Senin, 14 Maret 2016

Nyepi, media pensucian diri dan alam semesta


Setiap tahun umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi dengan melaksanakan berbagai rangkaian kegiatan ritual dan spiritual, sebagai wujud pengamalan ajaran Agama Hindu yang sarat dengan makna nilai filosofis. Nilai filosofis itu merupakan nilai intrinsik bagi umat Hindu, bahkan merupakan nilai universal yang dapat diaktualisasikan dalam konteks kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegaraHal ini sangat positif dan penting untuk dilaksanakan secara terus menerus setiap tahunnya. Mengingat ini merupakan salah satu upacara Panca Yajña yang bertujuan untuk menyucikan dan memuliakan para dewa, para maharsi, leluhur, bhuta kala dan kesejahteraan manusia serta proses membumikan ajaran Weda.

Di dalam kehidupan agama Hindu telah tumbuh keinginan umat Hindu untuk meningkatkan  cara-cara hidup beragama serta mendalami aspirasi agamanya   dengan   menggunakan   pendekatan rasionalistas dan filosofis guna menembus tabir dogmatisme, dengan menggunakan kajian sastra Hindu yang terhimpun dalam berbagai pustaka suci Veda, Lontar (nibhanda) dan sumber sastra lainnya. Peninggalan Leluhur Hindu yang adiluhung. Pelaksanaan Rangkaian hari Raya Nyepi merupakan usaha untuk mewujudkan loka samgraha (tempat atau suasana yang damai) dan juga satyam (kebenaran), sivam (kesucian), dan Sundaram (keindahan). Hal ini dilandasi oleh  Dharma Siddhiyarta yaitu: Iksa (Tujuan), Sakti (kemampuan), Desa (tempat), Kala (waktu), dan Tattwa (keyakinan/sastra).

Upacara Yajña  merupakan salah satu pendekatan diri kepada Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) untuk mencapai kesempurnaan lahir batin sebagaimana diungkapkan dalam sastra suci. Oleh karena itu kegiatan upacara Yajña  adalah merupakan aktivitas keagamaan yang paling tampak pertama dalam implementasi kehidupan keagamaan Hindu sesuai dengan Tri Kerangka Dasar Agama Hindu yaitu: Tattwa, Susila dan Upakara).

Dan umat Hindu di Kota batam melaksanakan perayaan Nyepi 1938 Saka dengan sederhana tetapi penuh dengan makna. rangkaian demi rangkaian telah dlakukan. Puncaknya adalah pelaksanaan Catur Brata Penyepian pada tanggal 09 Maret 2016 selama 24 jam dari Rabu jam 06.00 WIB sampai dengan Kamis jam 06.00 WIB.
                          
Hari raya Nyepi dirayakan setiap tahun sekali pada Sasih Kesanga, biasanya jatuh pada bulan Maret atau April.  Dan pada tahun ini Nyepi jatuh pada hari Sabtu, 09 Maret 2016 yang bertepatan dengan fenomena alam yaitu gerhana matahari total (GMT). Sehingga Perayaan Nyepi tahun ini betul - betul istemewa. Bahkan alam pun ikut amati geni walau hanya beberapa menit saja. Beberapa hari sebelum Nyepi diadakan upacara Melasti atau Melis dan ini dilakukan sebelum upacara Tawur Kesanga. Upacara Tawur Kesanga ini dilaksanakan pada Tilem Kesanga. Keesokan harinya, pada tanggal apisan Sasih Kedasa dilaksanakan brata penyepian. Setelah Nyepi, dilangsungkan Ngembak Geni dan kemudian umat melaksanakan Dharma Shanti.

Rangkaian Pertama Nyepi yang dilaksanakan umat Hindu Batam adalah Pelaksanaan lomba-Lomba oleh Pengurus WHDI Prov. Kepulauan Riau dan WHDI Kota Batam. Karena bertepan juga dengan HUT WHDI ke XXVIII. kemudian ada agenda Bhakti Sosial di Panti asuhan di Kota Batam. Tujuan kegiatan ini adalah membantu meringankan beban sesama menyumbangkan sebagian kecil harta kita adalah termasuk perbuatan Drewya Yajña . Parisada  telah menetapkan 4,7 % penghasilan yang kita puniakan melalui sebuah Badan Dharma Nasional (BDDN). Umat Hindu bias menyalurkan punia sebesar 4,7% dari penghasilan melalui nomor rekeNing bank BDDN Parisada. Adapun peruntukan dari dana punia BDDN Parisada ini adalah untuk pemberdayaan ekonomi umat Hindu, Pendidikan (pemberian beasiswa), dan lain-lain. Daridra dewa bhawa artinya orang yang tidak mampu juga perwujudan Tuhan. Mungkin pesan ini yang ingin disampaiakan. Bahwa dengan melayani sesama maka kita melayani Tuhan. Serve all serve the God.


Pada hari Minggu, 06 Maret 2016, sekitar pukul 17.00 WIB umat Hindu Batam mengadakan Melasti di Danau Sei Ledi. Berkaitan dengan upacara Melasti dijelaskan dalam lontar Sanghyang Aji Swamandala sebagai berikut:

Anglukataken laraning jagat, paklesa letuhing bhuwana

Artinya:
Melenyapkan penderitaan masyarakat, melepaskan kepapaan dan kekotoran alam.

Dalam Lontar Sundarigama menambahkan bahwa tujuan Melasti adalah:

Amet sarining amerta kamandalu ring telenging sagara

Artinya:

Mengambil sari-sari air kehidupan (Amerta Kamandalu) di tengah-tengah samudera.

Sumber lain menyebutkan bahwa tujuan pelaksanaan melasti adalah menyucikan sarana prasarana, pratima dan wastra:

Pesucian dewa kalinggania pamratista bethara kabeh

Menusucikan sthana para dewa

Jadi tujuan Melasti di samping membersihkan sarana dan prasaran upakara, pratima, wastra adalah juga untuk menghilangkan segala kekotoran diri dan alam serta mengambil sari-sari kehidupan di tengah samudera. Samudera adalah lambang lautan kehidupan yang penuh gelombang suka-duka. Dalam gelombang samudera kehidupan itulah, kita mencari sari-sari kehidupan 

Setelah upacara Melasti maka dilanjutkan dengan Taur Kesanga yang diadakan pada Hari Selasa, 8 Maret 2016. Menurut petunjuk lontar Sanghyang Aji SwamandalaTawur Kesanga termasuk upacara Bhuta Yajña . Yajña  ini dilaksanakan manusia dengan tujuan untuk menumbuhkan kesejahteraan alam lingkungan. Dalam Sarasamuscaya 135 (terjemahan Nyoman Kajeng) disebutkan bahwa untuk mewujudkan Catur Warga, manusia harus menyejahterakan semua makhluk (Bhutahita).

