Senin, 06 November 2017

Ida Resi dan Umat Hidu Kota Batam mengadakan Tirtha Yatra ke Pulau Bintan

Pada hari Sabtu, 4 Nopember 2017, umat Hindu Kota Batam yang berjumlah sekitar 17 orang mengadakan tirtha yatra (kunjungan ke tempat suci) di 3 (tiga) pura di kawasan Kabupaten Bintan, kepulauan Riau. Rombongan terdiri Ida Resi Bujangga Waisnawa Kamenuh beserta Ida Resi Istri beserta pengiringnya, Penyelenggara Hindu Kementerian Agama Kota Batam, ketua WHDI kepri, WHDI Kota Batam, parisada kepri dan ketua Parisada Kota Batam, Ketua BOP Agung Amertha Bhuana, pemangku dan serathi banten. Eko Prasetyo bertindak sebagai koordinator/ketua rombongan,

Menurut Eko tirtha yatra ini akan mengunjungi 3 (tiga) tempat di Kab. Bintan. Adapun pura pertama yang dituju adalah Pura Girinatha Puncaksari Bintan. Di Pura ini Ida REsi dan romongan mengadakan persembahyangan bersama dilanjutkan dharma thula dan penyerahan dana punia kepada Purwadi selaku penyuluh Agama Hindu Kepri dan pengempon Pura Girinatha Puncak Sari Bintan. Diakhiri dengan sesi foto bersama. 

Setelah rombongan istirahat dan makan siang di restoran vegetarian kawasan Bintan Center, Ida Resi dan rombongan melanjutkan perjalanan ke Pura Dharma Kerthi, Lagoi Bintan yang ditempuh dalam waktu 45 menit. Di Pura ini rombongan melakukan persembahyanagn bersama kemudian dharma thula dan penyerahan dana punia. Terakhir rombongan melakukakn tirta yatra di Pura Brahama Widya Satwika, Kab. Bintan. 

Penyelenggara Hindu mengucakan terima kasih kepada Parisada Kota Tanjung Pinang dan Parisada Kab. Bintan atas sambutan dan fasilitasinya dan juga kepada semua peserta tirtha yatra. Acara ini sangat bagus dan besar sekali manfaatnya karena jika diyakini dan dilaksanakan dengan tulus ikhlas maka akan dapat meningkatkan kesucia, meningkatkan sradha dan bhakti serta kesejahteraan hidup.(ep2017)

Umat Hindu Gelar Upacara Pujawali VIII Pura Agung Amerta Bhuana

Pada hari Jumat, 3 Nopember 2017, jam 19.00 WIB yang bertepatan dengan purnama sasih kelima, Umat Hindu di Kota Batam mengadakan Upacara Pujawali VIII di Pura Agung Amertha Bhuana. Upacara pujawali merupakan bagian dari Dewa Yajna yang berarti memuja kembali keagungan Tuhan pada hari yang sudah ditentukan. Pujawali kali ini tergolong sangat spesial Karena bertepatan dengan bulan purnama. Pujawali adalah hari jadi pura yang diisin dengan aktivitas spiritual berupa upakara keagamaan guna menumbuhkan keimanan umat Hindu di Kota Batam. Upacara pujawali ini dipimpin oleh Ida Resi Bujangga Waisnawa Kamenuh dari Griya Taman Wangi Ning, Prov. Bali.

Adapun tema Pujawali VIII Pura Agung Amerta Bhuana menurut Eko Prasetyo selaku ketua panitia adalah: “Melalui Pujawali VII Pura Agung Amerta Bhuana mari kita tingkatkan kualitas sradha dan bhakti menuju loka samgraha dan kemuliaan hidup”. Tema ini muncul didorong atas pentingnya menumbuhkan sradha (keimanan) umat Hindu di tengah kehiduipan di era globalisasi yang penuh dengan godaan dan tantangan ini. EKo juga menjelaskan bahwa Pujawali ini dari, untuk dan oleh kita. Artinya semua umat harus ikut andil, mempersembahkan bhakti yang tulus kepada Tuhan, niscaya Tuhan juga akan memberikan anugerah-Nya kepada umat-Nya. Pujawali bukan hanya tanggung jawab panitia, pinandita dan serathi banten tetapi juga seluruh umat Hindu di Kota Batam. “Ketika umat mengamalkan ajaran agama Hindu dengan baik maka kemuliaan hidup akan tercapai”, jelas Eko.

Pujawali merupakan salah satu pembumian dan pelestarian ajaran Weda demi tetap tegaknya dharma di muka bumi ini. Upacara ini merupakan implementasi dari satyam (kebenaran), siwam (kesucian) dan sundaram (keindahan) yang pada akhirnya akan menciptakan lokasamgraha (tempat yang damai), dharma sidhiyartha yang berdasarkan Iksa (tujuan), sakti (kemampuan), desa (tempat), kala (waktu) dan tattwa (sastra suci). Pujawali Pura Agung Amertha Bhuana, Kota Batam mengambil tema: “melalui pujawali ini mari kita tingkatkan sradha dan bhakti serta tetap menjaga rasa kebersamaan dan persaudaraan di antara kita.” Tema ini sangat relevan dengan kehidupan kita sekarang ini di mana kita hidup di tengah-tengah masayarakat yang beragam latar belakangnya sehingga sangat penting untuk menjaga rasa kebersamaan dan persaudaraan agar tercipta lokasamgraha atau tempat yang damai.

Ada beberapa rangkaian upacara pujawali. Yang paling umum adalah mecaru dan Purwa daksina. Upakara didahului dengan proses mecaru yang berfungsi menjalin hubungan yang harmonis kepada unsur alam (palemahan). Bhuta kala adalah unsur penyeimbang yang berperan menjaga keseimbangan alam ini yang harus kita hormati malalui prosesi pecaruan. Pujawali berjalan dengan lancer karena kerjasama dari semua pihak. Tujuan dari pelaksanaan upacara yajna adalah lascarya, sidhi karya, dan labda karya yang pada akhirnya akan memberikan damapak bagi umat baik kesucian batin dan kesejahteraan hidup.  

