PHDI, WDHI Kab. Bintan, PHDI dan WHDI Kota Tanjung Pinang dan pimpinan lembaga agama dan kegamaan lainya.

Pujawali selalu diidentikkan dengan hari ulang tahun pura. Tetapi bukan ulang tahun seperti yang kita tayakan setiapa tahunya. Pujawali diperingati secara berkala, ada yang setiap enam bulan ada juga yang setahun sekali, tergantung kemampuan umat Hindu. Pujawali diambil berdasarkan wewaran, wuku, sasih tidak berdasarkan tanggal seperti ulang tahun kita sebagai manusia. Pujawali lebih ke arah aktivitas spiritual, ritual umat Hindu untuk memuja kembali (Puja mewali) turunya Ida Bhetara yang bersthana di Pura yang kita usung.

Pada H-1 pujawali, umat Hindu di Tanjung Pinang dan Kabupaten Bintan dan sekitarnya mengikuti ruwatan/panglukatan Nawa Ratri dengan menggunakan sedikitnya 9 (sembilan) warna bunga ditambah air kelapa gading yang sudah tidak diragukan lagi kasiatnya. Tujuan dari panglukatan ini adalah menghilangkan segala jenis kekotoran batin akibat dari aktifitas pikiran, perkataan dan perbuatan kiita, ditambah lagi dengan gelombang suka dan duka yang selalu dialami manusia. Pikiran harus dimurnikan agar kita siap menerima gelombang suka dan duka kehidupan. Di rumah umat bisa sendiri melakukan pengkukatan dengan air kelapa gading pada saat bulan purnama. Di mana dupa yang menyala kita celupkan dalam air kelapa gading yang bermakna menghidupkan kekuatan Brahma dalam air kelapa gading itu setelah itu kita percikkan ke pelinggih, rumah, pekarangan, tubuh kita dan bisa di minum terutama oleh ibu yang sedang hamil, bias juga ketika energi sedang ngedrof. Banyak sekali permasalahan umat yang muncul, di sinilah peran rohaniawan di samping melayani umat di bidang ritual keagamaan, pendidikan pasraman, juga harus mampu memecahkan masalah umat, bimbingan konseling segala bidang dari kelahiran, perkawinan, kematian bahkan konsultasi secara skala dan niskala, sehingga umat akan tercerahkan secara skala dan niskala. Kita harus mampu menjawab tantangan dan permasalahan yang dihadapi oleh umat Hindu. Di satu sisi banyak sekali berita menggembirakan bahwa banyak umat lain yang berbondong-bondong pindah ke agama Hindu, terutama di Jawa, tetapi kita harus siap membina mereka, memberikan pelayanan manusa Yajña mulai dari kelahiran, raja sewala, pengurusan perkawinan, rumah ibadah, pendidikan pasraman sampai pada urusan pitra Yajña/pengebenan dan konseling permalahan kehidupan, niscaya umat yang baru masuk tidak kembali ke agama yang lama. Pemerintah bekersama dengan Parisada dan lembaga keagamaan lainya beserta umat Hindu harus bersatu memecahkan permasalahan ini.

Pujawali kali ini terbilang istemewa karena kembali bertepatan dengan bulan Purnama sekaligus gerhana bulan yang berwarna merah, walau tidak dapat terlihat di wilayah Indonesia.  Tentunya bulan Purnama sangat baik untuk melakukan aktifitas Yajña apalagi pujawali. Setelah persembahyangan bersama yang dipimpin oleh Jro Mangku Pasek Okadana, Pembimas Hindu memberikan kata sambutan. Dalam sambutanya Pembimas Hindu mengajak umat Hindu di Tanjung Pinang untuk menjaga kerukunan umat, persatuan umat. Jika sudah tidak rukun maka tidak akan nyaman dalam beribadah. Beliau juga memberi apresiasi yang tinggi kepada panitia pujawali yang telah bekerja keras mulai dari persiapan, perencanaan, pelaksanaan hingga pada proses laporan pertanggung jawaban pelaksanaan Pujawali. Tidak lupa beliau sekaligus mewakili umat Hindu Kota Tanjung Pinang megucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu jalannya pujawali dari awal sampai akhir.

