Selasa, 18 April 2017

Perayaan Hari Raya Kuningan di Kota Batam



Pada hari Sabtu, 15 April 2017 umat Hindu kota Batam kembali merayakan hari raya Kuningan sebagai bagian dari rangkaian hari raya Galungan sebelumnya. Persembahyangan dilakukan pada 2 (dua) waktu yang berbeda. Di pagi harinya dilangsungkan di Pura Satya Dharma Muka Kuning, Batamindo dan pada malam harinya dilaksanakan di Pura Agung Amertha Bhuana, daerah South Link,  Kota Batam. Hadir pada kesempatan itu Penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Batam, pengurus majelis Parisada Hindu Dharma Indonesia Provinsi Kep. Riau dan kota Batam, Ketua BOP, Ketua UKHB, Ketua Peradah Kepri, pengurus WHDI dan lembaga keagamaan lainnya.

Menurut Putu Suardika selaku Ketua Unit Kerohanian Batamindo (UKHB) ditemui pada hari Sabtu pagi di Pura Satya Dharma, Kawasan Industri Muka Kuning, Batamindo, hal ini terjadi karena masayarakat hindu Kota Batam beragam latar belakang profesinya. Ada yang masuk kerja dan tidak bisa meninggalkan pekerjaan.

Pada malam harinya, di Pura Agung Amerta Bhuana, Kawasan South Link, Sei Ledi, I Gusti Ngurah Anom selaku Wakil Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Prov. Kepulauan Riau berkesempatan memberikan dharma wacana (ceramah keagamaan) perihal Kuningan. I Gusti juga menegaskan bahwa Hari Raya Kuningan jatuh setiap 210 hari sekali atau sekitar 6 bulan tepatnya 10 hari setelah hari raya Galungan. Hari raya Kuningan jatuh setiap hari Sabtu Kliwon wuku Kuningan. Kuningan berasal dari kata “Kawuningan” yang artinya kesejahteraan dan kemakmuran. Kuningan adalah hari di mana Tuhan dan leluhur menganugerahkan kemakmuran kepada keturunannya. I Guti juga berpesan kepada para siswa pasraman agar selalu berbhakti kepada orang tua, membantu orang tua dan rajin belajar, rajin sembahyang. Karena orang tua adalah perwujudan leluhur di muka bumi ini.

Di akhir wacananya I Gusti menjelaskan bahwa dalam Kuningan menggunakan upakara sesaji yang berisi simbul tamiang dan endongan. Di sinilah terjadi pencurahan kasih sayang leluhur kepada anak cucunya dengan mendatangi kita untuk memberi berkat dan petunjuk bagi kita semua. Maka seyogyanya kita juga harus menghaturkan sesaji tempat leluhur kita berstana. Kuningan juga merupakan perlambang kasih sayang orang tua kepada anaknya yang diwujudkan dengan kompek/endongan, kolem dan Tamiang memiliki lambang perlindungan dan juga juga melambangkan perputaran roda alam yang mengingatkan manusia pada hukum alam. Jika masyarakat tak mampu menyesuaikan diri dengan alam, atau tidak taat dengan hukum alam, risikonya akan tergilas oleh roda alam. Tamyang sebagai simbol penolak malabahaya. Simbol cakra pada banten Kuningan menggambarkan bahwa kita juga harus memutar roda ekonomi kehidupan  Sebuah keluarga harus mampu memberdayakan potensi ekonomi keluarga. (ep2017)




Dharma Santi Nyepi 1939 Saka di Kota Batam

Pada hari Rabu, 5 April 2017, bertempat di Pondok Santai Kak Dadut, Kawasan Sei Ledi, South Link, Kecamatan Sei Beduk Kota Batam, sekitar 600 umat Hindu Kota Batam merayakan Dharma Santi sebagai acara puncak perayaan hari raya Nyepi 1939 Saka. Acara dihadiri oleh Parisada Prov. Kep. Riau, WHDI Prov. Kepulauan Riau, Penyelenggara Hindu kantor Kementerian Agama Kota Batam, Ketua lembaga keagamaan Hindu.

Dalam Sambutannya I Wayan Jasmin selaku ketua Parisada Hindu Dharma Prov. Kepulauan Riau mengajak umat Hindu untuk terus aktif dalam kegiatan keagamaan di pura. Wayan juga menyampaikan bahwa konsep dharma santi tahun ini penuh kesederhanaan berbeda dari tahun sebelumnya.

Selanjutnya I Wayan Catra Yasa selaku ketua Paruman Walaka Parisadas Prov. Kepulauan Riau menyampaikan pesan bahwa umat Hindu harus mampu mengendalikan diri dan memerangi musuh dalam diri kita yang dinamakan Sad Ripu (enam musuh dalam diri manusia) yaitu kemarahan, kesombongan, kemalasan keserakahan, iri, dan kebingungan.

Wayan juga menjelaskan Sad Dharma dalam agama Hindu yang artinya enam metode pembinaan umat Hindu yaitu darmathula atau diskusi tanya jawab, dharmawacana atau ceramah keagamaan, dharmagita atau seni baca dan menyanyikan kitab suci Weda, dharma- yatra artinya berkunjung ke tempat suci, dharmasadhana melakukan latihan disiplin rohani seperti meditasi, puasa dan sebagainya, dan dharmasanti yang berarti berkumpul bersama membicarakan dan mendengarkan ajaran kebenaran.


Putu Suardika selaku Ketua Panitia pelaksana memberi apresiasi kepada umat Hindu dan panitia yang telah bekerja keras mempersiapkan segala sesuatunya. Dharma santi ini adalah dari kita, untuk kita dan oleh kita. (ep2017)

Hari Raya Galungan di Kota Batam

Bertempat di Pura Satya Dharma Muka Kuning, Batamindo, pada hari Rabu Kliwon, Wuku Dungulan, 5 April 2017, umat Hindu Kota Batam mengadakan persembahyangan bersama memuja kebesaran Tuhan di hari raya Galungan. Hari raya ini jatuh setiap 6 (enam) bulan sekali, tepatnya 210 hari. Tujuan dari peringatan hari raya ini adalah untuk merayakan kemenangan dharma (kebenaran) melawan adharma.

Menurut penyelenggara Hindu Galungan hari di mana umat Hindu merayakan kemenangan dhamra (kebenaran) melawan adharma (ketidak benaran). Penyelenggara Hindu mengajak Umat Hindu di Kota Batam untuk senantiasa membentengi diri dengan dharma dalam setiap gerak pikiran, perkataan dan perbuatan untuk mewujudkan loka samgraha (tempat yang damai). Kemenangan di sini bukan kemenangan dalam artian fisik dan menggunakan senjata, tetapi sejauh mana kita mengalahkan musuh dalam diri kita yang dalam agama Hindu di sebut Sad Ripu (enam musuh) yaitu: kama (nafsu yang berlebihan), loba (serakah), krodha (kemarahan), moha (kebingungan), mada (mabuk), dan matsarya (iri hati). Keenam musuh ini akan menghambat kemajuan spiritual kita dan pada akhirnya berpengaruh kepada kepribadian kita dan kita tidak bisa diterima dalam pergaulan di masyarakat. Untuk merayakan kemenangan kita dalam mengalahkan enam musuh ini maka Umat Hindu merayakan Hari raya Galungan.

Eko juga menambahkan bahwa dalam kitab Sundarigama disebutkan bahwa umat Hindu wajib merayakan hari raya Galungan setiap 6 (enam) bulan sekali atau tepatnya 210 hari sekali. Galungan hendaknya dirayakan pagi hari atau sebelum jam 12 siang. Tetapi karena banyak umat Hindu di Kota Batam yang bekerja di perusahaan-perusahaan dan instansi lainnya maka pengurus pura menggelar perayaan Galungan pada malam harinya dengan tempat yang berbeda yaitu di Pura Agung Amertha Bhuana, Kota Batam. (ep2017)



Tawur Kesanga dan Pawai Ogoh - Ogoh pada Hari Raya Nyepi 1939 Saka di Kota Batam

Pada Hari Senin tanggal 27 Maret 2017 bertempat di Lapangan Parkir Pura Agung Amertha Bhuana, Umat Hindu Kota Batam menyelengarakan persembahyangan bersama dalam rangka upacara Tawur Agung Nyepi 1939 Saka yang dilanjutkan dengan melaksanakan pawai Ogoh-ogoh dengan rute Pura sampai dengan lampu merah Universitas Internasional Batam (UIB). Acara diikuti oleh sedikitnya 600  umat Hindu yang berdomisili di Kota Batam. Hadir dalam kesempatan itu Eko Prasetyo, S.Ag, selaku penyelenggara Hindu kantor Kementerian Agama Kota Batam, Parisada Hindu Dharma Prov. Kepulauan Riau, Parisada Kota Batam, WHDI Prov. Kep. Riau, WHDI Kota Batam, Pasraman Jnana Sila Bhakti dan lembaga agama keagamaan di kota Batam.