Selanjutnya adalah Upacara Purwa daksina, yaitu berjalan mengelilingi padmasana dengan membawa pratima-pratima searah jarum jam sambal mengulang-ulang nama suci Tuhan. Purwa Daksina merupakan salah satu prosesi pujawali yang mengandung makna bahwa kita harus mengagung-agung nama suci Tuhan, yang kedua adalah bahwa kita sebagai manusia harus ikut memutar roda kehidupan di jalan kebenaran, Jika tidak maka kita akan bisa bertahan hidup, demikian pula jika kita keluar dari jalan dharma maka kita akan mendapatkan hukumanya. Dalam mengarungi kehidupan ini terkadang kita mengalami suka dan duka yang datang silih berganti. Hukum rta ini tidak bisa dihindari oleh manusia. Penderitaan yang muncul akibat kegiatan kerja yang kita lakukan ibarat bisa, atau racun (wisaya) yang keluar dari proses pengadukan lautan kehidupan.   Sebaliknya kebahagiaan yang muncul dari kegiatan kerja kita ibarat tirtha amertha yang memuaskan dahaga kita. JIka salah kita memutar roda kehidupan, maka bukanya madu yang kita dapatkan melainkan racun. Tetapi terkadang walau kita sudah memutar roda kehidupan di jalan kebenaran tetapi kita masih saja mendapatkan racun (wisaya), itu adalah bagian dari hukum rta yaitu, lahir-mati, penyakit, usia tua, dan penderitaan (janma mertyu jara wyadi duhka dosa nudarsanam). Manusia tidak bisa terhindar dari hukum rta, tetapi jika kita di jalan dharma maka penderitaan itu akan tetap kita terima tetapi kita diberikan kekuatan batin untuk menghadapinya. Acara dilajutkan dengan persembahan tari rejang Dewa dan tari sakral oleh Ibu – Ibu dari WHDI kepri dan WHDI Kota Batam, kemudian sembahyang bersama, memohon tirta amerta dan melukat.

Pujawali merupakan salah satu cara untuk tetap menegakkan dharma dan membumikan, melestarikan ajaran Weda. Sebagaimana kita ketahui dalam sastra suci bahwa makhluk hidup berasal dari makanan, makanan berasala dari tumbuhan, tumbuhan berasal dari hujan, hujan berasal dari yajnya, dan yajna sendiri bisa terlaksana karena kegiatan kerja (karma). Maka kegiatan Yajna, bersedekah, tapa brata, dan kegiatan kerja tidak boleh kita tinggalkan karena itu adalah pensuci bagi orang yang memuja Tuhan. Acara Pujawali ditutup setelah pementasan tari sakral topeng sidha karya dan persembahyangan tepat jam 22.00 WIB. Umat sangat antusias mengikuti acara dari awal sampai akhir. Demikian penjelasan Eko Prasetyo selaku penyelenggara Hindu di tempat kerjanya. (eko2017)


Umat Hindu Kota Batam Selenggarakan Melasti di Danau Sei Ladi

Pada hari Rabu, 1 Nopember 2017 lebih kurang 300 umat Hindu di danau Sei Ladi, Sekupang, Kota Batam menyelenggarakan Upacara Melasti sebagai rangkaian Upacara Pujawali Pura Agung Amerta Bhuana Kota Batam. Hadir pada kesempatan itu Eko Prasetyo, S.Ag selaku Penyelenggara Hindu pada Kantor Kementerian  Agama Kota Batam dan ketua lembaga agama keagamaan kepri dan Kota batam. Upacara Melasti kali ini dipimpin langsung oleh Ida Resi Bujangga Waisnawa Kamenuh dari Griya Taman Wangi Ning. Prov. Bali.

Acara dimulai pada pukul 17.00 WIB dan selesai pada pukul 21.00 WIB. Dalam agama Hindu melasti juga disebut dengan Mekiyis. Melasti bertujuan untuk menyucikan sarana dan prasarana upacara yang akan digunakan dalam perayaan pujawali pura Agung Amerta Bhuana. Pujawali adalah hari berdirinya sebuah pura dan merupakan tonggak berdirinya sebuah pura. Melasti juga bertujuan untuk memohon kesucian lahir dan batin serta memohon tirtha amertha yang bermanfaat dalam kehidupan umat Hindu.

Menurut Penyelenggara Hindu bahwa upacara Melasti dijelaskan dalam lontar Sanghyang Aji Swamandala yaitu Anglukataken laraning jagat, paklesa letuhing bhuwana,” yang artinya: Melenyapkan penderitaan masyarakat, melepaskan kepapaan dan kekotoran alam. Lebih lanjut dalam dalam Lontar Sundarigama menambahkan bahwa tujuan Melasti adalah: Amet sarining amerta kamandalu ring telenging sagara, yang artinya: Mengambil sari-sari air kehidupan (Amerta Kamandalu) di tengah-tengah samudera. Sumber lain menyebutkan bahwa tujuan pelaksanaan melasti adalah menyucikan sarana prasarana, pratima dan wastra: Pesucian dewa kalinggania pamratista bethara kabeh yang artinya Mensucikan sthana para dewa. Jadi tujuan Melasti di samping membersihkan sarana dan prasaran upakara, pratima, wastra adalah juga untuk menghilangkan segala kekotoran diri dan alam serta mengambil sari-sari kehidupan di tengah samudera. Samudera adalah lambang lautan kehidupan yang penuh gelombang suka-duka. Dalam gelombang samudera kehidupan itulah, kita mencari sari-sari kehidupan 

Umat begitu antusias mengikuti prosesi Melasti dari awal hingga akhir acara. Dari acara melasti ini diharapkan terjadi perubahan sikap spiritual umat Hindu di Kota Batam pada khususnya. Terjadi peningkatan kualitas spiritual sehingga terjadi perubahan sikap yang pada akhirnya bisa mencapai pencerahan batin. Demikian Penjelasan Penyelenggara Hindu kantor Kementerian Agama Kota Batam. (ep2017)






Umat Hindu Kota Batam Rayakan Hari Raya Galungan

Bertempat di Pura Satya Dharma Muka Kuning, Batamindo, pada hari Rabu Kliwon, Wuku Dungulan, 1 Nopember 2017, umat Hindu Kota Batam mengadakan persembahyangan bersama memuja kebesaran Tuhan di hari raya Galungan. Hari raya ini jatuh setiap 6 (enam) bulan sekali, tepatnya 210 hari. Hadir pada kesempatan itu penyelenggara Hindu pada Kantor Kementerian Agama kota Batam dan Ketua Lembaga agama dan keagamaan Hindu Kota Batam. Upacara keagamaan ini dipimpin oleh Ida Resi Bujangga Waisnawa Kamenuh dari Griya Taman Wangi Ning, Prov. Bali.