Selanjutnya umat Hindu Tanjung Pinang mendengarkan dharma wacana, kali ini dibawakan oleh Dewa Ketut Suratnaya dari Media Hindu Jakarta. Dalam dharma wacananya beliau menyatakan bahwa Pujawali pada umumnya diawali dengan prosesi Mecaru. Mengapa harus mecaru? Mecaru berasal dari kata “car” yang artinya bersih. Membersihkan energi negatif, mengubah dominasi energi negatif menjadi energi positif. Mecaru adalah persembahan pada Bhuta atau kekuatan alam, pada penguasa ruang dan waktu (kala). Mecaru juga bisa dimaknai sebagai persembahan pada pertiwi karena manusia hidup di atas bumi, sehingga manusia harus hormat kepada Ibu pertwiwi (bumi). Mecaru dapat menyucikan area pura, meningkatkan energi spiritual pura atau skaralisasi area pura. Caru biasanya di sertai dengan ayam dan banten lainya seperti daksina. Pada tingkatan energi bulu-bulu ayam akan bekerja untuk membersihkan energi yang negatif di area  pura. Sehingga ke depannya energi pura dapat bekerja dengan sendiri untuk membersihkan kekotoran yang ditimbulkan oleh ulah manusia baik sengaja maupun tidak sengaja. Mengapa caru harus disertai dengan banten daksina?, sebab kalau tidak maka roh sang ayam tidak akan mengalami evolusi roh ke arah yang lebih baik, dan jika hal ini terjadi maka hal ini tidak lebih dari pembunuhan terhadap ayam itu sendiri, ayam tidak mengalami roh yang lebih baik. Di sinilah pentingnya banten daksina sebagai media pengantar roh sang ayam. 

Banten pujawali secara umum ada 3 (tiga) fungsi yaitu:  byakala, atau bermakna persembahan kepada bhuta kala atau ebayar “bya” kala yaitu membayar hutang kepada ruang dan waktu dan penguasa waktu “kala: itu sendiri. Manusia berhutang kepada raung dan waktu, berhutang atas hidup dan waktu untuk bernafas. Yang kedua adalah banten durmanggala yang biasanya ada kelapa hijaunya sebagai simbol Wishnu yang memelihara ciptaan Brahma pada proses penciptaan. Kemudian ada unsur prayascita yang berfungsi pembersihan akhir dan membersihkan sifat—sifat Yajña yang rajasik dan tamasika menjadi sattwika. Di sini peran Siwa lebih dominan dalam proses prayascita sehingga kehidupan manusia di bumi ini menjadi atenang dan damai. Pada tahap selanjutnya akan terjadi proses ektoplasma di mana terjadi persatuan antara yantra, tantra dan mantra sehingga Yajña menjadi sidhi. Yantra merupakan simbol-simbol/nyasa dalam upacara pujawali. Sedangkan tantra yang merupakan teknik dari menghidupkan mantra dan banten pujawlai itu sendiri. Terakhir adalah peran mantra yang diuncarkan manggalaning upacara juga menentukan keberhasilan Yajña. Mantra adalah kata – kata tetapi tidak semua kata-kata adalah mantra. Lalu kata-kata yang bagaimana agar bias disebu mantra? Tentunya kata-kata yang mengandung doa, kata-kata yang berasal dari Weda Sruti atau Smerti, kata-kata Weda yang diucapkan dengan penuh keyakinan akan keberhasilanya. Jika tidak memiliki sradha atau keyakinan terhadapa mantra maka lebih baik jangan ucapka mantra itu. Hal ini sangat luar biasa sehingga di sini kebehaslan karya akan terjadi sehingga ada istilah lascayra (keikhlasan) sehingga membuat karya menjadi sidhi karya (Yajña yang berhasil) dan labda karya (membawa kesejahteraan dan kesucaian umat). Unsur yantra, tantra dan mantra tidak bisa dipisahkan dalam proses Yajña baik oleh sang yajamana, serathi banten dan manggalaning upacara jika ingin berhasil. Jika ini terjadi maka pura dapat menyerap energi 3 (tiga) dewa yang kita kenal dengan Tri Murti dan energi dari ista dewata lainya terlebih leluhur. Sungguh lar biasa kekuatan dari yantra, tantra dan mantra.

