Minggu, 24 Mei 2015

Makna upacara Potong Gigi

foto diambil di Pura Amertha Sari, Semarang Jawa Tengah
Upacara Potong gigi yang merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam upaya meningkatkan sradha dan bhakti untuk menuju manusia yang berkualitas (putra yang suputra). Hal ini adalah merupakan tanggung jawab orang tua dalam membina dan mendidik anak-anaknya agar dapat mewujudkan anak yang sadhu budi gunawan.

Ada lima tanggung jawab orang tua dalam keluarga sebagaimana diungkapkan dalam ajaran agama Hindu (Filsafat Jawa) yaitu: Ametuaken Artinya orang tua berkewajiban untuk melahirkan atau mengadakan keturunan. Maweh Binojana Artinya orang tua berkewajiban untuk memberikan makanan yang bergisi agar anak-anaknya tumbuh dan berkembang dengan baik. Matulung Urip Artinya orang tua berkewajiban untuk melindungi anaknya dasri segala mara bahaya, dan segala jenis penyakit; Mangupadaya Artinya orang tua berkewajiban untuk memberikan Bekal berupa pendidikan sains dan moral yang cukup kepada anaknya agara kelak ia mampu mengauasi IPTEK dalam mempermudah mencapai tujuan hidup.  Sinangaskara Artinya orang tua berkewajiban untuk menyucikan lahir dan batin sang anak agar menjadi manusia yang memilikki moral, etik dan spiritual. Berdasarkan kelima kewajiban orang tua tersebut, maka pelaksanaan upacara potong gigi dan Rajasewala yang Bapak Ibu laksanakan adalah merupakan kegiatan Sinangaskara atau penyucian lahir batin anak yang harus diupayakan oleh orang tua.

Salah satu tradisi yang perlu kita kaji bersama sesuai dengan sastra agama, bahwa pelaksanaan Upacara Potong Gigi bagi pemeluk Agama Hindu khususnya yang dari Bali tidak mutlak pulang ke Bali. Dan Hari ini Bapak Ibu telah melaksanakanya di Pura Amertha Sari, Semarang. Hal ini dilandasi oleh  Dharma siddhi arta yaitu: Iksa (Tujuan), Sakti (kemampuan), Desa (tempat), Kala (waktu), dan Tattwa (keyakinan/sastra). Di Jawa Upacara Potong Gigi sudah ada sejak zaman dahulu kala dan dikenal dengan istilah “Pangur” kemudian budaya hilang karena adanya tekanan dari agama lain yang masuk setelah runtuhnya kerajaan-kerajaan Hindu.. Walaupun sifatnya wajib potong gigi tidak harus mahal, sehingga semakin banyak umat Hindu yang bisa melaksanakanya. Dan ke depan harus ada pemikiran potong gigi ala “Jawa”. Sepertti masyarakat Hindu Tengger yang mengadakan Upacara Ngaben ala Hindu Jawa Tengger yaitu “Entas-Entas”

Berdasarkan landasan tersebut di atas maka upaca potong gigi dapat dilakukan di mana saja sesuai dengan keadaan daerah tempat di mana kita tinggal, mengingat upacara potong gigi adalah merupakan salah satu satu aktivitas keagamaan  Hindu yang sangat penting dilakukan oleh umat Hindu dalam upaya meningkatkan Sradha dan Bhakti, maka upacara potong gigi bersama yang kita laksanakan sangat perlu dan bermanfaat bagi umat Hindu.

Upacara Potong Gigi merupakan salah satu bagian dari Upacara Manusa Yajna  yang patut dilaksanakan oleh Umat Hindu yang mengandung pengertian bagi umat Hindu yaitu: 1) Pergantian atau masa transisi umur, kejiwaan remaja untuk menapak kehidupan menjadi manusia yang sejati, utnuk itu perlu diadakan upacara Potong Gigi dasn Rajasewala agar dapat menghindarkan dan mengurangi pengaruh buruk dari Butha Kala yang identik dengan perilaku asuri sampad yang cenderung memberi godaan Sad Ripu. Gigi yang dipotong adalah Taring yang melambangkan keserakahan. Upacara ini juga sebagai simbolis meningkatnya seorang anak menjadi dewasa, yakni manusia yang telah mendapatkan pencerahan, sesuai dengan makna kata dewasa, dari kata devasya yang artinya milik dewa atau dewata. Seorang telah dewasa mengandung makna telah memiliki sifat dewata (Daivi sampad) seperti diamanatkan dalam kitab suci Bhagavadgita. 2) Memenuhi Kewajiban orang tua terhadap anaknya untuk menemukan hakekat manusia yang sejati. Orang tua memperoleh kesempatan untuk beryajna, menumbuh-kembangkan keperibadian seorang anak, sehingga anak tersebut mencapai kedewasaan, mengetahui makna dan hakekat penjelmaan sebagai umat manusia. Pelaksanaan Upacara Potong Gigi merupakan tanggung jawab orang tua dalam menyucikan lahir batin anaknya, sehingga dapat menjadi manusia yang sejati bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. 3) Secara spiritual, seseorang yang telah disucikan akan lebih mudah menghubungkan diri dengan Sang Hyang Widhi, para dewata dan leluhur, kelak bila yang bersangkutan meninggal dunia, Atma yang bersangkutan akan bertemu dengan leluhurnya di alam Pitraloka. 4) Dalam aspek estetika jika gigi itu sudah dipotong maka akan terlihat indah dan menambah kecantikan bagi yang disangih.

Dari pengertian ini dapat dipahami bahwa upacara potong gigi adalah suatu upacara penting dalam kehidupan umat Hindu, karena bermakna menghilangkan kotoran diri (nyupat) sehingga menusia dapat menemukan hakekat jati diri manusia yang sejati dan terlepas dari belenggu kegelapan akibat pengaruh dari Sad Ripu dalam diri manusia.

Dalam Lontar Puja Kalapati disebutkan “apabila tidak melakukan upacara potong gigi, maka rohnya tidak akan bertemu dengan roh orang tuanya di surga kelak”.Maka dari itulah setiap orang tua di kalangan umat Hindu berusaha dalam hidupnya menunaikan kewajiban terhadap anaknya dengan melaksanakan Upacara Manusa Yajnya dari lahir sampai menikah (wiwaha Samskara) salah satunya adalah upacara potong gigi dan rajasewala. Kami berharap agar umat Hindu dapat melaksanakan upacara potong gigi sesuai dengan ketentuan sastra agama sehingga membawa dampak positif bagi yang melaksanakanya. Upacara ini kami harpkan dapat menghilangkan kotoran diri dalam wujud kala, bhuta, dan pisaca, raksasa (asuri sampad) dalam arti jiwa dan raga diliputi oleh watak Sad Ripu sehingga pada akhirnya dapat menemukan hakekat manusia yang sejati. Upacara Potong gigi yang Bapak/Ibu laksanakan mudah-mudahan dapat meningkatkan persatuan dan kesatuan Umat Hindu dalam pelaksanaan Upacara Yajna. Terakhir Dapat meningkatkan Pemahaman dan wawasan umat tentang pentingnya Upacara potong gigi dalam meningkatkan sradha dan bhakti Umat Hindu. (eko prasetyo/batam)


Pementasan Wayang oleh Dinas Pariwisata Pemprov. Bali di Pura Agung Amertha Bhuana Batam

Pada hari Sabtu, 16 Mei 2015 bertempat di Utama Mandala Pura Agung Amertha Bhuana Kota Batam, kembali Dinas Pariwisata prov. Bali menggelar perrtunjukan Wayang dalam rangka memeriahan Hari Tumpek Landep. Acara didahului dengan persembahyangan bersama, dilanjutkan sambutan dari sesepuhh Umat sekaligus sebagai ketua LPDG Prov. Kep. Riau dan dharma duta Parisada, Drs. I Wayan Catra Yasa, MM. Dilanjutkan dharma wacana dari ketua Tim Dinas Pariwisata Prov. Bali. Diakhiri dengan foto bersama.