“Matangnyan prihen tikang bhutahita haywa tan masih ring sarwa prani.”
Artinya:

Oleh karenanya, usahakanlah kesejahteraan semua makhluk, jangan tidak menaruh belas kasihan kepada semua makhluk.

“Apan ikang prana ngaranya, ya ika nimitang kapagehan ikang catur warga, mang dharma, artha kama moksha.”

Artinya:

Karenanya kehidupan mereka itu menyebabkan tetap terjaminnya dharma, artha, kama dan moksha.
            
Upacara Tawur Kesanga bertujuan untuk memotivasi umat Hindu secara ritual untuk senantiasa melestarikan alam beserta isinya. Upacara taur juga bertujuan untuk menyeimbangkan energy alama, karena alam terdiri dari energy positif dan negative. Melalui prosesi taur kita melakukan mecaru untuk menyeimbangkan kekuatan unsur bhuta kala sehingga dapat ikut menjaga kelangsungan dunia.

upacara Taur Kesanga identik dengan Pawai Ogoh-ogoh. Dan pada kesempatan ini umat Hindu Batam membuat 2 (dua) ogoh-ogoh terdiri dari perwujudan bhuta kala dan sifat buruk manusia. Yang mengarak ogoh-ogoh ini juga terdiri dari laki-laki dan perempuan. Ogoh - Ogoh dilambangkan sebagai bhuta kala yang merupakan gambaran sifat buruk manusia (sad ripu) seperti marah, iri, lobha, serakah, bingung dan lain sebagainya. Setelah selesai diarak ogoh-ogoh ini akan dibakar sebagai simbol bahwa kita telah membakar sifat buruk manusia sehingga pada esok harinya umat Hindu tenang dalam melaksanakan Catur Brata Penyepian. Dalam sastra disebutkan pula bahwa pawai ogoh - ogoh juga membantu para bhuta kala meningkatkan kualitas kesuciannya sehingga bhuta kala menjadi nyomya atau somya.

Pada tanggal satu Sasih Kedasa tepat pada hari Rabu 09 Maret 2016, dilaksanakan brata penyepian. Brata penyepian ini dijelaskan dalam lontar Sundarigama sebagai berikut:

“…..enjangnya nyepi amati geni, tan wenang sajadma anyambut karya, sakalwirnya, ageni-geni saparanya tan wenang, kalinganya wenang sang wruh ring tattwa gelarakena semadi tama yoga ametitis kasunyatan.”

Artinya:

“….besoknya, Nyepi, tidak menyalakan api, semua orang tidak boleh melakukan pekerjaan, berapi-api dan sejenisnya juga tidak boleh, karenanya orang yang tahu hakekat agama melaksanakan samadhi tapa yoga menuju kesucian.”
           
Parisada Hindu Dharma Indonesia telah mengembangkan menjadi Catur Brata Penyepian untuk umat pada umumnya yaitu:

  1. Amati Geni (tidak menyalakan api). Maksudnya adalah bukan hanya tidak menyalakan api sungguhan, namun kita harus mematikan amarah dalam diri kita sendiri.
  2. Amati Karya (tidak bekerja). Maksudnya menyepikan indera-indera kita terhadap aktivitas duniawi, mengendalikan indera-indera kita. Kita senantiasa diharapkan untuk melakukan meditasi pada Brahman.
  3. Amati Lelungan (tidak bepergian). Maksudnya adalah kita tidak membiarkan pikiran mengembara tak tentu arah, pikiran senantiasa diarahkan untuk selalu memikirkan hal-hal tentang keagungan Brahman.
  4. Amati Lelanguan (tidak mencari kesenangan). Maksudnya bahwa kita harus membatasi kesenangan sehari-hari, seperti makan dan minum, nonton TV, musik dan sebagainya.
Tujuan utama Catur Brata Penyepian adalah untuk menguasai diri, menuju kesucian hidup agar dapat melaksanakan dharma sebaik-baiknya menuju keseimbangan dharma, artha, kama dan moksha.   Jika kita perhatikan tujuan filosofis Hari Raya Nyepi, tetap mengandung arti dan makna yang relevan dengan tuntutan masa kini dan masa yang akan datang. Melestarikan alam sebagai tujuan utama upacara Taur Kesanga tentunya merupakan tuntutan hidup masa kini dan masa datang. Taur Kesanga juga berarti melepaskan sifat-sifat serakah yang melekat pada diri manusia. Pengertian ini dilontarkan mengingat kata “tawur” berarti mengembalikan atau membayar.

Sebagaimana kita ketahui, manusia selalu mengambil sumber-sumber alam untuk mempertahankan hidupnya. Perbuatan mengambil perlu diimbangi dengan perbuatan member, yaitu berupa persembahan dengan tulus ikhlas. Mengambil dan member perlu selalu dilakukan agar karma wasana dalam jiwa menjadi seimbang. Ini berarti memotivasi umat Hindu untuk selalu menyeimbangkan jiwa.

Hendaknya Nyepi dirayakan dengan kembali melihat diri dengan pandangan yang jernih dan daya nalar yang tinggi. Hal tersebut akan dapat melahirkan sikap untuk mengoreksi diri dengan melepaskan segala sesuatu yang tidak baik dan memulai hidup suci, hening menuju jalan yang benar atau dharma.

Untuk melaksanakan Nyepi yang benar-benar spiritual, yaitu dengan melakukan upawasa, mona, dhyana dan arcanaUpawasa artinya melakukan puasa, tidak makan dan minum selama 24 jam. Kata “upawasa” dalam Bahasa Sanskerta berarti kembali suci. Mona artinya tidak bicara (termasuk dalam pikiran). Dhyana artinya melakukan pemusatan pikiran pada Brahman atau lebih sering disebut meditasi. Arcana yaitu melakukan persembahyangan seperti biasa di tempat suci atau tempat pemujaan keluarga di rumah.

