Rabu, 11 Oktober 2017

I Wayan Catra Yasa, Tokoh Hindu di Kepri yang pertama Meraih Gelar Doktor

Batam-Pada Hari Minggu,  di Pura Agung Amertha Bhuana tampak laki – laki setengah berjalan menenteng sebuah tas yang berisi laptop. Kemudian beliau turun ke aula Pasraman Jnana Sila Bhakti untuk memberi ilmu dan pengalamannya kepada siswa Pasraman asuhannya.

Siapakah dia? Dia adalah I Wayan Catra Yasa, bapak dari dua orang anak yang dilahirkan dari keluarga sederhana di pulau seribu pura yang sangat terkenal itu, yaitu pulau Bali. Lahir di sebuah dusun Poyan, Luwus, Baturiti, Tabanan pada tanggal 13 Maret 1966. Saat ini I Wayan Catra Yasa menjabat Ketua Paruman Walaka Parisada Hindu Dharma Provinsi Kepualauan Riau, dan juga duduk sebagai pengurus dana tau anggota Sabha Walaka Parisada Hindu Dharma Indonesia Pusat. Beliau juga penasihat dari lembaga agama/keagamaan Hindu di Kota Batam, Kepualuan Riau.

I Wayan Catra Yasa mengawali Pendidikan Formalnya di SD Negeri 03 Luwus, Baturiti, Tabanan-Bali, kemudian SMP Negeri I Baturiti, Tabanan, Bali. Dilanjutkan di STM Negeri I Denpasar-Bali, kemudian S1 Sarjana Pendidikan Fakultas Teknologi & Kejuruan IKIP Yogyakarta. Kemudian pendidikan S2 Magister Management di Universitas Terbuka. Pria dari dua anak ini juga baru saja menyelesaikan gelar S-3 nya di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dengan predikat Magna Cum Laude.

Setelah proses belajar mengajar selesai, lelaki yang akrab dipanggil Pak Wayan Catra ini langsung bergegas menuju ke atas untuk kembali pulang. Penulis tidak menyia - nyiakan kesempatan yang sangat baik itu.

Penulis berhasil mewawancarai I Wayan Catra Yasa terkait kiprahnya di Kota Batam dan studi yang telah diselesaikannya. Berikut hasil wawancara penulis dengan I Wayan Catra Yasa.

Tahun Berapa Pak Wayan datang ke Kota Batam dan apa yang Bapak lakukan pertama kali?
Jawaban:
Saya datang di Kota Batam pada tanggal 26 September 1991, Bekerja di Perusahaan Amerika yaitu PT. Seagate technology. Sebenarnya perjalanan hidup ini terinspirasi ketika mengawali  studi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Pada saat itu saya berkumpul dengan mahasiswa Hindu lainnya dan bergabung dalam organisasi Perhimpunan Pemuda Hindu Indonesia yang lebih kita kenal PERADAH. Setelah saya tiba di Kota Batam, waktu itu kondisi Umat Hindu di Kota Batam masih sporadic, belum mengenal satu dengan yang lainnya. Maka muncullah Inisiatif untuk berkumpul, bermusyarawah bagaimana cara membangun umat dan ini akan membuahkan hasil di masa yang akan datang.
Yang pertama saya lakukan adalah mengunjungi umat dari pintu ke pintu di Kawasan Industri Muka Kuning, Umat Hindu di perhotelan. Ada juga teman - teman yang bekerja di Sektor peternakan, BUMN dan lain sebagainya.

Dan Pada Tahun 1993 kami mendirikan sebuah Yayasan Satya Dharma walau tidak lama aktif. Tujuan mendapatkan lokasi mendirikan pura. Kemudian tahun 1994 mendirikan Yayasan Tirta Kamandalu dengan visi & misi untuk mendapatkan perizinan lokasi pura. 
Barulah pada Bulan Mei Tahun 1995 mendirikan Parisada Hindu Dharma Indonesia Kota Batam bersama tokoh Hindu saat itu dimana waktu itu Kota Batam masih menjadi bagian dari Prov. Riau.

Pada Tahun 1998 ketika bapak Drs. Ismeth Abdullah menjadi Ketua Otorita Batam. Dan perjuangan itu membuahkan hasil di mana pada tahun 1999 umat Hindu di Kota Batam diberikan lahan pura di Kawasan Sei Ladi yang sekarang telah berdiri pura dengan  nama Pura Agung Amerta Bhuana yang diresmikan oleh Menteri Agama RI yaitu Prof. Dr. Said Agil Husein Al Munawar, MA, pada tanggal 16 juni 2004.

Setelah umat Hindu memiliki rumah ibadah berupa pura, maka selanjutnya adalah mencari strategi menciptakan kerukunan baik internal maupun eksternal.

Maka pada tahun 1995 saya bergabung di Forum Komunikasi Umat Beragama (FKUB) Kota Batam yang sekarang berubah nama menjadi Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Batam berdasarkan PBM No.9 dan 8 Menteri Agama dan Menteri Dalam Negeri Saya pernah menjadi Sekretaris Umum FKUB Kota Batam sampai tahun 2017 dan sekarang menjabat Ketua Bidang Penyiaran.

Saya ingin berkiprah dan berperan menjaga Batam agar tetap kondusif. Kita ketahui bersama bahwa Kota Batam bisa menjual aset Jasa dan para Investor sangat tergantung suasana yang aman di Kota Batam. Kerukunan merupakan investasi yang berharga di kota Batam. Jika kerukunan di Kota Batam terganggu maka investor tidak akan mau menanamkan modal di Kota Batam. Tujuan dari masuknya saya di kepengurusan FKUB juga Juga untuk pembinaan umat Hindu secara internal. Saya ingin menjadi sosok mediator bagi umat yang lainnya (pendamai). Itulah  alasan saya bergabung di FKUB. Singkat cerita saya mengambil pendidikan program Doktor di Universitas Negeri Jakarta (UNJ) Jurusan Manajemen Sumber Daya Manusia (MSDM).

Adapun judul Disertasi yang saya buat adalah Pengaruh Budaya Keluarga, Pengelolaan Konflik, Toleransi dan Kerukunan antar Umat Beragama Terhadap Stabilitas kehidupan Masyarakat di Kota Batam.

Saya ingin mengetahui jawaban dari hipotesa yang saya buat yaitu bagaimana tingkat kerukunan umat beragama di kota Batam dalam hal menciptakan stabilitas kerukunan di Kota Batam. Bagaimana masyarakat hidup, dan merasakan ketenangan, aman, nyaman, tidak terganggu serta bebas melakukan aktifitas sosial.

Perihal Pengelolaan konflik, hampir semua orang berpikir bahwa konflik itu dalam artian phisik, bentrokan phisik. Maskud dari penelitian ini bukan bentrokan phisik, tetapi lebih kepada bagaimana mengelola, menjaga kerukunanan, manajemen konflik dimulai dari sebelum terjadi konflik, bukan setelah ada konflik terjadi kemudian mengobati.

Sejarah mencatat di tahun 2000 di Kota Batam memang pernah terjadi di mana masyarakat saling membenci satu sama lain, menyebar fitnah, menghina, dan menjelekkan satu dengan yang lainnya.  Hal ini yang harus kita cegah di masa sekarang dengan mengelola pendekatan persuasif kita. Saya kira cukup jelas.