Konsep pertunjukan wayang ini sangat sedrehana namun kaya dengan pesan moral dan spririual. Di tengah-tengah narasi sang Dhalang, tim juga menyajikan Tari Kecak yang sudah sangat populer itu. Umat Hindu kota Batam sangat terhibur dan pada pukul 00.15 acara diakhiri.


Makna Tumpek Landep


Tumpek Landep adalah saat di mana Ida Hyang Widhi Wasa dalam prabhawa-Nya sebagai  “Pasupati” atau “Siwa Pasupati” itu sebdiri. Dan purnama yuganing sang candra. Pasupati itu terdiri dari pasu= binatang/kehidupan, pati=penguasa, jadi “Pasupati” adalah penguasa kehidupan/binatang, binatang di sini melambangkan nafsu indria, maka jangan heran jika dalam gambar dewa Siwa dhyana itu duduk dengan kulit harimau, artinya beliau mengajarkan kepada kita dalam hidup harus menguasai panca indra, jangan kita dikuasai oleh panca indra pemuas nafsu kita. Pada hari Tumpek Landep, Siwa sebagai Pasupati menganugerahkan jnana atau ketajaman pikiran (landeping idep), ketajaman perkataan(landeping wak), dan ketajaman perbuatan (landeping laksana). Pikiran dipertajam dengan ilmu, tapa brata yoga Samadhi, perkataan ditajamkan dengan menata  pembicaraan, dalam filsafat jawa ada istilah “ajining dhiri ono ing gebyaring lathi” harga diri manusia ada pada kata-katanya. Perbuatan ditajamkan dengan pergaulan, harmonisasi.  dari kelima hari ini ada kaitanya yaitu manusia diarahkan untuk melakukan penebusan dosa, setelah dimurnikan maka diberikan ilmu pengetahuan pada hari Saraswati dan pada tumpek landep yang berbarengan dengan purnama ditajamkan kembali. Sepulang dari pura Bapak Ibu bisa melukat di rumah dengan tirta pasupati yang telah disiapkan oleh panitia, yang berisi bunga, dan yang polos adalah tirta amerta, atau Bapak Ibu bisa menggunakan air kelapa gading, karena di hari suci purnama air kelapa gading diyakini akan dapat memberishkan segala kekotaran batin baik diberi mantra maupun tidak.

Dalam lontar Agastya Parwa dijelaskan telah terjadi percakapan anatara sang Dredasyu dengan Bagawan Agastya begini bunyinya: “ wahai Guru mulia, Perbuatan mulia apakah yang membuat seseorang mencapai keutamaan hidup baik di dunia maupun setelah mati?’ kemudian Bahgaan Agastya menjawab: wahai Sang Drdhasyu, ada 3 hal yang memungkinkan seseorang mencapai keutamaan hidup, adalah ulah, sabda dan ambek (perbuatan, perkataan dan pikiran), akibat yang dihasilkan oleh pikiran lebih besar daripada perkataan, dan perkataan lebih berat dari pada perbuatan, demikian juga sebaliknya dosa yang dihasilkan oleh perbuatan yang disertai kesadaran pikiran lebih besar daripada yang tidak menggunakan emosi pikiran. Untuk itu disaran seorang spiritual itu diharapkan dapat berpikir baik. Pikiran itu tajam, bisa jadi teman bisa jadi lawan, waspadalah, waspadalah!!!!

Kemudian Bhagawan Agastya menambahkan lagi ada tiga hal lagi yang harus dipegang oleh umat manusia yaitu: tapa, yajna dan krti, tapa lebih ditekankan ke pengendalian indria, selalu seimbang walau dihina dan dipuji, jangan kita senang lihat orang lain susah dan susah melihat orang lain senang. Ini negative sekali. yajnya berarti korban suci yang tulus ikhlas, mari kita lestarikan upakara yajna yang berlandaskan sastra suci sebagai bentuk pelestarian dan pembumian ajaran Weda, yajnya sebagai kamdhuk atau sapi perahan yang membuat hidup sejahtera, Karena dengan yajnya hujan dan kemakmuran itu ada, di mana suatu daerah tidak ada yajnya maka daerah itu akan kering/tidak subur. Penglingsir kita begitu agung mewariskan ajaran yajnya, seperti Mpu Kuturan, Dhahyang Nirarta, Mpu Markandeya, dsb. Kemudian krti adalah perbuatan baik dengan membangun fasilitas umum seperti pura, pasraman sekolah, dll, krti bisa  sebagai investasi karma. Ketiga hal ini di masyarakat menimbulkan prawerti dan niwerti marga yang artinya bahwa jalan jnana dan bhakti itu selalu ada dan berdampingan, jangan kita mengartikan bahwa prawerti itu jalan bagi yang jnananya rendah, dan niwerti bagi yang jnananya tinggi, di hadapan Tuhan semua sama yang membedakan adalah kualitas bhakti, ikhlas dan tidaknya.
Berkaitan dengan tumpek Landep dalam filsafat Jawa dijelaskan ada 3 hal yang harus dipegang dalam hidup yaitu pinter bener dan kober, artinya kita harus mampu mebedakan mana yang baik dan mana yang buruk, dengan menggunakan pratyaksa, anumana, dan sabda pramana. Kita harus berpegang pada dharma, sak beja-bejane wong sing ora waspodo isih bejo wong kang eling lan waspodo. Kober artinya kita mampu meluangkan waktu, setinggi-tingginya ilmu kita, maka endingnya harus diabdikan. 

Dalam hidup ada lima tanggung jawab sebagai manusia dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana diungkapkan dalam ajaran agama Hindu (Filsafat Jawa) yaitu: 1.Ametuaken artinya manusia berkewajiban untuk melahirkan ide atau gagasan, ingatlah filsafat ilmu: digembol ora mendosol, diguwak ora kemrosak artinya jika kita miliki akan membuat kita berkasrisma apalagi kita menerapkanya, akan sangat bermanfaat. Yang kde-dua adalah Maweh Binojana yang artinya manusia wajib untuk mencari makan dan memberi makan pada orang lain baik anak maupun teman, keluarga. Dalam pustaka suci dijelaskan bahwa saat Tuhan menciptakan kamu dengan perut, maka kewajiban kamu adalah makan. Ketiga Mitulung Urip artinya memberi perlindungan kepada diri sedniri, keluarga bangsa dan Negara. Mangupadaya artinya manusia wajib menuntut ilmu dan memberikan ilmu pada orang lain dan membekali anak dengan ilmu. Sinangaskara artinya manusia berkewajiban untuk menyucikan lahir dan batin sang Atman, keluarga, anak dan leluhur. 

Persembahyangan pemujaan, persembhana bebantenan, dan prayascita semua hasil pikiran manusia yang tajam adalah  adalah merupakan kegiatan Sinangaskara atau penyucian bhuana alit dan bhuana agung yang menyebabkan kemuliaan hidup. Ada 4 (empat) tipe pemuja Tuhan yaitu Mereka yang menderita, Mereka yang ingin kekayaan, Mereka yang ingin meningkatkan ilmu, dan Mereka yang bijaksana, Semuanya diterima oleh Tuhan sebagai sebuah persembahan bhakti, jadi jangan sampai kita membeda-bedakan umat yang dating ke pura


Kita semua berharap semoga melaui momentum Tumpek Landep ini kita sebagai manusia mampu menajamkan pikiran perkataan, dan perbuatan, sehingga kita menjadi manusia utama, tidak lupa juga kita berharap lebih bisa memiliki pratyaksa, anumana dan sabda pramana sebagai ciri manusia Hindu yang berwiweka, sehingga kita tidak mudah diadu domba dan menuruti nafsu indria. 

Jalan Santai Kerukunan Umat Beragama Se-prov. Kepulauan Riau Tahun 2015

Pada hari Sabtu, tanggal 9 Mei 2015 bertempat di gedung Daerah, Kota Tanjung Pinang, Pemprov. Kepulauan Riau bekerja sama dengan Kantor Wilayah (Kanwil) Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau, FKUB Prov. Kep. Riau  mengadakan Jalan Santai Kerukunan Umat Beragama Se-Prov. Kep. Riau. Acara ini dilepas secara resmi oleh Gubernur DATI I Prov. Kep. Riau, Drs. H. Muhammad Sanni. Acara ini mengambil rute Gedung daerah, depan RS Angkatan Laut, depan KPPN, depan Kantor Pajak Pratama Tanjung Pinang kembali lagi ke Gedung Daerah.