Dan pada hari Kamis, 10 Maret 2016 Umat Hindu melaksanakan upakara Ngembag Geni. Ngembag Geni merupakan rankaian pelaksanaan Nyepi di mana umat Hindu kembali melakukan aktifitas bekerja seperti biasa, seperti memasak, berdagang, bertani dan lain sebagainya. Walaupun Nyepi sudah berakhir tetapi bukan berarti kita boleh mengumbar hawa nafsu yang berlebihan. harus ada perubahan sifat dari sebelumnya sehingga terjadi peningkatan diri dan spirirtual. Umat Hindu merayakan Ngebag Geni dengan berkunjung ke sanak saudara, mengunjungi sesepuh umat dan berkumpul bersama membicarakan dharma kehidupan. Menyampaikan pesan dharma (dharma vada). Dan sebagai puncaknya akan dilaksanakan dharma santi (sima krama) saling maaf memaafkan.
.   
Pelaksanaan Nyepi seperti itu tentunya harus dilaksanakan dengan niat yang kuat, tulus ikhlas dan tidak didorong oleh ambisi-ambisi tertentu. Jangan sampai dipaksa atau ada perasaan terpaksa. Tujuan mencapai kebebasan rohani itu memang juga suatu ikatan, namun ikatan itu dilakukan dengan penuh keikhlasan. Umat Hindu sangatlah beragam, ada yang di Bali, di Jawa, Kalimantan (Kaharingan), dan daerah lainnya, di mana pelaksanaan ritualnya pastilah berbeda. Hindu menghargai perbedaaan itu, demikian pula peryaaan Nyepi yang berbeda di setiap daerah. Semoga Keberagaman menjadi perekat persatuan.











Ogoh-Ogoh, simbol sifat buruk manusia yang harus dikurangi

Pada Hari Selasa, 08 Maret 2016 bertempat di Lapangan Parkir Pura Agung Amertha Bhuana, Umat Hindu Kota Batam menyelengarakan persembahyangan bersama dalam rangka Taur Agung Nyepi 1938 Saka seklaigus melaksanakan pawai Ogoh – Ogoh.  Acara diikuti oleh sedikitnya 200 jiwa umat Hindu yang berdomisili di Kota Batam. Hadir dalam kesempatan itu Ketut Suardita, S.Pd, M.Pd, Pembimas Hindu pada Kanwil kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau. Hadir juga Eko Prasetyo, S.Ag, penyelenggara Hindu kantor Kementerian Agama Kota Batam. Beserta ketua Lembaga agama keagamaan Hindu se-Kota Batam dan Kepulauan Riau. 

Tujuan dari Upacara Taur Agung ini adalah harmonisasi alam semesta sehingga tercipta keseimbangan antara energi positif dan negativ. Sehingga energi negative tidak dominan dan tidak menguasai pikiran manusia. Taur Agung merupakan implementasi ajaran Tri Hita Karana yang artinya 3 (tiga) hubungan yang menyebabkan kebahagiaan manusia yaitu hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, dengan sesama manusia dan dengan alam lingkungan sekitar tempat kita tinggal.

Di Sela-sela prosesi acara Pembimas Hindu dan Ketua Parisada Prov. Kepulauan Riau menjelaskan kepada media massa baik cetak dan elektronik bahwa Perayaan Nyepi tahun ini adalah sebauah sinergi yang baik antara umat Hindu, Pengurus Umat dan Pemerintah. Acara ini merupakan kerja keras panitia yang dipelopori oleh Parisada Provinsi Kepulauan Riau dan Parisada Kota Batam. Ke depan hal baik seperti ini harus kita tingkatkan dengan tetap memelihara Tri Kerukunan Umat beragama di Kota Batam. Beliau juga berpesan agar pawai Ogoh – ogoh dilaksanakan dengan tertib, tidak mengganggu pengguna jalan dan membuang sampah pada tempatnya.

Tujuan upacara Taur kesanga adalah menghilangkan energi negatif alam semesta. Hal ini dilambangkan dengan pawai ogoh-ogoh. Ogoh – ogoh merupakan penggambaran bhuta kala dan sifat buruk manusia seperti marah, iri, serakah, benci, malas dan sebagainya. Kita harus mampu memerangi sifat buruk kita yang merupakan musuh dalam diri manusia. Sehingga di akhir acara pawai ogoh –ogoh umat Hindu membakar 2 (dua) ogoh-ogoh yang artinya kita membakar dan memusnahkan sifat buruk kita. Kali ini Ogoh – ogoh sangat menarik karena umat Hindu Kota Batam membuat 2 (dua) ogoh –ogoh yang diusung dan dimainkan oleh laki-laki dan perempuan. Setelah rangkaian upacara Taur Agung dan pawai ogoh – ogoh umat Hindu akan dapat melaksanakan prosesi Catur Brata penyepaian dan menyambut tahun baru Saka 1938 Saka selama 24 jam dengan tenang dan damai. Adapun Catur Brata Penyepian adalah: 1) amati karya artinya tidak bekerja, 2) amati geni artinya tidak menyalakan api, 3) amati lelungan artinya tidak bepergian, 4) amati lelanguan artinya tidak menikmati hiburan yang menyebabkan pemuasan hawa nafsu. Catur Brata Penyepian dimulai pada Hari Rabu, 09 Maret 2016 berakhir pada hari Kamis, 10 Maret 2016. Dari Perayaan Catur Brata Penyepian diharapkan terwujudnya Keberagaman sebagai perekat persatuan yang sesuai dengan tema Perayaan Nyepi Nasional.


Melasti, Hilangkan kekotoran bhuana agung dan bhuana alit

Pada hari Minggu, 06 Maret 2016 umat hindu Kota Batam menyelenggarakan Upacara Melasti sebagai rangakaian Upacara Nyepi 1938 Saka di danau Sei Ledi, Sekupang Batam. Kegiatan diikuti oleh lebih kurang 150 orang. Dalam acara itu hadir Eko Prasetyo, S.Ag, Penyelenggara Hindu pada Kantor Kementerian Agama Kota Batam. Hadir juga ketua Parisada Prov. Kepulauan Riau, Wayan Jasmin, Ketua WHDI Kota dan Provinsi, Parisada Kota Batam serta ketua lembaga agama keagamaan se-Kota batam.