Tawur Agung Kesanga tingkat Nasional dipusatkan di Candi Prambanan, Daerah Istemewa Yogyakarta pada tanggal 27 Maret 2017. Umat Hindu di Kota Batam juga melaksanakan upacara Tawur Agung di Pura Agung Amerta Bhuana. Tujuan dari Upacara Taur Agung ini adalah harmonisasi alam semesta sehingga tercipta keseimbangan antara energi positif dan negatif. Sehingga energi negatif tidak dominan dan tidak menguasai pikiran manusia. Taur Agung merupakan implementasi ajaran Tri Hita Karana yang artinya 3 (tiga) hubungan yang menyebabkan kebahagiaan manusia yaitu Parahyangan hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, pawongan yang artinya hubungan yang harmonis antara  sesama manusia, dan Palemahan yang artinya hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam lingkungan sekitar tempat kita tinggal.

Ogoh - Ogoh dilambangkan sebagai bhuta kala yang merupakan gambaran sifat buruk manusia (sad ripu) seperti marah, iri, lobha, serakah, bingung dan lain sebagainya. Setelah selesai diarak ogoh-ogoh ini akan dibakar sebagai simbol bahwa kita telah membakar sifat buruk manusia sehingga pada esok harinya umat Hindu tenang dalam melaksanakan Catur Brata Penyepian. Dalam sastra disebutkan pula bahwa pawai ogoh - ogoh juga membantu para bhuta kala meningkatkan kualitas kesuciannya sehingga bhuta kala menjadi nyomya atau somya.

Di Sela-sela prosesi acara Penyelenggara Hindu bahwa Perayaan  Nyepi tahun ini adalah sebauah sinergi yang baik  antara umat Hindu,  Pengurus Umat dan dengan Pemerintah. Acara ini merupakan kerja keras panitia yang dipelopori oleh Parisada Provinsi Kepulauan Riau dan Parisada Kota Batam. Ke depan hal baik seperti ini harus kita tingkatkan dengan tetap memelihara Tri Kerukunan Umat beragama di Kota Batam. Menurut Eko tahun ini ada 4 (empat) ogoh-ogoh yang diarak yaitu 1 (satu) ogoh-ogoh rangda yang diarak oleh laki-laki dewasa, 1 (satu) ogoh-ogoh cluluk yang diarak oleh ibu-ibu yang tegabung dalam WDHI Prov. Kep. Riau dan WHDI Kota Batam, 1 (satu) ogoh-ogoh yang diarak oleh siswa Pasraman Jnana Sila Bhakti setingkat SMP, dan 1 (satu) ogoh-ogoh yang tidak kalah meriah yang diarak oleh siswa-siswi PAUD Jnana Sila Bhakti Kota Batam.

Penyelenggara Hindu juga menjelaskan bahwa tujuan upacara Taur kesanga adalah menghilangkan energi negatif alam semesta. Hal ini dilambangkan dengan pawai ogoh-ogoh. Ogoh – ogoh merupakan penggambaran bhuta kala dan sifat buruk manusia seperti marah, iri, serakah, benci,  malas dan sebagainya. Kita harus mampu memerangi sifat buruk kita yang merupakan musuh dalam diri manusia. Sehingga di akhir acara pawai ogoh –ogoh umat Hindu membakar 2 (dua) ogoh-ogoh yang artinya kita membakar dan memusnahkan sifat buruk kita. Kali ini Ogoh – ogoh sangat menarik karena umat Hindu Kota Batam membuat 2 (dua) ogoh –ogoh yang diusung dan dimainkan oleh laki-laki dan perempuan.

I Wayan Catra Yasa juga memberikan sambutan sekaligus melepas secara resmi pawai Ogoh-ogoh Nyepi umat Hindu Kota Batam. Dalam sambutanya Wayan berpesan agar pawai ogoh-ogoh dilaksanakan dengan tertib, tidak mengganggu pengguna jalan dan membuang sampah pada tempatnya. Wayan juga menjelaskan bahwa setelah rangkaian upacara Taur Agung dan pawai ogoh –ogoh, maka umat Hindu akan dapat melaksanakan prosesi Catur Brata penyepaian dan menyambut tahun baru Saka 1939 Saka selama 24 jam dengan tenang dan damai mulai hari Selasa tanggal 28 Maret 2017 jam 06.00 berakhir Hari Rabu tanggal 29 Maret 2017 jam 06.00 . Adapun Catur Brata Penyepian menurut Wayan adalah adalah: 1) amati karya artinya tidak bekerja, 2) amati geni artinya tidak menyalakan api, 3) amati lelungan artinya tidak bepergian, 4) amati lelanguan artinya tidak menikmati hiburan yang menyebabkan pemuasan hawa nafsu. Dari Perayaan Catur Brata Penyepeian diharapkan terjadi peningkatan kualitas spiritual umat Hindu di Kota Batam.

Selanjutnya adalah rangkaian Ngembak Geni dilaksanakan pada hari Rabu pada tanggal 29 Maret 2017 mulai jam 06.00 waktu setempat. Ngembak geni secara harfiah adalah kembali menyalakan api, artinya umat Hindu mulai bekerja beraktifitas sesuai dengan swadharmanya masing-masing berlandaskan ajaran dharma atau kebenaran. Ngembak geni juga bermakna kit merayakan kemenangan setelah menjalankan Catur Brata Penyepian dengan berkunjung dari rumah ke rumah saling menyiarkan ajaran dharma dan menceritakan ajaran kebenaran atau dharma vada.

Sebagai puncaknya adalah dharma santi yang dilaksanakan pada Bulan April 2017 di Pura Agung Amerta Bhuana. Dharma Santi dilaksanakan secara sederhana sesuai dengan kemampuan dan budaya setempat. Iksa sakti desa kala dan tattwa. Dharma Santi Nyepi yang rencananya akan diadakan di Pura Agun Amerta Bhuana. Dharma Santi adalah simbol persatuan umat di mana umat saling bertemu, bertegur sapa menyampaikan dan mendengar pesan perdamaian dan kebenaran dalam nuansa dhama (agama). Umat Hindu saling maaf memaafkan dan melakukan simakrama

Terakhir Penyelenggara Hindu berharap agar umat Hindu dapat melaksanakan rangkaian perayaan Nyepi 1939 saka dengan baik. Semoga melalui momentum Hari Raya Nyepi 1939 Saka kita dapat melakukan instropeksi diri dan penyadaran diri untuk menjadi umat Hindu yang lebih baik.  Di samping juga mempererat peratuan umat Hindu dan antar Umat Beragama, menjaga kerukunan intern dan ekstern umat bergama menuju Batam sebagai bandar dunia yang madani. Hari Raya Nyepi 2017 di Kota Batam diharapkan juga untuk meningkatkan kerukunan internal dan eksternal umat beragama di kota Batam, menjaga kebersihan dan ketertiban umum, tidak melakukan pemborosan dengan memaksimalkan potensi yang ada dengan penggunaan anggaran yang efektif dan efesien, tidak merusak flora dan fauna serta tidak mengganggu ekosistem alam yang ada, memperhatikan budaya dan kearifan loka di Bumi Melayu, senantiasa mengedepankan koordinasi dengan instansi terkait agar tidak terjadi hal-hal yang diinginkan dan berpedoman dan taat terhadap Tata Peraturan Perundang-Undangan

Upacara melasti Umat Hindu Kota Batam

Pada hari Minggu, 26 Maret 2017 lebih kurang 600 umat Hindu di Kota Batam menyelenggarakan Upacara Melasti sebagai rangakaian Upacara Nyepi 1939 Saka di danau Sei Ledi, Sekupang Batam. Dalam acara itu hadir  Eko Prasetyo, S.Ag, Penyelenggara Hindu pada Kantor Kementerian  Agama Kota Batam. Hadir juga Parisada Prov. Kepulauan Riau, Parisada Kota Batam, WHDI Kepulauan Riau, WHDI Kota Batam, Pasraman Jnana Sila Bahkti serta ketua lembaga agama keagamaan se-Kota batam.