Acara ini diikuti lebh kurang 5000 peserta yang berasalah dari sleuruh kabupaten kota se Kep. Riau. Dari perwakilan Hindu Hadir Pembimas Hindu Kanwil Kep. Riau, Penyelenggara Hindu Kota Batam Eko Prasetyo, Ir. Wayan Jasmin (Ketua Parisada Kep Riau) yang juga menyumbang 1 (satu) unit telivisi LED 24 Inch. Hadir Juga penyuluh Agama Hindu, Ketua Parisada kota Tanjung Pinang, Parisada Kota Bintan dan Batam.

Acara dipandu oleh Ketut Suardita, S.Pd, M.Pd didamping Albertus Adi Kurniawan. Peserta begitu antusias karena doorprize yang diperebutkan sangatlah menarik. Grandprize 2 (dua) unit motor.

Ketua Parisada Prov. Kepulauan Riau, Ir. I Wayan Jasmin didampingi Pembimas Hindu Kanwil Kepuluan Riau, Ketut Suardita, S.Pd, M.Pd mengambil secara acak nomor undian doorprize jalan santai kerukunan

Minggu, 03 Mei 2015

Banyu Pinaruh Saraswati Umat Hindu Batam

Upacara Banyu Pinaruh Umat Hindu batam dilaksanakan pada Hari Minggu pagi, tanggal 3 Mei 2015 di Pantai di daerah Nongsa, Kota batam. Banyu Pinaruh berasal dari kata banyu yang artinya air dan pinaweruh yang artinya pengetahuan, jadi Banyuu Pinaruh artinya sari - sari ilmu pengetahuan yang kita dapat dari Sang Hyang Aji Saraswati melalui sarana air, amertha.

Acara ini diikuiti oleh seluruh siswa dan siswa pasraman Jnana Sila Bhakti Kota batam dan umat Hindu Kota Batam.

Upacara ini bertujuan memohon anugerah berupa sari - sari ilmu pengetahuan dari Sang Hyang Aji Saraswati. Biasanya dilakukan di sumber - sumber air seperti pantai dan sumber air lainya.

Pawintenan Saraswati Sisya (siswa) Pasraman Jnana Sila Bhakti Kota Batam

Umat Hindu di Indonesia perlu berbangga karena kali ini perayaan Hari Suci Saraswati bersamaan dengan Hari Pendidikan nasional (Hardiknas) yang dicetuskan oleh Bapak Pendidikan Kita, Ki Hajar Dewantara. Beliau mengajarkan kepada kita tentang 3 (tiga) hal yaitu: ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani yang artinya bahwa ketika di depan kita harus memberi contoh, ketika pemimpin itu di tengah maka dia membangkitkan semangat, dan ketika berada di belakang maka pemimpin mendorong semangat dan aspirasi dari belakang. Dan Pada hari Senn anak - anak yang duduk di kelas 3 SMP akan melaksanakan Ujian Nasional.

Hari saraswati dimaknai dengan hari turunya ilmu pengetahuan suci Weda melalui Sang Hyang Aji Saraswati. Brahma menciptakan Catur Weda dengan kekuatan Sakti Dewi Saraswati. Banyak umat yang melakukan upacara pemujaan dengan menghaturkan sesaji ke pura dan tempat ibadah umat Hindu yang lainnya seperti candi, basarah dll.

Di kota Batam perayaan Saraswati dilaksanakan di Pura Agung Amertha Bhuana Kota Batam. Pengempon Pura mengadakan pawintenan Saraswati bagi Siswa dan siswi Pasraman agar dalam belajar ilmu di sekolah umum maupun belajar agama Hindu di Pasraman dapat dengan mudah menyerap ilmu yang diperoleh. Winten berasal dari kata intan di mana setelah diwinten maka anak-anak diharapkan dapat memiliki pikiran setajam intan sehingga dapat dengan mudah menghafal ilmu yang ada dalam buku maupun yang diajarkan oleh Guru di sekolah.

Senin, 27 April 2015

Dharma Santi Nyepi 1937 Saka Prov. Kepulauan Riau



Sabtu 25 April 2015, bertempat di Ballroom Grand Galaxy, Lt. 3 Hotel Planet Holiday Batam Parisada Kepulauan Riau mengadakan Dharm Santi Nyepi 1937 Saka.Dharma Santi Nyepi 1937 Saka ini terselenggara atas bantuan dari Pemerintah Daerah Tingkat I Prov. Kep. Riau dalam hal ini Biro Kesra. Acara ini dihadiri oleh Gubernur Provinsi Kepulauan Riau, Drs. H. Muhammad Sani, Kapolda Prov. Kep. Riau (diwakilkan), Kepala Biro Kesra Pemprov. Kep. Riau, Wakil Wali Kota Batam, Ketua FKUB Prov. Kep. Riau, Ka-Kanwil Kementerian Agama Prov. Kep. Riau, Drs. H. Marwin, Pembimas Hindu Kanwil Prov. Kep. Riau, Ketut Suardita, S.Pd, M.Pd, Ketua FKUB Kota Batam, dan pimpinan lembaga tinggi umat beragama seperti Walubi, PGI, MAKIN, perwakilan umat Hindu etnis India dan lain sebagainya.

Dharma santi kali ini mengambil tema: “Penyucian Diri dan alam semesta menuju peningkatan kualitas budaya kerja”. Panitia juga menggunakan  Candi Prambanan sebagai Ikon Nyepi Nasional. Mangapa Candi Prambanan? Karena untuk mengawali kebangkitan Hindu, kita harus merevitalisasi fungsi candi Hindu sebagai tempat ibadah Hindu yang sah sesuai amanat UU  No. 11 tahun 2010 tantang Cagar Budaya. Hindu akan bangkit dimulai dari penguatan energi, vibrasi kesucian dari candi-candi warisan leluhur tersebut. Saatnya Hindu bangkit dengan moment berjayanya Majapahit setelah Sirna (0) Ilang (0) Kertaning (4) Bhumi (1) sekitar tahun 1400 (angka dibalik dari 0041). Kita harus mempersiapkan diri untuk menyambut peristiwa besar pada tahun 2019. Tentunya harus dibarengi pencetakan kader SDM Hindu di segala bidang dan pemberdayaan ekonomi umat Hindu, penyiapan pembinaan umat yang berkesinambungan serta revitalisasi tempat ibadah (pura)

Acara diawali dengan tari sambutan, Sekapur Sirih dilanjutkan dengan tari Puspa Wresti yang dibawakan oleh siswa siswi Pasraman Jnana Sila Bhakti Kota BatamSelanjutnya adalah laporan ketau Panitia. Dalam Laporanya Ketua Panitia Dewa Swastika, menyatakan bahwa kegiatan dharma santi ini terselenggara berkat kerjasama semua pihak di Prov. Kepulauan Riau yang bekerja keras demi terlaksananya acara ini. Acara ini juga akan diadakan secara rutin setiap tahunya sebagai bentuk media pemersatu umat Hindu yang ada di Prov. Kepulauan Riau. Dewa Swastika berharap agar pemerintah agar lebih meningkatkan banyuan dan perhatian kepada umat Hindu agar bisa bersama-sama membangun bangsa ini dan membangun Kepulauan Riau. Wayan Jasmin selaku ketua Parisada prov. Kepuauan Riau dalam sambutanya menyatakan bahwa dharma santi merupakan media untuk penguatan sradha dan bhakti umat Hindu. Wayan Jasmin juga menghimbau agar umat Hindu di Prov. Kepulauan Riau untuk terus berperan aktif dalam kegiatan keumatan. 