Lalu mengapa harus ada mendak nuntun Ida Bhetara, mekalya hyas, purwa daksina dan tari rejang dewa? Perlu kita ketahui ada 3 (tiga) sifat Tuhan yaitu: Parama Siwa di mana Tuhan tidak ada pengaruh maya, tidak tepikirkan, acintya rupa, tidak berwujud. Kemudian Sada Siwa, di sini sudah ada sedikit pengaruh maya.  terakhir adalah Siwa di mana Tuhan sudah berwujud dan terjadi pengaruh maya dan suka dukkha kehidupan. Konsep Tuhan sebagai atau jiwa-jiwa dalam makhluk hidup yang sudah mengalami gelombang suka duka kehidupan, terkena pengaruh maya, panas dingin dan dualisme duniawi lainnya. Di sinilah ditemukan bukti bahwa Atman adalah Brahman itu sendiri yang ada pada setiap makhluk hidup dan terkenan pengaruh maya. Tuhan dalam prabhawa-Nya sebgai Ida Bhetara yang berstana di Pura dapat kita puja dengan visualisasi berupa simbol dan wujud tertentu, hal ini memudahkan kita untuk berkonsentrasi memuja Tuhan. Tuhan kita umpamakan seperti raja yang harus kita hormati, kita layani, kita buat beliau merasa senang dan inilah jalan bhakti yang sangat universal. Bahkan Atmasnastusti atau kepuasan batin dalam Yajña mendapat tempat yang tinggi dan menjadi sumber hukum Hindu sesuai yang tersurat dalam Kitab Manu Smerti atau Manawa dharma sastra. Sehingga sering kita umat Hindu melakukan menghias Ida Bhetara, menggotong jempana/daksina linggih Ida Bethara ke pura atau tempat suci lainya. Di sini bukan berarti Ida Bethara di Pura A kosong karena umatnya membawa daksina linggih Ida Bhetara ke Pura B atau tempat suci lainya. Di Jabodetabek biasa kita jumpai saat umat Hindu ngiring Ida Bhtetara ke pura lain yang sedang ada pujawali, mendak tirtha, nyegara gunung atau melasti. Kembali inilah penerapan konsep bhakti dan berkembang menjadi etika yang kita jadikan norma bersama dalam setiap upacara Yajña termasuk pujawali. Umat Hindu juga membuat banten gelar sanga untuk dimensi alam bawah. Ini untuk mengantisipasi kehadiran Ida Bhetara yang terkadang hadir sendiri, tetapi terkadang membawa banyak teman dan pasukanya.

Selanjutnya dalam pujawali biasanya umat Hindu melakukan aktifitas Purwa daksina biasanya berputar  mengelilingi padmasana searah jarum jam yang mengandung makna bahwa kita harus ikut memutar roda kehidupan di jalan yang benar. Jika kita tidak bekerja mencari nafkah maka kita akan tergials dalam perputaran roda kehiupan Purwa daksina juga merupan bentuk penghormatan kepada Tuhan seru sekalian alam agar dunia ini tetap tegak.


Lalu mengapa kita sembahyang harus ke pura? Pura mempunyai energi “datu” yang leih baik di banding datu di rumah atau di kantor. Tetapi terkadang kareana alasan tidak mau bergaul dengan orang lain kadang umat tidak mau ke pura karena berbagai alasan di antaranya bahwa Tuhan bisa di puja di mana saja, memang benar seperti itu akan tetapi pura jauh lebih baik dalam hal vibrasi dan kesucian. Akan berbeda jika kita sembahyang di rumah atau di tempat yang lainya. Kita duduk dan sembahyang saja sudah akan menerima vibrasi positif pura, apalagi kita melakukan meditasi, japa dan yoga lainya. Pelinggih pura juga memiliki fungsi yang sangat besar dalam proses pemunian pikiran karena pelinggih berfungsi sebagai akses menuju Tuhan. Dengan alasan ini maka umat Hindu harus memberdayakan pura, umat harus pergi ke pura karena Pura mempunyai Datu yang lebih baik dibandingkan sembahyang di rumah. Panca Datu mewakili lima elemen logam dan juga unsur Panca Maha Bhuta. Datu tidak hanya di tanam di pura, tetapi juga bisa di rumah, kantor, dan bahkan dalam tubuh manusia. Dalam tubuh manusia ada unsur panca datu yang harus dihidupkan agar bermanfaat bagi hidup kita yaitu: getah bening, lemak, daging, tulang, sungsum. Di rumah juga bisa ditanam jahe, lengkuas kunyit jadi satu dalam satu pot tanaman atau tanah.