Acara dimulai pada pukul 17.00 WIB dan selesai pada pukul 21.00 WIB. Dalam agama Hindu melasti juga disebut dengan Mekiyis. Melasti bertujuan untuk menyucikan sarana dan prasarana upacara yang akan digunakan dalam perayaan Nyepi berikutnya seperti Tawur Agung Kesanga yang jatuh pada hari Senin, 27 Maret 2017. Melasti juga bertujuan untuk memohon kesucian lahir dan batin serta memohon tirtha amertha yang bermanfaat dalam kehidupan umat Hindu.

Menurut Penyelenggara Hindu bahwa upacara Melasti dijelaskan dalam lontar Sanghyang Aji Swamandala yaitu Anglukataken laraning jagat, paklesa letuhing bhuwana,” yang artinya: Melenyapkan penderitaan masyarakat, melepaskan kepapaan dan kekotoran alam. Lebih lanjut dalam dalam Lontar Sundarigama menambahkan bahwa tujuan Melasti adalah: Amet sarining amerta kamandalu ring telenging sagara, yang artinya: Mengambil sari-sari air kehidupan (Amerta Kamandalu) di tengah-tengah samudera. Sumber lain menyebutkan bahwa tujuan pelaksanaan melasti adalah menyucikan sarana prasarana, pratima dan wastra: Pesucian dewa kalinggania pamratista bethara kabeh yang artinya Mensucikan sthana para dewa. Jadi tujuan Melasti di samping membersihkan sarana dan prasaran upakara, pratima, wastra adalah juga untuk menghilangkan segala kekotoran diri dan alam serta mengambil sari-sari kehidupan di tengah samudera. Samudera adalah lambang lautan kehidupan yang penuh gelombang suka-duka. Dalam gelombang samudera kehidupan itulah, kita mencari sari-sari kehidupan 

Kegiatan ini Sesuai dengan edaran dari Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Nomor: 27/Parisada Pusat/II/2017 perihal Kegiatan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1939 menetapkan Tema Nasional Hari Raya Nyepi yaitu: "Jadikan Catur Brata Penyepian Memperkuat Toleransi Kebhinekaan Berbangsa dan Bernegara Demi Keutuhan NKRI". Perayaan hari Raya Nyepi 1939 Saka juga dimaksudkan untuk Penyucian Diri dan Alam Semesta Menuju Peningkatan Kualitas Budaya kerja. Artinya jika jiwa dan raga serta alam lingkungan sudah bersih maka kita akan mudah melaksanakan tugas dan kewajiban kita sehari-hari.

Acara dilanjutkan dengan dharma wacana atau ceramah keagamaan yang disampaikan oleh I wayan Catra Yasa selaku ketua Paruman Walaka Parisada Hidu Dharma Provinsi Kepulauan Riau. Dalam wacananya Wayan Catra menegaskan bahwa umat harus mengambil intisari dan makna melasti yang bertujuan untuk memohon kesucian diri dan anugerah berupa tirtha kehidupan. Wayan juga mengajak umat Hindu kota Batam untuk berpedoman pada tema Nyepi nasional yang telah ditetapkan oleh Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat yaitu Jadikan Catur Brata Penyepian Memperkuat Toleransi Kebhinekaan Berbangsa dan Bernegara Demi Keutuhan NKRI". ”Umat Hindu harus menjaga kerukunan intern dan ekstern umat bergama di kota Batam,” jelas Wayan mengakhiri wacananya.


Umat begitu antusias mengikuti prosesi Melasti dari awal hingga akhir acara. Dari acara melasti ini diharapka terjadi perubahan sikap spiritual umat Hindu di Kota Batam pada khususnya. Terjadi peningkatan kualitas spiritual sehingga terjadi perubahan sikap yang pada akhirnya bisa mencapai pencerahan batin. Demikian Penjelasan Penyelenggara Hindu kantor Kementerian Agama Kota Batam. (ep2017)

Kamis, 30 Maret 2017

Diskusi Interaktif Nyepi 1939 Saka RRI Batam

Pada hari Selasa tanggal 21 Maret 2017 di RRI Batam, Graha Pena, Batam Centre Drs. I Wayan Catra Yasa, MM selaku Ketua Paruman Walaka Parisada Hindu Dharma Indonesia Prov. Kepulauan Riau dan Penyelenggara Hindu pada Kantor Kementerian Agama Kota Batam melakukan siaran interaktif RRI Batam dengan topik dengan tema Nyepi dan Pengendalian Diri.

Di awal penyampaiannya Wayan menjelaskan Konsep dasar Agama Hindu disebut Oanca Sradha. Dalam pelaksanaan ritual keagamaan harus didasari dengan sradaha atau keyakina. Jika spiritual tanpa keyakinan maka sama dengan gagal atau tidak mencapai tujuan dari yajna itu sendiri. Wayan Catra menjelaskan tentang korelasi pelaksanaan Nyepi dengan pengendalian Diri. Bahwasanya dalam rangkaian Nypei umat Hindu diajarkan untuk senantiasa mengendalikan diri. Wayan juga menyinggung penting menjalin hubungan yang harmonis dengan Tuhan, hubungan yang harmonis dengan sesama manusia dan hubungan yang harmonis dengan alam lingkungan tempat kita tinggal. Ke tiga hal inilah menjadi penyebab kebahagiaan kita baik di dunia maupun setelah kita mati dan juga terwujudnya loka samggraha.

Selanjutnya Eko menjelaskan tema Nyepi Nasional dan rangkaian Nyepi 1939 Saka. Sesuai dengan edaran dari Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Nomor: 27/Parisada Pusat/II/2017 perihal Kegiatan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1939 menetapkan Tema Nasional Hari Raya Nyepi yaitu: "Jadikan Catur Brata Penyepian Memperkuat Toleransi Kebhinekaan Berbangsa dan Bernegara Demi Keutuhan NKRI". Dari tema ini Eko mengajak umat Hindu di Kota Batam untuk mengutamakan toleransi beragama daripada permusuhan. Kerukunan adalah modal awal membangun bangsa.

Kemudian Eko menjelaskan rankaian Nyepi yang diawali dengan Melasti. Di Kota Batam upcara Meleasti dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 26 Maret 2017 jam 17.00 WIB di danau Sei Ledi. Dalam lontar Sanghyang Aji Swamandala melasti bertujuan untuk Anglukataken laraning jagat, paklesa letuhing bhuwana yang artinya Melenyapkan penderitaan masyarakat, melepaskan kepapaan dan kekotoran alam. Dan dalam dalam Lontar Sundarigama menambahkan bahwa tujuan Melasti adalah Amet sarining amerta kamandalu ring telenging sagara yang artinya Mengambil sari-sari air kehidupan (Amerta Kamandalu) di tengah-tengah samudera. Sumber lain menyebutkan bahwa tujuan pelaksanaan melasti adalah menyucikan sarana prasarana, pratima dan wastra: Pesucian dewa kalinggania pamratista bethara kabeh yang artinya ”Mensucikan sthana para dewa”

Jadi tujuan Melasti di samping membersihkan sarana dan prasaran upakara, pratima, wastra adalah juga untuk menghilangkan segala kekotoran diri dan alam serta mengambil sari-sari kehidupan di tengah samudera. Samudera adalah lambang lautan kehidupan yang penuh gelombang suka-duka. Dalam gelombang samudera kehidupan itulah, kita mencari sari-sari kehidupan.

Dilanjutkan Upacara Tawur Agung Kesanga yang dilaksanakan pada hari Senin tanggal 27 Maret 2017. Upacara Tawur Kesanga bertujuan untuk memotivasi umat Hindu secara ritual untuk senantiasa melestarikan alam beserta isinya. Upacara Tawur juga bertujuan untuk menyeimbangkan energI alam, karena alam terdiri dari energy positif dan negative. Melalui prosesi Tawur kita melakukan mecaru untuk menyeimbangkan kekuatan unsur bhuta kala sehingga dapat ikut menjaga kelangsungan dunia.

upacara Tawur Kesanga identik dengan Pawai Ogoh-ogoh. Dan pada kesempatan ini umat Hindu Batam membuat 4 (empat) ogoh-ogoh terdiri dari perwujudan bhuta kala yang diararak oleh Remaja putra, ibu-ibu, siswa Pasraman Jnana Sila Bahkti dan siswa PAUD Janan Sila Bhakti. Ogoh - Ogoh dilambangkan sebagai bhuta kala yang merupakan gambaran sifat buruk manusia (sad ripu) seperti marah, iri, lobha, serakah, bingung dan lain sebagainya. Setelah selesai diarak ogoh-ogoh ini akan dibakar sebagai simbol bahwa kita telah membakar sifat buruk manusia sehingga pada esok harinya umat Hindu tenang dalam melaksanakan Catur Brata Penyepian. Dalam sastra disebutkan pula bahwa pawai ogoh - ogoh juga membantu para bhuta kala meningkatkan kualitas kesuciannya sehingga bhuta kala menjadi nyomya atau somya.