Sradha dan bhakti umat Hindu menjadi bertambah sempurna manakala Kol. Inf (Purn) I Nengah Dana, S.Ag menyampaikan Dharma Wacana dan Pesan Nyepi 1937 Saka. Dalam paparanya beliau membahas tentang makna perayaan Nyepi, di mana Umat Hindu harus bersyukur bahwa leluhur kita telah mengkonsep sebuah hari raya yang besar, yang kaya akan makna penyucian diri yaitu Nyepi. Nyepi merupakan usaha untuk menghilangkan kekotoran batin dan kekotoran dunia ini. Proses penyucian itu tercermin dalam pelaksanaan Catur Brata Penyepian, di mana umat Hindu melakukan pengendalian pikiran dan indria untuk memperoleh pencerahan. Umat Hindu juga harus bangga karena kita memiliki konsep Tri Hita Karana yang diakui secara global. Jalinlah hubungan yang harmonis tidak hanya kepada Tuhan tetapi juga kepada alam, dan sesama manusia agar hidup kita bahagia. Umat Hindu juga memiliki konsep Satyam, Siwam, dan  Sundaram yaitu kebenaran, kesucian dan keindahan.

Acara selanjutnya dilanjutkan dengan Sambutan Ketua Dewan Penasehat Forum Kerukunan Umat beragama (FKUB) Prov. Kepulauan Riau yang menghimbau agar umat Hindu senantiasa memelihara Tri Kerukunan Umat Beragama yang sudah baik di wilayah Prov. Kep. Riau. Dilanjutkan dengan sambutan Gubernur Prov. Kep. Riau, Drs. H. Muhammad Sani. Secara singkat beliau menghimbau agar umat Hindu bersama-sama membangun Batam dan Kepulauan Riau untuk mewujudkan Batam sebagai Bandar Dunia yang madani. Umat Hindu harus lebh aktif dalam kegiatan yang diadakan baik di Pemko Batam maupun Pemprov. Kep. Riau. Pemerintah tidak membeda-bedakan umatnya, semuanya diberikan perlakukan yang sama. Umat Hindu juga dihimbau untuk terus melaksanakan Tri Hita Karana agar bias hidup tenteram. Di akhir-akhir sambutanya beliau membawakan sebuah lagu kenangan dan mengajak semua umat Hindu untuk bernyanyi bersama yang membuat suasana lebih meriah dan penuh kebersamaan.

Di akhir acara dharma santi Ka-Kanwil Kementerian Agama Prov. Kep. Riau memberikan Piagam penghargaan Purna Tugas dari kepada Nyoman Winatha selaku ketua Parisada prov. Kepulauan Riau masa bhakti 2010 – 2015. Piagam ini sebagai bentuk apresiasi pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama kepada tokoh  pimpinan lembaga Kegamaan Hindu (Parisada) yang telah berperan dalam memimpin, membina umat dan menjaga Tri Kerukunan Umat beragama di Prov. Kepulauan Riau. Acara diakhiri dengan hiburan Tari Bondres, doa dharma santi dan penyerahan Cindera Mata dari Panitia dharma Santi kepada beberapa tamu undangan.



Senin, 13 April 2015

Rapat Koordinasi Pusat, Daerah, Perguruan Tinggi Negeri Hindu di Palembang


Bertempat di Wisma Atlet, Jakabaring, Palembang, sekitar 122 peserta yang berasal 34 Provinsi baik dari kalangan Pembimas, Kasi/Penyelenggara dan Pimpinan Perguruan Tunggi Hindu Negeri seperti Rektor IIHDN, Ketua STAHN Gde Pudja Mataram, dan STAHN Tampung Penyang berkumpul bersama untuk mengikuti rakor sekaligus membahas dan menyusun rencana Kerja 2016. Acara ini diselenggarakan dengan anggaran DIPA ditjen Bimas Hindu Pusat Jakarta pada tanggal 6 s/d 10 April 2015. Acara ini bertujuan untuk melakukan koordinasi dalam rangka pengalokasian dan singkronisasi anggaran Program Bimbingan Masyarakat Hindu dalam rangka penerapan multi DIPA.

Peserta Rapat Koordinasi Perencanaan Pusat, Daerah dan Perguruan Tinggi Agama Hindu terdiri dari a.    Ka-Kanwil Prov. Bali sebanyak 1 (satu) orang, b.   Pempinan Perguruan Tinggi Agama Hindu Negeri (PTAHN) sebanyak 6 (enam) orang, c.   Ka-Kandepag/Kota se-rov. Bali sebanyak 9 (sembilan) orang, d.   Kabid/Pembimas Kanwil Kementerian Agama se-Indonesa sebanyak 34 (tiga pulu empat) orang, e.    Penyelenggara/Kasi Urusan/Pendidikan di Kab/Kota Se-Indonesia sebanyak 34 (tiga puluh empat) orang, f.    Pejabat Eselon III dan IV di lingkungan Ditjen Bimas Hindu sebanyak 38 (tiga puluh delapan) orang

Ada yang menarik dan berbeda dari acara ini karena di awal acara dimulai dengan Paparan dari Senator RI utusan Prov.Bali (Anggota DPD MPR – RI) DR. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III, SE(MTRU). M.Si. Senator RI menyempatkan diri hadir dala forum itu untuk menyampaiakan visi dan misi DPD RI untuk kemajuan Hindu di masa depan. Sebagai pemecah rekor MURI peraih Gelar Doktor termuda, Sang Senator tidak canggung untuk berbicara di hadapan seluruh peserta yang hadir. Beliau memaparkan bahwa saatnya Hindu bangkit dengan moment berjayanya Majapahit setelah Sirna Ilang Kertaning Bhumi sekitar tahun 1400 (angka dibalik). Kita harus mempersiapkan diri untuk menyambut peristiwa besar pada tahun 2019. Tentunya harus dibarengi pencetakan kader SDM Hindu di segala bidang dan pemberdayaan ekonomi umat. Sudah Lama Founding Father kita , Ir Soekarno menyatakan bahwa Pancasila terkubur yang mempunyai maksud bahwa Hindu sendiri sebagai agama nenek moyang telah terkubur bersama dengan diruntuhkanya beberapa candi – candi Siwa Budha. Untuk mengawali kemajuan Hindu, kita harus merevitalisasi fungsi candi Hindu sebagai tempat ibadah Hindu yang sah sesuai amanat UU  No. 11 tahun 2010 tantang Cagar Budaya. Hindu akan bangkit dimulai dari penguatan energi, vibrasi kesucian dari candi-candi warisan leluhur tersebut.

Dalam rangka membangkitkan semangat Re-Pancasila untuk umat Hindu Indonesia kita bisa melaksanakan analisis SWOT Analysis yaitu: 1) Strength atau kekuatan yang kita miliki. Kita harus menanamkan 4 (empat) konsensus sebagai pengganti istilah 4 (empat) pilar kebangsaan yaitu:  1) Pancasila, 2) UUD 1945, 3) Bhineka Tunggal Ika, 4) NKRI. Dengan Indonesia kembali ke agama leluhur maka Indonesia akan berjaya kembali. Pancasila sebagai satu-satunya alat pemersatu nusantara/manusia. Pancasila dianggap sebagai ideologi yang berpengaruh bagi Asia dan Afrika.

Yang kedua adalah Weakness yang artinya adalah kelemahan yang kita miliki yang justru membuat kita terpacu untuk lebih mengantisipasi usaha – usaha mendegradasi Nilai-nilai Pancasila, ada gerakan-gerakan yang berusaha membenamkan Pancasila lebih dalam. Munculnya berbagai paham radikalisme pundamentalis seperti ISIS yang bisa dianggap ideologi bagi rakyat Indonesia jika kurang pemahaman kebangsaanya. Peran Bali sebagai Pusat semesta Pancasila mulai termarjinalkan. Munculnya UU diskriminatif terhadap kaum minoritas, minimnya aktialisasi dan re-vitalisasi Pancasila. Sosialisasi 4 (empat) konsensus/4 Pilar bangsa (pasca Keputusan MA dinyatakan 4 pilar berganti sebutan menjadi 4 konsensus)

Analisis ketiga yaitu Opportunity yang artinya Keadaan yang membawa keuntungan bagi Pancasila yaitu kondisi alam yang mendukung tetap tegak dan bangkitnya Pancasila, kondisi internasional, Pemilu 2014 yang melahirkan sosok pemimpin baru pilihan rakyat yang sejati.