Menurut penyelenggara Hindu, pada hari Raya Galungan umat Hindu merayakan kemenangan dharma (kebenaran) melawan adharma (ketidak benaran). Penyelenggara Hindu mengajak Umat Hindu di Kota Batam untuk senantiasa membentengi diri dengan dharma dalam setiap gerak pikiran, perkataan dan perbuatan untuk mewujudkan loka samgraha (tempat yang damai) dan kemuliaan hidup. Kemenangan di sini bukan kemenangan dalam artian fisik dan menggunakan senjata, tetapi sejauh mana kita mengalahkan musuh dalam diri kita yang dalam agama Hindu di sebut Sad Ripu (enam musuh) yaitu: kama (nafsu yang berlebihan), loba (serakah), krodha (kemarahan), moha (kebingungan), mada (mabuk), dan matsarya (iri hati). Keenam musuh ini akan menghambat kemajuan spiritual kita dan pada akhirnya berpengaruh kepada kepribadian kita dan kita tidak bisa diterima dalam pergaulan di masyarakat. Untuk merayakan kemenangan kita dalam mengalahkan enam musuh ini maka Umat Hindu merayakan Hari raya Galungan.

Pada kesempatan itu ida Resi Bujangga Waisnawa juga berkesempatan memberikan pencerahan kepada umat Hindu yang hadir. Beliau mengajak umat Hindu untuk memohon anugerah dan amertha kepada Tuhan. Tanpa anugerah dari Tuhan maka kita tidak akan bisa menjalani hidup ini dengan baik. Umat Hindu harus tetap berpegang teguh pada kebenaran dan ajaran Kitab Suci Weda.


Terakhir Putu Suardika selaku Ketua Unit Kerohanian Hindu Batamindo juga menambahkan bahwa dalam kitab Sundarigama disebutkan bahwa umat Hindu wajib merayakan hari raya Galungan setiap 6 (enam) bulan sekali atau tepatnya 210 hari sekali. Galungan hendaknya dirayakan pagi hari atau sebelum jam 12 siang. Tetapi karena banyak umat Hindu di Kota Batam yang bekerja di perusahaan-perusahaan dan instansi lainnya maka pengurus pura menggelar perayaan Galungan pada malam harinya dengan tempat yang berbeda yaitu di Pura Agung Amertha Bhuana, Kota Batam. 

Kamis, 26 Oktober 2017

BNN Kota Batam Gelar Sosialisasi Bahaya Penyalahgunaan Narkoba

Batam (Bimas Hindu)-Bertempat di Aula Pasraman Jnana Sila Bhakti, pada hari Minggu 22 Oktober 2017, Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Batam bekerjasama dengan Bimas Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Batam dan Pasraman Jnana Sila Bhakti menggelar Sosialisasi Bahaya Penyalahgunaan Narkoba. Pada kesempatan itu Eko Prasetyo selaku penanggung jawab kegiatan mengatakan bahwa penyuluhan ini merupakan bagian dari program kerja Penyelenggara Bimas Hindu Kantor kementerian Agama Kota Batam yang disinergikan dengan program penyuluhan dari BNN Kota Batam. Eko berharap peserta yang berjumlah sekitar 105 siswa pasraman untuk serius mengikuti kegiatan ini dari awal sampai akhir. Mengingat pelajar adalah masa depan bangsa. Jika generasi mudanya berkualitas maka bangsa Indonesia akan maju.

Selanjutntya, I Made Kasa Astawa, ST selaku ketua Pasraman Jnana Sila Bhakti mengucapkan terima kasih kepada BNN Kota Batam yang telah bersedian memberikan penyuluhan untuk Siswa Pasraman. Made berharap program ini berkesinambungan dari tahun ke tahun. Pada kesempatan

Ucok dari BNN juga berkesempatan memberikan kata sambutannya. Dalam sambutannya beliau menegaskan bahya peredaran gelap narkoba menjadi permasalahan besar. Posisi Indonesia yang strategis dengan jumlah penduduk yang besar menyebabkan Indonesia menjadi “market” yang sangat baik di Asia. Untuk itu BNN telah bekerja keras dengan bekerjasama dengan pihak terkait untuk melakukan pencegahan dan lain sebagainya.

Wayan Catra Yasa selaku Ketua Paruman Walaka menjelaskan bahwa kewajiban Brahmacari adalah menuntut ilmu jangan sampai dirusak dengan narkoba. Dalam menuntut ilmu sangat dibutuhan bhakti dan konsentrasi untuk mencapai cita – cita untuk bekal di masa Grhasta asrama.

Darmarita selaku narasumber dasri BNN Kota Batam menjelaskan apa itu narkoba dan bahanya kepada kesehatan jika dikonsumsi. Zat atau Obat yang berasal dari tanaman atau bukan tanaman baik sintetis maupun semi sintetis yang dapat menyebabkan penurunan atau perubahan kesadaran, hilangnya rasa, mengurangi/menghilangkan rasa nyeri dan dapat menimbulkan ketergantungan. Mengubah struktur dan cara kerja otak pada sistem saraf pusat sehingga mengganggu daya pikir, daya ingat, konsentrasi, persepsi, perasaaan dan perilaku.

Darmarita juga menjelaskan beberapa hal terkait bahaya narkoba kepada para siswa dan juga guru di pasraman. Menurut Darmarita narkoba adalah kejahatan lintas Negara, kejahatan yang terorganisir, dan kejahatan yang serius. Narkoba menimbulkan kerugian yang sangat besar dari segi kesehatan, sosial ekonomi, keamanan, dan hilangnya generasi bangsa (lost generation) di masa depan. Daya rusak narkoba terhadap suatu bangsa bisa lebih besar dari bahaya korupsi dan terorisme. Narkoba merupakan mesin perusak yang diarahkan untuk menyerang generasi muda Indonesia yang pada akhirnya menjadi mesin pembunuh massal, pembunuh daya intelektual, daya saing, dan kekuatan sebuah bangsa. Sesuai data yang dimilikki oleh BNN pengguna narkoba paling banyak adalah karyawan/artis karena factor ketersediaan dana, selebihnya pelajar dan pengangguran.