Acara dimulai pada pukul 17 WIB dan selesai pada pukul 19.00 WIB. Dalam agama Hindu melasti juga disebut dengan Mekiyis. Melasti bertujuan untuk menyucikan sarana dan prasarana upacara yang akan digunakan dalam perayaan Nyepi berikutnya seperti Taur Agung Kesanga yang jatuh pada hari Selasa, 08 Maret 2016. Melasti juga bertujuan untuk memohon kesucian lahir dan batin serta memohon tirtha amertha yang bermanfaat dalam kehidupan umat Hindu. Dalam Sastra suci dijelaskan “Amet sarining tirtha kamandalu ring telenging segara” yang artinya bahwa melasti bertujuan untuk menyerap sari-sari tirtha amerta (tirtha kehidupan) dari tengah-tengah lautan/segara). Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari surat edaran Parisada Pusat yang diteruskan kepada umat oleh Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI Jakarta. Perayaan Melasti sesuai dengan Tema Nyepi 1938 saka yang ditetapkan oleh Parisada yaitu Keberagaman Perekat Persatuan. Artinya bahwa walaupun kita berbeda-beda tetapi justru itu sebagai sarana perekat persatuan umat Hindu. Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa. Dalam susastra suci, melasti juga berarti ”anglukataken laraning jagat” yang artinya menghilangkan kekotoran dunia ini baik bhuana agung maupun bhuana alit.



GERAKAN NASIONAL REVOLUSI MENTAL BIMAS HINDU KANTOR KEMENTERIAN AGAMA KOTA BATAM


Dalam rangka mewujudkan visi dan misi Bimas Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Batam, maka diperlukan sinergi dan kerja sama dari semua pihak, pimpinan lembaga agama dan lembaga keagamaan Hindu. Penyelenggara Bimas Hindu menyelenggarakan sosialisasi gerakan nasional revolusi mental di Pura (rumah ibadah Hindu) dan dari rumah ke rumah setiap ada pertemuan umat dalam satu banjar muali bulan Januari Tahun 2016. Adapun poin-poin gerakan nasional revolusi mental tersebut adalah:
1.       Mendorong kepada umat Hindu se-Kota Batam untuk gemar membaca kitab suci Weda:
2.       Mendorong putra dan putrinya untuk mempelajari Kitab suci Weda dengan membaca sloka, palawakia, kidung keagamaan dan saran persembahyangan dari yang sederhana dahulu seperti canang sari dan kewangen;
3.       Mendorong putra dan putrinya untuk terus aktif belajar di Pasraman Jnana Sila Bhakti;
4.       Mengajarkan kepada putra putrinya untuk membaca doa sebelum memulai aktivitas sehari-hari menurut agama Hindu;
5.       Melaksanakan sembahyang Tri Sandhya 3 (tiga) kali sehari;
6.       Menghimbau kepada umat untuk menjaga kebersihan, keamanan dan ketertiban serta kesucian Pura (ikut merasa memiliki);
7.       Menghimbau kepada warga banjar atau umat Hindu untuk berdana punia (Bersedekah) sesuai dengan kemampuan tanpa ada paksaan;
8.       Menjaga kerukunan intern dan ekstern umat beragama;
9.       Mendukung program pemerintah seperti Anti korupsi, Indonesia sehat, kemandirian ekonomi, anti narkoba, penyalahgunaan obat terlarang dan miras, anti rokok, pencegahan penyebaran HIV AIDS, kantibmas, dsb;
10.   Melaksanakan kajian – kajian nilai - nilai keagamaan melalui Sad Dharma: dharma gita (seni membaca dan melagukan kitab suci Weda), dharma santi (berkumpul menyatukan pendapat), dharma wacana (ceramah Agama), dharma thula (Dialog dan tanya jawab keagamaan), dan dharma sadhana (disiplin spiritual), Dharma Yatra (mengunjungi tempat suci), dan Dharma Sadhana (disiplin spiritual).

      Penyelenggara Bimas Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Batam juga menghimbau kepada Pimpinan Lembaga Agama (Majelis/Parisada Hindu Dharma Kota Batam) dan Lembaga Keagamaan Hindu seperti Badan Otorita Pura Agung Amertha Bhuana (BOP), Wanita Hindu Dharma Indoneisa (WHDI) Kota Batam, Unit Kerohanian Hindu Batamindo (UKHB), dan Lembaga Pendidikan Keagamaan Hindu yaitu Pasraman Jnana Sila Bhakti dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) serta seluruh Ketua Banjar Se-Kota Batam untuk melaksanakan dan mendukung Gerakan Nasional Revolusi Mental dengan cara:

      Bimas Hindu juga wajib membuat Spanduk yang berisikan pesan revolusi mental dengan bekerja sama dan berkoordinasi dengan Pimpinan Lembaga/Majelis yang ada di Kota Batam, di samping juga membuat kegiatan yang berhubungan dengan Gerakan nasioanl Revolusi Mental, contoh: seminar Dharma wacana (ceramah keagamaan), Bakti Sosial, Kerja Bhakti, donor darah, senam, pembinaan generasi muda, sosialisasi anti narkoba, sosialisasi HIV AIDS, anti rokok, dll;

      Penyelenggara Hindu juga Mensosialisasikan 5 (lima) budaya kerja di lingkunngan Pura dan Banjar se-Kota Batam seperti: Integritas/kejujuran, pengabdian, dedikasi pada pekerjaan (Keselarasan antara hati, pikiran, perkataan, dan perbuatan yang baik dan benar). Profesionalitas (Bekerja secara disiplin, kompeten, dan tepat waktu dengan hasil terbaik), Inovatif (Menyempurnakan yang sudah ada dan mengkreasi hal baru yang lebih baik); Tanggung Jawab (Bekerja secara tuntas dan konsekuen) yang terakhir adalah Keteladanan (Menjadi contoh yang baik bagi orang lain).