Analisis yang terakhir yaitu Threat artinya upaya mempertahankan nilai-nilai Pancasila yaitu dengan cara mere-branding kembali ajaran – ajaran Pancasila, kaum nasionalisme menghadapi situasi rakyat pragmatis. Sinergi dari Institusi/Lembaga Nasional secara terukur dan terprogram. Menciptakan pahlawan-pahlawan baru untuk umat Hindu Indonesia. Menduduki posisi – posisi penting dalam jabatan politik dan pemerintahan.

Senator RI juga melakukan Sosialisasi PMA No 56 Tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Hindu. Pasraman ada 2 (dua) jenis yaitu formal dan non formal. Dalam PMA 56 ini ada 4 (empat) tingakatan Pendidikan Keagamaan Hindu: 1. Satuan Pendidikan Pratama Widya Pasraman (merupakan PAUD diikuti oleh anak – anak berusia di bawah 6 (enam) tahun, 2) Satuan Pendidikan Adi Widya Pasraman merupakan Pendidikan Dasar tingkat Sekolah dasar yang terdiri atas 6 (enam) tingkat, 3) Satuan Pendidikan Madyama Widya Pasraman merupakan Pendidikan Tingkat Sekolah Menengah Pertama yang terdiri atas 3 (tiga) tingkat, 4) satuan Pendidikan Utama Widya Pasraman merupakan Pendidikan Tingkat Sekolah Menengah Atas yang terdiri dari 3 (tiga) tingkat, 5) Maha Widya Pasraman merupakan Pendidikan Tingkat Tinggi.

Senator RI yang satu ini memberi masukan/rekomendasi untuk Acara Rakor Ditjen Bimas Hindu di Palembang, yaitu: 1) dalam rakor agar memunculkan design kerja (blue print/cetak biru) bidang pembangunan keumatan Hindu, 2) revolusi Mental aparat birokrasi di Internal Bimas Hindu dengan tidak menjadi SDM yang inferior, 3) munculkan tokoh Hindu di daerah yang akan maju sebagai anggota DPD, DPR dan sinergi untuk memberi masukan demi target politik di Pemilu 2019, 4) Cerdas dalam pengajuan anggaran dan kebijakan  prioritas 2015 – 2019, 5) jeli melihat kemungkinan program untuk keumatan, 6)penyiapan SDM Penyuluh, Guru Hindu dan lain sebagainya di daerah.

Masukan untuk Bimas Hindu Kementerian Agama R: dibuatkan renja yang mana diharapkan setiap provinsi memilikki minimal 1 (satu) pilot project sekolah untuk tingkat TK, SD, SMP, SMA dan PTAH. Membuat rencana multi tahun hingga 2019. Adanya tim kecil yang menyiappkan SDM dan infrastruktur tentang legal standing pengajuan sekolah Hindu, lakukan pendataan pemetaan jumlah siswa, mahasiswa, SDM Guru, dosen dan infrastruktu pendukungnya.

Rencana Kerja Tahunan merupakan penjabaran dari Sasaran dan program yang telah dtetapkan dalam rencana Strategis yang ditetapkan oleh Ditjen Bimas Hindu melalui berbagai kegiatan tahunan. Di dalam renja ditetapkan rencana tingkat kinerja tahunan, sasaran, dan seluruh indikator kinerja kegiatan. Penyusunan renja dilakukan seiring dengan agenda penyusunan program dan kebijakan anggaran, oleh pimpinan dan seluruh anggota satuan organisasi/kerja untuk mencapainya dalam tahun 

Seiring dengan telah ditetapkannya Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) dan RENSTRA Kementerian Tahun 2015 – 2019 maka perlu dilakukan soialisasi dan singkronisasi Rencana kerja (Renja) tahun 2016 Pusat, Daerah dan Perguruan Tinggi Negeri Hindu. Renja Tahun 2016 ini meruipakan pelaksanaan Renstra Kementeriasn Agama Tahun kedua yang mendukung Pencapaian pembangunan di bidang agama dan pendidikan agama seccara nasional. Untuk itu penting bagi Ditjen Bimas Hindu untuk melakukan evaluasi agar rencana kerja tahunan yang disusunya dapat berkelanjutan. Di samping itu Rencana kerja yang disusun harus bersifat inklusif sehingga dapat menampung kebutuhan masyarakat Hindu di semua pelosok Indonesia, dengan demikian maka semua umat Hindu di seluruh Indonesia merasakan perhatian yang adil dari Ditjen Bimas Hindu, dan negara hadir di sana sesuai Nawa Cita Pemerintahan sekarang 

Dalam koordinasi ini diupayakan agar ada persamaan ersepsi dalam melaksanakan arah kebijakan Renstra Ditjen Bimas Hindu sehingga tidak terjadi duplikasi anggaran serta tidak terjadi salah sasaran karena kurang akuratnya data yangg dimiliki Ditjen Bimas Hindu. Dengan Rapat koordinasi ini maka kita dapat menyusun anggaran yang tepat sasaran dan berdaya guna bagi masyarakat Hindu, di samping juga melakukan singkronisasi anggaran pusat dan daerah. Atas dasar itulah Ditjen Bimas Hindu mengdakan Kegiatan Rapat Koordinasi Perencanaan Pusat, daerah dan Perguruan Tinggi Agama Hindu Negeri di Wisma Atlet, Palembang, Sumatera Selatan, dari tanggal 6 sampai dengan 10 April 2015.

Ruang lingkup dari kegiatan Koordinasi Perencanaan Pusat, Daerah dan Perguruan Tinggi Agama Hindu ini adalah: a.    Mendapatkan data perencanaan yang akurat, b.    Untuk melakukan alokasi anggaran yang tepat sasaran sesuai kebutuhan di daerah, c.    Menelaah kegiatan prioritas masing-masing daerah agar selaras dengan renstra, d.   Mengurangi revisi RKA-K/L di lingkunga Satker Ditjen Bimas Hindu, e.    Mengintegrasikan kegiatan Pusat dan daerah serta Perguruan Tinggi Agama Hindu (PTAHN), f.     Melakukan Singkronisasi Anggaran Pusat, daerah dan PTAHN tahun 2016

Dasar Pelaksanaan Kegiatan rakor di Palembang ini adalah:
1.      UU No. 17 Tahun 2003 tentang keuangan Negara;
2.      UU No. 1 tentang Perbendaharaan Negara;
3.      UU No. 1 tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan;
4.      UU No. 25 tahun 2004 Tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional;
5.      PP No. 90 Tahun 2010 Tentang Penyusunan Rencana Anggaran Kementerian/Lembaga;
6.      Perpres RI No 2. Tahun 2015 Tentang RPJMN Tahun 2015 - 2019;
7.      Perpres RI No. 3 tahun 2015 tetang perubahan atas Perpres No 43 Tahun 2014 tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2015;
8. Surat Keputusan (SK) Kuasa Pengguna Anggaran (KPA) Ditjen Bimas Hindu Nomor: DJ.V/59/KPA/2015 tanggal 11 Maret 2015, tentang Kegiatan Rakor Perencanaan Pusat, Daerah dan Perti Agama Hindu Tahun 2016;

Acara Rakor dibuka secara resmi oleh Sekjen Kementerian Agama RI pada hari Senin, 6 April 2015 jam 16.00 di aula/meeting room Wisma Atlet. Paparan Narasumber yang pertama adalah Sekjen Kementerian Agama RI tentang Kebijakan Kementerian Agama Tahun Anggaran 2016. Pada Hari  Selasa, 7 April 2015, Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI menyampaiakan Papasran tentang Evaluasi Kegiatan Tahun 2014 dan Fokus Kegiatan 2016. Dilanjtukan Paparan Sekretaris Itjen Kementerian Agama RI tentang Pengawasan Intern Untuk Pelaksanaan  Anggaran yang akuntabel.