Fakta yang kedua bahwa konflik yang terjadi di Kota Batam pada masa lampau itu terjadi atas dasar pendirian rumah ibadah. Ini adalah alasan klasik, bukan fanatisme umatnya tetapi permasalahan lahan yang menjadi pemicunya.

Di Kota Batam perizinan lokasi lahan diberikan oleh Otorita Batam yang sekarang berubah nama menjadi Badan Pengusahaan Batam (BP Batam) tetapi Izin Mendirikan Bangunan (IMB) dikeluarkan oleh Pemkot Batam.

Di komplek perumahan banyak kita jumpai Fasilitas Umum dan Fasilitas Sosial. Banyak orang mendirikan tempat ibadah di tempat umum (fasum) dan ada juga di ruko. Hal ini memicu konflik, dan FKUB sering menangani konflik ini.

Dari pengalaman inilah maka pengelolaan konflik sebelum konflik itu terjadi sangatlah penting. Fakta selanjutnya adalah Pada tahun 2017 ini ternyata masyarakat Kota Batam hidup rukun, hubungan antar umat beragama tidak ada masalah. Yang menjadi masalah adalah pengalokasian lahan. Yang kedua politik menjelang Pilkada.

Selanjutnya adalah Pengaruh budaya keluarga terhadap stabilitas kehidupan masyarakat. Semakin baik budaya keluarga maka akan semakin baik pula mengatasi konflik dan mengatasi stabilitas. Di dalam budaya keluarga ada beberapa tingkatan.

Yang pertama hubungan antara suami dengan istri, yang kedua adalah hubungan antara ibu dengan anak, kemudian hubungan ayah dengan anak, dan yang terakhir adakah hubungan antara  anak dengan  anak. Hubungan integritasi ini  semuanya terjadi dalam sebuah keluarga. Kita tahu bahwa keluarga adalah satuan masyarakat yang terkecil. Kualitas hubungan dalam keluarga inilah yang akan mempengaruhi pribadi/personal untuk selanjutnya akan berpengaruh pada bagaimana dia hidup dan berhubungan dengan masyarakat, dengan tetangga, dengan umat beragama. Dan terbukti di Kota Batam suasananya tetap kondusif. Masyarakat Kota Batam akan mengedepankan kondusifitasnya menuju Kota Batam sebagai bandar dunia yang madani. Penelitian ini akan direkomendasikan kepada pemerintah. Maka penelitian ini akan sangat berguna tidak hanya bagi peneliti, tetapi juga bagi pengambil kebijakan strategis di pemerintahan.

Masyarakat Kota Batam adalah masyarakat yang heterogen, masyarakat industry yang terdiri dari  6 (enam) agama. Dan Prov. Kepulauan Riau mendapat urutan no 2 untuk tingkat nasional dalam hal kerukunan umat beragama.

Apa Motivasi Pak Wayan Mengambil Program Study S-3?
Jawaban:
Di manapun kita hidup, bekerja dan mengabdi kepada bangsa akan selalu ada fenomena, paradigma yang baru bahwa kita berhadapan dengan orang dan masyarakat
Saya mengambil program S3 jurusan ilmu Manajemen konsentrasi manajemen SDM. Walau kita memimpin perusahaan, tetapi yang kita hadapi adalah manusia. Lalu bagaimana pendekatan kita terhadap manusia yang lain? Kita harus mampu mengelola dan menggunakan aset human capital, human social, Inilah sebuah proses upgrade diri. Minimal kita bisa menjadi contoh figure bagi keluarga. Saya berharap anak - anak saya bisa terinspirasi minimal sama atau bisa lebih.

Yang ketiga adalah kita harus menjadi diri kita sendiri, bukan menjadi orang lain. Setelah menyandang Doktor minimal adalah perubahan laku behavior, bagaimana memimpin umat, memimpin masyarakat. Kita tidak harus menjadi pemimpin formal. Kita setiap hari berjumpa dengan orang lain. Minimal kita menggunakan fungsi manajamen untuk pendekatan persuasif kepada orang lain

Mengapa Pak Wayan tertarik meneliti dengan judul “Pengaruh Budaya keluarga, Pengelolaan Konflik, Toleransi dan Kerukunan antar Umat Beragama terhadap Stabilitas kehidupan Masyarkat di Kota Batam?

Jawaban:

Pertama  saya melihat fenomena dan gejolak sosial yang teradi di kota Batam, di mana Batam sebagai daerah industri atau dikenal dengan Batam Industrial Development Authority seharusnya memperhatikan sumber daya manusia yang diharapkan mampu menjaga Batam tetap kondusif dan menjadi pilihan bagi investor asing untuk menanamkan modal di kota Batam. Terkait dengan hal tersebut maka hendaknya kita menjaga stabilitas kehidupan dengan mempertahankan bahwa investor merasa nyaman, aman, tidak terganggu dan  bebas melakukan aktifitas sosial kemasyarakatan. SDM yang baik tentu berasal dari kebiasaan dan budaya dari kehidupan keluarga. Semakin baik budaya di keluarga maka stabilitas di masyarakat akan menjadi meningkat lebih baik dan begitu sebaliknya. Keunikan penelitian saya ini adalah penelitian yang sifatnya preventif yaitu menjaga stabilitas kehidupan masyarakat sebelum terjadi konflik. Adapun kesimpulan dari sebuah penelitian saya bahwa :

1. Terdapat pengaruh langsung positif budaya keluarga terhadap stabilitas kehidupan masyarakat di Kota Batam, yang berarti meningkatnya pengaruh budaya keluarga menyebabkan meningkatnya stabilitas kehidupan masyarakat di Kota Batam.
2. Terdapat pengaruh langsung positif pengelolaan konflik terhadap stabilitas kehidupan masyarakat di Kota Batam, yang berarti bahwa meningkatnya pengelolaan konflik menyebabkan meningkatnya stabilitas kehidupan masyarakat di Kota Batam.
3.    Terdapat pengaruh langsung positif toleransi terhadap stabilitas masyarakat di Kota Batam, yang berarti bahwa meningkatnya toleransi masyarakat menyebabkan meningkatnya  stabilitas kehidupan masyarakat di Kota Batam.

4.  Terdapat pengaruh langsung positif kerukunan antar umat beragama terhadap stabilitas kehidupan masyarakat di Kota Batam, yang berarti bahwa meningkatnya kerukunan umat beragama menyebabkan meningkatnya stabilitas kehidupan masyarakat di Kota Batam.
5. Terdapat pengaruh langsung positif budaya keluarga terhadap kerukunan antar umat beragama, yang berarti bahwa meningkatnya pengaruh budaya keluarga menyebabkan meningkatnya kerukunan antar umat beragama di Kota Batam.

6.  Terdapat pengaruh langsung positif pengelolaan konflik terhadap kerukunan antar umat beragama, yang berarti bahwa meningkatnya pengelolaan konflik menyebabkan meningkatnya kerukunan antar umat beragama di Kota Batam.

7.   Terdapat pengaruh langsung positif  toleransi terhadap kerukunan antar umat beragama, yang berarti bahwa meningkatnya toleransi menyebabkan meningkatnya kerukunan antar umat beragama di Kota Batam.