Kegiatan Sosialisasi Kurikulum 2013 bagi Guru Agama Hindu di Kepulauan Riau

Pada Hari Sabtu 12 Desember s/d Minggu, 13 Desember 2015 Pembimas Hindu Kanwil Kementerian Agama Provinsi Keupulauan Riau menyelenggarakan kegiatan Kegiatan Sosialisasi Kurikulum 2013 di Provinsi Kepulauan Riau di Aula Kudri Syam, Kantor Kementerian Agama Kota Batam, Jl. Ir Sutami, Sei Harapan, Kota Batam. Acara ini diikuti oleh lebih kurang 20 (dua puluh) peserta yang berasal dari guru-guru Pasraman Jnana Sila Bhakti Kota Batam dan Pasraman Brahma WIdya Satwika Kabupaten Bintan.
            Acara ini mengambil tema Melalui Kegiatan Sosialisasi Kurikulum 2013 Kita tingkatkan Profesionalisme Guru Pasraman dalam upaya memajukan pendidikan Keagamaan Hindu. Acara dibuka secara resmi oleh Ka-Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau dalam hal ini diwakili oleh Bpk. Lukman. Acara juga dihadiri oleh Pembimas Hindu, Ketut Suardita, S.Pd, M.Pd. juga dihadiri oleh Eko Prasetyo, S.Ag selaku penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Batam.
            Paparan pertama disampaikan oleh Bpk. Lukman kemudian dilanjutkan dengan Ketut Suardita, S.Pd, M.Pd, Pembimas Hindu dengan Materi strategi memajukan pendidikan Keagamaan Hindu di Provinsi Kepulauan Riau. Kagiatan ini sangat bermanfaat bagi para guru khususnya guru-guru yang mengajar agama Hindu di Pasraman. Mengingat aspek penilaian dalam kurikulum 2013 sangat komplek dan menyeluruh mulai dari toeri, sikap dan praktek keagamaan. Guru diharapkan mampu meningkatkan kompetensi sehingga dapat mentransfer ilmu dengan baik. 

Kegiatan Pembinaan Siswa Pasraman di Kepulauan Riau

Pada Hari Minggu, 13 Desember s/d Senin, 14 Desember 2015 Pembimas Hindu Kanwil Kementerian Agama Provinsi Keupulauan Riau menyelenggarakan kegiatan Pembinaan Siswa Pasraman di Wilayah Provinsi Kepulauan Riau di Aula Kudri Syam, Kantor Kementerian Agama Kota Batam, Jl. Ir Sutami, Sei Harapan, Kota Batam. Acara ini diikuti oleh lebih kurang 20 (dua puluh) peserta yang berasal dari siswa-siswi Pasraman Jnana Sila Bhakti Kota Batam dan Pasraman Brahma Widya Satwika Kabupaten Bintan.
            Acara ini mengambil tema Melalui Kegiatan Pembinaan Siswa Pasraman Kita Tumbuhkan Kualitas dan Daya Saing Siswa Pasraman dalam bidang Agama Hindu. Acara dibuka secara resmi oleh Ka-Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau, Drs. H. Marwin, M.Ag. Acara juga dihadiri oleh Pembimas Hindu, Ketut Suardita, S.Pd, M.Pd. juga dihadiri oleh Eko Prasetyo, S.Ag selaku penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Batam.

            Paparan pertama disampaikan oleh Drs. H. Marwin, M.Ag selaku Ka-Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau dengan topik Peran Pemuda dalam Pembangunan Bangsa. Paparan berikutnya disampaikan oleh Ketut Suardita, S.Pd, M.Pd selaku Pembiams Hindu dengan Materi Makna Sarana Persembahyangan. Anak-anak begitu antusias mengikuti kegiatan ini dari awal sampai akhir. Dari kegiatan ini diharapkan semua siswa dapat meningkat kompetensinya di bidang agama Hindu. Dari Kegiatan ini melahirkan rekomendasi bahwa perlu ada Kegiatan Perkemahan/Jambore Pemuda/Pelajar lintas agama se-Provinsi Kepulauan Riau, dan direspon dengan baik oleh Ka-Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau. Semoga dapat terlaksana.

Pembimas Hindu Kanwil Kemenag Kepri selenggarakan Kegiatan Pembinaan Ekonomi Kreatif

Pada Hari Kamis, 10 Desember 2015 s/d 12 Desember 2015 Pembimas Hindu Kanwil Kementerian Agama Provinsi Keupulauan Riau menyelenggarakan kegiatan Pembinaan Ekonomi Kreatif Lembaga Keagamaan Hindu Provinsi Kepulauan Riau di Aula Kudri Syam, Kantor Kementerian Agama Kota Batam, Jl. Ir Sutami, Sei Harapan, Kota Batam. Acara ini diikuti oleh lebih kurang 40 (empat puluh) peserta yang berasal dari Pimpinan Lembaga agama dan keagamaan serta lembaga pendidikan keagamaan Hindu dari Kota Batam, Kabupaten Bintan dan Kota Tanjung Pinang. Di Prov. Kepulauan sendiri ada beberpa organisasi lembaga agama dan keagamaan seperti Parisada Prov. Kepulauan Riau, Parisada Kota Batam, WHDI (Wanita Hindu Dharma Indonesia) Provinsi Kepulauan Riau dan Kota Batam, DPP PERDAHA (Perhimpunan Pemuda Hindu), BPH (Badan Penyiaran Hindu). Dan Pasraman Jnana Sila Bhakti (Lembaga Pendidikan Keagamaan Hindu).
            Acara ini mengambil tema Melalui Kegiatan Pembinaan Ekonomi Kreatif, Kita Wujudkan Umat Hindu yang memilikki Keterampilan dalam Pemberdayaan Lembaga Keagamaan Hindu. Acara dibuka secara resmi oleh Ka-Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau dalam hal ini diwakili oleh Pembimas Hindu, Ketut Suardita, S.Pd, M.Pd. Acara juga dihadiri oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Batam yang diwakili oleh Kasubbag Tata Usaha, H. Muhammad Dirham, S.Ag, M.Sy. Acara juga dihadiri oleh Eko Prasetyo, S.Ag selaku penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Batam.
            Paparan pertama disampaikan oleh Drs. I Wayan Catra Yasa, MM dengan topik Kiat-Kiat Pemberdayaan Ekonomi Kreatif Lembaga Keagamaan Hindu. Adapun paparan berikutnya disampaikan oleh H. Subadi, S.Ag, M.Si selaku Kabag Tata Usaha Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau dengan topik Upaya Pencegahan Radikalisme Melalui Pendekatan Agama. Dan Materi yang terakhir adalah Strategi Pemberdayaan Ekonomi Umat yang disampaikan oleh I Made santika, S.Sos, M.Si, Kasubdit Pemberdayaan Umat, Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI.