Pada pekembanganya peran pemangku dan pinandita harus kita tingkatkan. Jangan kita batasi. Kalau dulu pemangku hanya bertugas memberikan pelayanan di bidang upakara Yajña, maka sekarang pemangku bertugas memberikan peyuluhan umat dan bimbingan konseling tenis keagamaan lainnya. Pemangku pada perkembanganya berhak untuk muput upacara Yajña termasuk karya pujawali. Di sini terkadang umat terlalu takut dan beranggapan bahwa seolah-olah pujawali harus dipuput oleh seorang sulinggih atau dwijati seperti pedanda, Ida Resi, dan sebagainya, sehingga peran pemangku termarinalkan. Jika umat terbingungkan oleh rohaniawan maka kembalilah ke sastra. Tuhan dalam Bhagavadgita mengatakan bahwa hendaknya orang suci yang bijaksana tidak membingungka umat demu kepentingan materi dan kepenteingan lainnya. Dalam sastra sebuah uaakara harus ada tri Manggalaning upakara yaitu sang yajamana, serathi banten dan manggalaning upakara. Pemuput Yajña tidak harus sulinggih untuk tingkatan pujawali. Di sini harus ada sinergi dan hubungan antara tri Mangalaning Yajña. Satu dengan yang lain tidak dapat terpisahkan keberadaanya, sehingga yajnya yang satwika dapat terwujud.

Untuk mewujudkan pelaksanaan Yajña yang sāttwika, ada tujuh syarat yang wajib untuk dilaksanakan sebagai berikut: 1) Śraddhā artinya dalam melaksanakan Yajña harus keyakinan, jika tidak maka akan sa-sia. 2) Lascarya artinya ikhlas. 3) Śāstra yaitu pelaksanaan Yajña harus berdasarkan sumber śāstra yaitu śruti, smŗti, śila, ācāra, ātmanastuṣṭi. 4) Dakṣiṇa adalah harus ada persembhan benda atau uang. 5) Mantra dan Gītā adalah pelaksanaan Yajña dengan Mantra dan melantunkan lagu-lagu suci/kidung untuk pemujaan. 6) Annasewa, yaitu dalam upacara yaja harus ada persembahan makan kepada para tamu yang menghadiri upcara (Atithi Yajña). 7) Nāsmita adalah Yajña yang dilaksanakan dengan tujuan bukan untuk memamerkan kemewahan dan kekayaan.

kualitas suatu upakara tergantung pada ketulusan, karena kemewahan upakara yang bukan merupakan jaminan yang mutlak keberhasilan upakara yang dilakukan oleh umat. Agar sebuah upaara Yajña behasil maka harus ada unsur Panca Tarka yaitu Iksa atau tujuan dari upakara Yajña, Śakti atau kemampuan umat, desa atau tempat berlangsungnya upakara, kalau upakara dilaksanakan di Kep Riau dan Tanjung Pinang maka akan berbeda dengan pelaksanaan upakara yajna di Bali. kemudian kala atau waktu, yang terakhir adalah tattwa, di mana yajna harus berpedoman pada śāstra Agama. Jangan jor – joran dan merusak kelangsungan alam dan makhluk hidup. Tetapi jangan juga pelit, mampu melakukan upakara yajna tetapi pura-pura tidak mampu, sehingga proses yajna dan dana punia tidak berjalan. Dalam sepbuah yajna jika ingin berhasil maka harus ada daksina kepada rohaniawan dan annasewa atau permbahan makanan baik kepada rohaniawan dan umat Hindu. Jika rohaniawan tidak diberi daksina dan pulang dengan perut yang belum terisi makanan, maka yajan upakara sebesar apapun akan menjadi pahala rohaniawan yang muput karya upakar yajna termasuk pujawali. Ini harus kita pikirkan bersama agar sebuah yajna menjadi lascarya, sidhi karya dan labda karya.  Sehingga akan terwujud loka samgraha, semoga.


Kamis, 03 September 2015

FOKUS GROUP DISCUSSION (FGD) BAPPENAS TENTANG KERUKUNAN UMAT BERAGAMA

Pada Hari Kamis Tanggal 27 Agustus 2015 Bappenas menyelenggarakan Focus Group Disccusion (FGD) di Hotel Aston, Kota Tanjung Pinang, Prov. Kepulauan Riau, jam 09.00 WIB s/d selesai. Peserta terdiri dari Sekretaris Ditjen Unit Eselon I Pusat, Ka-Biro Perencanaan, Ka-PKUB Pusat, Ka-Balitbang Kemenag Pusat, Ka-Kanwil Kemenag Kepri, Pembimas, Pemda Prov. Kepr, Riau, FKUB, dan Lembaga Agama/Majelis dari 6 (enam) agama) seperti pada lampiran Undangan.  Sekretaris Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI diundang sebagai peserta aktif pada acara tersebut. Dari Kementerian Agama Ri Pusta Mei 2015, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Kepulauan Riau menyelenggarakan Kegiatan Gerak Jalan Santai Kerukunan Umat beragama Se-Prov. Kepulauan Riau.