8.    Terdapat pengaruh langsung positif budaya keluarga terhadap toleransi, yang berarti bahwa meningkatnya pengaruh budaya keluarga menyebabkan meningkatnya toleransi masyarakat di Kota Batam.

9.  Terdapat pengaruh langsung positif pengelolaan konflik terhadap toleransi, yang berarti bahwa meningkatnya pengelolaan konflik menyebabkan meningkatnya toleransi masyarakat di Kota Batam.

Berbeda dengan penelitian yang terdahulu, seperti peristiwa di Situbondo, bahwa penelitiannya pasca konflik. Begitu juga di Ambon, dan Poso. Preventif jauh lebih baik dari pada korektif yaitu menangani setelah konflik itu terjadi.

Selasa, 10 Oktober 2017

Umat Hindu Kota Tanjung Pinang dan Kabupaten Bintan Melaksanakan upacara Pujawali Pura Girinatha Puncak Sari

Tanjung Pinang-Pada hari Kamis, 5 Oktober 2017, bertempat di Pura Girinatha Puncak Sari, Kabupaten Bintan, umat Hindu kepulauan Riau melaksanakan Upacara Keagamaan yaitu Pujawali yang bertepatan dengan Purnama sasih Kapat. Pujawali adalah sebuah peringatan berdirinya sebuah pura sebagai rumah ibadah agama Hindu. Hadir pada kesempatan itu Pembimas Hindu Kanwil Kementerian Agama Prov. Kep. Riau, Penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Batam, Penyuluh Agama Hindu kanwil Kementerian Agama Prov. Kep. Riau, WHDI Prov. Kep. Riau, ketua WHDI Kota Batam dan Kab. Bintan, Ketua Parisada Kota Tanjung Pinang dan Kab. Bintan, Ketua Pasraman Brahma Widya Sattwika, Sanggar Kesenian Langlang Bhuana dan Ketua Lembaga Agama/keagamaan baik tingkat Provinsi dan Kota/Kabupaten.

Acara ini bertujuan untuk memohon kesucian dan anugerah dari Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa. Acara dimulai dengan mecaru dilanjutkan dengan purwa daksina, mekalyas, gelar sanga dan tarian rejang dewa, kemudian persembahyangan bersama yang dipimpin oleh pinandita/pemangku.

Pada sambutannya, Pembimas Hindu Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau mengajak umat Hindu yang hadir untuk memohon kesucian dan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa. Beliau juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang terlibat dalam upacara ini. Pembimas Hindu juga mengajak umat Hindu di Kepulauan Riau untuk mendoakan saudara – saudara kita yang sedang dilanda musibah di Gunung Agung, Kabupaten Karangasem, Bali.

Selanjutnya Purwadi, S.Ag, Selaku penyuluh Agama Hindu pada Kanwil Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Riau. Berkesemppatan menyampaikan dharma wacana/siraman rohani di hadapan umat Hindu di Kabupaten Tanjung Pinang. Pada awalnya Purwadi menjelaskan awal mula terjadinya pujawali, mengapa harus melaksanakan pujawali atau piodalan dan juga Filosophy agama Hindu. Piodalan berasal dari kata Wedhal keluar atau lahir. Umat Hindu identik dengan dengan acara, upakara atau ritual. Mengapa umat hindu di Kabupaten Bintan harus melaksanakan piodalan? Mengapa ini terjadi?

Piodalan Mengulang sejarah proses sebelum adanya pura dan juga sesudah pura itu ada. Pujawali atau piodalan sebagai Wujud terima kasih kepada leluhur, penggagas dan pendahulu oleh generasi penerusnya. Wujud terim kasih itu berupa pelestarian budaya sebagai bagian dari upaya pembumian ajaran Weda.

Mengapa piodalan Pura Girinatha Puncak Sari jatuh dan ditetapkan pada rahine tertentu yaitu setiap Purnama sasih Kapat? Hal ini tidak lain dan tidak bukan adalah Untuk mempermudah mengingat, penanda awal berdirinya pura. Dan malam ini bertepatan dengan bulan purnama yang special dan langka di mana sinar bulan tampak lebih besar. Ini harus kta syukuri bersama. Pujawali juga sebagai wujud syukur kepada leluhur kita Hindu. Umat Hindu di Kota Tanjung Pinang dan Kabupaten Bintan sudah ngayah dari awal hingga hari ini dengan penuh keikhlasan dan itulah yajna. Pujawali bukan hanya kewajiban pemangku, panitia atau umat Hindu di kota Tanjung Pinang dan Juga Kab. Bintabn saja tetapi sebagai tanggung jawab kita bersama umat Hindu di Kepulauan Riau. Ini akan membentuk persaudaraan dan persatuan.

Secara geografis Pura Giri Natha terletak di Kabupaten Bintan, tetapi karena umat yang terdekat dari wilayah pura adalah umat Hindu dari Kota Tanjung pinang maka pura ini sebagian besar disungsung oleh Umat Hindu dari Kota Tanjung Pinang.

Agama Hindu tidak bisa lepas dari budaya, budaya tidak bisa lepas dari agama. Sebagai contoh adalah budaya atau tradisi dalam yajna upakara, dan penggunaan banten. Serati banten, panitia jero mangku dan umat mempersiapkan semuanya. Dibentuk sedemikian rupa sedemikian indahnya dengn hati tulus. Suatu bentuk seni budaya dalam bentuk bebantenan sesuai dengan karakter masing – masing di setiap pelinggih yang berbeda-beda.

Sekali lagi Purwadi menyatakan bahwa Piodalan sebagai puncak sejarah dan wujud terima kasih kepada pendahulu. Sebagai pendahulu maka berkewajiban mengajarkan kepada penerusnya tentang sejarah pura Giri Natha Puncak Sari dan juga memperkenalkan diri kepada generasi berikutnya. Sehingga tidak lupa melaksanakan pujawali. Maka kita tidak akan lupa akan sejarah dan melenceng dari ajaran gama Hindu. Apapun yang terjadi awalnya dari sejarah. (eko2017)



Rabu, 06 September 2017

Umat Hindu Kota Batam Gelar Perayaan hari Suci Tumpek Landep

Bertempat di Halaman Utama Mandala Pura Agung Amertha Bhuana, Kota Batam, umat Hindu Kota Batam menggelar Persembahyangan bersama guna memperingati hari suci Tumpek Landep. Hadri pada kesempatan itu penyelenggara Hindu dan ketua Lembaga agama/keagamaan baik tingkat Provinsi Kepulauan Riau maupun Kota Batam. Ada hal yang berbeda dari perayaan tumpek Landep tahun ini di mana master ceremony (MC) dibawakan oleh I Gusti Ngurah Prayata Anom yang notabene usianya masih sangat muda dan baru duduk di kelas 7 SMP. Ini adalah upaya kaderisasi yang dilakukan oleh Umat Hindu Kota Batam, khususnya Banjar Nagoya. Pada kesempatan itu Wayan Jasmin selaku Ketua Parisada Prov. Kepulauan Riau membawakan dharma wacana dengan topik makna hari suci Tumpek Landep dan manfaatnya dalam kehidupan kita.