Lebih lanjut Darmarita menjelaskan pandangan ajaran Agama Hindu perihal narkoba. Dalam pandangan Hindu penggunaan narkoba dapat dimasukkan sebagai bagian dari Sad Ripu yaitu Enam musuh dalam diri, dimana meliputi Kama (hawa napsu), Lobha (tidak pernah puas dengan apa yang ada), Krodha (marah), Mada (mabuk), Moha (kebingungan) dan Matsarya (iri/dengki). Orang yang telah menkonsumsi narkoba bahkan yang sudah ketagihan telah dikuasai oleh Sad Ripu. Kitab Veda mengajarkan agar manusia selalui memerangi keenam musuh ini.  Veda mengajarkan agar umat Hindu menghindarkan diri dari 5 M, yaitu: Madat (narkoba), Mabuk (minuman keras), Main (judi), Malin (mencuri), Madon (berzina). Jika kita dapat menghindarkan diri dari kelima hal tersebut di atas niscaya kita akan menemukan kedamaian, kesehatan dan kebahagiaan. Bagi generasi muda Hindu, cara terbaik untuk terhindar dari jeratan narkoba adalah meningkatkan sraddha bhakti (Iman dan Taqwa) dan pandai memilih teman dalam bergaul sehari-hari.


Terakhir narasumber menjelaskan pencegahan peredaran narkoba dengan pendekatan kasih sayang dan kepedulian di keluarga. Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang merupakan wadah utama dalam proses sosialisasi anak menuju kepribadian yang dewasa. Keluarga adalah benteng utama yang dapat mencegah anak-anak dari penyalahgunaan narkoba. Pencegahan penyalahgunaan narkoba sudah seharusnya dimulai dalam keluarga. Keluarga yang sejahtera dengan penuh kasih sayang sebetulnya sudah melaksanakan pencegahan. Anak-anak yang tumbuh dengan kasih sayang dan rasa aman, adanya kesempatan untuk menyatakan perasaan dan mengeluarkan pendapat, dan dididik untuk mengambil keputusan yang bijaksana akan terhindar dari penyalahgunaan narkoba. (eko2017)

Senin, 23 Oktober 2017

Bimas Hindu Gelar Kegiatan Penyusunan Alokasi Anggaran 2018

Jakarta-Bertempat di Swiss-Belhotel Jakarta pada tanggal 23 sampai dengan 25 Oktober 2017, Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI mengadakan kegiatan Penyusunan Alokasi Anggaran Tahun 2018. Dari Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau hadir Pembimas Hindu beserta operator RKA-K/L, dan dari Kantor Kementerian Agama hadir Penyelenggara Hindu dan operator RKA-K/L. Acara dibuka secara resmi oleh Ni Wayan Pujiastuti selaku Kabag Perencanaan pada Ditjen Bimas Hindu. Dalam sambutannya Ni Wayan mengajak seluruh Satker untuk kembali mencermati usulan anggaran 2018 yang dibuat, mengingat realisasi anggaran Bimas Hindu pada tahun 2017 belum maksimal sehingga kita harus berhati-hati dalam menyusun anggaran. Ketepatan data, data pendukung, terutama pada akun belanja pegawai, data guru, dosen dan jumlah ASN di seluruh Indonesia. Ni Wayan juga menegaskan bahwa fokus pembangunan pemerintahan saat ini memang diutamakan pada pembangunan infrastruktur, sehingga kita harus melakukan efesiensi dalam penyusunan anggaran dan lain sebagainya.

Dalam kesempatan itu Pak Heru dari Ditjen Pembangunan Manusia dan Kebudayaan menyampaikan paparan tentang siklus APBN 2018. Dalam paparan Heru menegaskan bahwa anggaran tahun 2018 yang kita susun sebelum menjadi DIPA induk dan DIPA Petikan akan ditelaah oleh Biro Perencanaan Kementerian Agama, Bappenas dan Kementerian keuangan dan juga akan direviuw oleh APIP (Asosiasiasi Pengawasan Internal Pemerintah) dalam hal ini Inspektorat jenderal Kementerian Agama RI. Untuk itu kita harus melakukan efesiensi belanja modal, barang dan pegawai dan juga cermat dalam melakukan penganggaran. Harus ada ketepatan jumlah guru, jumlah pegawai dan data dukung pada program yang kita laksanakan di tahun 2018. Harus ada singkronisasi anggaran antara pusat dan daerah, jangan sampai double anggaran. Unit Eselon I juga harus melakukan penyempurnaan Juklak Juknis karena setiap saat peraturan bisa saja berubah seiring perubahan. Di Bimas Hindu sudah ada aplikasi KRISNA yang merupakan analisa data dan informasi kinerja. Hal ini dalam rangka sejauh mana kinerja dilaksanakan oleh Bimas Hindu selaras dengan Nawa Citta dan janji Preseden Republik Indonesia.

Heru juga menginformasikan bahwa ada sekitar 6800 Satker dari seluruh Kementerian dan Lembaga. Di Kementerian Agama ada 6000 Satker dan di Bimas Hindu sendiri ada 188 Satker. Untuk itu pada penganggaran 2018 Bimas Hindu wajib membuat RKBMN jika ada pengadaan sarana prasana dan juga gedung, mengingat pengadaan gedung sangat dibatasi pada tahun 2018 nanti. Perjalanan Dinas juga akan menjadi fokus efesiensi pada tahun 2018 nanti. Untuk itu Heru menghimbau agar penggaran Perjalanan Dinas harus tepat dan cermat disesuaikan dengan kebutuhan. Besarnya belanja Perjalanan dinas harus disesuaikan dengan adanya agenda Bimas Hindu, agenda daerah, dan agenda pembinaan. Misalnya di Bimas Islam ada MTQ, di Bimas Kristen ada Pesparawi, di Bimas Hindu sendiri ada Utsawa Dharma Gita. Tentuanya even nasional ini akan menyita biaya perjalanan dinas yang besar. Di samping itu Bimas Hindu harus memberikan factor kondisi geografis umat di daerah, apalagi di daerah Kepulauan dan transmigrasi di mana Pembimas Hindu tidak bisa menjangkau wilayah itu dengan kendaraan operasional melainkan harus naik kapal laut dan juga pesawat misalnya. Alasan – alasan logis ini harus kita sertakan sehingga mendapat persetujuan dari Kementerian Keuangan, Biro Perencanaan, APIP dan lainnya. Pemerintah penurut Heru juga akan tetap memberikan gaji 13 dan gaji 14 kepada ASN di Kementerian dan Lembaga.

Bimas Hindu dalam penganggaran bantuan harus disesuaikan dengan tugas pokok dan fungsinya. Misalnya ada bencana alam maka Bimas Hindu hanya boleh membantu bantuan rehab pura yang rusak. Untuk bantuan sosial kepada korban sudah menjadi tugas Kementerian Sosial. Ini jangan dilanggar, tegas Heru mengakhiri paparannya.