Berdasarkan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) Republik Indonesia Tahun 2015 s/d 2019 yang didasarkan pada Nawa Cita (Sembilan Janji Pemerintahan Presiden Joko Widodo-Jusuf Kalla) Buku I Cita ke-9, meningkatkan kerukunan uma beragama merupakan kebijakan prioritas untuk mewujudkan sasaran yaitu meningkatnya harmoni sosial dan kerukunan umat beragama. Sehubungan dengan hal tersebut maka Direktoorat Agama, Kebudayaan, Pemuda dan Olah Raga Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) melakukan kebijakan dan strategi peningkatan kerukunan umat beragama.
  
Pelaksanaan  kegiatan ini dimaksudkan untuk melakukan pendampingan Sekretaris Ditjen Bimas Hindu sebagai bentuk kepatuhan kepada Pimpinan Pusat dalam hal ini Ditjen Bimas Hindu. Di samping juga untuk menambah wawasan kerukunan umat beragama di Prov. Kepualuan Riau.

Sekretaris Ditjen Bimas Hindu tiba di Bandara Raja Haji Fisa Bililah Kota Tanjung Pinang pada hari Rabu, 26 Agustus 2015 pada pukul 13.00 WIB; Mendampingi Sekretaris Ditjen Bimas Hindu untuk survey lokasi Pura Giri Natha Puncak Sari, Kab. Bintan, Prov. Kepulauan Riau pada hari Rabu, 26 Agustus 2015, bersama Pembimas Hindu Kanwil Kemenag Kep. Riau, dan Penyuluh Agama Hindu PNS Kanwil Kemenag Prov. Kep. Riau, sehari sebelum kegiatan FGD. Mendampingi Sekretaris Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama Ri pada acara FGD yang diselenggarakan oleh Bappenas pada hari Kamis, tanggal 27 Agustus 2015 jam 09.00 s/d selesai di Ruang Rapat Hote Aston Tanjung Pinang, JL. Adi Sucipto KM 11, Kepulauan Riau;

Acara diikuti oleh lebh kurang 30 peserta dari unsur:
a.       Kementerian Agama RI Pusat sebanyak 8 peserta
b.      Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau sebanyak 10 (sepulu) peserta;
c.       Unsur Pemerintah Daerah (Pemda) Prov. Kepulauan Riau sebanyak 2 (dua) peserta;
d.      FKUB Prov. Kepulauan Riau sebanyak 1 (satu) peserta
e.       FKUB Kota Tanjung Pinang sebanyak 1 (satu) peserta;
f.       Lembaga Agama/Majelis dari semua agama sebanyak 8 (delapan) peserta.

Acara dibuka secara ressmi oleh Direktur Agama Kebudayaan, Pemuda dan olah Raga Bappenas. Paparan Narasumber yang pertama disampaikan oleh Drs. H. Marwin Jamal (Ka-Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepualauan Riau) dengan materi ”Analisis Kebijakan Peningkatan Kerukunan Umat Beragama. Dilanjutkan dnegan paparan narasumber yang ke-2 Oleh Drs. H. Razali Jaya (selaku ketua FKUB Prov kepualuan Riau) dengan materi: ”Strategi Internalisasi Nilai-Nilai Kerukunan dalam Kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Paparan Narasumber yang k-3 disampaikan oleh Edy Akhyari, M.Si (Akademisi UMRAH Tanjung Pinang Kepulauan Riau). Setelah Narasumber menyampaikan materinnya, Sekretaris Ditjen Biamas Hindu sebagai peserta aktif menyampaikan tanggapanya, sebagai berikut:
a.    Kondisi kerukunan intern Umat Hindu di Indonesi dan di Prov. Kep. Riau sudah kondusif, demikian pula dengan antar umat beragama;
b.   Jika terjadi keributan di beberapa daerah seperti di Lampung, Sumbawa, dsb sebenarnya itu hanya masalah probadi yang membawa masalah SARA. Kemajuan teknolgi informasi bisa disalahgunanakan untuk memperburuk suasana;
c.    Semua umat beragama harus mematuhi SKB tiga menteri dalam hal pembangunan rumah ibadah;
d.   Permasalah di akar rumput harus mendapat perhatian kita bersama;
e.    Bimas Hindu menyamapaikan terima kasih kepada Pemda dan Unsur terkait perihal pembinaan kerukunan umat beragama;


Kegiatan ini positif  karena merupakan media untuk  mengavulasi kelemahan dan hambatan dalam realisasi Kerukuanan Umat beragama di prov. Kepualauan Riau khusunya dan di di Indonesia pada umumnya. Kegiatan ini harus berkesinambunagn setiap tahunya, karena sangat efektif sebagai media mempererat persaudaraan antar umat beragama.