Seperti biasa, Tumpek Landep selalu diawali dengan memprayascita semua benda – benda hasil karya pikiran manusia, mulai dari keris, kedaraan, senjata untuk bertani, hingga laptop. Ini merupakan fenomena yang terjadi sekarang ini.

Tumpek Landep adalah saat di mana Ida Hyang Widhi Wasa dalam prabhawa-Nya sebagai  “Pasupati” atau “Siwa Pasupati” itu sendiri. Pasupati itu terdiri dari pasu yang berarti jiwa atau binatang, juga berarti kehidupan, dan pati adalah penguasa, jadi “Pasupati” adalah penguasa kehidupan/binatang, binatang di sini melambangkan nafsu indria, maka jangan heran jika dalam gambar dewa Siwa dhyana itu duduk dengan kulit harimau, artinya beliau mengajarkan kepada kita dalam hidup harus menguasai panca indra, jangan kita dikuasai oleh panca indra pemuas nafsu kita. Pada hari Tumpek Landep, Siwa sebagai Pasupati menganugerahkan jnana atau ketajaman pikiran (landeping idep), ketajaman perkataan(landeping wak), dan ketajaman perbuatan (landeping laksana). Pikiran dipertajam dengan ilmu, tapa brata yoga Samadhi, perkataan ditajamkan dengan menata  pembicaraan, dalam filsafat jawa ada istilah “ajining dhiri ono ing gebyaring lathi” harga diri manusia ada pada kata-katanya. Perbuatan ditajamkan dengan pergaulan, harmonisasi.  dari kelima hari ini ada kaitanya yaitu manusia diarahkan untuk melakukan penebusan dosa, setelah dimurnikan maka diberikan ilmu pengetahuan pada hari Saraswati dan pada tumpek landep yang berbarengan dengan purnama ditajamkan kembali. Sepulang dari pura Bapak Ibu bisa melukat di rumah dengan tirta pasupati yang telah disiapkan oleh panitia, yang berisi bunga, dan yang polos adalah tirta amerta, atau Bapak Ibu bisa menggunakan air kelapa gading, karena di hari suci purnama air kelapa gading diyakini akan dapat memberishkan segala kekotaran batin baik diberi mantra maupun tidak.

Tumpek Landep dirayakan setiap Sanisara Kliwon Wuku Landep. Tumpek Landep berasal dari kata Tumpek yang berarti Tampek atau dekat dan Landep yang berarti Tajam.

Jadi dalam konteks filosofis, Tumpek Landep merupakan tonggak penajaman, citta, budhi dan manah (pikiran). Dengan demikian umat selalu berperilaku berdasarkan kejernihan pikiran dengan landasan nilai - nilai agama. Dengan pikiran yang suci, umat mampu memilah dan memilih mana yang baik dan mana yang buruk .

Tumpek landep merupakan hari raya pemujaan kepada Sang Hyang Siwa Pasupati sebagai dewanya taksu. Jadi setelah memperingati Hari Raya Saraswati sebagai perayaan turunya ilmu pengetahuan, maka setelah itu umat memohonkan agar ilmu pengetahuan tersebut bertuah atau memberi ketajaman pikiran dan hati. Pada rerainan tumpek landep juga dilakukan upacara pembersihan dan penyucian aneka pusaka leluhur seperti keris, tombak dan sebagainya sehingga masyarakat awam sering menyebut Tumpek Landep sebagai otonan besi.

Namun seiring perkembangan zaman, makna tumpek landep menjadi bias dan semakin menyimpang dari makna sesungguhnya.

Sekarang ini masyarakat justru memaknai tumpek landep lebih sebagai upacara untuk motor, mobil serta peralatan kerja dari besi. Sesungguhnya ini sangat jauh menyimpang. Boleh saja pada rerainan Tumpek Landep melakukan upacara terhadap motor, mobil dan peralatan kerja namun jangan melupakan inti dari pelaksanaan Tumpek Landep itu sendiri yang lebih menitik beratkan agar umat selalu ingat untuk mengasah pikiran (manah), budhi dan citta. Dengan manah, budhi dan citta yang tajam diharapkan umat dapat memerangi kebodohan, kegelapan dan kesengsaraan. Ritual Tumpek Landep sesungguhnya mengingatkan umat untuk selalu menajamkan manah sehingga mampu menekan perilaku buthakala yang ada di dalam diri.

Jika menilik pada makna rerainan, sesungguhnya upacara terhadap motor, mobil ataupun peralatan kerja lebih tepat dilaksanakan pada Tumpek Kuningan, yaitu sebagai ucapan syukur atas anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa atas sarana dan prasara sehingga memudahkan aktifitas umat, serta memohon agar perabotan tersebut dapat berfungsi dengan baik dan tidak mencelakakan.  

Tumpek landep adalah tonggak untuk mulat sarira / introspeksi diri untuk memperbaiki karakter agar sesuai dengan ajaran - ajaran agama. Pada rerainan tumek landep hendaknya umat melakukan persembahyangan di sanggah/ merajan serta di pura, memohon wara nugraha kepada Ida Sang Hyang Siwa Pasupati agar diberi ketajaman pikiran sehingga dapat menjadi orang yang berguna bagi masyarakat. Pada rerainan tumpek landep juga dilakukan pembersihan dan penyucian pusaka warisan leluhur. Bagi para seniman, tumpek landep dirayakan sebagai pemujaan untuk memohon taksu agar kesenian menjadi lebih berkembang, memperoleh apresiasi dari masyarakat serta mampu menyampaikan pesan - pesan moral guna mendidik dan mencerdaskan umat.

Jadi sekali lagi ditegaskan, Tumpek Landep bukan hanya rerainan untuk mengupacarai motor, mobil ataupun perabotan besi, tetapi lebih menekankan kepada kesadaran untuk selalu mengasah pikiran (manah), budhi dan citta untuk kesejahteraan umat manusia. Boleh saja pada rerainan Tumpek Landep mengupacarai motor, mobil dan sebagainya sebagai bentuk syukur namun itu adalah nilai tambahan saja. Jangan sampai perayaan rerainan menitik beratkan pada nilai tambah namun melupakan inti pokok dari rerainan tersebut.

Dalam lontar Agastya Parwa dijelaskan telah terjadi percakapan anatara sang Dredasyu dengan Bagawan Agastya begini bunyinya: “ wahai Guru mulia, Perbuatan mulia apakah yang membuat seseorang mencapai keutamaan hidup baik di dunia maupun setelah mati?’ kemudian Bahgaan Agastya menjawab: wahai Sang Drdhasyu, ada 3 hal yang memungkinkan seseorang mencapai keutamaan hidup, adalah ulah, sabda dan ambek (perbuatan, perkataan dan pikiran), akibat yang dihasilkan oleh pikiran lebih besar daripada perkataan, dan perkataan lebih berat dari pada perbuatan, demikian juga sebaliknya dosa yang dihasilkan oleh perbuatan yang disertai kesadaran pikiran lebih besar daripada yang tidak menggunakan emosi pikiran. Untuk itu disaran seorang spiritual itu diharapkan dapat berpikir baik. Pikiran itu tajam, bisa jadi teman bisa jadi lawan, waspadalah, waspadalah!!!!