             

Minggu, 04 Oktober 2015

PUJAWALI PURNAMA SASIH KAPAT PURA GIRINATHA PUNCAKSARI BINTAN


Pada hari Senin Kliwon, 28 September 2015 umat Hindu di Kota Tanjung Pinang, Kabupaten Bintan dan sekitarnya mengikuti prosesi pujawali. Walaupun kabut asap sedikit menggangu pernafasan, jarak pandang dan aktivitas lainya, tetapi umat Hindu tidak mengurungkan niatnya untuk melaksanakan pujawali, terlebih pada pujawali kali ini panitia menghadirkan 2 (dua) narasumber dari redaksi Media Hindu Jakrta yaitu Bapak Dewa Ketut Suratnaya dan Ibu Tiwi Susanti. Pujawali diikuti oleh lebih kurang 100 umat dari kota tanjung pinang, kabupaten Bintan dan beberapa umat Hindu dari Kota Batam yang bias menyempatkan diri hadir. Hadir dalam kesempatan itu Ketut Suardita, S.Pd, M.Pd selaku Pembimas Hindu pada Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau, Purwadi, S.Ag selaku Penyuluh PNS Agama Hindu Provinsi Kepulauan Riau, kemudian Nyonya Dara Astuti selaku Ketua WHDI Prov. Kepulauan Riau, kemudian Penyelenggara Hindu Kantor Kemetenrian Agama Kota Batam Ketua PHDI, WDHI Kab. Bintan, PHDI dan WHDI Kota Tanjung Pinang dan pimpinan lembaga agama dan kegamaan lainya.

Pujawali selalu diidentikkan dengan hari ulang tahun pura. Tetapi bukan ulang tahun seperti yang kita tayakan setiapa tahunya. Pujawali diperingati secara berkala, ada yang setiap enam bulan ada juga yang setahun sekali, tergantung kemampuan umat Hindu. Pujawali diambil berdasarkan wewaran, wuku, sasih tidak berdasarkan tanggal seperti ulang tahun kita sebagai manusia. Pujawali lebih ke arah aktivitas spiritual, ritual umat Hindu untuk memuja kembali (Puja mewali) turunya Ida Bhetara yang bersthana di Pura yang kita usung.

Pada H-1 pujawali, umat Hindu di Tanjung Pinang dan Kabupaten Bintan dan sekitarnya mengikuti ruwatan/panglukatan Nawa Ratri dengan menggunakan sedikitnya 9 (sembilan) warna bunga ditambah air kelapa gading yang sudah tidak diragukan lagi kasiatnya. Tujuan dari panglukatan ini adalah menghilangkan segala jenis kekotoran batin akibat dari aktifitas pikiran, perkataan dan perbuatan kiita, ditambah lagi dengan gelombang suka dan duka yang selalu dialami manusia. Pikiran harus dimurnikan agar kita siap menerima gelombang suka dan duka kehidupan. Di rumah umat bisa sendiri melakukan pengkukatan dengan air kelapa gading pada saat bulan purnama. Di mana dupa yang menyala kita celupkan dalam air kelapa gading yang bermakna menghidupkan kekuatan Brahma dalam air kelapa gading itu setelah itu kita percikkan ke pelinggih, rumah, pekarangan, tubuh kita dan bisa di minum terutama oleh ibu yang sedang hamil, bias juga ketika energi sedang ngedrof. Banyak sekali permasalahan umat yang muncul, di sinilah peran rohaniawan di samping melayani umat di bidang ritual keagamaan, pendidikan pasraman, juga harus mampu memecahkan masalah umat, bimbingan konseling segala bidang dari kelahiran, perkawinan, kematian bahkan konsultasi secara skala dan niskala, sehingga umat akan tercerahkan secara skala dan niskala. Kita harus mampu menjawab tantangan dan permasalahan yang dihadapi oleh umat Hindu. Di satu sisi banyak sekali berita menggembirakan bahwa banyak umat lain yang berbondong-bondong pindah ke agama Hindu, terutama di Jawa, tetapi kita harus siap membina mereka, memberikan pelayanan manusa Yajña mulai dari kelahiran, raja sewala, pengurusan perkawinan, rumah ibadah, pendidikan pasraman sampai pada urusan pitra Yajña/pengebenan dan konseling permalahan kehidupan, niscaya umat yang baru masuk tidak kembali ke agama yang lama. Pemerintah bekersama dengan Parisada dan lembaga keagamaan lainya beserta umat Hindu harus bersatu memecahkan permasalahan ini.

Pujawali kali ini terbilang istemewa karena kembali bertepatan dengan bulan Purnama sekaligus gerhana bulan yang berwarna merah, walau tidak dapat terlihat di wilayah Indonesia.  Tentunya bulan Purnama sangat baik untuk melakukan aktifitas Yajña apalagi pujawali. Setelah persembahyangan bersama yang dipimpin oleh Jro Mangku Pasek Okadana, Pembimas Hindu memberikan kata sambutan. Dalam sambutanya Pembimas Hindu mengajak umat Hindu di Tanjung Pinang untuk menjaga kerukunan umat, persatuan umat. Jika sudah tidak rukun maka tidak akan nyaman dalam beribadah. Beliau juga memberi apresiasi yang tinggi kepada panitia pujawali yang telah bekerja keras mulai dari persiapan, perencanaan, pelaksanaan hingga pada proses laporan pertanggung jawaban pelaksanaan Pujawali. Tidak lupa beliau sekaligus mewakili umat Hindu Kota Tanjung Pinang megucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu jalannya pujawali dari awal sampai akhir.