Pada hari Selasa pagi tanggal 28 Maret dari jam 06.00 WIB sampai dengan Hari Rabu pagi, tanggal 29 Maret 2017 jam 06.00 WIB umat Hindu melaksanakan Catur Brata Penyepian.. Parisada Hindu Dharma Indonesia telah menetapkan perayaan Nyepi dilaksanakan dengan menjalankan Catur Brata Penyepian untuk umat yaitu yang pertama adalah Amati Geni (tidak menyalakan api). Maksudnya adalah bukan hanya tidak menyalakan api sungguhan, namun kita harus mematikan amarah dalam diri kita sendiri. Yang kedua adalah Amati Karya (tidak bekerja). Maksudnya menyepikan indera-indera kita terhadap aktivitas duniawi, mengendalikan indera-indera kita. Kita senantiasa diharapkan untuk melakukan meditasi pada Brahman. Ketiga adalah Amati Lelungan (tidak bepergian). Maksudnya adalah kita tidak membiarkan pikiran mengembara tak tentu arah, pikiran senantiasa diarahkan untuk selalu memikirkan hal-hal tentang keagungan Brahman. Terakhir adalah Amati Lelanguan (tidak mencari kesenangan). Maksudnya bahwa kita harus membatasi kesenangan sehari-hari, seperti makan dan minum, nonton TV, musik dan sebagainya.

Rangkaian Ngembak Geni dilaksanakan pada hari Rabu pada tanggal 29 Maret 2017 mulai jam 06.00 waktu setempat. Ngembak geni secara harfiah adalah kembali menyalakan api, artinya umat Hindu mulai bekerja beraktifitas sesuai dengan swadharmanya masing-masing berlandaskan ajaran dharma atau kebenaran. Ngembak geni juga bermakna kit merayakan kemenangan setelah menjalankan Catur Brata Penyepian dengan berkunjung dari rumah ke rumah saling menyiarkan ajaran dharma dan menceritakan ajaran kebenaran atau dharma vada.

Sebagai puncaknya adalah dharma santi yang dilaksanakan pada tanggal 8 April 2017 di Pura Agung Amerta Bhuana. Dharma Santi dilaksanakan secara sederhana sesuai dengan kemampuan dan budaya setempat. Iksa sakti desa kala dan tattwa. Dharma Santi Nyepi yang rencananya akan diadakan di Pura Agun Amerta Bhuana. Dharma Santi adalah simbol persatuan umat di mana umat saling bertemu, bertegur sapa menyampaikan dan mendengar pesan perdamaian dan kebenaran dalam nuansa dhama (agama). Umat Hindu saling maaf memaafkan dan melakukan simakrama

Di akhir pembicaraannya Eko berpesan kepada panitia Nyepi untuk menjaga kerukunan internal dan eksternal umat beragama di kota Batam, menjaga kebersihan dan ketertiban umum, tidak melakukan pemborosan dengan memaksimalkan potensi yang ada dengan penggunaan anggaran yang efektif dan efesien, tidak merusak flora dan fauna serta tidak mengganggu ekosistem alam yang ada, memperhatikan budaya dan kearifan lokal di bumi Melayu, senantiasa mengedepankan koordinasi dengan instansi terkait agar tidak terjadi hal-hal yang diinginkan dan berpedoman dan taat terhadap Tata Peraturan Perundang-Undangan Negara Kesatuan Republik Indonesia. (eko2017)






Rabu, 29 Maret 2017

Literasi Media sebagai Upaya Cegah dan Tangkal Radikalisme dan Terorisme di Masyarakat

Bertempat di Hotel Harmoni One, Batam Center, Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Prov. Kepulauan Pada hari Kamis tanggal 23 Maret 2017 menggelar seminar Literasi Media sebagai Upaya Cegah dan Tangkal Radikalisme dan Terorisme di Masyarakat. Hadir pada kesempatan itu Ketua FKPT Prov. Kepulauan Riau yang diwakili oleh Sekretaris, Walikota Batam yang diwakili oleh Kepala Kebangpol, Ketua Komisi Hukum Dewan Pers, Penyelenggara Hindu pada Kantor Kementerian Agama Kota Batam, perwakilan media masa, dan mahasiswa di kota Batam.

Menurut sekretaris bahwa tujuan dari dilaksanakannya kegiatan ini adalah untuk mendorong media massa untuk meningkatkan efektifitasnya sebagai salah satu sarana pencegahan terosisme sekaligus meningkatkan pengurangan terorisme, mendorong media massa untuk menggali potensi kearifan lokal sebagai sarana pencegahan ke dalam dengan melalui pemberitaan, dan mendorong masyarakat untuk lebih bijaksana dalam menggunakan internet sehingga mampu menimbulkan daya cegah dan daya tangkal terhadap penyebarluasan paham radikalisme dan terorisme. Adapun hasil yang ingin dicapai dari kegiatan ini adalah terlaksananya kegiatan pendekatan dan pelibatan media  dalam pencegahan melalui FKPT Prov. Kepulauan Riau, tersampaikannya materi pencegahan radikalisme dan terorisme pada kegiatan Literasi Media sebagai Upaya Cegah dan Tangkal Radikalisme dan Terorisme di Masyarakat, terhimpunnya saran dan masukkan dari komunitas media, pengguna media, dan terbitnya buku karya jurnalis.

Kepala Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Batam juga berkesempatan memberikan kata sambutan. Dalam sambutannya Kepala Kesbangpol menyatakan bahwa pers mempunyai peranan yang sangat besar di tengah-tengah masyarakat karena pers bisa menyampaikan berita kepada masyarakat termasuk menyampaikan pemberitaan tentang radikalisme. Untuk itu paham radikalisme sudah semestinya harus dilakukan tindakan preventif. Kesabangpol berharap media dapat menyaring dan menyampaikan berita yang membawa pesan perdamaian. Semua Majelis Agama dan Paguyuban masyakat harus mengajak masyarakatnya untuk bersatu menciptakan perdamaian mengingat Batam yang stragtegis ini yang juga merupakan miniatur dunia dan barometer kerukunan umat beragama. Hampir semua suku ada di Batam karena Batam menjadi daya tarik tersendiri bagi pencari kerja kalau kita ibaratkan Kota Batam ini adalah gula yang rasanya manis sehingga banyak semut yang datang. Kita harus menjalin hubungan yang harmonis dengan sesama manusia, tidak hanya dengan Tuhan. Orang tua juga harus mengawasi pendidikan dan pergaulan anak-anak kita untuk mencegah paham radikalisme masuk dalam kehidupan anak-anak kita. Guru, pemuka masyarakat, alim ulama harus memberikan contoh yang baik kepada anak – anak dan generasi muda. Jumlah Generasi muda Indonesia yang banyak jangan menjadi sumber kehancuran bangsa tetapi harus dibina untuk membesarkan nama bangsa. Masalah penanggulangan terorisme memang sangat kompleks sehingga harus dilakukan pencegahan sejak dini pada generasi muda. Untuk itu dianggap perlu untuk mengadakan kegiatan Literasi Media sebagai Upaya Cegah dan Tangkal Radikalisme dan Terorisme di Masyarakat.