Pada hari Rabu, 8 April 2015 dilanjutkan dengan paparan narasumber Direktur Pendidikan Bappenas tentang Arah Kebijakan Nasional Pembangunan Bidang Pendidikan tahun 2015 – 2019. Selanjutnya Direktur Agama, Kepemudaan dan Olah Raga Bappenas tentang Arah Kebijakan Nasional Pembangunan Bidang Agama tahun 2015 – 2019; Dan dari Bappenas tentang Teknik Evaluasi Program dan Anggaran.

Pada Hari Kamis, 9 April 2015 diadakan diskusi Panel yang membhasa Arah Kebijakan Pembangunan di bidang Agama, Pendidikan dan Dukungan Manajemen  yang dipandu oleh Direktur Urusan Agama Hindu, Direktur Pendidikan Agama Hindu dan Sekretaris Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI. Membahas evaluasi kegaian 2016 dan penekanan program tahun 2016 di samping tanya jawab seputar pelaksanan kegiatan dan anggaran.

Dilanjutkan dengan Penyusunan Rencana Kerja (Renja) Tahun 2016 yang akan dilaporkan kepada Bappenas sebagai bahan Rencana Pembanguna Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015 – 2019. Penyusunan Data Kebutuhan Operasional 2016 masing-masing Satket yang meliputi kebutuhan operasional pendidikan dan non pendidikan, gaji,  dan tunjangan 

Di hari terakhir Jumat, 10 April 2015 diadakan Rapat Paripurna Rencana Kerja 2016. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk pemaparan Rencana Kerja (Renja) masing-masing provinsi sehingga dapat disepakati kegiatan mana yang harus dilakukan oleh Pusat dan kegiatan yang dilakukan oleh daerah. Wakil dari masing-masing daerah juga memaparkan data umat dan data pegawai serta permasalahan yang ada di daerah sebagai bahan evaluasi dan kebijakan Ditjen Bimas Hindu tahun 2016. Dilanjutkan dengan acara Penutupan. Acara diawali dengan penyampaian kesan dan pesan dari perwakilan peserta tentang evaluasi pelaksanaan rakor. Acara ditutup oleh Plt. Kepala Bagian Perencanaan Ditjen Bimas Hindu.

Kegiatan ini positif  karena merupakan media untuk  singkronisasi anggaran pusat dan daerah sehingga akan tercipta dokumen perencanaan yang bermutu untuk pelaksanaan anggaran Tahun 2016. Bantuan kepada masayarakat bisa lebih terukur, tepat sasaran dan akuntabel jika sudah direncana sejak saat ini. Saran untuk kegaitan ini adalah supaya kegiatan rakor ini dilaksanakan rutin dan ada tindak lanjutnya, menghasilkan rekomendasi dan di tahun depan kegiatan rakor harus fokus pada permasalahan rencana kerja dan anggaran agar tidak meluas dan tepat sasaran.

          



Selasa, 31 Maret 2015

Pelatihan dan Pembinaan Umat Hindu Se-Kota Batam

Bagian Kesra Pemerintah Kota Batam mengadakan Pembinaan Umat Hindu Sekota Bata. acara dilaksanakan selama 2 (dua) hari yaitu dari tanggal 28 s/d 29 Nopember 2014 betempat di Hotel Nagoya Plasa, Acara diikuti oleh lebih kurang 100 umat Hindu yang ada di Kota Batam. hadir dalam kesempatan itu Kepala Bagian Kesra Pemko Batam, Ketut Suardita, S.Pd, M.Pd, pembimas Hindu Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau, Eko Prasetyo, S.Ag selaku penyelenggara Hindu Bimas Hindu Kanto Kementerian Agama kota Batam, Ketua FKUB Kota Batam dan tamu undangan lainya.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkakan pemahaman umat Hindu di Kota Batam di bidang filsafat agama Hindu. Ada 3 (tiga) narasumber yang hadir yaitu I Gede Jaman, S.Ag, M.Si, dari Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI yang mebawakan dasar - dasar agama Hindu. Narasumber kedua adalah Drs. I Wayan Catrayasa, MM yang membawakan kewirausahaan dalam agama Hindu dan Ketut Suardita, S.Pd, M.Pd.

Peserta sangat antusias mengikuti acara dari awal sampai dengan selesai. Ke depan acara seperti ini bisa diadakan lagi dan lebih meningkat dari kualitas dan kuantitasnya. Dan pada kesempatan ini tidak lupa kepada Pemko Batam yang telah memfasilitasi acara ini dari awal sampai akhir.

Kunjungan Ketua Yayasan Jaringan Hindu Nusantara (YJHN) ke Kota Batam



Pada hari Jumat Pon Wuku Julungwangi Tanggal 5 Desember 2014 Umat Hindu Batam Kedatangan tamu yaitu Bapak Wayan Kantha Adnyana, SH dari Yayasan Jaringan Hindu Nusantara (YJHN). Tujuan dan misi dari kedatangan ketua YJHN ini adalah untuk memberikan pencerahan kepada umat Hindu Hindu Batam di samping juga memberikan motivasi kepada umat Hindu khususnya generasi muda agar tidak mudah terkena pengaruh konversi agama lain. Dalam memberikan motivasi ini beliau membawakan buku-buku keagamaan Hindu agar generasi muda Hindu lebih mengenal dan mencintai Hindu.

Acara dipusatkan di Pura Satya Dharma, Muka Kuning, Batam Indo, Dormitory, Kecamatan Sei Beduk. Dalam Paparanya beliau menghimbau kepada generasi muda Hindu agar mengenal tri Kerangka Dasar Agama Hindu terlebih dahulu baru ke hal - hal yang lain yang agak sulit dipelajari.
Generasi muda harus mengenal Tattwa yaitu ajaran filsafat Hindu agar kita tidak mudak terpengaruh dan selalu memilikki wiweka. Generasi muda haru memlikki etika yaitu tingkah laku yang baik, dan terakhir generasi muda Hindu harus mengetahui upakara sebagai bagian dari pelaksanaan kegamaan.

Beliau juga menekankan pada penguasaan Panca Sradha pada siswa sejak usia dini. Kuatkan dulu sradha kita baru berargumen dengan orang lain beda agama. Seperti kita ketahui bersama Panca Sradha adalah 5 (lima) dasar keyakinan umat hindu yaitu 1. Widhi Tattwa (percaya pada adanya Brahman/Tuhan/God), 2. Atma Tattwa (percaya terhadap adanya Atman yang memberikan daya hidup), 4, perccaya terhadap adanya karma phala, 4 percaya terhadap reinkarnasi, 5. Moksa yang artinya umat Hindu harus perccaya terhadap adanya Pembebasan bersatu dengan Tuhan.

Pada hari Sabtu bertepatan dengan Purnama Beliau juga memberikan dharma wacana keada umat Hindu di Pura Agung Amertha Bhuana Batam. 

Umat sangat antusias mengikuit pembinaan yang diberikan oleh beliau. dan kita harapkan acara seperti ini terus kita laksanakan di Kota Batam agar jaya Sanathana dharma. 

Makna Perayaan Nyepi 1937 Saka


Umat Hindu di Kota batam Melaksanakan Perayaan Nyepi dengan sederhana tetapi penuh dengan makna. rangkaian demi rangkaian telah dlakukan. Puncaknya adalah pelaksanaan Catur Brata Penyepian pada tanggal 21 Maret 2015 yang disusul dengan Dharma Santi..

Hari raya Nyepi dirayakan setiap tahun sekali pada Sasih Kesanga, biasanya jatuh pada bulan Maret atau April.  Dan pada tahun ini Nyepi jatuh pada hari Sabtu, 21 Maret 2015. Beberapa hari sebelum Nyepi diadakan upacara Melasti atau Melis dan ini dilakukan sebelum upacara Tawur Kesanga. Upacara Tawur Kesanga ini dilaksanakan pada Tilem Kesanga. Keesokan harinya, pada tanggal apisan Sasih Kedasa dilaksanakan brata penyepian. Setelah Nyepi, dilangsungkan Ngembak Geni dan kemudian umat melaksanakan Dharma Shanti.