Kemudian Bhagawan Agastya menambahkan lagi ada tiga hal lagi yang harus dipegang oleh umat manusia yaitu: tapa, yajna dan krti, tapa lebih ditekankan ke pengendalian indria, selalu seimbang walau dihina dan dipuji, jangan kita senang lihat orang lain susah dan susah melihat orang lain senang. Ini negative sekali. yajnya berarti korban suci yang tulus ikhlas, mari kita lestarikan upakara yajna yang berlandaskan sastra suci sebagai bentuk pelestarian dan pembumian ajaran Weda, yajnya sebagai kamadhuk atau sapi perahan yang membuat hidup sejahtera, Karena dengan yajnya hujan dan kemakmuran itu ada, di mana suatu daerah tidak ada yajnya maka daerah itu akan kering/tidak subur. Penglingsir kita begitu agung mewariskan ajaran yajnya, seperti Mpu Kuturan, Dhahyang Nirarta, Mpu Markandeya, dsb. Kemudian krti adalah perbuatan baik dengan membangun fasilitas umum seperti pura, pasraman sekolah, dll, krti bisa  sebagai investasi karma. Ketiga hal ini di masyarakat menimbulkan prawerti dan niwerti marga yang artinya bahwa jalan jnana dan bhakti itu selalu ada dan berdampingan, jangan kita mengartikan bahwa prawerti itu jalan bagi yang jnananya rendah, dan niwerti bagi yang jnananya tinggi, di hadapan Tuhan semua sama yang membedakan adalah kualitas bhakti, ikhlas dan tidaknya. (eko 2017)


Disduk Kota Batam Menggelar Kegiatan Sosialisasi Peningkatan dan Implementasi Cakupan Kepemilikkan Akta Perkawinan dan Akta Perceraian serta Pelayanan Terpadu dalam Pelayanan Pencatatan Sipil

Pada hari Rabu, 6 September 2017 bertempat di Hotel Best Western Panbil, Kota Batam, Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Batam mengadakan Sebuah Kegiatan Sosialisasi Peningkatan  dan Implementasi dan Cakupan Kepemilikkan Akta Perkawinan dan Akta Perceraian serta Pelayanan Terpadu dalam Pelayanan Pencatatan Sipil. Dari Kementerian Agama kota Batam hadir pada kesempatan itu Penyelenggara Bimas Hindu, Penyelenggara Buddha, Bimas Islam, dan KUA Batam Kota.  

Acara dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas kependudukan Kota Batam yang baru, Said Khaidar. Dalam sambutannya Said Khaidar berkomitmen mengajak seluruh pegawai di Disduk Capil untuk mewujudkan pelayanan prima dan menghindari praktik pungli. Disduk Capil akan melakukan perubahan dan peningkatan sarana dan prasarana untuk menunjang kenyamanan dalam pelayanan dokumen Catatan Sipil. “Semua bentuk pelayanan catatan sipil tidak dipungut biaya, jadi jika ada masyarakat yang menemukan praktik pungli mohon untuk segera melaporkannya”, tegas Said Khaidar mengakhiri sambutannya.

Selanjutnya acara dilanjutkan paparan materi yang disampaikan oleh Kementerian dalam Negeri RI dengan materi Peningkatan dan Implementasi Kepemilikan Akta Perkawinan Dan Perceraian. Sedangkan dari Disduk Capil Kota Batam yang menyampaikan materi dengan topik Penyelenggaraan Pencatatan Peristiwa Perkawinan Dan Perceraian Tindak Pidana Yang Diatur Dalam Kuhp Terkait  Dengan Perkawinan Dan Perceraian. Terakhir adalah materi Pelayanan terpadu dalam Pencatatan Sipil. Menurut narasumber banyak kendala yang dihadapi di lapangan terkait pencatatan sipil. Perlu adanya sosialisasi kepada masyarakat tentang pentingnya dokumen catatan sipil sehingga masyarakat tidak terlambat dalam mengurus dokumen tersebut, karena kita tahu betapa pentingnya dokumen tersebut sebagai contoh adalah akta kelahiran yang tetap akan kita gunakan sampai tua nanti. (ep)



Kamis, 31 Agustus 2017

Sosialisasi Sistem Pengendalian Internal Pemerintah

Tanjung Pinang-Bertempat di Aula Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau, pada tanggal 29 sampai dengan 30 Agustus 2017, Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau mengadakan kegiatan Sosialisasi Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau. Kegtiatan ini diikuti oleh Pejabat Pengelola Zona Integritas dan Satgas SPIP baik di lingkungan Kanwil Kementerian Agama Prov. Kep. Riau, kepala Kan- Kemenag se-Kep. Riau, ketua Tim Zona Integritas se-kep. Riau, Satgas SPIP se-kep Riau, dan Kepala Madrasah Negeri. Dari Batam sendiri hadir Plt. Kepala Kan-Kemenag, Penyelenggara Buddha, Penyelenggara Hindu, Kepala MAN Batam, dan Kepala MTsN 1 Batam.

Maksud dari Kegiatan Sosialisasi Sistem Pengendalian Intern Pemerintah (SPIP) Kanwil kementerian Agama Prov. Kepuluan Riau pada tanggal 28 s/d 30 Agustus 2017 di Aula Kanwil Kementerian Agama Provinsi Kepulauan Riau adalah member Pemahaman yang benar tentang PP Nomor 60 Tahun 2008 tentang SPIP kepada ASN dan pelaksana Satuan Tugas (Satgas) Sistem Pengendalian internal pemerintah (SPIP) di lingkungan Kementerian Agama se- Prov. Kepulauan Riau

Adapun Tujuan dari kegiatan Sosialisasi SPIP ini adalah mensosialisasikan PP nomor 60 tahun 2008 tentang SPIP, menanamkan nilai-nilai 5 (lima) budaya kerja Kementerian Agama, melakukan valuasi penerapan SPIP di Kepulauan Riau, memberi pemahaman yang benar tentang dokumen rencana aksi SPIP, membentuk karakter ASN yang bersih dan melayani, inovatif, mewujudkan Wilayah Bebas dari Korupsi (WBK) dan Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) di lingkungan Kementerian Agama se- Kepulauan Riau dan mewujudkan revolusi mental bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) di wilayah kepulauan Riau.

Upaya Kantor Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau dalam men­yukseskan pelaksanaan pembangunan Zona Integritas dan pelaksanaan Sistem Pengendalian Internal pemerintah ini diharapkan menjadi langkah awal dalam mewujudkan visi misi Kementerian Agama serta mendorong tercapainya tujuan pembangunan Nasional.

Pada hari Senin, Penyelenggara hindu menyempatkan diri untuk melakukan koordinasi dengan Bagian Humas Kanwil kemenag kep. Riau Pembimas Hindu Kanwil Kemenag kep. Riau perihal pelaksanaan SPIP dan Pelayanan Publik pada Bimas Hindu dan mengamati Pelayanan Publik dan Pelayanan satu atap di Kanwil kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau yang nantinya akan bisa diterapkan di kantor kementerian Agama Kota Batam.