Selanjutnya umat Hindu Tanjung Pinang mendengarkan dharma wacana, kali ini dibawakan oleh Dewa Ketut Suratnaya dari Media Hindu Jakarta. Dalam dharma wacananya beliau menyatakan bahwa Pujawali pada umumnya diawali dengan prosesi Mecaru. Mengapa harus mecaru? Mecaru berasal dari kata “car” yang artinya bersih. Membersihkan energi negatif, mengubah dominasi energi negatif menjadi energi positif. Mecaru adalah persembahan pada Bhuta atau kekuatan alam, pada penguasa ruang dan waktu (kala). Mecaru juga bisa dimaknai sebagai persembahan pada pertiwi karena manusia hidup di atas bumi, sehingga manusia harus hormat kepada Ibu pertwiwi (bumi). Mecaru dapat menyucikan area pura, meningkatkan energi spiritual pura atau skaralisasi area pura. Caru biasanya di sertai dengan ayam dan banten lainya seperti daksina. Pada tingkatan energi bulu-bulu ayam akan bekerja untuk membersihkan energi yang negatif di area  pura. Sehingga ke depannya energi pura dapat bekerja dengan sendiri untuk membersihkan kekotoran yang ditimbulkan oleh ulah manusia baik sengaja maupun tidak sengaja. Mengapa caru harus disertai dengan banten daksina?, sebab kalau tidak maka roh sang ayam tidak akan mengalami evolusi roh ke arah yang lebih baik, dan jika hal ini terjadi maka hal ini tidak lebih dari pembunuhan terhadap ayam itu sendiri, ayam tidak mengalami roh yang lebih baik. Di sinilah pentingnya banten daksina sebagai media pengantar roh sang ayam. 

Banten pujawali secara umum ada 3 (tiga) fungsi yaitu:  byakala, atau bermakna persembahan kepada bhuta kala atau ebayar “bya” kala yaitu membayar hutang kepada ruang dan waktu dan penguasa waktu “kala: itu sendiri. Manusia berhutang kepada raung dan waktu, berhutang atas hidup dan waktu untuk bernafas. Yang kedua adalah banten durmanggala yang biasanya ada kelapa hijaunya sebagai simbol Wishnu yang memelihara ciptaan Brahma pada proses penciptaan. Kemudian ada unsur prayascita yang berfungsi pembersihan akhir dan membersihkan sifat—sifat Yajña yang rajasik dan tamasika menjadi sattwika. Di sini peran Siwa lebih dominan dalam proses prayascita sehingga kehidupan manusia di bumi ini menjadi atenang dan damai. Pada tahap selanjutnya akan terjadi proses ektoplasma di mana terjadi persatuan antara yantra, tantra dan mantra sehingga Yajña menjadi sidhi. Yantra merupakan simbol-simbol/nyasa dalam upacara pujawali. Sedangkan tantra yang merupakan teknik dari menghidupkan mantra dan banten pujawlai itu sendiri. Terakhir adalah peran mantra yang diuncarkan manggalaning upacara juga menentukan keberhasilan Yajña. Mantra adalah kata – kata tetapi tidak semua kata-kata adalah mantra. Lalu kata-kata yang bagaimana agar bias disebu mantra? Tentunya kata-kata yang mengandung doa, kata-kata yang berasal dari Weda Sruti atau Smerti, kata-kata Weda yang diucapkan dengan penuh keyakinan akan keberhasilanya. Jika tidak memiliki sradha atau keyakinan terhadapa mantra maka lebih baik jangan ucapka mantra itu. Hal ini sangat luar biasa sehingga di sini kebehaslan karya akan terjadi sehingga ada istilah lascayra (keikhlasan) sehingga membuat karya menjadi sidhi karya (Yajña yang berhasil) dan labda karya (membawa kesejahteraan dan kesucaian umat). Unsur yantra, tantra dan mantra tidak bisa dipisahkan dalam proses Yajña baik oleh sang yajamana, serathi banten dan manggalaning upacara jika ingin berhasil. Jika ini terjadi maka pura dapat menyerap energi 3 (tiga) dewa yang kita kenal dengan Tri Murti dan energi dari ista dewata lainya terlebih leluhur. Sungguh lar biasa kekuatan dari yantra, tantra dan mantra.

Lalu mengapa harus ada mendak nuntun Ida Bhetara, mekalya hyas, purwa daksina dan tari rejang dewa? Perlu kita ketahui ada 3 (tiga) sifat Tuhan yaitu: Parama Siwa di mana Tuhan tidak ada pengaruh maya, tidak tepikirkan, acintya rupa, tidak berwujud. Kemudian Sada Siwa, di sini sudah ada sedikit pengaruh maya.  terakhir adalah Siwa di mana Tuhan sudah berwujud dan terjadi pengaruh maya dan suka dukkha kehidupan. Konsep Tuhan sebagai atau jiwa-jiwa dalam makhluk hidup yang sudah mengalami gelombang suka duka kehidupan, terkena pengaruh maya, panas dingin dan dualisme duniawi lainnya. Di sinilah ditemukan bukti bahwa Atman adalah Brahman itu sendiri yang ada pada setiap makhluk hidup dan terkenan pengaruh maya. Tuhan dalam prabhawa-Nya sebgai Ida Bhetara yang berstana di Pura dapat kita puja dengan visualisasi berupa simbol dan wujud tertentu, hal ini memudahkan kita untuk berkonsentrasi memuja Tuhan. Tuhan kita umpamakan seperti raja yang harus kita hormati, kita layani, kita buat beliau merasa senang dan inilah jalan bhakti yang sangat universal. Bahkan Atmasnastusti atau kepuasan batin dalam Yajña mendapat tempat yang tinggi dan menjadi sumber hukum Hindu sesuai yang tersurat dalam Kitab Manu Smerti atau Manawa dharma sastra. Sehingga sering kita umat Hindu melakukan menghias Ida Bhetara, menggotong jempana/daksina linggih Ida Bethara ke pura atau tempat suci lainya. Di sini bukan berarti Ida Bethara di Pura A kosong karena umatnya membawa daksina linggih Ida Bhetara ke Pura B atau tempat suci lainya. Di Jabodetabek biasa kita jumpai saat umat Hindu ngiring Ida Bhtetara ke pura lain yang sedang ada pujawali, mendak tirtha, nyegara gunung atau melasti. Kembali inilah penerapan konsep bhakti dan berkembang menjadi etika yang kita jadikan norma bersama dalam setiap upacara Yajña termasuk pujawali. Umat Hindu juga membuat banten gelar sanga untuk dimensi alam bawah. Ini untuk mengantisipasi kehadiran Ida Bhetara yang terkadang hadir sendiri, tetapi terkadang membawa banyak teman dan pasukanya.