Rabu, 15 Juli 2015

Makna Hari Raya Galungan


Perayaan Galungan bagi umat Hindu di Indonesia sudah sangat memasyarakat dari abad keabad. Tetapi sangat kita sayangkan memasyarakatnya Galungan tersebut sangat tidak seimbang antara Tattwa atau kasuksmaan Galungan, Susila dengan Upakaranya. Artinya antara Tattwa yang tercamtum dalam teks pustaka Sundarigama dengan wujud susila dan upakara Galungan dalam kehidupan empirisnya sampai saat ini masih tidak nyambung. Bahkan kadang-kadang bertentangan.antara Tattwa Galungan yang  demikian luhur dan ideal dinyatakan dalam teks Pustakanya dengan kenyataan perayaan Galungan dalam kehidupan empiris setiap dalam kehidupan empiris setiap perayaan Galungan yang dirayakan setiap enam bulan wuku (210 hari). Ada kalanya disuatu waktu dan tempat perayaan Galungan lebih menonjolkan perayaan Galungan dengan meriahnya upakara yajna. Makan masakan khas daerah yang lebih nikmat dari sehari-harinya. Demikian pula Galungan diwujudkan dengan berpakaian serba baru,pergi ketempat-tempat hiburan dan melakukan hal-hal yang lebih menekankan keikmatan indria. Padahal Galungan adalah sebagai suatu peringatan untuk menajamkan daya spiritual untuk mensinergikan penerapan Jnyana atau ilmu pengetahuan suci untuk mencerahkan hati nurani umat sehingga dapat membangun kehidupan yang cerah dan bergaiarah untuk mengamalkan Dharma. Sesungguhnya Perayaan Galungan adalah untuk mengimplementasikan Tattwa Galungan banyak hal yang dapat kita perbuat dengan mengembangkan Tattwa Galungan kedalam berbagai program nyata sehingga Tattwa Galungan menjadi nyata dalam wujud susila dan upakara nya Inilah tujuan utama penulisan tentang Galungan dan Kuningan dalam tulisan singkat ini.
        Kata “Galungan” berasal dari bahasa Jawa Kuna yang artinya menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan dungulan, yang juga berarti menang. Karena itu di Jawa, wuku yang kesebelas disebut Wuku Galungan, sedangkan di Bali wuku yang kesebelas itu disebut Wuku Dungulan. Namanya berbeda, tapi artinya sama saja. Seperti halnya di Jawa dalam rincian pancawara ada sebutan Legi sementara di Bali disebut Umanis, yang artinya sama : manis. Agak sulit untuk memastikan bagaimana asal-usul Hari Raya Galungan ini. Kapan sebenarnya Galungan dirayakan pertamakali di Indonesia, terutama di Jawa dan di daerah lain khususnya di Bali. Drs. I Gusti Agung Gede Putra (mantan Dirjen Bimas Hindu dan Buddha Departemen Agama RI) memperkirakan, Galungan telah lama dirayakan umat Hindu di Indonesia sebelum hari raya itu popular dirayakan di Pulau Bali. Dugaan ini didasarkan pada lontar berbahasa Jawa Kuna yang bernama Kidung Panji Amalat Rasmi. Tetapi, kapan tepatnya Galungan itu dirayakan di luar Bali dan apakah namanya juga sama Galungan, masih belum terjawab dengan pasti. Namun di Bali, ada sumber yang memberikan titik terang. Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Galungan pertama kali dirayakan pada hari Purnama Kapat, Budha Kliwon Dungulan, tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi. Dalam lontar itu disebutkan:
Punang act Galungan ika ngawit, Bu, Ka, Dungulan sasih kacatur, tanggal 15, isaka 804. Bangun indria Buwana ikang Bali rajya,
Perayaan (upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah pada hari Rabu Kliwon, (Wuku) Dungulan sasih kapat tanggal 15, tahun 804 Saka. Keadaan Pulau Bali bagaikan Indra Loka”.