Selanjutnya Jimmy Silalahi selaku Ketua Komisi Hukum Dewan Pers menyampaikan paparan materi tentang Berita Hoax dan Radikalisme. Menurutnya Media harus mampu memahami, menganalisis, dan mendekonstruksi pencitraan media. Kemampuan untuk melakukan hal ini ditujukan agar pemirsa sebagai konsumen media termasuk anak-anak dan generasi muda menjadi sadar tentang cara media dibuat dan diakses. Selanjutnya adalah Paparan Materi tentang Literasi Media Sebagai Upaya Cegah Tangkal Radikalisme dan Terorisme, dan Kesalahan Dalam Pemberitaan terkait Terorisme. Dilanjutkan dengan paparan nasumber dengan materi Filter Bubble oleh Azka Azfari Silmi. Kekuatan Media Sosial dan Jurnalisme Warga untuk Membangun Komunitas Masyarakat Basis dalam Melawan Hoax dan Menangkal Radikal-terorisme oleh Willy Pramudya

Acara diakhiri dengan Pembentukan Komunitas pemberantas Hoax di Kota Batam dan Paparan/Presentasi Komunitas anti Hoax di Kota Batam yang sudah terbentuk sebanyak 3 (tiga) kelompok. Kegiatan ini sangat positif sehingga harus berkesinambungan dan ada tindak lanjutnya. Literasi Media sebagai Upaya Cegah dan Tangkal Radikalisme dan Terorisme di Masyarakat ini sangat bermanfaat bagi masyarakat media dan pengguna media. Pencegahana paham radikalisme bisa dimulai dari pemberitaan yang benar dan kondusif. Selanjutnya tokoh masyarakat guru dan orang tua harus memberi contoh yang benar. (bimashindubatatam2017)






Sabtu, 25 Maret 2017

Nyepi yang Hening

Sesuai dengan edaran dari Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia Nomor: 27/Parisada Pusat/II/2017 perihal Kegiatan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1939 menetapkan Tema Nasional Hari Raya Nyepi yaitu: "Jadikan Catur Brata Penyepian Memperkuat Toleransi Kebhinekaan Berbangsa dan Bernegara Demi Keutuhan NKRI".

Tahun baru Saka memang berbeda dengan perayaan tahun baru Masehi yang dirayakan dengan sangat meriah dengan pesta kembang api, petasan, musik dan lain sebagainya. Perayaan Tahun Baru Saka lebih ke arah pendalaman spiritual dengan mengajak umat Hindu di Indonesia untuk melakukan tapa brata yoga dan samadhi, melakukan instropeksi diri.

Setiap tahun umat Hindu merayakan Hari Raya Nyepi dengan melaksanakan berbagai rangkaian kegiatan ritual dan spiritual, sebagai wujud pengamalan ajaran Agama Hindu yang sarat dengan makna nilai filosofis. Nilai filosofis itu merupakan nilai intrinsik bagi umat Hindu, bahkan merupakan nilai universal yang dapat diaktualisasikan dalam konteks kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Hal ini sangat positif dan penting untuk dilaksanakan secara terus menerus setiap tahunnya. Mengingat ini merupakan salah satu upacara Panca Yajña yang bertujuan untuk menyucikan dan memuliakan para dewa, para maharsi, leluhur, bhuta kala dan kesejahteraan manusia serta proses membumikan ajaran Weda. Di dalam kehidupan agama Hindu telah tumbuh keinginan umat Hindu untuk meningkatkan  cara-cara hidup beragama serta mendalami aspirasi agamanya  dengan menggunakan   pendekatan rasionalistas dan filosofis guna menembus tabir dogmatisme, dengan menggunakan kajian sastra Hindu yang terhimpun dalam berbagai pustaka suci Weda, Lontar (nibhanda) dan sumber sastra lainnya. Peninggalan Leluhur Hindu yang adiluhung. Pelaksanaan Rangkaian hari Raya Nyepi merupakan usaha untuk mewujudkan loka samgraha (tempat atau suasana yang damai) dan juga satyam (kebenaran), sivam (kesucian), dan Sundaram (keindahan). Hal ini dilandasi oleh  Dharma Siddhiyarta yaitu: Iksa (Tujuan), Sakti (kemampuan), Desa (tempat), Kala (waktu), dan Tattwa (keyakinan/sastra). Sehingga penerapan upacara keagamaan Hindu di Kota Batam akan berbeda dengan yang ada di Bali. Itulah Hindu yang sangat fleksibel dan universal.

Upacara Yajña  merupakan salah satu pendekatan diri kepada Hyang Widhi Wasa (Tuhan Yang Maha Esa) untuk mencapai kesempurnaan lahir batin sebagaimana diungkapkan dalam sastra suci. Oleh karena itu kegiatan upacara Yajña  adalah merupakan aktivitas keagamaan yang paling tampak pertama dalam implementasi kehidupan keagamaan Hindu sesuai dengan Tri Kerangka Dasar Agama Hindu yaitu: Tattwa, Susila dan Upakara). Dan umat Hindu di Kota batam melaksanakan perayaan Nyepi 1939 Caka dengan sederhana tetapi penuh dengan makna. rangkaian demi rangkaian telah dlakukan. Puncaknya adalah pelaksanaan Catur Brata Penyepian pada tanggal 28 Maret 2017. Hari raya Nyepi dirayakan setiap tahun sekali pada Sasih Kesanga, biasanya jatuh pada bulan Maret.  Dan pada tahun ini Nyepi jatuh pada hari Selasa, 28 Maret 2017.

Umat Hindu biasanya juga diwajibkan melakukan dana punia. Parisada  Hindu Dharma Indonesia telah menetapkan 4,7 % penghasilan yang kita puniakan melalui sebuah Badan Dharma Nasional (BDDN). Umat Hindu bias menyalurkan punia sebesar 4,7% dari penghasilan melalui nomor rekening bank BDDN Parisada. Adapun peruntukan dari dana punia BDDN Parisada ini adalah untuk pemberdayaan ekonomi umat Hindu, pendidikan (pemberian beasiswa), dan lain-lain.

Pada Hari Minggu, 26 Maret 2017, tepatnya 2 (dua) hari sebelum Nyepi diadakan upacara Melasti atau Melis dan ini dilakukan sebelum upacara Tawur Kesanga. Upacara Tawur Kesanga ini dilaksanakan pada hari Senin, 27 Maret 2017 bertepatan dengan hari suci Tilem Kesanga. Keesokan harinya, pada tanggal apisan Sasih Kedasa dilaksanakan brata penyepian. Setelah Nyepi, dilangsungkan Ngembak Geni dan kemudian umat melaksanakan Dharma Shanti. Adapun semua rangkaian perayaan Nyepi akan dijabarkan secara rinci di bawah ini.

Menghias Nasi Tumpeng Oleh WHDI Kepulauan Riau dan Kota Batam

Rangkaian Pertama Nyepi yang dilaksanakan umat Hindu di Batam adalah lomba menghias tumpeng yang diselenggarakan oleh Wanita Hindu Dharma Indonesias (WHDI) Provinsi Kepulauan Riau dan Kota Batam pada hari Minggu, tanggal 12 Pebruari 2017 di Aula Pasraman Jnana Sila Bhakti, Kota Batam.

Gerakan Penanaman Pohon oleh DPP Peradah Prov. Kepualuan Riau

Dan pada hari Minggu, 26 Pebruari 2017 umat Hindu Kota Batam yang tergabung dalam Perhimpunan Pemuda Hindu (PERADAH) Prov. Kepulauan Riau mengadakan gerakan penghijauan sekitar pura Agung Amertha Bhuana. Kegiatan ini merupakan rangkaian perayaan hari Raya Nyepi.

Siaran Interaktif Hari Raya Nyepi di RRI

Drs. I Wayan Catra Yasa, MM selaku Ketua Paruman Walaka Parisada Hindu Dharma Indonesia Prov. Kepulauan Riau dan Penyelenggara Hindu pada Kantor Kemenetrian Agama Kota Batam juga telah melakukan siaran Interkatif pada hari Selasa tanggal 21 Maret 2017 di RRI Batam, Graha Pena, Batam Centre dengan tema Nyepi dan Pengendalian Diri.

Penampilan Ogoh – Ogoh di Simpang Lampu Merah nagoya pada acara Car Free Day

Pada hari Minggu pagi tanggal 26 Maret 2017 mulai jam 06.00 s/d jam 09.00 akan ditampilkan Ogoh-Ogoh di sepanjang Jalan di Simpang Lampu Merah Nagoya bertepatan dengan Acara Car Free Day.

Melasti, Minggu 26 Maret 2017

Adapun rangkaian selanjutnya adalah Acara Melasti/Makiyis di mana waktu pelaksanaanya menyesuaikan kesepakatan dan tradisi masyarakat setempat (loka drsta), dan untuk di Kota Batam dilaksanakan pada hari Minggu tanggal 26 Maret 2017 jam 17.00 WIB di danau Sei Ledi.

Umat Hindu Batam mengadakan Melasti pada hari Minggu, 26 Maret 2017 di Danau Sei Ledi sehari sebelum Tawur Agung, sekitar pukul 17.00 WIB. Berkaitan dengan upacara Melasti dijelaskan dalam lontar Sanghyang Aji Swamandala sebagai berikut:

Anglukataken laraning jagat, paklesa letuhing bhuwana

Artinya:
Melenyapkan penderitaan masyarakat, melepaskan kepapaan dan kekotoran alam.