Ni Wayan Puji Astuti juga menambahkan bahwa kesalahan data jumlah guru dan pegawai akan berpengaruh pada kesalahan penghitungan belanja pegawai. Maka di akhir tahun akan mempengaruhi realisasi Bimas Hindu. Ini harus mendapat perhatian kita bersama. Kendala lain yang dihadapi oleh KPA dan PPK di Pusat dan di daerah dalam merealiasikan anggaran adalah berubahnya peratuan sewaktu  waktu yang mebuat kita berhati – hati dalam merealisasikan anggaran. Ni Wayan juga menghimbau agar revisi POK dai masing-masing Satker Bimas Hindu harus tetap dilaporkan ke Kanwil Ditjen Perbendaharaan di tingkat provinsi masing –masing untuk menghindari kesalahan data di akhir tahun. Jika kita tidak melaporkan pada Kanwil DJPB maka biasanya BPK selaku auditor tidak akan memberikan opini hasil audit di Bimas Hindu, sehingga akan mempengaruhi opini.

Satker tetap berkomitmen bahwa Tunjangan Fungsional Guru Non PNS (TFP) akan tetap dianggarkan, hal ini untuk meningkatkan motivasi guru non PNS dalam meningkatkan kualitas SDM generasi muda Hindu teruatama anak sekolah. Bimas Hindu juga akan memperjuangkan pemebrian Insentif guru non PNS yang besarannya tentunya akan lebih besar dari TFG. Maka dari itu Ni Wayan mengajak Pembimas Hindu seluruh Indonesia untuk tetap menganggarkan TFG pada Pagu anggaran 2018 yang disusun. Ni Wayan Puji menegaskan bahwa di tahun 2018 biaya konsumsi rapat sedikit demi sedikit akan dihapuskan. Di Kementerian Keuangan RI sudah menerapkan hal ini, di mana pegawai tidak mendapat konsumsi karena dianggap mereka sudah mendapat uang makan yang dianggarkan di DIPA. Pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan RI juga berencana menaikka uangan makan bagi para ASN, tetapi tidak ada kenaikan gaji. Puji mengajaka agar semua Satker mengoptimalkan pemanfaatan aplikas SMART dalam melaporkan laporan kinerja di di bidang realisasi anggaran. Terakhir Ni Wayan menagatakan bahwa Bimas Hindu Pusat juga harus terus menyempurnakan Juklak dan juknis untuk dapat dipedomani oleh seluruh Satker baik di Pusat maupun di daerah. Bimas Hindu juga akan menyemprunkan juklak dan juknis Pembinaan Keluarga Sukhinah.


Pada hari kedua, Selasa, 24 Oktober 2017 dilanjutkan dengan penyusunan PAGU 2018 yang diselingi dengan konsultasi permasalahan anggaran baik tahun 2017 maupun tahun 2018. Kegiatan akan ditutup pada hari Rabu, 25 Oktober 2018. Kegiatan ini sangat penting dan bermanfaat sekali mengingat ketepatan data dan singkronisasi anggaran bisa dilakukan dengan duduk bersama dalam sebuah forum seperti ini. (eko2017).

Senin, 16 Oktober 2017

Penyelenggara Hindu Sambut Pemuda dari Pontianak dan Hadiri Dialog Pemuda Lintas Agama di Pemko Batam


Pada Hari Jumat, 13 Oktober 2017, Penyenggara Hindu Kantor kementerian Agama Kota Batam menghadiri Deklarasi Pemuda Kota Pontianak, Prov. Kalimantan Barat di Pulau Penyengat, Kota Tanjung Pinang. Kemudian pada hari Sabtu 14 Oktober 2017, Penyelenggara Hindu juga menghasdiri dialog pemuda lintas agama di Lantai IV Pemko Batam. Dasri Pasraman Jnana Sila Bhakti hadir sebanyak 50 (lima puluh) siswa dari tingkat SMP dan SMA/SMK.

Rombongan Kirab Pemuda dari Pontianak tiba di Bandara Hang Nadim jam 10.30 WIB. Rombongan disambut oleh Kepala Kan Kemenag Kota Batam dan Kabid Bidang Pemuda Dinas Kepemudaan dan Olah Raga Kota Batam. Rombongan melakukan Deklarasi Pemuda Lintas Agama di Pulau Penyengat, Kota Tanjung Pinang, Prov. Kepulauan Riau. Rombongan melakukan doa bersama dan membaca kitab suci sesuai dengan agama masing – masing agama.

Tujuan Pembangunan Nasional Indonesia adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Tugas ini menjadi tanggung jawab kita bersama. Pembinaan keimanan dan ketawaan generasi muda dewasa ini sangat diperlukan untuk membentuk karakter generasi muda Hindu yang beriman dan bertaqwa.

Seiring kemajuan IPTEK dan pengaruh budaya barat, minat generasi muda dalam hal membaca kitab suci turun. Hal ini ditandai dengan banyaknya indikator mulai dari banyaknya tingkat kenakalan remaja, pergaulan bebas dan bahkan penyalah gunaan narkoba.

Jika generasi muda mau dan gemar membaca kitab suci masing – masing agama maka diharapkan bisa membentuk karekter generasi muda bangsa untuk takut berbuat dosa dan selalu menjalankan perintah-Nya dan manjauhi segala larangannya. Maka kementerian Pemuda dan Olah Raga RI mengambil sebuah inovasi besar dengan melakukan Sosialisasi gerakan Pemuda gemar membaca Kitab suci. Dan pada tanggal 13 Oktober 2017 dilaksanakan di Pulau Penyengat, Kota Tanjung Pinang, Prov. Kepualuan Riau.


Maksud dari Kegiatan ini adalah untuk menanamkan kecintaan pemuda agama gemar membaca kitab suci. Tujuannya agar pemuda memilikki iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa sesuai dengan agama dan kepercayaanya.

Ruang lingkup dari kegiatan Deklarasi Pemuda di Pulau Penyengat, Kota Tanjung Pinang Tahun 2017 adalah penyambutan Pemuda Pontianak di Kalimantan Barat, deklarasi Pemuda gemar Membaca Kitab Suci di Pulau Penyengat, Kota Tanjung Pinang, dan doa Bersama masing – masing agama dilanjutkan pembinaan mental oleh rohaniawan masing – masing agama.

Pemuda adalah tulang punggung bangsa. Pemuda juga merupakan penerus perjuangan bangsa. Jika iman pemuda tidak dibina maka besar kemungkinan pemuda akan jatuh dalam perbuatan yang tidak benar. Untuk itu sosialasi Gemar membaca kitab suci sangat sesuai di era globalisasi seperti ini.