Pada Hari Selasa, 29 Agustus 2017 kegiatan sosialisasi ini ini dibuka resmi oleh Kepala Kantor Wilayah kemenetrian Agama Prov. Kep. Riau. Namun sebelumnya Alpian selaku Ketua Panitia berkesempatan memberikan kata sambutan. Dalam sambutannya Alpian selaku Ketua Panitia dari kegiatam ini menyatakan bahwa SPIP harus dilaksanakan di setiap satker mulai dari perencanaan, pelaksanaan, pelaporan dan evaluasi. Dasar dari pelaksanaan SPIP adalah Pemerintah Nomor 60 tahun 2008 tentang sistem Pengendalian Internal Pemerintah.

Dalam Undang – Undang Nomor I Tahun 2014 tentang Perbendaharaan Negara Pasal 55 ayat (4)  dijelaskan bahwa Menteri/pimpinan lembaga selaku pengguna anggaran/pengguna barang memberikan pernyataan bahwa pengelolaan APBN telah diselenggarakan berdasarkan sistem pengendalian yang memadai dan akuntansi keuangan telah diselenggarakan sesuai dgn SAP.

Sesuai amanah Pasal 58 ayat (1), UU No 1 tahun 2004  dinyatakan bahwa SPIP diperlukan untuk meningkatkan kinerja, transparansi, dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara. SPIP yang kuat (strong SPIP), maka laporan keuangan yang dibuat oleh manajemen bebas dari salah saji, antara lain tercermin adanya Sistem pencatatan/akuntansi yang baik, Sistem pelaporan yang baik, kemudian Sistem pencatatan aset yang baik sehingga  keamanan aset yang dimiliki  oleh SATKER, dapat dilindungi dari kemungkinan kehilangan/kerusakan/ kecurian dan Sistem reviu internal atas laporan keuangan oleh fungsi pengawasan intern.

Dalam Peraturan Pemerintah Nomor 60 tahun 2008 tentang system Pengendalian Internal Pemerintah dijelaskan bahwa merupakan komitmen yang nyata dari pemerintah untuk memperbaiki akuntabilitas keuangan negara adalah resep agar tidak disclaimer dan mencegah penyimpangan (preventif)

Pembangunan zona integritas menuju Wilayah Bebas Korupsi (WBK) dan wilayah birokrasi bersih dan melayani (WBBM) harus dimulai dari terciptanya sistem pemerintahan yang bersih, melayani dan smart government merupakan salah satu langkah awal untuk melakukan penataan terhadap sistem penyelenggaraan pemerintahan yang baik, efektif dan efisien, sehingga dapat melayani masyarakat secara cepat, tepat, dan profesional. Oleh karena itu, penerapan SPIP adalah langkah strategis untuk membangun aparatur negara agar lebih berdaya guna dan berhasil guna dalam mengemban tugas umum pemerintahan dan pembangunan nasional.

Selanjutnya Ka-Kanwil kementerian Agama prov. Kepulauan Riau berkesempatan memberikan paparan kepada peserta perihal Evaluasi nilai audit kinerja Kanwil Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau. Marwin Jamal melakukan evaluasi hasil audit kinerja yang dilakukan oleh Itjen Kementerian Agama RI.

Paparan selanjutnya dari BPKP Prov. Kepulauan Riau perihal Sosialisasi PP Nomor 60 tahun 2008 perihal SPIP dan Teknik penyusunan rencana Aksi Pelaksanaan SPIP.

Pada hari Rabu, 30 Agustus 2017 narasumber dari Inspektorat Jenderal Kementerian Agama RI Jakarta menyampaikan materi perihal Teknik Penyusunan Dokumen dan pelaporan Pelaksanaan Sistem Pengendalian Internal pemerintah (SPIP) di Lingkungan Kementerian Agama dan Evaluasi pelaksanaan Sistem Pengendalian Internal pemerintah (SPIP) di lingkungan Kementerian Agama;

Sistem Pengendalian Internal Pemerintah (SPIP) adalah tugas kita bersama, bukan hanya pimpinan dan Satgas SPIP. SPIP sebenarnya sudah kita laksanakan dan melekat pada tugas dan fungsi kita. Setiap kegiatan dan pencarian anggaran yang kita lakukan harus memperhatikan factor tujuan, hasil dan resiko sehingga sangat penting dalam melakukan verifikasi data dan analisis resiko. Keterlibatan pimpinan juga sangat penting dalam pelaksanaan SPIP. Pimpinan harus berhati – hati dalam mengambil keputusan karena bisa berdampak pada pimpinan sendiri, seluruh ASN dan Satker. Pendelegasian tugas dan wewenang dari pimpinan kepada bawahan harus didasarkan pada asas kehati-hatian. Untuk itu perlu dilaksanakan monitoring, evaluasi dan tindak lanjut dari monitoring perihal pelaksanaan kegiatan dan realisasi anggara yang merupakan bagian dari SPIP itu sendiri.


Kegiatan ini sangat positif sehingga harus berkesinambungan serta ada evaluasi secara berkala. Itjen Kementerian Agama harus rutin ke daerah memberikan pembinaan selaku pengawas pelaksana SPIP yang tergabung dalam APIP. Semua pihak harus mendukung dan melaksanakan pengawasan kegiatan dan pencairan anggaran sebagai bagtian dari SPIP itu sendiri. Perlu ada pembinaan berkala dari Kanwil ke Kemenag Kota dan Kabupaten se- Kep. Riau. Dalam hal pengawasan SPIP di daerah. (ep)

Minggu, 27 Agustus 2017

Pembimas Hindu Ajak Guru mengabdikan Ilmunya di Masyarakat

Pada hari Minggu, 27 Agustus 2017, bertempat di aula Pasraman Jnana Sila Bhakti, Pembimas Hindu Kementerian Agama Prov. Kepulauan Riau memberikan pembinaan kepada seluruh dewan guru Pasraman Jnana Sila Bhakti. Hadir pada kesempatan itu Penyelenggara Hindu, Penyuluh Agama Hindu, Ketua Lembaga Agama dan Keagamaan di Kota Batam serta Dewan Guru  Pasrmaan Jnana Sila Bhakti.

Jumlah Guru Agama Hindu di Prov. Kepulauana Riau hanya ada 3 (tiga) dengan rincian 1 (satu) orang PNS, dan 2 (dua) orang non PNS, masing – masing tersebar di Batam dan Tanjung Pinang. Jumlah ini sangat kurang bila dibandingklan jumlah siswa yang ada. Untuk itu Pembimas Hindu mengajak semua guru untuk ikhlas mengabdi demi kemajuan Hindu di masa yang akan datang. Pembimas Hindu mengajak guru – guru di pasraman untuk ikut aktif mendidik dan mebina siswa guna membentuk karakter siswa. Ketut Suardita mengajak agar guru menggunakan metode yang variatif dengan adanya keseimbangan teori dan praktek. Misalnya ada pelajaran membuat sesaji maka harus praktek membuat sesaji. Siswa juga harus dikenalkan dengan game-game/outbond agar terbiasa menyelesaikan masalah. “Mari jadikan Pasraman sebagai ladang bhakti kepada Hyang Widhi”, tegas Ketut mengakhiri pembinaannya.