Rangkaian Pertama Nyepi yang dilaksanakan umat Hindu Batam adalah Bhakti Sosial di Panti Wredha (Panti Jompo) di Kawasan Ocarina pada hari Minggu, 8 Mare 2015. Kegiatan ini diprakarsai oleh Ibu - Ibu yang tergabung dalam WHDI. Tujuan kegiatan ini adalah membantu meringankan beban sesama menyumbangkan sebagian kecil harta kita adalah termasuk perbuatan Drewya yajna. Parisada  telah menetapkan 4,7 % penghasilan yang kita puniakan melalui sebuah Badan Dharma Nasional (BDDN). 

Pada Hari Minggu, 15 Maret 2015 bertempat di aula Pasraman Jnana Sila Bhakti, Umat Hindu Kota Batam kembali melakukan Donor darah yang bekerjasama dengan PMI Kota Batam, Terkumpul sekitar 40 kantong darah. Ini melebihi target yang ditetapkan panitia yaitu 30 kantong. 

Pada Hari Kamis pagi, 19 Maret 2015, Panitia Nyepi mengadakan Talkshow Interaktif Nyepi di RRI Kota Batam, Dataran Engku Putri. Acara diisi Oleh Ir Wayan Jasmin selaku ketua Parisada Prov. Kepulauan Riau, Drs. I Wayan Catra Yasa, MM selaku Dharma Duta Parisada yang juga merupakan sesepuh umat dan Eko Prasetyo, S.Ag selaku Penyeleggara Bimas Hindu Kantor Kementerian Agama kota Batam. Adapun yang menjadi bahasan pada acara itu adalah makna Nyepi, rangkaian perayaan Nyepi di Kota Batam dan himbauan Pemerintah kaitanya dengan tri Kerukunan Umat Beragama di Kota Batam. Setelah acara Talk Show selesai panitia Nyepi melaksanakan audiensi kepada kepala kantor kementerian Agama Kota Batam, Drs. H. Zulkifli, M.Si. Audiensi membahas seputar persiapan Pawai ogoh-ogoh dan acara akan dibuka oleh beliau sendiri. Ini merupakan wujud perhatian dan apresiasi pemerintah dalam hal ini Kementerian Agama terhadap pelaksanaan ibadah umat Hindu.

Dilanjutkan pada sore harinya umat Hindu Batam mengadakan Melasti di Danau Sei Ledi. Upacara Melasti dijelaskan dalam lontar Sanghyang Aji Swamandala sebagai berikut:

Anglukataken laraning jagat, paklesa letuhing bhuwana

Artinya:
Melenyapkan penderitaan masyarakat, melepaskan kepapaan dan kekotoran alam.

Dalam Lontar Sundarigama menambahkan bahwa tujuan Melasti adalah:

Amet sarining amerta kamandalu ring telenging sagara

Artinya:

Mengambil sari-sari air kehidupan (Amerta Kamandalu) di tengah-tengah samudera.

Sumber lain menyebutkan bahwa tujuan pelaksanaan melasti adalah menyucikan sarana prasarana, pratima dan wastra:

Pesucian dewa kalinggania pamratista bethara kabeh

Menusucikan sthana para dewa

Jadi tujuan Melasti di samping membersihkan sarana dan prasaran upakara, pratima, wastra adalah juga untuk menghilangkan segala kekotoran diri dan alam serta mengambil sari-sari kehidupan di tengah samudera. Samudera adalah lambang lautan kehidupan yang penuh gelombang suka-duka. Dalam gelombang samudera kehidupan itulah, kita mencari sari-sari kehidupan 

Setelah upacara Melasti , maka dilaksanakan upacara Tawur Kesanga. Menurut petunjuk lontar Sanghyang Aji Swamandala, Tawur Kesanga termasuk upacara Bhuta Yajna. Yajna ini dilaksanakan manusia dengan tujuan untuk menumbuhkan kesejahteraan alam lingkungan. Dalam Sarasamuscaya 135 (terjemahan Nyoman Kajeng) disebutkan bahwa untuk mewujudkan Catur Warga, manusia harus menyejahterakan semua makhluk (Bhutahita).

“Matangnyan prihen tikang bhutahita haywa tan masih ring sarwa prani.”
Artinya:

Oleh karenanya, usahakanlah kesejahteraan semua makhluk, jangan tidak menaruh belas kasihan kepada semua makhluk.

“Apan ikang prana ngaranya, ya ika nimitang kapagehan ikang catur warga, mang dharma, artha kama moksha.”

Artinya:

Karenanya kehidupan mereka itu menyebabkan tetap terjaminnya dharma, artha, kama dan moksha.
            
Upacara Taur Kesanga bertujuan untuk memotivasi umat Hindu secara ritual untuk senantiasa melestarikan alam beserta isinya. Upacara taur juga bertujuan untuk menyeimbangkan energI alam, karena alam terdiri dari energI positif dan negatiF. Melalui prosesi taur kita melakukan mecaru untuk menyeimbangkan kekuatan unsur bhuta kala sehingga dapat ikut menjaga kelangsungan dunia.

upacara Taur Kesanga identik dengan Pawai Ogoh-ogoh. Ogoh - Ogoh dilambangkan sebagai bhuta kala yang merupakan gambaran sifat buruk manusia (sad ripu) seperti marah, iri, lobha, serakah, bingung dan lain sebagainya. Setelah selesai diarak ogoh-ogoh ini akan dibakar sebagai simbola bahwa kita telah membakar sifat buruk manusia sehingga pada esok harinya umat Hindu tenang dalam melaksanakan Catur Brata Penyepian. Dalam sastra disebutkan pula bahwa pawai ogoh - ogoh juga membantu para bhuta kala meningkatkan kualitas kesucianya sehingga bhuta kala menjadi nyomya atau somya. Acara Pawai ogoh -Ogoh dilepas secara resmi oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Batam, beliau berpesan agar selama pawai peserta mematuhi peraturan, menjaga ketertiban, tidak membuang sampah sembarangan. Beliau mengajak umat Hindu ikut membantu kota Batam. Adapaun rute pawai kali adalah sepanjang Jalan Gajah Mada, Sei Ledi, sampai traffic ligt SPBU pertama lalu putar arah. Hal ini untuk menghindari kemacetan yang panjang.

Pada tanggal satu Sasih Kedasa tepat pada hari Sabtu 21 Maret 2015, dilaksanakan brata penyepian. Brata penyepian ini dijelaskan dalam lontar Sundarigama sebagai berikut:

“…..enjangnya nyepi amati geni, tan wenang sajadma anyambut karya, sakalwirnya, ageni-geni saparanya tan wenang, kalinganya wenang sang wruh ring tattwa gelarakena semadi tama yoga ametitis kasunyatan.”

Artinya:

“….besoknya, Nyepi, tidak menyalakan api, semua orang tidak boleh melakukan pekerjaan, berapi-api dan sejenisnya juga tidak boleh, karenanya orang yang tahu hakekat agama melaksanakan samadhi tapa yoga menuju kesucian.”
           
Parisada Hindu Dharma Indonesia telah mengembangkan menjadi Catur Brata Penyepian untuk umat pada umumnya yaitu:

  1. Amati Geni (tidak menyalakan api). Maksudnya adalah bukan hanya tidak menyalakan api sungguhan, namun kita harus mematikan amarah dalam diri kita sendiri.
  2. Amati Karya (tidak bekerja). Maksudnya menyepikan indera-indera kita terhadap aktivitas duniawi, mengendalikan indera-indera kita. Kita senantiasa diharapkan untuk melakukan meditasi pada Brahman.
  3. Amati Lelungan (tidak bepergian). Maksudnya adalah kita tidak membiarkan pikiran mengembara tak tentu arah, pikiran senantiasa diarahkan untuk selalu memikirkan hal-hal tentang keagungan Brahman.
  4. Amati Lelanguan (tidak mencari kesenangan). Maksudnya bahwa kita harus membatasi kesenangan sehari-hari, seperti makan dan minum, nonton TV dan sebagainya.
Tujuan utama Brata Penyepian adalah untuk menguasai diri, menuju kesucian hidup agar dapat melaksanakan dharma sebaik-baiknya menuju keseimbangan dharma, artha, kama dan moksha.   Jika kita perhatikan tujuan filosofis Hari Raya Nyepi, tetap mengandung arti dan makna yang relevan dengan tuntutan masa kini dan masa yang akan datang. Melestarikan alam sebagai tujuan utama upacara Tawur Kesanga tentunya merupakan tuntutan hidup masa kini dan masa datang. Tawur Kesanga juga berarti melepaskan sifat-sifat serakah yang melekat pada diri manusia. Pengertian ini dilontarkan mengingat kata “tawur” berarti mengembalikan atau membayar.