Sejak itu Galungan terus dirayakan oleh umat Hindu di Bali secara meriah. Setelah Galungan ini dirayakan kurang lebih selama tiga abad, tiba-tiba entah apa dasar pertimbangannya pada tahun 1103 Saka perayaan hari raya itu dihentikan. Itu terjadi ketika Raja Sri Ekajaya memegang tampuk pemerintahan. Galungan juga belum dirayakan ketika tampuk pemerintahan dipegang Raja Sri Dhanadi. Selama Galungan tidak dirayakan, konon musibah datang tak henti-henti. Umur para pejabat kerajaan konon menjadi relatif pendek. Ketika Sri Dhanadi mangkat dan digantikan Raja Sri Jayakasunu pada tahun 1126 Saka, barulah Galungan dirayakan kembali, setelah sempat terlupakan kurang lebih selama 23 tahun. Keterangan ini bisa dilihat pada lontar Sri Jayakasunu. Dalam lontar tersebut diceritakan bahwa Raja Sri Jayakasunu merasa heran mengapa raja dan pejabat-pejabat raja sebelumnya selalu berumur pendek. Untuk mengetahui penyebabnya, Raja Sri Jayakasunu mengadakan tapa brata dan samadhi di Bali yang terkenal dengan istilahDewa Sraya artinya mendekatkan diri pada Dewa. Dewa Sraya itu dilakukan di Pura Dalem Puri, tak jauh dari Pura Besakih. Karena kesungguhannya melakukan tapa brata. Raja Sri Jayakasunu mendapatkanpawisik atau“bisikan religius” dari Dewi Durgha, sakti dari Dewa Siwa. Dalam pawisik itu Dewi Durgha menjelaskan kepada raja bahwa leluhurnya selalu berumur pendekkarena tidak lagi merayakan Galungan. Karena itu Dewi Durgha meminta kepada Raja Sri Jayakasunu supaya kembali merayakan Galungan setiap Rabu Kliwon Dungulan sesuai dengan tradisi yang pernah berlaku. Di samping itu disarankan pula supaya seluruh umat Hindu memasang penjor pada hari Penampahan Galungan (sehari sebelum Galungan). Disebutkan pula, inti pokok perayaan hari Penampahan Galungan adalah melaksanakan byakala yaitu upacara yang bertujuan untuk melepaskan kekuatan negatif (Buta Kala) dari diri manusia dan lingkungannya. Semenjak Raja Sri Jayakasunu mendapatkan bisikan religius itu, Galungan dirayakan lagi dengan hikmat dan meriah oleh umat Hindu di Bali.
            Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spiritual agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari adharma dan mana dari budhi atma yaitu berupa suara kebenaran (dharma) dalam diri manusia. Selain itu juga memberi kemampuan untuk membeda-bedakan kecendrungan karaksasaan (asura sampad) dan kecendrungan kedewaan (dewa sampad). Harus disadari bahwa hidup yang berbahagia atau ananda adalah hidup yang memiliki kemampuan untuk menguasai kecenderungan keraksasaan. Galungan adalah juga salah satu upacara agama Hindu untuk mengingatkan manusia secara ritual dan spiritual agar selalu memenangkan Dewi Sampad untuk menegakkan dharma melawan adharma. Dalam lontar Sunarigama, Galungan dan rincian upacaranya dijelaskan dengan mendetail. Mengenai makna Galungan dalam lontar Sunarigama dijelaskan sebagai berikut:
Budha Kliwon Dungulan Ngaran Galungan patitis ikang janyana samadhi, galang apadang maryakena sarwa byapaning idep
Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan bersatunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacauan pikiran.
Jadi, inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujuddharma dalam diri. Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud adharma. Dari konsepsi lontar Sunarigama inilah didapatkan kesimpulan bahwa hakikat Galungan adalah merayakan menangnya dharma melawan adharma. Untuk memenangkan dharma itu ada serangkaian kegiatan yang dilakukan sebelum dan setelah Galungan. Sebelum Galungan ada disebut Sugihan Jawa dan Sugihan Bali. Kata Jawa di sini sama dengan Jaba, artinya luar. Sugihan Jawa bermakna menyucikan bhuana agung (bumi ini) di luar dari manusia. Sugihan Jawa dirayakan pada hari Wrhaspati Wage Wuku Sungsang, enam hari sebelum Galungan. Dalam lontar Sundarigama disebutkan bahwa pada hari Sugihan Jawa itu merupakan Pasucian dewa kalinggania pamrastista batara kabeh (Penyucian Dewa, karena itu hari penyucian semua bhatara). Pelaksanaan upacara ini adalah dengan membersihkan segala tempat dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci. Sedangkan pada hari Jumat Kliwon Wuku Sungsang disebutkan: Kalinggania amretista raga tawulan (Olehkarenanya menyucikan