Kegiatan sangat positif, harus berkesinambungan dan harus ada tindak lanjutnya. Waktu pelaksanaan juga harus diperpanjang agar peserta merasakan dampaknya. Harus ada koordinasi yang lebih baik lagi dengan Kemenpora RI di bidang pembinaan generasi muda.






Jumat, 13 Oktober 2017

Pujawali Pura Satya Dharma, Muka Kuning Batamindo

Batam-Pada hari sabtu, 7 Oktober 2017, bertempat di Pura Satya Dharma Kawasan Industri Batamindo, Mukakuning, Kota Batam, umat Hindu melaksanakan  upacara  keagamaan yaitu Piodalan/Pujawali yang bertepatan dengan rainan Tumpek Uduh. Pujawali/Piodalan adalah memperingati hari berdirinya sebuah pura sebagai rumah ibadah Agama Hindu dan juga merupakan sebuah pemujaan sebagai perwujudan bhakti kepada leluhur dan Hyang Widhi dalam berbagai manifestasi-Nya (Dewa Yadnya). Hadir pada kesempatan itu Penyelenggara Hindu Kementerian Agama Kota Batam, Pengurus Parisada Hindu Prov. Kep. Riau, Ketua Paruman Walaka Parisada Prov. Kep. Riau, Pengurus Parisada Hindu Kota Batam, Pengurus WHDI Prov. Kep. Riau, DPP Peradah Prov. Kepulauan Riau, Pengurus BPH Kep. Riau, Pengurus BOP Agung Amerta Bhuana, WHDI Kota Batam, Ketua Pasraman Jnana Sila Bhakti, Ketua Unit Kerohanian Hindu Batamindo (UKHB), serathi Banten dan Ketua Banjara se-Kota Batam.

Acara ini bertujuan untuk mengucapkan wujud terima kasih atas segala anugerah Hyang Widhi dan memohon kasih-Nya agar perlindungan dan keselamatan selalu menyertai kita. Acara dimulai dengan mecaru dilanjutkan dengan purwa daksina, mekalyas, gelar sanga dan tarian rejang dewa oleh ibu-ibu WHDI Kota Batam, kemudian persembahyangan bersama yang dipimpin oleh pinandita/pemangku.

Pada sambutannya, Putu Suardika sebagai Ketua UKHB mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang terlibat dalam upacara ini, sehingga upacara dapat terlaksana dengan baik dan dapat berjalan dengan lancar, meskipun hujan yang melanda kota Batam, tetapi hal tersebut tidak menjadi sebuah halangan untuk melakukan kewajiban sebagai umat Hindu. Putu Suardika juga menejlaskan makna Tumpek Wariga.

Selanjutnya, Katmiartik Selaku penyuluh Agama Hindu Kota batam, mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan dharma wacana/Siraman rohani dihadapan umat Hindu Kota Batam, pada awalnya katmiartik menjelaskan mengenai istilah Panca Sradha.

Panca Sradha artinya Lima Keyakinan Umat Hindu yang terdiri dari Percaya  adanya Brahman: Widhi Tatwa, Percaya  adanya Atman atau Atma Tatwa, Percaya adanya Karmaphala atau hukum sebab akibat, Percaya adanya Punarbhawa atau Samsara yaitu keyakinan pada kelahiran kembali, dan Percaya adanya Moksa artinya keyakinan bersatunya  Atman dengan Brahman. Itulah lima Dasar keyakinan Umat Hindu.

Sraddhaya Satyam Apnoti  sradham Satye Prajapatih

Artinya: Dengan sradha orang akan mencapai Tuhan, beliau menetapkan, dengan sradha menuju Satya. (Yajur Veda XIX .30)

Dalam Bhagavad Gita sendiri banyak  di sebutkan   mengenai keyakinan terhadap Tuhan Namun apakah benar Hindu itu hanya sebuah keyakinan semata?.

Di lihat dari nama asli Agama Hindu, yaitu Sanathana Dharma, kita mendapat sebuah istilah yaitu Dharma yang berarti  kebenaran. Dharma artinya kebenaran. 1 + 1 = 2 . Percaya tidak percaya , yakin tidak yakin , ragu tidak ragu , 1 tambah 1  tetap sama dengan 2. Jadi yang namanya kebenaran jika tidak di percayai, tidak di yakini, di ragukan atau  dipertanyakan ia tetaplah Kebenaran yang tidak bisa diganggu gugat.

Veda menyebut ajarannya dengan Sanatana Dharma atau Kebenaran abadi. Apakah memang benar ajaran Veda merupakan kebenaran?

Kita mengenal  salah satu ajaran kita yaitu Tri Kerangka Dasar Agama Hindu  yaitu Tatwa  atau filsafat, Susila yaitu Etika,  dan Upakara yaitu upacara keagamaan

Filsafat berasal dari bahasa Yunani yaitu  Philo dan Sophia. Philo artinya Cinta  dan Shopia artinya Kebijaksanaan. Filsafat artinya Cinta Kebijaksanaan. Seorang yang bijaksana akan berpikir sampai ke akar-akarnya, jika seorang berkata fitnah pada orang bijaksana, orang bijaksana tersebut tidak akan percaya  langsung melainkan akan mencari Kebenaran. Jadi jelas agama Hindu  mengajarkan kita untuk mencari kebenaran sampai keakar–akarnya.

Agama Hindu mengajarkan  kita untuk mencari kebenaran, berikut adalah ajaran- ajaran untuk mencari kebenaran dalam agama Hindu di luar keyakinan  semata yang pertama adalah Saksi (ada saksi yang melihat), bukti (dan atau tidak bukti kejadian), Likita (tertulis atau tidak). Yang kedua adalah Sastratah (mempertimbangkan berdasarkan sumber tertulis/sastra), Gurutah (mempertimbangkan menurut ajaran Guru), Swatah (mempertimbangkan  pengalaman sendiri). Yang ketiga adalah Agama (mempertimbangkan menurut ajaran Agama), Anumana (mempertimbangkan menurut pikiran sehat), Pratyaksa  (mempertimbangkan  apa yang di lihat secara langsung). Yang Keempat adalah Wartamana  (mempertimbangkan sesuai pengalaman dahulu), Atita (mempetimbangkan  keadaan sekarang), Nagata (Mempertimbangkan keadaan yang akan datang). Yang Kelima adalah Rasa (mempertimbangkan Perasaan), Utsaha  (mempetimbangkan atas perilakunya), Lokika (mempertimbangkan dengan pikiran logis). Yang keenam adalah Sabda (mempertimbangkan dengan memberi saran), bayu  (mempertimbangkan dengan keyakinan yang kuat), Idep (mempertimbangkan dengan Pikiran sehat). Begitulah  Rsi Narada saat mengajarkan Bhagavata Purana atau Srimad Bhagavatam pada Rsi Vyasa.