Dalam Lontar Sundarigama menambahkan bahwa tujuan Melasti adalah:

Amet sarining amerta kamandalu ring telenging sagara

Artinya:

Mengambil sari-sari air kehidupan (Amerta Kamandalu) di tengah-tengah samudera.

Sumber lain menyebutkan bahwa tujuan pelaksanaan melasti adalah menyucikan sarana prasarana, pratima dan wastra:

Pesucian dewa kalinggania pamratista bethara kabeh

Menusucikan sthana para dewa

Jadi tujuan Melasti di samping membersihkan sarana dan prasaran upakara, pratima, wastra adalah juga untuk menghilangkan segala kekotoran diri dan alam serta mengambil sari-sari kehidupan di tengah samudera. Samudera adalah lambang lautan kehidupan yang penuh gelombang suka-duka. Dalam gelombang samudera kehidupan itulah, kita mencari sari-sari kehidupan 

Tawur Agung, Senin 27 Maret 2017

Dilanjutkan Upacara Tawur Agung Kesanga yang dilaksanakan pada hari Senin tanggal 27 Maret 2017. Tawur Agung Kesanga tingkat Nasional dipusatkan di Candi Prambanan, Daerah Istemewa Yogyakarta pada tanggal 27 Maret 2017.

Setelah upacara Melasti, pada keesokan harinya tepatnya hari Senin, 27 Maret 2017 umat Hindu Batam melaksanakan upacara Tawur Kesanga di Pura Agung Amerta Bhuana. pagi harinya bertepatan dengan

Upacara Tawur Kesanga bertujuan untuk memotivasi umat Hindu secara ritual untuk senantiasa melestarikan alam beserta isinya. Upacara Tawur juga bertujuan untuk menyeimbangkan energI alam, karena alam terdiri dari energy positif dan negative. Melalui prosesi Tawur kita melakukan mecaru untuk menyeimbangkan kekuatan unsur bhuta kala sehingga dapat ikut menjaga kelangsungan dunia.

upacara Tawur Kesanga identik dengan Pawai Ogoh-ogoh. Dan pada kesempatan ini umat Hindu Batam membuat 2 (dua) ogoh-ogoh terdiri dari perwujudan bhuta kala. Ogoh - Ogoh dilambangkan sebagai bhuta kala yang merupakan gambaran sifat buruk manusia (sad ripu) seperti marah, iri, lobha, serakah, bingung dan lain sebagainya. Setelah selesai diarak ogoh-ogoh ini akan dibakar sebagai simbol bahwa kita telah membakar sifat buruk manusia sehingga pada esok harinya umat Hindu tenang dalam melaksanakan Catur Brata Penyepian. Dalam sastra disebutkan pula bahwa pawai ogoh - ogoh juga membantu para bhuta kala meningkatkan kualitas kesuciannya sehingga bhuta kala menjadi nyomya atau somya.

Menurut petunjuk lontar Sanghyang Aji Swamandala, Tawur Kesanga termasuk upacara Bhuta Yajña . Yajña  ini dilaksanakan manusia dengan tujuan untuk menumbuhkan kesejahteraan alam lingkungan. Dalam Sarasamuscaya 135 (terjemahan Nyoman Kajeng) disebutkan bahwa untuk mewujudkan Catur Warga, manusia harus menyejahterakan semua makhluk (Bhutahita).

“Matangnyan prihen tikang bhutahita haywa tan masih ring sarwa prani.”
Artinya:

Oleh karenanya, usahakanlah kesejahteraan semua makhluk, jangan tidak menaruh belas kasihan kepada semua makhluk.

“Apan ikang prana ngaranya, ya ika nimitang kapagehan ikang catur warga, mang dharma, artha kama moksha.”

Artinya:

Karenanya kehidupan mereka itu menyebabkan tetap terjaminnya dharma, artha, kama dan moksha.
            
Catur Brata Penyepian

Pada hari Selasa pagi tanggal 28 Maret dari jam 06.00 WIB sampai dengan Hari Rabu pagi, tanggal 29 Maret 2017 jam 06.00 WIB umat Hindu melaksanakan Catur Brata Penyepian..

Filsafat tentang Catur Brata penyepian ini dijelaskan dalam lontar Sundarigama sebagai berikut:

“…..enjangnya nyepi amati geni, tan wenang sajadma anyambut karya, sakalwirnya, ageni-geni saparanya tan wenang, kalinganya wenang sang wruh ring tattwa gelarakena semadi tama yoga ametitis kasunyatan.”

Artinya:

“….besoknya, Nyepi, tidak menyalakan api, semua orang tidak boleh melakukan pekerjaan, berapi-api dan sejenisnya juga tidak boleh, karenanya orang yang tahu hakekat agama melaksanakan samadhi tapa yoga menuju kesucian.”
           
Parisada Hindu Dharma Indonesia telah mengembangkan menjadi Catur Brata Penyepian untuk umat pada umumnya yaitu:

1.    Amati Geni (tidak menyalakan api). Maksudnya adalah bukan hanya tidak menyalakan api sungguhan, namun kita harus mematikan amarah dalam diri kita sendiri.
2. Amati Karya (tidak bekerja). Maksudnya menyepikan indera-indera kita terhadap aktivitas duniawi, mengendalikan indera-indera kita. Kita senantiasa diharapkan untuk melakukan meditasi pada Brahman.
3.  Amati Lelungan (tidak bepergian). Maksudnya adalah kita tidak membiarkan pikiran mengembara tak tentu arah, pikiran senantiasa diarahkan untuk selalu memikirkan hal-hal tentang keagungan Brahman.
4.    Amati Lelanguan (tidak mencari kesenangan). Maksudnya bahwa kita harus membatasi kesenangan sehari-hari, seperti makan dan minum, nonton TV, musik dan sebagainya.

Tujuan utama Catur Brata Penyepian adalah untuk menguasai diri, menuju kesucian hidup agar dapat melaksanakan dharma sebaik-baiknya menuju keseimbangan dharma, artha, kama dan moksa.   Jika kita perhatikan tujuan filosofis Hari Raya Nyepi, tetap mengandung arti dan makna yang relevan dengan tuntutan masa kini dan masa yang akan datang. Melestarikan alam sebagai tujuan utama upacara Tawur Kesanga tentunya merupakan tuntutan hidup masa kini dan masa datang. Tawur Kesanga juga berarti melepaskan sifat-sifat serakah yang melekat pada diri manusia. Pengertian ini dilontarkan mengingat kata “tawur” berarti mengembalikan atau membayar.

Sebagaimana kita ketahui, manusia selalu mengambil sumber-sumber alam untuk mempertahankan hidupnya. Perbuatan mengambil perlu diimbangi dengan perbuatan member, yaitu berupa persembahan dengan tulus ikhlas. Mengambil dan member perlu selalu dilakukan agar karma wasana dalam jiwa menjadi seimbang. Ini berarti memotivasi umat Hindu untuk selalu menyeimbangkan jiwa.

Hendaknya Nyepi dirayakan dengan kembali melihat diri dengan pandangan yang jernih dan daya nalar yang tinggi. Hal tersebut akan dapat melahirkan sikap untuk mengoreksi diri dengan melepaskan segala sesuatu yang tidak baik dan memulai hidup suci, hening menuju jalan yang benar atau dharma.

Untuk melaksanakan Nyepi yang benar-benar spiritual, yaitu dengan melakukan upawasa, mona, dhyana dan arcana. Upawasa artinya melakukan puasa, tidak makan dan minum selama 24 jam. Kata “upawasa” dalam Bahasa Sanskerta berarti kembali suci. Mona artinya tidak bicara (termasuk dalam pikiran). Dhyana artinya melakukan pemusatan pikiran pada Brahman atau lebih sering disebut meditasi. Arcana yaitu melakukan persembahyangan seperti biasa di tempat suci atau tempat pemujaan keluarga di rumah

Pelaksanaan Nyepi seperti itu tentunya harus dilaksanakan dengan niat yang kuat, tulus ikhlas dan tidak didorong oleh ambisi-ambisi tertentu. Jangan sampai dipaksa atau ada perasaan terpaksa. Tujuan mencapai kebebasan rohani itu memang juga suatu ikatan, namun ikatan itu dilakukan dengan penuh keikhlasan

Ngembag Geni

Rangkaian Ngembak Geni dilaksanakan pada hari Rabu pada tanggal 29 Maret 2017 mulai jam 06.00 waktu setempat. Ngembak geni secara harfiah adalah kembali menyalakan api, artinya umat Hindu mulai bekerja beraktifitas sesuai dengan swadharmanya masing-masing berlandaskan ajaran dharma atau kebenaran. Ngembak geni juga bermakna kit merayakan kemenangan setelah menjalankan Catur Brata Penyepian dengan berkunjung dari rumah ke rumah saling menyiarkan ajaran dharma dan menceritakan ajaran kebenaran atau dharma vada.