Selanjutnya dalam pujawali biasanya umat Hindu melakukan aktifitas Purwa daksina biasanya berputar  mengelilingi padmasana searah jarum jam yang mengandung makna bahwa kita harus ikut memutar roda kehidupan di jalan yang benar. Jika kita tidak bekerja mencari nafkah maka kita akan tergials dalam perputaran roda kehiupan Purwa daksina juga merupan bentuk penghormatan kepada Tuhan seru sekalian alam agar dunia ini tetap tegak.


Lalu mengapa kita sembahyang harus ke pura? Pura mempunyai energi “datu” yang leih baik di banding datu di rumah atau di kantor. Tetapi terkadang kareana alasan tidak mau bergaul dengan orang lain kadang umat tidak mau ke pura karena berbagai alasan di antaranya bahwa Tuhan bisa di puja di mana saja, memang benar seperti itu akan tetapi pura jauh lebih baik dalam hal vibrasi dan kesucian. Akan berbeda jika kita sembahyang di rumah atau di tempat yang lainya. Kita duduk dan sembahyang saja sudah akan menerima vibrasi positif pura, apalagi kita melakukan meditasi, japa dan yoga lainya. Pelinggih pura juga memiliki fungsi yang sangat besar dalam proses pemunian pikiran karena pelinggih berfungsi sebagai akses menuju Tuhan. Dengan alasan ini maka umat Hindu harus memberdayakan pura, umat harus pergi ke pura karena Pura mempunyai Datu yang lebih baik dibandingkan sembahyang di rumah. Panca Datu mewakili lima elemen logam dan juga unsur Panca Maha Bhuta. Datu tidak hanya di tanam di pura, tetapi juga bisa di rumah, kantor, dan bahkan dalam tubuh manusia. Dalam tubuh manusia ada unsur panca datu yang harus dihidupkan agar bermanfaat bagi hidup kita yaitu: getah bening, lemak, daging, tulang, sungsum. Di rumah juga bisa ditanam jahe, lengkuas kunyit jadi satu dalam satu pot tanaman atau tanah.

Pada pekembanganya peran pemangku dan pinandita harus kita tingkatkan. Jangan kita batasi. Kalau dulu pemangku hanya bertugas memberikan pelayanan di bidang upakara Yajña, maka sekarang pemangku bertugas memberikan peyuluhan umat dan bimbingan konseling tenis keagamaan lainnya. Pemangku pada perkembanganya berhak untuk muput upacara Yajña termasuk karya pujawali. Di sini terkadang umat terlalu takut dan beranggapan bahwa seolah-olah pujawali harus dipuput oleh seorang sulinggih atau dwijati seperti pedanda, Ida Resi, dan sebagainya, sehingga peran pemangku termarinalkan. Jika umat terbingungkan oleh rohaniawan maka kembalilah ke sastra. Tuhan dalam Bhagavadgita mengatakan bahwa hendaknya orang suci yang bijaksana tidak membingungka umat demu kepentingan materi dan kepenteingan lainnya. Dalam sastra sebuah uaakara harus ada tri Manggalaning upakara yaitu sang yajamana, serathi banten dan manggalaning upakara. Pemuput Yajña tidak harus sulinggih untuk tingkatan pujawali. Di sini harus ada sinergi dan hubungan antara tri Mangalaning Yajña. Satu dengan yang lain tidak dapat terpisahkan keberadaanya, sehingga yajnya yang satwika dapat terwujud.

Untuk mewujudkan pelaksanaan Yajña yang sāttwika, ada tujuh syarat yang wajib untuk dilaksanakan sebagai berikut: 1) Śraddhā artinya dalam melaksanakan Yajña harus keyakinan, jika tidak maka akan sa-sia. 2) Lascarya artinya ikhlas. 3) Śāstra yaitu pelaksanaan Yajña harus berdasarkan sumber śāstra yaitu śruti, smŗti, śila, ācāra, ātmanastuṣṭi. 4) Dakṣiṇa adalah harus ada persembhan benda atau uang. 5) Mantra dan Gītā adalah pelaksanaan Yajña dengan Mantra dan melantunkan lagu-lagu suci/kidung untuk pemujaan. 6) Annasewa, yaitu dalam upacara yaja harus ada persembahan makan kepada para tamu yang menghadiri upcara (Atithi Yajña). 7) Nāsmita adalah Yajña yang dilaksanakan dengan tujuan bukan untuk memamerkan kemewahan dan kekayaan.

kualitas suatu upakara tergantung pada ketulusan, karena kemewahan upakara yang bukan merupakan jaminan yang mutlak keberhasilan upakara yang dilakukan oleh umat. Agar sebuah upaara Yajña behasil maka harus ada unsur Panca Tarka yaitu Iksa atau tujuan dari upakara Yajña, Śakti atau kemampuan umat, desa atau tempat berlangsungnya upakara, kalau upakara dilaksanakan di Kep Riau dan Tanjung Pinang maka akan berbeda dengan pelaksanaan upakara yajna di Bali. kemudian kala atau waktu, yang terakhir adalah tattwa, di mana yajna harus berpedoman pada śāstra Agama. Jangan jor – joran dan merusak kelangsungan alam dan makhluk hidup. Tetapi jangan juga pelit, mampu melakukan upakara yajna tetapi pura-pura tidak mampu, sehingga proses yajna dan dana punia tidak berjalan. Dalam sepbuah yajna jika ingin berhasil maka harus ada daksina kepada rohaniawan dan annasewa atau permbahan makanan baik kepada rohaniawan dan umat Hindu. Jika rohaniawan tidak diberi daksina dan pulang dengan perut yang belum terisi makanan, maka yajan upakara sebesar apapun akan menjadi pahala rohaniawan yang muput karya upakar yajna termasuk pujawali. Ini harus kita pikirkan bersama agar sebuah yajna menjadi lascarya, sidhi karya dan labda karya.  Sehingga akan terwujud loka samgraha, semoga.