Terakhir Katmiartik juga menegaskan bahwa  Hindu mengajarkan kita  untuk mencari kebenaran itulah inti ajaran dasar agama yaitu Tattwa dan berbanggalah kita menjadi Hindu. (Naskah:Komang Sumi, Foto: Putu Suardika).


Rabu, 11 Oktober 2017

Pembinaan Mental ASN Oleh Menteri Agama RI dan Silaturahmi Tokoh Ormas Keagamaan

Bertempat di Wisma Kementerian Agama, Batam Center pada hari Jumat, 6 Oktober 2017, Menteri Agama RI memberikan pembinaan mental bagi ASN di lingkungan kementerian Agama Prov. kepulauan Riau dan Silaturahmi dengan Tokoh umat, Ketua Ormas se-Kep. Riau. Hadir pada kesempatan itu Pemibimas Hindu Kanwil kemenag Kep. Riau, Penyelenggara Hindu Kota Batam, Ketua Parisada Prov. Kepulauan Riau.

Dalam pembinaannya Menteri Agama mengajak ASN di Kementerian Agama untuk tulus dalam bekerja dengan selalu berpedoman pada 5 (lima) budaya Kerja Kementerian Agama yaitu Integritasm, profesionalitas, inovasi, tanggung jawab dan keteladanan.

ASN harus menjadi pelayan yang baik. Tingkatkan budaya melayani, jangan minta untuk dilayani. Jangan tergoda menerima suap karena akan menghancurkan masa depan kita. Menteri Agama juga mengajak para ASN untuk meningkatkan kualitas diri untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

Kepada para tokoh umat dan pimpinan ormas se-Kepulauan Riau, Menteri Agama mengajak semua Agama untuk memelihara tradisi baik berupa kerukunan dan persatuan oleh para pendahulu bangsa. Smeua agama pasii meletakkan dasar - dasar kehidupan yang baik. Tokoh umat harus mencegah konflik bukannya memicu konflik. kerukunan adalah modal berharga untuk membangun sebauh bangsa. (eko2017)

Doa bersama untuk kedamaian dan keselamatan saudara - saudara kita di Karangasem Bali. Semoga Tuhan melindungi kita semua.


Doa bersama untuk kedamaian dan keselamatan saudara - saudara kita di Karangasem Bali. Semoga Tuhan melindungi kita semua pada hari Minggu 24 September 2017 oleh Umat Hindu di Kota Batam.


Penyelenggara Hindu Menyambut Rombongan Sekolah dasar Charitas Kota Batam

Batam-Pada hari Kamis, 5 Oktober 2017, bertempat di Pura Agung Amerta Bhuna Kota Batam, Penyelenggara Hindu, Dewan Guru Pasraman Jnana Sila Bhakti dan BOP Agung Amerta Bhuana menyambut rombongan yang berjumlah sekitar 50 peserta dari kelas IV SD Charitas. 

Peserta berbaris rapi dan melepas sepatu saat masuk ke area Pura. Kemudian Eko Prasetyo selaku Penyelenggara Hindu Kantor kementerian Agama Kota Batam memberikan penjelassan tentang fungsi pura dan sejarah pura Agung Amerta Bhuana dan diakhiri dengan sesi tanya jawab.

Acara diakhiri dengan penyerahan cindera mata oleh SD Charitas kepada Pasraman Jnana Sila Bhakti dan diakhiri dengan sesi foto bersama.

Dewan Guru SD Charitas dan peserta sangat senang. Mereka berharap acara serupa akan terus dilaksana setiap tahunnya untuk memupuk jiwa persatuan bagi para siswa. (eko2017)

Ka-Kanwil kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau Melantik Pejabat Administrator Dan Pengawas Dilingkungan Kanwil Kemenag Prov Kepulauan Riau pada Tanggal 3 Oktober 2017 Di Aula Kanwil Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Riau

Tanjungpinang-Bertempat di aula Kanwil kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau, Selasa, 3 Oktober 2017, Ka-Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepuaan Riau melantik pejabat administrator dan pengawas di ilngkungan kanwil Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau. Hadir pada kesempatan itu Seluruh pejbat eselon III dan IV di lingkungan Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau.

Maksud dari Kegiatan Acara Pelantikan Pejabat Administrator Dan Pengawas Dilingkungan Kanwil Kemenag Prov Kepulauan Riau ini adalah untuk mengangkat pejabat administrator yang baru dalam hal ini Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Batam guna mengisi kekosongan yang ada. Dengan dilaksnakannya pelantikan ini maka seorang pejabat dianggap sah untuk memimpin sebuah institusi. Kegiatan juga bertujuan untuk menanamkan nilai – nilai 5 (lima) budaya kerja Kementerian Agama, membentuk karakter ASN yang bersih dan melayani, inovatif, mewujudkan Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) di lingkungan Kementerian Agama se- Kepulauan Riau dan mewujudkan revolusi mental ASN.

Acara diawali dengan Pembukaan dan pembacaaan SK Mutasi dan Promosi pejabat administrator dan pengawas di lingkungan Kanwil kementeiran Agama Prov. Kepulauan Riau.

Kemudia dilanjutkan dengan Pengambilan sumpah jabatan pejabat administrator dan pengawas oleh Ka-Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau yaitu Jarin seagai Pengawas di Kan Kemenag Kab. Lingga, M. Syafii sebagai sebagai Kabid Pakis di Kanwil Kemenag Kep. Riau, Drs. H. Lukman sebagai Ka-Kan Kemenag Kab. Karimun, Drs. H. Aprizal sebagai Kabid Bimas Islam, Drs. H. Herman Zarudin sebagai Ka-Kan Kemenag Kota Tanjung Pinang, H. M Nasir S.Ag, MH sebagai Ka-Kan Kemenag Kab. Bintan, H. Erizal sebagai Ka-Kan Kemenag Kota Batam.