Dharma Santi Nyepi

Sebagai puncaknya adalah dharma santi yang dilaksanakan pada Bulan April 2017 di Pura Agung Amerta Bhuana. Dharma Santi dilaksanakan secara sederhana sesuai dengan kemampuan dan budaya setempat. Iksa sakti desa kala dan tattwa. Dharma Santi Nyepi yang rencananya akan diadakan di Pura Agun Amerta Bhuana. Dharma Santi adalah simbol persatuan umat di mana umat saling bertemu, bertegur sapa menyampaikan dan mendengar pesan perdamaian dan kebenaran dalam nuansa dhama (agama). Umat Hindu saling maaf memaafkan dan melakukan simakrama

Demikian sedikit ulasan tentang perayaan hari raya Nyepi di Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau, semoga kita semua dapat melaksanakan rangkaian perayaan Nyepi 1939 saka dengan baik. Semoga melalui momentum Hari Raya Nyepi 1939 Saka kita dapat melakukan instropeksi diri dan penyadaran diri untuk menjadi umat Hindu yang lebih baik. Di samping juga mempererat peratuan umat Hindu dan antar Umat Beragama, menjaga kerukunan intern dan ekstern umat bergama menuju Batam sebagai bandar dunia yang madani.

Maka dari dalam melaksanakan kegiatan tersebut panitia pelaksana Hari Raya Nyepi 2017 di Kota Batam untuk menjaga kerukunan internal dan eksternal umat beragama di kota Batam, menjaga kebersihan dan ketertiban umum, idak melakukan pemborosan dengan memaksimalkan potensi yang ada dengan penggunaan anggaran yang efektif dan efesien, idak merusak flora dan fauna serta tidak mengganggu ekosistem alam yang ada, memperhatikan budaya dan kearifan loka di Bumi Melayu, senantiasa mengedepankan koordinasi dengan intansi terkait agar tidak terjadi hal-hal yang dinginkan dan berpedoman dan taat terhadap Tata Peraturan Perundang-Undangan NKRI.(ep2107).

Senin, 13 Maret 2017

Dirjen Bimas Hindu: ” Pembinaan Umat Hindu Melalui Pendekatan Budaya”

Pada hari Sabtu, 11 Maret 2017 Prof. Ketut Widnya selaku Dirjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI memberikan materi pembekalan kepada peserta Pelatihan Kepemimpinan Nasional (Pakemnas) IX DPN Peradah Indonesia di Mahajaya Hotel, Denpasar, Bali.

Mengawali pembekalannya, Dirjen Bimas Hindu mengajak pemuda Hindu melakukan pembinaan pendekatan budaya dalam pembinaan umat, bukan hanya dengan pendekatan agama. Agama dengan sendirinya akan selalu beriringan dengan adat dan budaya. Misalnya di  Bali yang sangat kuat adat dan di tradisinya. Di Jawa, Papua, Kalimantan dan sebagainya pastilah berbeda. Pengembangan agama lewat seni budaya contoh pengembangan Kecak ala Papua, tentunya ini sangat menarik wisatawan lokal dan manca negara. Seni lebih berkembang dan sangat efektif dan Kolaborasi budaya Papua dan Bali ini sangatlah luar biasa. Agama Hindu menyumbangkan budaya yang tinggi kepada Indoensia apalagi Bali di sektor wisata.
Bimas Hindu telah memberi contoh nyata pembinaan umat melalui pendekatan budaya yaitu melalui  Utsawa Dharma Gita (UDG) untuk memberi wadah apresiasi seni baca kitab suci Weda dan UDG kali ini adalah yang ke-13 yang akan dilaksanakan di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Dan Pemprov. Sumatera Selatan akan membangun pusat senin budaya Hindu untuk umat Hindu. Masyarakat tidak akan merasa terganggu jika dibangun pusat budaya berbeda dengan agama. Pendekatan Lomba budaya pada perguruan tinggi adalah ajang Temu Karya Ilmiah yang kita kenal dengan Temu Karya Ilmiah (TKI). Ditjen Bimas Hindu akan terus memupupuk nilai-nilai agama Hindu melalui budaya di kampus. Selanjutnya adalah ajang Jambore pasraman yang pesertanya anak-anak dari tingkat SD, SMP dan SMA.  Mari kita pupuk dan perkenalkan budaya Weda pada anak-anak melalui Jambore Pasraman, Mahasiswa melalui TKI, masyarakat melalui Utsawa Dharma Gita. Jadi kesimpulannya nilai-nilai agama Hindu akan selalu beriringan dengan budaya. Hal ini yang teru dikembangkan oleh Ditjen berkerjasama dengan PHDI.

Lebih lanjut Dirjen Bimas Hindu manyatakan bahwa setelah Kemerdekaan RI tahun 1945 peradaban Hindu di Indonesia mulai berkembang pesat. Sebagai buktinya setiap provinsi ada umat Hindunya yang berkembang dan berkarya dalam membangun dan mengembangkan nilai-nliai budaya Hindu seperti tempat suci terutama di Bali. Pura adalah tempat di mana umat Hindu bisa melakukan kegiatan keagamaan, ekonomi, sosial, budaya dan juga pendidikan keagamaan Hindu.

Ada beberapa persoalan Umat yang kita hadapai dewasa ini. Di antaranya adalah rendahnya pemahaman umat Hindu terhadap ajaran agama. Menurut beberapa sumber terpercaya, umat Hindu ada di posisi ke-3 setelah Agama Islam dan Kristen. Di Agama lain pendidikan agama itu sudah ditekankan sejak usia dini. Sehingga tidak heran jika di usia dini sudah bisa menghafal akitab suci dan berani tampil sebagai pembicara dan mereka mendapat apresiasi dari pemerintah. Untuk itu apapun profesi kita maka kita harus memahami agama Hindu kemudian mengajarkannya kepada anak-anak kita. Jangan serahkan semua pendidikan anak kita kepada guru Agama di sekolah. Solusi lain yang bisa kita ambil adalah bersinergi dengan Parisada dan semua lembaga keagamaan Hindu termasuk Peradah Indonesia. Bimas Hindu telah memberikan bantuan kepada lembaga agama dan keagamaan termasuk Peradah untuk operasional pembinaan umat Hindu di daerah. Sehingga bantuan operasional dan sarana ini akan memberikan motivasi kepada lembaga keagamaan untuk lebih semangat dalam melakukan pembinaan. Hal ini sejalan dengan visi Bimas Hindu yang dijabarkan dalam misi Bimas Hindu salah satunya adalah meningkatkan pemahaman ajaran ajaran Hindu. Indikatornya adalah semakin banyak umat Hindu yang terbina apakah berubah sikap. Dirjen Bimas Hindu menegaskan Ini bukan hanya tanggung jawab Dirjen Bimas Hindu melainkan tanggun gjawab semua lembaga Hindu terutama PHDI dalam membina umat. Makanya nomenklatur Hindu di Kementerian Agama adalah Bimbingan Masyarakat Hindu yang tertuang dalam visi misi Direktorat.

Hasil pembinaan tidak dapat diukur dengan segera/isntan. Memerlukan waktu  yang relatif lama. Artinya setelah diberikan pembinaan dan bantuan apakah umat sudah berubah perilakunya?. Tidak ada yang bisa menjamin bahwa semua pembinaan dan bantuan dari pemerintah itu akan merubah sifat dan karakter umat Hindu. Minimal umat Hindu kita fasilitasi dengan pembinaan, pemberian bantuan dan seni budaya seperti UDG, Jambore Pasraman, Festival Bhagavadgita dan lain sebagainya.