Purwadi selaku Penyuluh agama Hindu juga memberikan pengarahan bahwa siswa akan mudah jenuh bila harus diberi teori saja, harus ada praktek dan pengenalan lingkungan. DI masa yang akan datang akan ada pertukaran guru dari Bintan ke Batam dan sebaliknya. Pembimas Hindu juga menjajaki adanya kemungkinan kerjasama dalam bentuk pembinaan dari Kampus IHDN dan STAHDN Jakarta. Kedua kampus ini bersedia mengirimkan mahasiswanya untuk melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Pulau Batam dan Pulau Bintan. Purwadi juga menjelaskan bahwa Jambore Pasraman yang sedianya akan dilaksanakan pada tahun 2018 diundur menjadi tahun 2019 karena pertimbangan anggaran dan faktor lainnya. Untuk itu Purwadi mengajak Guru – Guru Pasraman untuk memberikan penekanan khusus pada cabang lomba ini.

Rabu, 23 Agustus 2017

Umat Hindu Kota Batam Rayakan Hari Pagerwesi

Batam-Pada Hari Rabu, 23 Agustus 2017 bertempat di Pura Agung Amerta Bhuana, Kota Batam, umat Hindu merayakan hari Suci Pagerwesi. Hadir pada kesempatan itu penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Batam, ketua lembaga Agama dan keagamaan baik tingkat Provinsi maupun tingkat kota.

Hari Raya Pagerwesi dilaksanakan pada hari Budha (Rabu) Kliwon Wuku Shinta. Hari raya ini dilaksanakan 210 hari sekali. Sama halnya dengan Galungan, Pagerwesi termasuk pula rerahinan bumi, artinya hari raya untuk semua masyarakat, baik para rohaniawan maupun umat. Dalam sastra suci dijelaskan bahwa pada hari Rabu Kliwon Shinta disebut Pagerwesi sebagai pemujaan Sang Hyang Pramesthi Guru yang diiringi oleh Dewata Nawa Sanga (sembilan dewa) untuk mengembangkan segala yang lahir dan segala yang tumbuh di seluruh dunia. Hendknya umat Hindu memohon kepada Tuhan agar diberi kekuatan hati dan pikiran laksana besi agar mampu membentengi diri dari pengaruh negatif di dunia ini. Di samping agar diberikan kekuatan mental untuk selalu berpikir, berkata dan berbuat baik.

Hari suci ini merupakan rangkaian dari hari Suci Saraswati, hari di mana ilmu pengetahuan suci itu diturunkan oleh Tuhan dalam prabhawa-Nya sebagai Dewi Saraswati. Sehingga umat manusia yang dipenuhi dengan kegelapan bisa menjadi terang atau tercerahkan. Diharapkan umat Hindu kota setelah melaksanakan persembahyangan pada Hari suci Pagerwesi dikuatkan sradha (keimanan) dan bhaktinya.

Pada kesempatan itu I Made Kasa Astawa selaku Ketua Pasraman Jnana Sila Bhakti menyampaikan dharma wacana kepada umat yang hadir. Dalam Wacananya Made Kasa menjelaskan makna dari perayaan Hari Pagerwesi. Made juga mengajak umat Hindu untuk memagari diri dengan ilmu pengetahuan yang benar agar kuat seperti besi guna menghadapi kehidupan sehari - hari.(ep17).


Senin, 21 Agustus 2017

Umat Hindu Kota Batam Ikuti Upacara Banyu Pinaruh hari Suci Saraswati di Pantai Payung

Batam-Pada Hari Minggu, 20 Agustus 2017 jam 06.00 WIB pagi bertempat di Pantai Payung, Batu Besar, Kota Batam, Umat Hindu Kepulauan Riau menggelar upacara Banyu Pinaruh sebagai bagian dan lanjutan dari perayaan Hari Suci Saraswati. Upacara ini juga diikuti oleh siswa/siswi Pasraman Jnana Sila Bhakti. Upacara ini dipimpin oleh Jro Mangku Putu Satriayasa dan Jro Mangku Agung Arief Suryanatha. Hadir pada kesempatan itu Penyelenggara Hindu pada Kantor Kementerian Agama Kota Batam, dan ketua Lembaga Agama Keagamaan baik pada tingkat Prov. Kepri maupun Kota Batam. Upacara keagamaan ini diawali dengan persembahyangan bersama, dilanjutkan dengan yoga surya namaskar dan meditasi yang dipimpin oleh Made Karmawan dan I Made Kasa Astawa dari Pasraman Jnana Sila Bhakti. Terakhir diisi dengan sesi game yang dipandu oleh Pemuda Hindu yang tergabung dalam organisasi DPP Peradah Kepulauan Riau.

Ditemui secara terpisah, Eko Prasetyo selaku penyelenggara Hindu mengatakan bahwa Banyu Pinaruh berasal dari kata banyu yang artinya air atau sari-sari, dan pinaruh atau pinaweruh berarti pengetahuan. Jadi Banyu penaruh adalah memohon sari-sari ilmu pengetahuan Kitab Suci Weda dari Tuhan Yang Maha Esa. sehingga dapat dikatakan banyu pinaruh adalah hari dimana kita memohon sumber air pengetahuan. Umumnya dilaksanakan di laut atau di sumber air yang disucikan lainnya.

Kemudian Eko Prasetyo selaku Penyelenggara Hindu menambahkan bahwa Banyu Pinaruh juga bertujuan untuk memohon kesucian lahir dan batin serta memohon tirtha amertha yang bermanfaat dalam kehidupan umat Hindu. Dalam Sastra suci dijelaskan “Amet sarining tirtha kamandalu ring telenging segara” yang artinya bahwa melasti bertujuan untuk menyerap sari-sari tirtha amerta (tirtha kehidupan) dari tengah-tengah lautan/segara). Dalam Manawa Dharmasastra Buku V. 109 dijelaskan:

Adbhirgatrani cuddhyanti
manah satyena cuddhyati,
widyatapobhyam bhutatma,
buddhir jnanena cuddhyati.

Artinya: 
Tubuh dibersihkan dengan air, pikiran disucikan dengan kebenaran, jiwa disucikan dengan pelajaran suci dan tapa brata, kecerdasan dengan pengetahuan yang benar.

Kegiatan rangakaian hari raya Saraswati kali ini ini berjalan dengan lancar dan sukses. Semua ini tidak lepas dari dukungan semua pihak yang dengan tulus ikhlas membantu dan saling bekerjasama.

Umat Hindu di Kota Batam begitu antusias mengikutinya. Harapannya semoga semua umat Hindu dapat merasakan manfaatnya berupa ketenangan batin, kesehatan dan kesejahteraan. (ep)



Umat Hindu Kota Batam Gelar Perayaan Hari Suci Saraswati

Pada hari Sabtu tanggal 19 Agustus 2017 bertempat di Pura Agung Amertha Bhuana, sekitar 200 orang umat Hindu di Kota Batam melaksanakan upacara persembahyangan dalam rangka Hari Raya Saraswati. Hadir pada kesempatan itu Penyelenggara Hindu Kantor Kementerian Agama Kota Batam, Ketua Lembaga agama dan keagamaan Prov. Kepulauan Riau dan Kota Batam. Upacara ini dipimpin oleh Jro Mangku Putu Satriayasa dan Jro Mangku Agung Arief Suryanatha.