Diakhiri dengan Pembinaan mental oleh Ka-Kanwil Kementerian Agama Prov. Kep. Riau. Beberapa poin penting dari pembinaan pegawai tersebut adalah bahwa mutasi dan promosi jabatan adalah hal yang biasa dan ilmiah dalam dunia birokrasi. Mutasi jabatan bertujuan untuk menghindari kejenuhan saat bekerja. Jabatan adalah sebuah amanah untuk dijalankan. Jadi kita harus turun ke masyarakat dan merangkum semua elemen masyarakat. Jalankan kewajiban untuk mendapatkan hak sebagai seorang ASN. Laksanakan 5 nilai budaya kerja. Utamakan solusi kebersamaan jika ditemui masalah. Selesaikan dalam sebuah tim kerja.

Menurut Haji Marwin Jamal mutasi dan promosi jabatan adalah hal yang biasa dan ilmiah dalam dunia birokrasi. Mutasi jabatan bertujuan untuk menghindari kejenuhan saat bekerja. Jabatan adalah sebuah amanah untuk dijalankan. Jadi kita harus turun ke masyarakat dan merangkum semua elemen masyarakat. Jalankan kewajiban untuk mendapatkan hak sebagai seorang ASN. Laksanakan 5 nilai budaya kerja Kementerian Agama yaitu integritas, profesionalitas, tanggung jawab dan keteldanan. Kita harus mengutamakan solusi kebersamaan jika ditemui masalah. Selesaikan dalam sebuah tim kerja.

Untuk mewujudkan sistem pemerintahan, birokrasi yang bersih dan melayani maka perlu ada keteladanan pimpinan yang menjadi panutan dari satuan kerja yang dipimpin. Jabatan adalah sebuah amanah yang yang harus dijalankan bukan untuk disalahgunakan. Menjadi pemimpin di masa sekarang ini tidaklah mudah. Di samping menguasai pengetahuan IPTEK, dan seni memimpin juga harus terjun ke masyarakat, melihat secara langsung perkembangan dinamika masyarakat. Terlebih ASN di lingkungan Kementerian Agama mempunyai kewajiban melakukan pembangunan di bidang moral dan akhlak masyarakat.

Mutasi dan promosi sebenarnya adalah hal yang biasa dan ilmiah dalam dunia birokrasi jika tidak ada benturan kepentingan dan lain sebagainya. Tujuan dari mutasi  dan promosi jabatan adalah untuk meningkatkan semangat kerja ASN, menghilangkan kejenuhan dan memberi kesempatan bagi ASN yang lain untuk berkompetisi secara sehat. (eko2017)


Umat Hindu Batamindo gelar Upacara Ngeruak Bhuwana

Pada hari Sabtu 26 Nopember 2016 bertempat di Pura Satya Dharma, Muka Kuning, Kawasan industri Batamindo umat Hindu menggelar persembahyangan dalam rangka Upacara Ngeruak pembangunan pelinggih anglurah Pura satya Dharma. Hadir pada kesempatan itu Ketua Paruman Walaka Parisada Prov. Kepulauan Riau, Drs. I Wayan Catra Yasa, MM, Pengurus Parisada Prov. Kepulauan Riau, Pengurus WHDI Prov. Kepulauan Riau, Penyelenggara Bimas Hindu kantor Kementerian Agama Kota BatamIr. Ketua Parisada Kota Batam I Dewa Made Yudha Dewa, Ketua WHDI Kota Batam, Anak Agung Ketut Adi, S.Sn, Ketua Unit Kerohanian Hindu Batam Indo (UKHB) Ir. I Putu Suardika, ketua lembaga dan seluruh ketua Banjar se-kota Batam.

Dalam sambutannya Putu Suardika selaku ketua UKHB dan penanggung jawab acara menyatakan bahwa umat Hindu pada hari ini adalah umat yang terpilih karena berkesempatan hadir pada persembahyangan ngeruak pelinggih angluirah.

Putu Suardika juga menyatakan bahwa sudah saatnya umat Hindu di kawasan industri Batam Indo memilikki tempat suci yang berkualitas, sehingga tidak perlu ijin keluar kerja jika harus beribadah. Untuk itu perlu dibangun pelinggih anglurah untuk melengkapi media pemujaan umat Hindu di Pura Satya Dharma. Pembangunan penunggu karang atau anglurah ini juga akan menambah aura dan energi positif pura sehingga umat dapat merasakan dampaknya secara langsung sehingga pada akhirnya umat manjadi rajin ke pura serta meningkat sradha dan bhaktinya. Upacara Pangruwak atau Ngeruwak Bhuwana adalah upacara yang dilaksanakan sebelum membangun rumah baru maupun membuat bangunan suci sebagai permohonan kehadapan para bhuta kala agar mereka tidak mengganggu. Upacara ini dipimpin langsung oleh jro Mangku Putu Satriayasa dan jro Mangku Agung Arief Suryanatha. Setelah rangkaian acara ngeruak dilanjutkan dengan mengukur lokasi bangunan tersebut dengan ketentuan Asta Kosala, Asta Dewa, Asta Bhumi, Asta Patali, sesuai dengan kegunaannya. Setelah itu barulah dilanjutkan dengan persembahyangan oleh Umat Hindu yang  merupakan pengempon/penyungsung Pura Satya Dharma. 

Wayan Catra Yasa dalam kesempatan itu menyampaikan sejarah berdirinya Pura Satya Dharma. Pura Satya Dharma terletak di dalam kawasan industri Batamindo Mukakuning Batam, tepatnya di Dormitori Blok E no 5. Dimana tujuan pendirian pura ini adalah untuk memfasilitasi karyawan yang beragama Hindu yang bekerja di kawasan Batamindo shg mereka memiliki tempat untuk melaksanakan ibadah. Pura ini berdiri pada suatu areal berukuran 100 m2. Pura ini selesai dibangun dan diplaspas pada tanggal 16 Juni 1994. Biayanya relokasi pura sepenuhnya ditanggung oleh Management Batamindo. Namun pengerjaannya dilakukan oleh umat Hindu yang bekerja di kawasan Industri Batamindo Mukakuning.


Wayan juga menyampaikan bahwa Umat Hindu harus bangga mempunyai tradiri luhur yang diwariskan oleh pendahulu kita. Kita haru memberikan pemahaman yang benar kepada anak dan cucu kita agar memahami apa itu arti ngeruak dan makna filosofis ngeruak. Ada nilai- nilai pendidikan budi pakerti yang sangat besar di dalamnya. Di mana anak-anak diajak untuk selalu menjaga sopan santun. Ketika kita masuk atau menempati daerah yang baru maka kita harus minta ijin dahulu. Ngeruak adalah salah satu upacara meminta ijin kepada ibu pertiwi untuk membangun pelinggih penunggu karang. (eko2016)