Permasalahan selanjutnya adalah Lemahnya SDM Penyuluh Agama Hindu. Idealnya 100 umat Hindu dibina oleh 1 penyuluh Agama Hindu. Menurut data yang dihimpun di lapangan bahwa kita memilikki jumlah penyuluh PNS sebanyak 150 (seratus lima puluh) orang, dan tersebar Bali sebanyak 80 (delapan puluh). Jadi sekitar 70 penyuluh tersebar di seluruh Indonesia. Untuk jumlah Non PNS: 2500 (dua rubu lima ratus) Penyuluh Agama Hindu non PNS. Penyuluh adalah ujung tombak Pembinaan Ditjen Bimas Hindu Kementerian Agama RI. Pemerintah telah menaikkan honor penyuluh non PNS dari Rp. 300.000,- menjadi Rp. 500.000,- dan Ke depan akan diperjuangkan mejadi Rp. 2.500.000 per bulan dengan catatan jumlah dikurangi dan penyuluh berkompeten. Memang kita akui masih ada beberapa penyuluh yang aktif dan ada juga penyuluh yang tidak aktif melakukan kegiatan pembinaan. Ini harus ditindaklanjuti. Kabid dan Pembimas Hindu harus pro aktif melaporkan penyuluh yang tidak aktif sehingga kita bisa melakukan evaluasi dan pembinaan terhadap penyuluh agama Hindu non PNS.

Menurut laporan dari Pembimas Hindu yang diterima Ditjen Bimas Hindu masih banyak penyuluh Agama hindu yang tidak kompeten dan tidak memberi penyuluhan dan juga laporan kepada Pembimas Hindu. Walau pendidikan terakhir penyuluh sudah sarjana belum tentu bisa dan siap memberikan penyuluhan. Sebagai solusinya kita bisa meningkatkan kompetensi penyuluh dengan mengadakan workshop, orientasi, sertfiikasi dan pelatihan diklat serta lomba Penyuluh Non PNS.

Permasalahan yang ke tiga adalah masih sedikitnya formasi gur, CPNS, struktur Kepala Seksi (Kasi) dan Penyelenggara di Kabupatan kota. Jika tersedia data jumlah umat by name, data sekolah sekolah, pasraman maka akan ada rekomendasi dari Bupati Gubernur untuk pengusulan guru, CPNS dan juga membentuk struktur Kepala Seksi (Kasi) dan Penyelenggara di tingkat Kabupaten. Solusi yang bisa kita lakukan Solusi adalah berjuang di jalur politik. Maka dari itu umat Hindu yang duduk sebagai anggota DPR RI, DPRD dan DPD harus memperjuangkan formasi guru, CPNS dan struktur Kasi dan Penyelenggara.
Di Kanwil Sulawesi Selatan,  Sulawesi Tengah akan diperjuangkan lagi menjadi Kepala Bidang sehingga akan ada kasi minimal 4 Kasi. Menyusul daerah lain Ini adalah perjuangan politik.

Prof. Widnya juga berkesempatan menjawab Pertanyaan DPP. Peradah NTB perihal upaya konversi agama di NTB. Pulau Bali memang menjadi barometer seni budaya dan agama. Tetapi di luar Bali masih banyak persoalan seperti di Lombok. Terjadi konversi agama dan lain-lain. bagaimana langkah-langkah memperkokoh sradha dan Bhakti. Pola pendidikan kepada generasi muda Hindu agar sradha kuat.

Lembaga mana yang menangani pembinaan umat? Persoalan selanjutnya adakah pembinaan umat Hindu yang kurang? Upaya Ditjen Bimas Hindu dengan meningkatkan jumlah penyuluh agama Hindu non PNS saja itu tidak cukup, harus ada penambahan Kasi Bimas Hindu dan Penyelenggara Hindu. Seperti pembahasan sebelumhya bahwa salah satu kelemahan kita adalah kita punya penyuluh tetapi tidak kompeten dan jarang melakukan penyuluhan. Pada prinsipnya penyuluh agama Hindu adalah sebagai ujung tombak pembinaan umat Hindu. Untuk mencegah upaya konversi maka kita bisa menegur langsung pelakunya, jika masih berlanjut upaya itu maka laporkan saja kepada yang berwajib karena kebebasan beragama itu diatur dan dilindungi oleh Undang-Undang. Tetapi kita harus mengembakan toleransi umat beragama yang sudah dikembangkan di Indonesia juga di dunia.

Sebenarnya Parisada juga sudah melakukan pembinaan. Rendahnya pemahaman penyuluh juga berpengaruh. Disini soft skill Penyuluh Agama Hindu harus kita tingkatnya terutama mengenai kemampuan berbicara, problem solving dan seni berkomunikasi. Solusi selanjunya adalah Ditjen Bimas Hindu akan melakukan evaluasi terhadap kejadian ini. Terutama mengevaluasi SDM Penyuluh dengan berkoordinasi dengan Kabid Urusan Agama Hindu, Pembimas Hindu, Kasi dan Penyelenggara Hindu di daerah. Dirjen Bimas Hindu berharap Peradah juga aktif membina dalam hal pembinaan generasi muda.

Di bidang pendidikan Dirjen Bimas Hindu akan mendirikan sekolah pasraman formal sesuai PMA nomor 56 tahun 2014 tentang Pendidikan Keagamaan Hindu. Sistem pendidikan ashram terbukti sangat efektif untuk membentuk karakter generasi muda seperti pola pada pondok pesantren yang diyakini akan mampu membentuk karaktaer siswa di pasraman. Di pasraman akan diperkuat dengan kurikulum agama Hindu. Ini harapan kita lewat jalur pendidikan asrama membentuk karakter generasi muda yang mengerti agama dan memperjuangkan pembinaan agama. Bimas Hindu juga sudah mendirikan pusat pendidikan di luar Bali sperti STAHN Gede Pudja, STAHN Tampung Penyang dang beberapa perguruan tinggi Hindu swasta lainnya sebagai pusat pengembangan pendidikan Hindu di luar Bali. Sistem Pendidikan Boarding School bisa kita kembangkan, ini akan menjadi sejarah baru dalam pembinaan generasi muda Hindu. Ke depan Pasraman formal akan diperjuangkan satuan kerja atau Unit Pelayanan Teknis (UPT).

Untuk di Bali kita sudah memilikki IHDN, UNHI, dan baru-baru ini Ditjen Bimas Hindu sudah melakukan penegerian STAHN Empu Empu Kuturan. Pendidikan Pasraman  masuk dalam visi misi pemerintah dalam hal ini Ditjen Bimas Hindu. Murid Hindu juga harus diajar oleh guru yang beragama Hindu sesuai dengan Undang-Undang pendidikan Nasional. Pihak Kampus juga harus melakukan pengabdian masyarakat sebagai bentuk penerapan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Solusi selanjutnya yang bisa kita tawarkan adalah gerakan gemar membaca kitab suci Weda. Gerakan ini akan dilaunching oleh Menteri Agama dalam waktu dekat. Dosen dan mahasiswa paska sarjana bisa melakukan penelitian sekaligus melakukan pembinaan di daerah umat yang minim akan pembinaan.

Di Bali sebenarnya sudah mewarisi tradisi kerajaan yaitu gemar membaca sastra dan lontar terjemahan Weda. Tetapi di luar bali hal ini ternyata menjadi masalah tersendiri. Banyak umat yang tidak gemar mebawa sloka apalagi kekawin. Untuk itu pembelajaran Weda harus dikenalkan kepada anak-anak diawali dengan cerita – cerita Itihasa dan Purana seperti Kisah Kepahlawanan Mahabharat dan Ramayana. Anak-anak akan tertarik mempelajari Weda. Akan tumbuh sradha dan bhakti pada diri umat Hindu setelah membaca Itihasa dan Purana. Kitab suci Weda yang terlalu banyak kodifikasinya membuat umat sulit untuk memahaminya, maka Bimas Hindu akan fokus pada pengadaan kitab Bhagavdgita dab Sarasamuccaya. Dari sisi Histyoris di Bali ada 3 (tiga) aliran besar yang ada dalam agama yaitu Siwaisme, Wasinawa, dan Tantra. Ketiga nya berbeda. Di Bali Kombinasi Siwaisme dan Tantraisme menjadi Siwa Sidhanta. Hal ini yang membuat budaya Hindu sangat kompleks.


Di akhir paparannya Dirjen Bimas Hindu menyampaikan fakta bahwa pelemahan generasi muda melalui narkoba juga menjadi masalah besar dalam pembinaan umat di samping miras dan pornografi sehingga penyuluh harus melengkapi bahan pembinaannya tidak hanya masalah agama tetapi juga materi pembinaan bahaya Penyalah gunaan narkoba, Penanggulangan Penyakit HIV AIDS, Bahaya miras, kenakalan remaja, pranikah, keluarga sukhinah dan bahaya narkoba. (eko prasetyo).