Sebagaimana kita ketahui, manusia selalu mengambil sumber-sumber alam untuk mempertahankan hidupnya. Perbuatan mengambil perlu diimbangi dengan perbuatan member, yaitu berupa persembahan dengan tulus ikhlas. Mengambil dan member perlu selalu dilakukan agar karma wasana dalam jiwa menjadi seimbang. Ini berarti memotivasi umat Hindu untuk selalu menyeimbangkan jiwa.

Hendaknya Nyepi dirayakan dengan kembali melihat diri dengan pandangan yang jernih dan daya nalar yang tinggi. Hal tersebut akan dapat melahirkan sikap untuk mengoreksi diri dengan melepaskan segala sesuatu yang tidak baik dan memulai hidup suci, hening menuju jalan yang benar atau dharma.

Untuk melaksanakan Nyepi yang benar-benar spiritual, yaitu dengan melakukan upawasa, mona, dhyana dan arcana. Upawasa artinya melakukan puasa, tidak makan dan minum selama 24 jam. Kata “upawasa” dalam Bahasa Sanskerta berarti kembali suci. Mona artinya tidak bicara (termasuk dalam pikiran). Dhyana artinya melakukan pemusatan pikiran pada Brahman atau lebih sering disebut meditasi. Arcana yaitu melakukan persembahyangan seperti biasa di tempat suci atau tempat pemujaan keluarga di rumah
.   
Pelaksanaan Nyepi seperti itu tentunya harus dilaksanakan dengan niat yang kuat, tulus ikhlas dan tidak didorong oleh ambisi-ambisi tertentu. Jangan sampai dipaksa atau ada perasaan terpaksa. Tujuan mencapai kebebasan rohani itu memang juga suatu ikatan, namun ikatan itu dilakukan dengan penuh keikhlasan.

Dan pada hari Minggu, 29 Maret 2014 umat Hindu Kota Batam mengadakan gerakan penghijauan sekitar pura Agung Amertha Bhuana. Kegiatan ini merupakan rangkaian peryaan hari Raya Nyepi dan rangkaian puncak hari raya Nyepi adalah Dharma Santi Nyepi yang rencananya akan diadakan di Hotel Planet Holliwood pada hari Sabtu, 25 April 2015. Semoga acara berjalan lancar.

Demikian sedikit ulasan tentang perayaan hari raya Nyepi 1937 Saka di Kota Batam, Semoga kita semua dapat melaksanakan rangkaian perayaan Nyepi 1937 saka dengan baik. Semoga melalui moment penyadaran diri untuk menjadi umat hindu yang lebih baik.  

Senin, 30 Maret 2015

Umat Hindu Batam Mengadakan Penghijauan Sekitar Pura

Anaad bhavanti bhuutani
prajnaad annasambhavad
yajnad bhavati parjanyo
yajnah karma samudbhavah

(Pancama Veda. III.14)

Makanan berasal dari tumbuhan
tumbuhan berasal dari hujan
hujan berasal dari yajna
yajna adalah karma dan kegiatan kerja itu sendiri

Pada Hari Minggu, 29 Maret 2015 hujan begitu deras membasahi kota Batam. tetapi hanya sebentar. Hal ini tidak mengurungkan niat umat Hindu Batam untuk melaksanakan penghijauan di sekitar pura. Kegiatan ini merupakan lanjutan dari rangkaian Nyepi 1937 Saka di mana Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat telah membuat surat edaran yang isinya ajakan untuk melakukan kegiatan sosial yang berdampak positif salah satunya adalah penghijauan.

dalam acara penghijauan itu hadir Ir. Wayan Jasmin, ketua Parisada Prov. Kepulauan Riau, kemudian Ketua Wanita Hindu Dharma Indonesia Provinis Kepulauan Riau Ny. Dara Astuti, Ketua Badan Otorita Pura (BOP) Komang Trisna Jaya, Ketua Banjar dan umat Hindu Kota Batam yang menyempatkan diri hadir.

Hutan adalah paru paru dunia dan Tumbuh-tunbuhan adalah penyangga hutan itu sendiri. Jika hutan rusak maka manusialah yang merasakan dampaknya seperti banjir, tanah longsor, kekeringan dan menipisnya lapisan Ozon. Sepintas memang terlihat sepele kegiata penghijauan tetapi jika semua orang mau menanam pohon maka dampaknya akan kita rasakan sampai anak cucu kita. Hutan adalah perwujudan rambut Siwa yang berfungsi menahan erosi air banjir dan sebagainya.

Budaya menanam pohon merupakan wujud nyata dari Tri Hita Karana yaitu tiga penyebab kebahagiaan hidup manusia di dunia ini yaitu: 1. Parahyangan artinya hubungan yang baik antara manusia dengan penciptanya sendiri, 2 pawongan yaitu ubungan yang baik antara manusia dengan sesama manusia, 3 palemahan yaitu ubungan yang baik antara manusia dengan alam sekitar tempat kita tinggal. Jika kita berbaik dengan alam maka alam akan baik kepada kita demikian pula sebaliknya. Budaya penghijauan harus kita sosialisasikan kepada anak-anak di pasraman. Ke depan kegiatan ini akan menjadi agenda rutin setiap tahun sebagai rangkaian Nyepi dan ditingkatkan lagi kualitas dan kuantitasnya.

Kunjungan WHDI Prov. DKI Jakarta ke Pura Agung Amertha Bhuana Batam

Pada Hari Ranu, 25 Maret 2015 umat Hindu Kota Batam kembali kedatangan tamu, kali ini dari rombongan Ibu - Ibu WHDI Prov. DKI Jakarta. Romgongan sengaja melakukan matur piuning terlebih dahulu sebelum tirtha yatra ke Kuil Siwa di Thailand dan Patung Dewa Murugan Malaysia dan terakhir singgah di Singapura. Rombongan berjumlah sekitar 150 orang. Rombongan disambut oleh Ketua WHDI Prov. Kepulauan Riau, Ny. Dara Astuti, Ketua WHDI Kota Batam, Ny. Anak Agung Ketut Adi, Sesepuh Umat sekaligus Dharma Duta Parisada, Drs. I Wayan Catra Yasa, MM, Penyelenggara Bimas Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Batam, Eko Prasetyo, S.Ag dan umat Hindu Se-Kota Batam.

Acara dimulai dengan persembahyanga bersama yang dipandu oleh Jero Mangku Putu Satria Yasa. Peserta menjadi termantapkan sradha bhaktinya setelah ketua Tim rombongan Ibu - Ibu WHDI DKI Jakarta menyampaikan Dharma Wacana tentang makna Tirtha Yatra dan manfaatnya dalam kehidupan umat Hindu. Kemudian acara dilanjutkan dengan sambutan dari Drs. I Wayan Catra Yasa, MM yang menceritakan sejarah pembangunan pura Agung Amertha Bhuana Kota Batam.

Ibu-Ibu WHDKI Prov. DKI Jakarta menyajikan tari Rejang Dewa yang merupakan Tari Penyambutan dann pemujaan pada para Dewa yang berstana di Pura ini. Ibu-Ibu WHDI Kepulauan Riau juga tidak kalah serunya, mereka menyajikan tari sambutan khas Melayu. Di akhir acara dilanjutkan dengan acara ramah tamah di aula Pasraman Jnana Sila Bhakti. Acara ramah tamah diisi dengan sambutan-sambutan, pemberian cindera mata kenang-kenangan dari WHDI DKI Jakarta, potong tumpeng, lagu melayu dan tari Maumere yang membuat suasana menjadi tambah semark.