Perayaan ini dimaksudkan untuk memperingati hari turunnya ilmu pengetahuan suci yang dilambangkan dengan Dewi Saraswati. Ilmu pengetahuan wahyukan ke dunia untuk menyelamatkan kehidupan manusia dari kekegalapan. Memberikan bimbingan dan pedoman bagi kehidupan manusia.

Pada kesemapatan itu Eko Prasetyo selaku penyelenggara Hindu berkesempatan menyampaikan dharma wacana/ceramah keagamaan yang membahas makna dari perayaan hari raya Saraswati dan korelasinya dengan kehipuan berbangsa dan bernegara. Eko mengatakan bahwa perayaan hari raya Saraswati selaras dengan tema HUT Kemerdekaan RI yang ditetapkan oleh pemerintah yaitu Indonesia Kerja Bersama. Artinya bahwa sudah saatnya kita mengabdikan ilmu pengetahuan yang kita mililkki untuk bekerja membangun bangsa dan Negara yang kita cintai ini. Setinggi apapun ilmu yang kita milikki pada akhirnya harus kita abdikan di tengah masyarakat, di samping kita harus tetap rendah hati.

Eko juga mengatakan bahwa mengapa ilmu pengetahuan dilambangkan dengan Dewi yang cantik? Artinya bahwa ilmu pengetahuan itu indah dan menarik. Ilmu Pengatahuan akan membuat pemiliknya menjadi menarik, disegani, berwibawa, terkenal dan membuat kesejahteraan. Tetapi ilmu pengetahuan harus dituntut dengan kejujuran, dan tidak gratis, artinya ada Guru Daksina yang harus diserahkan oleh seorang siswa kepada gurunya. Ada ilmu yang harus dirahasiakan ada yang tidak.


Eko mencoba mengutip Sloka dari Kitab Bhagavadgita dalam bentuk terjemahan Bahasa Indonesia: walaupun senadainya kita adalah makhluk yang paling berdosa, tetapi dengan perahu ilmu pengetahuan maka lautan samsara/kelahiran akan engkau seberangi. Artinya walu seorang penjahat sekalipun asalkan dia memilikki keteguhan hati untuk bertobat dan memilikki pengetahuan bagaimana menebus dosa dan berbuat baik maka dia akan dapat memperbaiki kualitas karmanya. “Tuhan akan memberikan pengampunan bagi mereka yang mau menyerahkan diri secara total walaupun penjahat sekalipun”, tegas Eko mengakhiri pembicaraannya. (ep2017)

Rabu, 09 Agustus 2017

Malam Keakraban (Makrab) Peradah Kepri 2017, Solidaritas Menuju Peradah Jaya





Bertempat di Pura Agung Amerta Bhuana kota Batam Kepulauan Riau Pada hari sabtu 5 Agustus s/d minggu 6 agustus 2017. Peradah Kepri mengadakan malam keakraban yang bertema SOLIDARITAS MENUJU PERADAH JAYA. Acara malam keakraban  dihadiri kurang lebih 20 anggota Peradah Kepri dan acara ini juga dihadiri oleh Jero Mangku Putu Satriya Yasa, Eko Prasetyo S.Ag., dan Purwadi S.Ag.

Acara  diawali dengan memasak bersama pada pukul 16.00 -17.30 WIB. Acara Pembukaan dilaksanakan pukul 19.00 WIB yang diawali dengan sambutan oleh Ketua Panitia pelaksana (Komang Suniantara), dalam sambutannya mengucapkan terimakasih kepada pembina peradah dan rekan - rekan peradah atas dukungan, kerjasamanya dan kehadirannya dalam acara makrab Kepri sehingga acara ini dapat terlaksana dengan baik dan dapat berjalan dengan lancar, dan pada sambutannya mengucapkan permohonan maaf yang sebesar besarnya  atas ketidak hadiran rekan-rekan Peradah lainya, karena ada kesibukan yang tidak bisa ditinggalkan.

Kemudian sambutan oleh Ketua Peradah Kepri (Dwi Angga Pratama) menyampaikan bahwa malam keakraban ini adalah acara yang baik agar kedepannya Peradah Kepri menjadi lebih solid dan kompak dalam segala hal, karena dengan kekompakan kita akan lebih cepat dan mudah dalam  menyelesaikan suatu masalah.

Sambutan sekaligus membuka acara oleh Pembina Peradah serta penyelenggara Hindu Kota Batam yaitu bapak Eko Prasetyo S.Ag. dalam sambutan beliau menyampaikan  pesan kepada Peradah Kepri agar selalu tetap menjadi pribadi yang baik dan dipenuhi rasa ikhlas untuk bersama-sama ngaturan ngayah di pasraman maupun di pura serta menjadi contoh yang baik, dan gunakan malam keakraban ini dengan sebaik-baiknya agar lebih mengenal dan dapat saling memahami antar satu dengan yang lainnya. Jika dalam sebuah organisasi terdapat kekompakan, solidaritas dan saling memahami maka organisasi tersebut akan tetap eksis

Setelah pembukaan acara dilanjutkan dengan persembahyangan bersama yang dipimpin oleh jero mangku putu satriya yasa, setelah persembahyangan selesai dilanjutkan makan bersama dan Dharma Tula yaitu pemateri dari bapak Purwadi, dengan tema SOLIDARITAS MENUJU PERADAH JAYA. Beliau mengawali materi dengan olah rasa pada masing-masing peserta dengan menulis sepuluh orang yang paling berjasa dan disayangi selama ini, setelah menulis sepuluh nama orang tersebut, beliau minta untuk memperhatikan secara detail satu persatu nama tersebut setelah itu beliau minta untuk mencoret 3 dari sepuluh nama yang disayangi dan menyisakan 7 nama orang yang disayangi, dan beliau minta mencoret kembali 3 nama orang yang kita sayangi tersisa 4 nama orang yang kita sayangi dan selanjutnya beliau meminta mencoret 1 nama lagi dan menyisakan 3 nama yang benar-benar disayangi selanjutnya beliau minta untuk mencoret 1 nama lagi dan menyisakan 2 nama orang yang benar-benar berjasa dan disayangi, dari 2 tersisa itu beliaupun mengatakan bahwa yang ada 2 nama orang yang tersisa adalah orang tua kita sendiri

Setelah itu beliau menyimpulkan bahwa untuk menjadi solidaritas penting adanya rasa empati dan simpati dalam diri dan dalam Hindu disebut dengan Tat Twam asi serta dalam masyarakat jawa menyebutnya dengan tepo seliro. Acara selanjutnya foto bersama,  penutupan dan acara bebas, dalam acara bebas berbagai macam kegiatan dilakukan oleh Peradah Kepri seperti Api Unggun, bakar-bakar jagung, diskusi bersama dan lain sebagainya guna untuk menjadikan Peradah Kepri tetap solid, akrab dan tentunya lebih mengenal antar satu dengan yang lainnya  dalam sebuah organisasi, serta agar Peradah Kepri jaya selalu.

Gambar pada saat Dharma Tula/diskusi
Pada esok harinya tepatnya pada minggu pagi dilaksanakan persembahyangan bersama memohon agar kami Peradah Kepri selalu diberikan bimbingan, kesehatan, keselamatan dan kecerdasan oleh Hyang Widhi Wasa untuk menjadikan Peradah Kepri tetap eksis dan menjaga Hindu tetap Ajeg.