badan jasmani masing-masing). Karena itu Sugihan Bali disebutkan menyucikan diri sendiri. Kata Bali dalam bahasa Sansekerta berarti kekuatan yang ada di dalam diri. Dan itulah yang disucikan. Pada Redite Paing Wuku Dungulan diceritakan Sang Kala Tiga Wisesa turun mengganggu manusia. Karena itulah pada hari tersebut dianjurkan anyekung Jñana, artinya: mendiamkan pikiran agar jangan dimasuki oleh Butha Galungan. Dalam lontar itu juga disebutkan nirmalakena (orang yang pikirannya selalu suci) tidak akan dimasuki oleh Butha Galungan. Pada hari Senin Pon Dungulan disebut Penyajaan Galungan. Pada hari ini orang yang paham tentang yoga dan samadhi melakukan pemujaan. Dalam lontar disebutkan, “Pangastawaningsang ngamongyoga samadhi.” Pada hari Anggara Wage wuku Dungulan disebutkan Penampahan Galungan. Pada hari inilah dianggap sebagai hari untuk mengalahkan Butha Galungan dengan upacara pokok yaitu membuat banten byakala yang disebut pamyakala lara melaradan. Umat kebanyakan pada hari ini menyembelih babi sebagai binatang korban. Namun makna sesungguhnya adalah pada hari ini hendaknya membunuh sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri. Demikian urutan upacara yang mendahului Galungan. Setelah hari raya Galungan yaitu hari Kamis Umanis wuku Dungulan disebut Manis Galungan. Pada hari ini umat mengenang betapa indahnya kemenangan dharma. Umat pada umumnya melampiaskan kegembiraan dengan mengunjungi tempat-tempat hiburan terutama panorama yang indah. Juga mengunjungi sanak saudara sambil bergembira-ria. Hari berikutnya adalah hari Sabtu Pon Dungulan yang disebut hari Pemaridan Guru. Pada hari ini, dilambangkan dewata kembali ke sorga dan meninggalkan anugrah berupa kadirghayusaan yaituhidup sehat panjang umur. Pada hari ini umat dianjurkan menghaturkan canang meraka dan matirta gocara. Upacara tersebut barmakna, umat menikmati waranugraha Dewata.
Pada hari Jumat Wage Kuningan disebut hari Penampahan Kuningan. Dalam lontar Sundarigama tidak disebutkan upacara yang mesti dilangsungkan. Hanya dianjurkan melakukan kegiatan rohani yang dalam lontar disebutkan Sapuhakena malaning jnyana (lenyapkanlah kekotoran pikiran). Keesokan harinya, Sabtu Kliwon disebut Kuningan. Dalam lontar Sunarigama disebutkan, upacara menghaturkan sesaji pada hari ini hendaknya dilaksanakan pada pagi hari dan hindari menghaturkan upacara lewat tengah hari. Mengapa? Karena pada tengah hari para Dewata dan Dewa Pitara “diceritakan” kembali ke Swarga (Dewa mur mwah maring Swarga). Meskipun Galungan itu disebut “Rerahinan Gumi” artinya semua umat wajib melaksanakan, ada pula perbedaan dalam hal perayaannya. Berdasarkan sumber-sumber kepustakaan lontar dan tradisi yang telah berjalan dari abad ke abad telah dikenal adanya tiga jenis Galungan yaitu: Galungan (tanpa ada embel-embel), Galungan Nadi dan Galungan Nara Mangsa. Penjelasannya adalah sebagai berikut: Galungan: Adalah hari raya yang wajib dilakukan oleh umat Hindu untuk merayakan kemenangan dharma melawan adharma. Berdasarkan keterangan lontar Sundarigama disebutkan “Buda Kliwon Dungulan ngaran Galungan.” Artinya, Galungan itu dirayakan setiap Rabu Kliwon wuku Dungulan. Jadi Galungan itu dirayakan, setiap 210 hari karena yang dipakai dasar menghitung Galungan adalah Panca Wara, Sapta Wara dan Wuku. Kalau Panca Waranya Kliwon, Sapta Waranya Rabu, dan wukunya Dungulan, saat bertemunya ketiga hal itu disebut Hari Raya Galungan. Galungan Nadi: Galungan yang pertama dirayakan oleh umat Hindu di Bali berdasarkan lontar Purana Bali Dwipa adalah Galungan Nadi yaitu Galungan yang jatuh pada sasih Kapat (Kartika) tanggal 15 (purnama) tahun 804 Saka (882 Masehi) atau pada bulan Oktober. Galungan Nara Mangsa: Galungan Nara Mangsa jatuh bertepatan dengan tilem sasih Kapitu atau sasih Kesanga. (Bimas Hindu Batam)